Share

Jalan Tanpa Kembali
Jalan Tanpa Kembali
Penulis: Soda

Bab 1

Penulis: Soda
Panggilan itu terputus secara tiba-tiba.

Aku bisa merasakan kecemasannya melalui suara statis di telepon.

Aku menekan perutku. Rasa sakit di sana tidak sebanding dengan perih yang merobek hatiku.

Cairan hangat merembes melalui kain gaun malamku.

Rasa sakit itu begitu hebat hingga membuatku mati rasa, nyata dan menusuk.

Tiga puluh menit yang lalu, aku disergap saat operasi Black Borsal di kompleks Ryan.

Aku membutuhkan stempel pribadi Daniel, satu-satunya cara agar bisa mendapat akses ke tim medis keluarga.

Menghadapi kematian, dengan tangan gemetar aku menekan nomor terenkripsi yang hanya diketahui anggota keluarga inti.

"Daniel … aku terjebak di Dermaga Utara. Kasih aku stempelnya. Aku butuh dokter .…"

"Apa lagi sih?" Suara Daniel terdengar sangat tidak sabar dan tidak peduli.

"Kebetulan sekali, Safea sakit dan kamu juga terluka?"

"Dengar, Emira." Dia memotong ucapanku, nada suaranya sedingin es. "Jangan telepon lagi. Jangan ganggu istirahat Safea atau aku akan tuntut pertanggungjawaban darimu."

Kata-kata acuh tak acuhnya masih bergema di telingaku.

Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mengirim pesan ke asistennya. Aku pun menutup mata, membiarkan kesadaran melayang ke kegelapan.

Dalam keadaan linglung, aku melihat kilasan masa lalu.

Ketika pertama kali aku tahu Daniel memiliki adik angkat, aku merasa terganggu.

Tapi pria itu memelukku, mengatakan bahwa Safea adalah penyelamatnya. Tanpa dia, Daniel tidak akan hidup sampai sekarang.

Jadi dia berjanji untuk menjaga Safea seumur hidupnya.

Saat itu, aku terkejut bahwa bos Mafia ini memiliki perasaan yang begitu dalam.

Tapi saat itu, aku tidak bisa memahaminya. Kesetiaan semacam itu datang dengan harga yang terlalu tinggi. Aku, orang baru, tidak pernah benar-benar masuk dalam daftar prioritasnya.

Setelah kami menikah, ketika aku melihat dia memberikan miliaran setahun kepada adik angkatnya untuk biaya hidup, aku hanya mengira itu cara Daniel membalas budi. Aku merasa tidak nyaman, tapi tidak pernah mengeluh.

Sampai akhirnya dia berulang kali memilih adiknya dari pada aku.

Pertama, demi menenangkannya agar tertidur, Daniel tidak mau berhubungan intim denganku sampai lewat tengah malam.

Kemudian, dia menemani Safea untuk pengobatan asma. Mereka terbang ke berbagai negara mencari dokter terbaik dan meninggalkanku sendiri di rumah besar itu.

Hal-hal seperti itu terlalu sering terjadi sampai aku pikir aku sudah terbiasa.

Sampai aku mengalami keguguran dan aku menelponnya. Saat itu hatiku hancur dan aku hanya ingin kata-kata yang menghibur, tapi dia malah mematikan teleponnya begitu saja.

Keesokan harinya, aku baru tahu dia berada di Kota Pakhis sedang merayakan ulang tahun Safea di Restoran Nordan malam itu.

Dia bilang ulang tahun Safea yang kedua puluh adalah momen sekali seumur hidup, tapi kita masih bisa punya anak lagi.

Setelah itu, aku tidak pernah hamil lagi.

Kami sempat bertengkar hebat, tapi akhirnya dia kembali dengan membawa 999 tangkai mawar untuk membujukku.

Saat itu, dia berjanji bahwa dia tidak akan mengabaikanku demi Safea lagi.

Aku pun memercayainya.

Hingga aku ditembak kali ini, aku sadar bahwa dia akan selalu memprioritaskan orang lain dari dibanding aku.

Ketika mataku kembali terbuka, aku melihat Daniel.

Dia menatapku dengan cemas, menghela napas.

"Aku minta maaf, Emira. Aku khawatir sekali. Safea sedang sangat sakit, aku nggak sadar kalau kamu juga terluka …."

"Maafkan aku, sayang. Apapun kompensasinya, aku akan mengabulkannya."

"Enggak, sebagai istri ketua keluarga, apapun yang kamu mau adalah milikmu."

Aku menatap wajah tampannya. Ketua mafia yang biasanya tegas itu menatapku seolah aku adalah pusat dunianya.

Tapi aku tahu itu hanya ilusi.

Aku menggertakkan gigiku menahan sakit dari bekas jahitan dan duduk tegak.

"Kamu masih ingat aku istrimu?"

"Seandainya bisa, aku berharap perjodohan ini nggak pernah terjadi!"

Ketika dia melamar dan meminta dua keluarga kami bersekutu, ayahku tidak menyetujuinya.

Ayah bilang dia sakit, tapi pengaruh yang ditinggalkannya cukup agar aku bisa hidup nyaman.

Aku adalah satu-satunya putri Keluarga Miller. Nggak perlu sampai mengorbankan diri demi kepentingan keluarga.

Ketekunan Daniel-lah yang membuatku luluh.

Saat mengalami percobaan pembunuhan, dia bahkan melindungiku dengan tubuhnya.

Saat itulah, aku sangat tersentuh. Aku pun akhirnya menerima lamarannya bahkan saat mengetahui ada wanita lain dalam hidupnya.

Aku pikir jika ada sesuatu yang serius antara dia dan adik angkatnya, dia tidak akan mau bersamaku.

Tapi semuanya berubah setelah adik angkatnya pulang dari studi di luar negeri.

Melihatku yang diam saja, Daniel melembutkan suaranya.

"Istirahatlah, oke? Semua yang aku janjikan padamu tak akan berubah."

Tapi ketika aku kembali ke rumah besar itu ….

Begitu aku membuka pintu ruang tamu, aku melihat Daniel dan Safea berdiri di kamar kami.

Di leher Safea yang pucat tergantung berlian biru besar.

Itu adalah "Mata Medusa", pusaka Keluarga Miller yang diwariskan selama tiga generasi. Satu-satunya yang ibuku tinggalkan sebelum meninggal.

Tanganku mengepal erat.

"Daniel, berlian ini cantik sekali," ujarnya. Jari Safea dengan rakus menyentuh dinginnya permata biru. Dia mendongak, sorot matanya sedikit khawatir. "Tapi ini milik Emira. Gimana kalau dia lihat .…"

"Nggak apa-apa, sayang. Wajar kalau gadis muda suka benda cantik. Pakai saja kalau mau. Emira nggak akan marah." Nada bicara Daniel datar, tapi dia tersenyum dan menepuk kepala adiknya.

Safea melemparkan dirinya untuk dipeluk Daniel, tersentuh. "Kamu emang yang terbaik Kak!"

Aku berdiri di balik bayangan, menyaksikan dua "saudara" tidak sedarah itu berpelukan di kamar yang disinari matahari.

Air mata membuat pandanganku buram. Kurasakan perasaan mati rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Aku telah memberikan segalanya untuk perjodohan ini, tapi pria itu malah menggunakan peninggalan keluargaku sebagai mainan untuk menyenangkan adik angkatnya.

Biasanya, aku akan langsung menerobos masuk dan membuat keributan.

Tapi kini, aku diam-diam mundur ke koridor gelap.

Karena aku selalu menjadi orang luar di antara mereka, jadi aku akan pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 9

    Tiga bulan kemudian."Semua berdiri!"Suara hakim memecah keheningan di pengadilan federal.Aku duduk di barisan depan galeri, menatap dua terdakwa yang digiring masuk ke ruang sidang.Daniel mengenakan baju oranye, borgol berkilau di bawah cahaya yang menyilaukan. Rambutnya berantakan, matanya kosong. Dia tampak seperti hantu dari Ketua yang dulu.Essobar telah mematahkan salah satu lengannya hari itu. Untuk menyelamatkan nyawanya, Daniel akhirnya menyerahkan sedikit aset rahasia yang tersisa.Dengan apa yang dibayarkan Keluarga Ryan, itu cukup untuk melunasi utang.Dia pun berhasil menyelamatkan dirinya.Sementara Safea ….Roda besi kursi rodanya mengeluarkan suara nyaring yang menusuk telinga.Kakinya dibalut perban tebal, wajahnya pucat pasi.Anak buah Essobar mengampuni nyawanya, tapi harganya dibayar dengan kakinya."Terdakwa Daniel Ryan." Ketua hakim mengetuk palu. "Anda dituduh melakukan pencucian uang, pemindahan aset ilegal, penggelapan .…"Daftar dakwaan itu memakan waktu li

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 8

    Mata Daniel berwarna merah.Dia tertawa, suaranya kasar dan getir. "Emira, kamu puas sekarang? Kamu menang. Kali ini.""Benarkah?" Aku sedikit memiringkan kepalaku. "Rasanya ini baru permulaan."Begitu aku bicara, dia melompat maju. "Tolong, selamatkan aku."Aku mengangkat alis. "Apa maksudmu?""Orang-orang Essobar masih memburuku." Daniel mengerutkan bibirnya rapat-rapat. "Aset Keluarga Ryan sudah disita, tapi utang empat triliun itu masih menghantuiku. Saat melarikan diri, aku harus sembunyi dari badan intelijen dan dari mereka. Emira, aku rasanya hampir gila.""Kita pernah menikah. Kamu nggak bisa membiarkanku mati begitu saja!"Aku menatap tenang pria yang dulunya begitu berkuasa. Ini pertama kalinya aku melihatnya begitu hancur.Melihatku yang masih diam, dia berkata dengan matanya yang masih memerah, "Apa kamu masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Kamu mengenakan gaun putih dan terlihat seperti malaikat.""Saat itu aku berpikir bahwa aku harus menikahi wanita ini.""Emira,

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 7

    "Kami yang seharusnya berterima kasih padamu." Suara di ujung telepon terdengar terhibur. "Bukti pencucian uang terhadap Keluarga Ryan sudah kuat.""Aku butuh tiga tahun untuk berurusan dengan sampah-sampah itu." Aku menghela napas. "Apa itu sepadan?""Akan ada hadiah lain untukmu, Nona Emira." Agen itu berhenti sejenak. "Sebagai gantinya, badan intelijen akan menghentikan penyelidikan terhadap asetmu di Sixili.""Terima kasih."Aku menutup telepon.Pikiranku kembali beberapa hari lalu.Pria yang memberiku kartu panggilan itu kini menjadi penyidik kriminal di badan intelijen.Jika ayahku tidak menyelamatkan nyawanya saat dia masih agen junior, semua ini tidak akan semudah ini.Setelah mendengar kesulitanku, dia hanya butuh setengah hari untuk menyelesaikan kontrak.Angin dingin menerpa wajahku. Aku baru menyadari kalau secara tak sadar aku membuka jendela mobil.Dulu, Safea tidak suka bau rokok, jadi aku selalu membuka jendela agar udara masuk. Tapi tidak lagi.Martin menatapku lewat k

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 6

    Aku tersenyum dan mengulurkan tangan pada Martin yang berada di sisiku.Dia mengerti dan mengeluarkan sebuah dokumen dari tas file, menyerahkannya padaku."Surat cerai. Diajukan dua minggu lalu dan disetujui kemarin."Aku membalik ke halaman terakhir. "Lihat? Tanda tanganmu ada di sini."Daniel merampas dokumen itu.Itu tanda tangannya dengan goresan ragu-ragu yang sama."Ini nggak mungkin! Aku nggak pernah menandatangani …." Lalu dia ingat. "Kamu memalsukan tanda tanganku?!""Memalsukan?" Aku tertawa. "Daniel, berapa banyak dokumen yang kamu tandatangani setiap hari? Lima puluh? Seratus?""Apa kamu yakin sudah melihat isi masing-masing dengan teliti?"Wajahnya pucat.Wajah Safea menunjukkan kilatan kegembiraan, tapi dia berteriak padaku, "Emira! Kamu kejam! Kamu sengaja mencampur dokumen cerai dengan dokumen lain untuk menipu dia agar mau tanda tangan!""Menipu?" Aku menatapnya. "Aku hanya melakukan apa yang kalian lakukan. Stempelku, bukankah itu juga ‘secara tidak sengaja’ diambil d

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 5

    "Ini nggak mungkin!"Daniel merampas kontrak dari tangan Casper.Di situ tercetak jelas lambang Keluarga Ryan yang berupa duri hitam."Nggak mungkin!" Dia mengerutkan dahi. "Kontrak ini telah dimanipulasi .…Emira! Ini ulahmu, 'kan?"Mendengar itu, Safea menatapku dengan mata berlinang."Emira, aku nggak tahu gimana kamu bisa melakukan ini, kubilang bayar saja. Kamu nggak akan bisa bayangkan apa yang terjadi jika Essobar mengetahuinya."Aku menatap mereka dengan polos."Daniel, bukannya kamu bilang meminjam uang atas nama keluarga? Kenapa sekarang kaget?"Begitu aku selesai bicara, jam menunjukkan tengah malam.Dengan anggukan dari Casper, para pria di belakangnya menyebar, mulai mengambil apa pun yang terlihat.Wajah Daniel murka melihat itu."Ada apa ini?"Casper hanya tersenyum."Kalau kamu nggak bisa membayarnya, kami akan mencarinya sendiri.""Aku baru saja memperingatkanmu. Kalau nggak bisa bayar utang, jangan salahkan kami kalau keadaannya jadi tak terkendali."Daniel seolah meny

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 4

    Aku tidak melihat Daniel lagi setelah hari itu.Aku menelponnya untuk memberinya peringatan."Proyek itu ilegal. Bersiaplah kalau uangnya hilang."Dia hanya mengabaikannya."Gimana mungkin? Safea lulusan keuangan terbaik. Gimana mungkin dia bisa rugi?"Tapi lima hari kemudian, proyek kripto itu runtuh.Nilai pasarnya merosot tajam. Empat triliun aset lenyap, hanya tersisa empat ratus delapan puluh miliar.Daniel menelpon hanya saat terdesak."Apa kamu sudah punya uangnya?""Rekening keluarga hanya ada satu triliun sekian. Dari mana aku dapat uangnya?"Aku pun membuka laporan terbaru yang Martin berikan padaku."Sudah kubilang proyek itu bermasalah." Suaraku tenang. "Martin mengirim tiga laporan risiko dan kamu abaikan semuanya.""Sekarang sudah hancur, itu urusanmu." Aku pun menutup telepon.Tiga detik kemudian, dia menelpon lagi."Kamu harus siapkan uangnya. Stempelmu ada di situ!"Aku cuma bilang "oh" dan menutup telepon.Lalu dia menelpon tujuh belas kali lagi.Aku mematikan ponselk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status