LOGIN"Bisa apa aja, hm?" ulang Anton dengan suara beratnya.
Maya mengepalkan tangannya di samping paha, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang hampir sirna.
Tubuhnya yang terbalut pakaian basah kuyup masih menggigil hebat, menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
"A-aku bisa menyapu, mengepel, memasak, dan merapikan seluruh isi rumah ini dengan bersih, Om," bisik Maya dengan nada bergetar parah.
Ia menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap sepasang mata kelam milik pria di hadapannya yang terasa begitu mendominasi.
"Aku nggak akan malas-malasan, Om. Apa pun yang Om suruh, pasti bakal aku kerjain sampai tuntas."
Anton masih berdiri menjulang di tempatnya, menatap puncak kepala Maya dengan rahang yang mengeras pelan.
Pria itu lalu menghembuskan napas panjang, merogoh saku celananya seraya memperhatikan tetesan air hujan yang mengotori karpet mewahnya.
"Saya nggak butuh pelayan yang cuma bisa omong kosong, Maya. Rumah ini besar, dan aturan saya ketat," balas Anton dengan nada datar tanpa emosi.
"Aku janji nggak akan buat masalah, Om! Aku beneran butuh tempat tinggal," potong Maya cepat dengan raut wajah memelas.
Air mata yang tertahan kembali merebak di pelupuk matanya, bercampur dengan sisa air hujan yang menetes di pipinya yang pucat.
"Aku sanggup kerjain semuanya sendirian, asalkan Om izinin aku tinggal di sini."
Anton menyipitkan matanya sedikit, memperhatikan bibir mungil Maya yang membiru akibat kedinginan yang amat sangat.
Pria itu mendengus pelan, lalu berbalik memunggungi Maya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ikut saya ke lantai atas sekarang. Jangan berdiri di situ terus," perintah Anton dingin sambil melangkah menaiki anak tangga kayu.
Maya tersentak kaget, lalu bergegas menyusul langkah lebar sang paman dengan tungkai kakinya yang terasa begitu lemas.
Setiap langkah yang ia tapaki meninggalkan jejak air di atas tangga berbalut karpet mahal tersebut, membuatnya makin merasa bersalah.
"Om, maaf... tangga sama karpetnya jadi basah gara-gara aku," cicit Maya pelan sambil tetap melangkah mengekor di belakang Anton.
Anton menoleh sedikit tanpa menghentikan langkahnya, menatap Maya yang berjalan menunduk rapat di belakangnya.
"Nanti kamu bersihkan sendiri. Sekarang amankan dulu tubuh kamu sebelum kamu pingsan dan bikin saya repot."
Mereka akhirnya sampai di ujung koridor lantai dua yang bernuansa hangat namun terasa sangat sepi dan lengang.
Anton membuka salah satu pintu kayu jati berukuran besar di sisi kanan, lalu menyalakan lampu kamar yang langsung menerangi ruangan tersebut.
Sebuah kamar tamu yang sangat luas, mewah, dan tertata rapi kini terpampang jelas di hadapan penglihatan Maya.
"Masuk. Mulai malam ini kamu tidur di kamar ini," ujar Anton singkat seraya melangkah mendekati lemari pakaian besar di sudut ruangan.
Maya menahan napas sejenak, menatap sekeliling kamar yang jauh lebih luas dan indah dari tempat tinggalnya terdahulu. "Kamar ini... terlalu bagus buat aku, Om. Aku bisa tidur di kamar pelayan di belakang aja."
Anton menghentikan gerakannya di depan pintu lemari, lalu memutar tubuhnya untuk menatap Maya dengan alis terangkat sebelah.
"Di rumah ini nggak ada kamar khusus pelayan, adanya gudang. Pelayan lama pulang pergi, bukan tinggal di sini. Jadi berhenti mendebat saya dan masuk ke dalam sekarang, Maya."
Maya menelan ludahnya dengan susah payah, akhirnya memberanikan diri melangkah masuk dan berdiri canggung di dekat pintu.
Anton membuka pintu lemari, mengambil selembar handuk tebal berwarna putih bersih dan sestel pakaian santai dari dalam sana.
Pria itu berbalik, melangkah mendekati Maya dengan pakaian ganti yang kini berada di tangannya.
"Ganti baju basah kamu pakai ini. Ini bekas pakaian mantan istri saya yang ketinggalan," tutur Anton serak.
Anton mengulurkan handuk tebal dan sestel baju kain sutra halus itu tepat di hadapan Maya yang masih tertegun.
"Saya nggak punya baju perempuan lain di rumah ini. Pakai aja seadanya daripada kamu mati kedinginan."
Maya mendongak pelan, mengulurkan kedua tangannya yang gemetaran untuk menerima pakaian ganti yang diberikan Anton.
"Terima kasih banyak ya, Om... Om baik banget mau nampung aku," bisik Maya penuh rasa haru.
Namun, saat Maya hendak mengambil tumpukan kain itu, jarinya yang dingin tak sengaja mengusap permukaan jemari Anton yang hangat dan kasar.
Sentuhan fisik yang tak disengaja itu seketika mengirimkan getaran aneh yang tersalur cepat ke seluruh aliran darah Maya.
Maya terpaku di tempatnya, sementara Anton juga mendadak membeku, menyisakan tarikan napas tertahan di antara mereka.
Jarak di antara tubuh mereka kini begitu dekat, hingga Maya bisa merasakan hawa panas yang memancar dari dada tegap Anton.
Anton tidak langsung menarik tangannya, melainkan makin merekatkan pegangannya pada kain itu seraya menundukkan wajahnya.
Pria dewasa itu menatap lurus ke dalam sepasang manik mata Maya yang membesar karena terkejut dan dibalut ketakutan murni.
"Kamu ketakutan setengah mati cuma gara-gara saya sentuh begini, Maya?" tanya Anton dengan suara bariton yang amat rendah.
Hembusan napas hangat Anton berembus menabrak kulit leher Maya, membuat bulu kuduk wanita muda itu meremang seketika.
"Bagaimana bisa kamu berani minta tinggal di rumah duda kesepian kalau sentuhan kecil aja udah bikin kamu gemetaran?"
Maya merasa tenggorokannya mendadak kering kerontang, tak sanggup menyusun kata untuk membalas ucapan sarat intimidasi itu.
"Aku... aku cuma kaget, Om," bisik Maya terbata-bata, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh liar di dalam dada.
Anton menatap bibir bawah Maya yang bergetar hebat, lalu tatapannya perlahan naik mengunci iris mata ketakutan milik keponakan menantunya.
Aura di dalam kamar mewah itu mendadak berubah menjadi begitu canggung, berat, dan sarat akan tension yang membakar dari dalam.
"Dengar baik-baik, Maya. Kamu boleh tinggal di sini," bisik Anton pelan, memangkas jarak wajah mereka hingga tersisa beberapa sentimeter saja.
Sensasi dominasi yang dipancarkan pria itu membuat Maya tak berani berkutik, seolah sihir misterius mengikat seluruh pergerakannya.
"Tapi ingat status kamu. Kamu cuma pelayan di rumah ini... atau mungkin, bisa jadi lebih dari itu kalau kamu memancing kesabaran saya."
Cahaya matahari pagi menyusip tipis dari sela-sela tirai tinggi di lantai satu, membiaskan sinar ke atas marmer dingin kediaman Anton.Suasana rumah megah itu kembali sepi, hanya terdengar gemercik air dan denting halus peralatan dapur saat Maya sibuk menyiapkan sarapan.Tubuh Maya masih terasa remuk. Setiap gerak kecil yang ia buat mengirimkan rasa perih dan pegal yang tersisa dari kejadian semalam di kamar utama.Wajahnya yang pucat merona merah tiap kali ingatan tentang cara Anton mendominasinya kembali melintas di benaknya.Ia mengenakan pakaian kasual yang tertutup rapat hingga batas leher, berusaha menyembunyikan setiap bercak kebiruan yang ditinggalkan pria itu di kulit mulusnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Maya menata piring berisi omelet dan sepoci kopi hitam panas di atas meja makan kayu jati yang panjang.Saat ia menaruh cangkir terakhir, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat dari arah tangga.Anton muncul dengan kemeja abu-abu yang lengannya
Maya menelan ludah, sementara tubuhnya masih gemetar di pelukan Anton.Napas pria itu hangat dan berat di ceruk lehernya, sementara bibir kasarnya terus menyesap kulit mulus yang berdenyut di bawahnya.Anton tampak tidak buru-buru.Ia justru menikmati setiap reaksi kecil yang lolos dari tubuh Maya, desahan tertahan, getaran di paha, dan cara jari-jari mungil itu mencengkeram kemeja putihnya seolah mencari pegangan.“Om… ah…”Anton mengangkat wajahnya sebentar.Matanya menggelap, penuh rasa lapar, tapi penuh kendali.Ia menunduk lagi dan merebut bibir Maya dalam ciuman yang dalam dan dominan.Lidahnya mendorong masuk tanpa meminta izin, mengeksplorasi, menghisap, dan menggigit pelan bibir bawah Maya sampai wanita itu tersengal.Ciuman itu bukan lembut. Ia menuntut.Anton menekan tubuh Maya ke dinding kamar, satu lututnya menyisip di antara paha Maya, memaksa gaun sutra merah itu tersingkap sedikit lebih tinggi.Tangan kekarnya turun ke punggung Maya, mencari ritsleting gaun. Dengan sat
"Ta-tapi, Om. Aku... aku belum siap kalau sekarang. Pesta... pesta bukannya udah mau mulai?" tanya Maya dengan gagap.Anton tak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kokoh terangkat, menyapu helai rambut basah Maya yang menempel di leher jenjangnya.Sentuhan kasar namun perlahan itu mengirimkan gelombang sengatan dingin yang menjalar lurus ke tulang belakang Maya."Saya tahu kapan harus menagih hak saya, Maya," bisik Anton serak, hingga hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit pipi Maya yang membara."Ganti pakaian kamu. Saya tunggu di bawah dalam waktu lima belas menit. Jangan membuat saya menunggu."Tanpa menunggu balasan, Anton berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.Maya merosot pelan di tepi ranjang, lalu meremas kain sutra di pangkuannya sambil berusaha menata detak jantungnya yang bergemuruh liar.Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur membelah jalanan kota yang masih dibasahi sisa ai
Jam menunjukkan angka tujuh malam.Maya berdiri di tengah kamar tamunya yang luas, baru saja menyela sisa-sisa tetesan air di tubuhnya usai mandi malam.Rambut panjangnya yang masih setengah basah terurai berantakan di atas bahunya yang polos dan terbuka.Hanya selembar handuk putih tebal yang membebat ketat dada hingga sebatas paha mulusnya, memperlihatkan lekuk tubuh rapuhnya yang begitu terbuka.Klik.Suara engsel pintu yang terdorong tanpa ketukan terdengar memecah sunyinya ruangan."Aaa!" jerit Maya spontan seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan, refleks berbalik membelakangi pintu.Namun, di detik berikutnya, ingatan tentang perjanjian terlarang di ruang kerja Anton tadi siang langsung menghantam kesadarannya.Darah di tubuhnya serasa berdesir dingin, mengingatkannya bahwa kepemilikan atas raga ini bukan lagi mutlak miliknya.Maya menelan ludah dengan susah payah, berbalik pelan seraya menundukkan wajahnya yang terasa membakar."Ada... ada apa, Om?" bisik Maya dengan suara
Keheningan pekat seketika membungkus ruang kerja serba kayu jati itu.Maya masih berlutut di lantai dingin, menengadahkan wajahnya yang sembap dengan sepasang mata membiru menatap pria tegap di hadapannya.Anton tak segera menjawab penawaran pasrah itu.Ia perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya, melangkah memutari meja hingga kini berdiri tepat menjulang di depan tubuh mungil Maya.Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap keponakan menantunya yang seperti domba pasrah di ujung tanduk."Kamu bilang bersedia kerjakan apa aja asalkan saya mau berdiri di pihak kamu, kan?"Suara bariton Anton mengalun begitu rendah, sarat akan tekanan intim yang membuat bulu kuduk Maya seketika meremang.Pria dewasa itu membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga aroma parfum maskulin berselimut kayu cendana menusuk tajam ke indra penciuman Maya."Penjara itu dingin, Maya. Dan di mata hukum, kamu sama sekali nggak punya posisi tawar buat membela diri," bisik
"Tutup pintunya, Maya. Duduk di depan saya," perintah Anton saat tiba di dalam ruang kerjanya.Maya memutar badannya perlahan, mendorong pintu jati itu hingga terkunci rapat dengan bunyi klik pelan yang memicu kembali debar di dadanya.Dengan tungkai yang masih terasa lemas, ia melangkah mendekati meja kerja Anton lalu menduduki salah satu kursi kulit di hadapan pria tersebut."Om, tolong aku, Om. Aku beneran takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.Namun, Anton tak langsung menjawab, melainkan menyilangkan jemari tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sembap.Sorot mata kelam sang pengacara kondang itu terasa begitu pekat dan peka, menelusuri raut wajah pucat Maya tanpa menyisakan celah."Sebelum saya bicara soal bantuan, saya mau tahu cerita yang sebenarnya dulu," tutur Anton datar namun sarat akan penekanan."Ceritakan ke saya gimana kronologi kecelakaan malam itu, Maya. Jangan ada satu pun detail yang kamu tutupi dari s







