เข้าสู่ระบบMalam harinya di apartemen mewah Daren, suasana kamar utama terasa tenang dan temaram.Daren baru saja selesai menceritakan seluruh kejadian tentang kiriman paket fitnah dari Zion kepada Devya saat mereka bersantai di atas ranjang.Mendengar betapa gigihnya Zion berusaha menghancurkan hidupnya, air mata Devya menetes pelan akibat kombinasi rasa lelah batin dan haru yang mendalam. Devya menatap lurus pada manik mata Daren yang memancarkan kejujuran tanpa keraguan sedikit pun."Daren... kamu benar-benar tidak percaya sama sekali dengan foto dan rekaman itu?" bisik Devya dengan suara bergetar, menahan reaches emosi di dadanya.Daren merengkuh pipi mulus Devya dengan kedua telapak tangannya, mengusap lembut jejak air mata wanitanya menggunakan ibu jari."Tidak sedikit pun, Baby," tegas Daren dengan suara bariton yang teramat hangat."Aku tahu siapa kamu, dan aku tahu persis betapa liciknya parasit itu. Kepercayaanku padamu tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh kebohongan serendah itu."K
Namun, ekspektasi Zion berbanding terbalik dengan realitas di dalam ruang kerja Daren.Bukannya murka atau kehilangan kendali emosi, Daren yang duduk menyandar di kursi kerjanya justru menyunggingkan senyum sinis yang amat dingin saat mengamati foto-foto rekayasa tersebut.Sebagai seorang pengusaha ulung yang terbiasa berhadapan dengan berbagai taktik kejahatan korporasi, Daren hanya butuh waktu beberapa detik untuk mengenali kejanggalan pada pencahayaan foto serta keanehan nada pada rekaman suara tersebut.Daren menatap bukti amatir itu dengan pandangan menghina, menyadari betapa putus asanya Zion hingga menggunakan cara serendah ini.Daren menekan tombol panggil di telepon mejanya. "Sandi, suruh kepala tim siber dan kepala divisi keamanan ke ruanganku sekarang juga.""Baik, Tuan Daren," jawab sekretarisnya sekejap.Tidak sampai lima menit, dua pria bertubuh tegap dan berpenampilan rapi melangkah masuk ke ruang kerja Daren."Ada yang bisa kami bantu, Tuan Daren?" tanya Kepala Divisi
Pagi harinya, suasana di gedung pencakar langit Rejandra Group tampak sibuk seperti biasa. lalu lalang para pegawai bersetelan rapi memenuhi area lobi utama yang megah.Di lantai teratas, sebuah kurir instan mendaratkan paket misterius bertuliskan label pribadi dan rahasia yang ditujukan langsung kepada Daren Rejandra.Sekretaris pribadi Daren yang tidak merasa curiga segera menerima paket tersebut, menandatangani bukti terima, lalu membawa amplop cokelat tebal itu menuju ruang kerja utama.Ia meletakkannya tepat di atas meja kerja kayu mahoni milik sang CEO sebelum Daren tiba dari kediamannya.Tak lama kemudian, pintu kaca ganda ruang kerja terdorong terbuka. Daren melangkah masuk ke ruang kerjanya yang luas dengan gaya kepemimpinan yang dingin dan percaya diri.Pria itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap, siap memulai agenda rapat bisnisnya yang padat hari ini."Selamat pagi, Tuan Daren. Jadwal rapat dewan komisaris dimajukan menjadi pukul sepuluh," sapa sekret
Di sebuah kamar sewaan yang gelap dan pengap, bau lembap beradu dengan puntung rokok yang berserakan di lantai semen.Zion mengurung diri di sana bersama sisa-sisa rasa dendamnya yang makin tak terkontrol.Lampu neon yang berkedip redup memperlihatkan raut wajahnya yang tirus, kusam, dan dipenuhi lingkaran hitam di bawah mata.Merasa seluruh jalan bisnisnya telah dimatikan dan tidak ada lagi celah hukum untuk menyerang, Zion memutar otak mencari cara kotor terakhir untuk menghancurkan hubungan Devya dan Daren."Aku tidak boleh kalah... aku tidak boleh membusuk di sini sendirian sementara Devya tertawa di atas penderitaanku!" geram Zion seorang diri.Pria itu kemudian mencengkeram tepi meja kayu yang lapuk hingga buku-buku jarinya memutih.Dalam pikirannya yang makin picik dan liar, Zion yakin satu-satunya cara untuk meruntuhkan benteng pertahanan Devya adalah dengan membuat Daren membenci wanita itu. Bagi Zion, pria berkuasa dan berharga diri tinggi seperti Daren pasti punya batas tol
Setelah menyadari betapa besarnya pengorbanan dan perlindungan mutlak yang diberikan Daren untuk menjaga nama baik dan ketenangannya, Devya memutuskan untuk memberikan kejutan kecil sebagai bentuk rasa terima kasih dan cintanya.Sejak sore hari, dengan bantuan pelayan apartemen mewah tersebut, Devya sibuk menyiapkan makan malam romantis berkonsep candlelight dinner di area balkon apartemen yang luas dan menghadap langsung ke panorama lampu-lampu kota yang indah.Devya menata meja makan dengan bunga-bunga kesukaan Daren, memasang lilin-lilin aromaterapi beraroma lembut, serta memilih gaun malam berwarna merah marun yang sangat cantik melekat di tubuh mulusnya.Sekitar pukul delapan malam, suara pintu utama apartemen terbuka.Daren melangkah masuk dengan raut wajah lelah usai seharian mengurus bisnis raksasanya dan menumpas habis sisa-sisa perlawanan Zion. Pria itu merenggangkan dasinya yang agak longgar.Namun, langkah Daren terhenti saat mendapati pencahayaan di dalam apartemen dibuat
Dampak dari tindakan balik Daren mulai merembet cepat ke seluruh lini kehidupan Zion.Kehancuran mental dan finansial kini menggulung pria itu tanpa ampun.Tanpa perlu menggunakan ancaman fisik, perintah tersembunyi yang disebarkan oleh Daren ke seluruh jaringan bisnis kota membuat seluruh mitra kerja dan klien tersisa milik Zion memutus kontrak secara sepihak.Di dalam kantornya yang kini sepi tanpa staf, ponsel Zion berdering tanpa henti. Setiap panggilan membawa berita buruk yang sama."Pak Zion, maaf sekali, pihak komisaris kami memutuskan untuk membatalkan seluruh kontrak kerja sama investasi kita secara sepihak," ujar seorang mitra bisnisnya di seberang telepon."Tolong, Pak Handoko! Jangan batalkan sekarang!" mohon Zion dengan suara yang serak dan panik. "Kita bisa bicarakan lagi pembagian keuntungannya! Saya butuh proyek ini!""Maaf, Pak Zion. Saya tidak mau mengambil risiko berurusan dengan siapa pun yang sudah menjadi musuh besar Rejandra Group. Selamat tinggal," sahut suara







