Share

Janda Perawan Kesayangan Om Anton
Janda Perawan Kesayangan Om Anton
Author: Miss E

Chapt. 1

Author: Miss E
last update publish date: 2026-08-31 10:14:23

"Ah, pelan-pelan, Om. A-aku... aku masih perawan!"

Desahan tertahan itu lolos dari bibir Maya yang bergetar hebat saat Anton melesakkan miliknya masuk ke dalam diri wanita itu.

Rasa perih dan penuh yang asing seketika merobek pertahanannya, membuat jemari Maya mencengkeram erat seprai ranjang king size tersebut.

Di atasnya, Anton menahan napas sejenak, urat di rahang dan lehernya menonjol menahan hasrat yang begitu menggebu.

Pria itu menghentikan gerakannya pelan, memberikan waktu agar tubuh mungil di bawahnya bisa beradaptasi.

"Oh, jadi kamu masih perawan, Maya?"

Tiga hari yang lalu, hujan turun dengan badai yang begitu ganas, seolah langit ikut mencemooh nasib malangnya.

Tubuh Maya (23 tahun) masih terasa remuk, luka memar dan goresan di lengannya akibat kecelakaan maut itu bahkan belum diobati dengan benar.

Namun, rasa sakit di fisiknya sama sekali tak sebanding dengan hancurnya hati Maya saat diusir paksa.

"Pergi kamu dari sini! Dasar perempuan pembawa sial! Gara-gara kamu, anakku mati!"

Teriakan histeris ibu mertuanya masih terngiang sangat jelas, seakan merobek gendang telinganya berkali-kali.

Maya diusir di malam pertama setelah kematian suaminya, didorong keluar tanpa ampun saat air matanya bahkan belum mengering.

Hanya berbekal pakaian basah yang melekat di badan, wanita yatim piatu itu berjalan di tengah hujan tanpa arah.

Hingga langkah kakinya yang gontai dan nyaris lumpuh itu berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang megah.

Ini adalah kediaman pribadi Anton, (35 tahun) paman mendiang suaminya yang sangat kaya raya dan hidup menyendiri.

Pria itu seorang duda tanpa anak, terkenal dengan sifat dinginnya yang nyaris tak tertembus oleh siapa pun.

Maya menekan bel berkali-kali, membiarkan tubuh mungilnya menggigil hebat di bawah guyuran hujan yang makin tak berbelas kasih.

Setelah penantian yang terasa seperti selamanya, pintu utama berbahan kayu jati itu akhirnya terbuka perlahan. Anton berdiri tegak di ambang pintu, menatap tajam sosok menyedihkan yang kini tersungkur di teras rumahnya.

"Ngapain kamu ke sini malam-malam, Maya?" tanya Anton dengan nada datarnya.

Maya mendongakan kepalanya menatap lirih wajah pria itu. "Om... aku mohon, tolong izinin aku masuk. Tolong tampung aku di sini," isak Maya dengan suara bergetar parah.

Bibirnya sudah membiru pucat, giginya bergemeretak menahan hawa dingin yang mulai menusuk tajam ke tulang rusuknya.

Anton tak langsung menjawab, pria itu hanya diam membatu seraya melipat kedua lengan kekarnya di depan dada.

Namun, melihat napas Maya yang mulai tersengal dan nyaris pingsan, pertahanan dingin pria itu perlahan goyah.

"Masuk. Jangan buat teras saya kotor karena kamu pingsan di situ."

Ruang tamu utama itu terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan neraka dingin yang baru saja Maya lalui di luar sana.

Anton duduk dengan angkuh di atas sofa kulit mahalnya, menyilangkan kaki sambil menatap keponakan menantunya lekat-lekat.

Maya sendiri hanya berani berdiri canggung di dekat pintu, membiarkan air hujan menetes bebas dari rambut panjangnya ke atas karpet mahal.

"Jadi, kenapa kamu datang ke rumah saya dan malah tiba-tiba nawarin diri jadi pelayan?"

Anton memecah keheningan yang mencekik itu, suaranya menggema pelan di dalam ruangan yang luas dan sunyi.

Tatapan pria itu mengunci rapat pergerakan Maya, membuat wanita itu merasa gelisah tak karuan.

Maya meremas jemarinya yang keriput kedinginan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

"Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi, Om. Ibu ngusir aku persis setelah Mas Riko meninggal."

Setitik air mata kembali jatuh membasahi pipi pucatnya saat rasa sesak itu kembali menyerang rongga dadanya.

"Beliau benci sama aku. Beliau anggap aku pembawa sial karena selamat dari kecelakaan maut itu," cicit Maya pelan.

Ia menundukkan kepala, tak sanggup menatap rahang tegas Anton yang terlihat mengeras mendengar ceritanya.

"Aku sebatang kara sekarang, Om. Nggak punya uang sepeser pun untuk sewa tempat tinggal di luar sana."

Anton menghela napas panjang, bersandar santai ke punggung sofa tanpa melepas tatapannya dari sosok rapuh di depannya.

"Terus? Kenapa kamu pikir saya mau nerima kamu di sini?" tanyanya dengan nada sedikit meremehkan.

Maya menelan ludahnya dengan susah payah, memberanikan diri membalas tatapan tajam sang duda.

"Waktu di jalan sebelum kecelakaan itu... Mas Riko sempat cerita soal Om Anton."

Napas Maya sedikit tercekat saat ia harus menyebut nama mendiang suaminya di hadapan pamannya langsung.

"Mas Riko bilang kalau Om lagi cari pelayan baru, karena pelayan lama Om resign karena udah terlalu tua."

Maya menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam milik Anton.

"Jadi, aku mau melamar kerja jadi pelayan di rumah ini, Om."

Ia melangkah maju selangkah, menatap Anton dengan binar memohon yang benar-benar putus asa.

Mendengar kepolosan itu, alis tebal Anton perlahan terangkat sebelah.

Ia kembali mengamati Maya perlahan, dari ujung rambutnya yang berantakan, turun ke leher jenjangnya, hingga ke ujung kakinya.

"Kamu yakin mau kerja buat saya, Maya? Kerja di rumah saya itu nggak gampang."

"Aku bisa apa aja, Om. Aku janji bakal kerjain semua pekerjaan rumah dan nggak akan malas-malasan."

Maya kembali memohon, mencoba meyakinkan pria dingin di hadapannya ini dengan sepenuh hati.

"Aku rela digaji kecil. Nggak digaji pun nggak apa-apa, Om, asal aku dikasih tempat buat tidur dan makan setiap hari."

Keheningan yang sangat pekat perlahan menyelimuti ruangan besar itu. Hanya terdengar detak jarum jam dinding dan deru napas Maya yang tak beraturan menahan cemas.

Anton perlahan bangkit dari duduknya, melangkah pelan nyaris tanpa suara mendekati tubuh mungil Maya.

Langkah demi langkah Anton membuat dada Maya berdegup kencang hingga kakinya ingin mundur, tapi ia menahannya kuat-kuat.

Jarak di antara mereka terkikis habis, hingga Maya bisa mencium aroma maskulin yang kuat dari tubuh tegap Anton.

Pria jangkung itu menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah ketakutan Maya sambil menatapnya datar.

Jemari besar Anton terangkat perlahan, menyentuh helai rambut basah yang menempel di pipi Maya, membuat napas wanita itu tercekat.

Pria itu menatap bibir Maya sejenak sebelum menatap tepat di manik matanya.

"Bisa apa aja, hm?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 8

    Maya menelan ludah, sementara tubuhnya masih gemetar di pelukan Anton.Napas pria itu hangat dan berat di ceruk lehernya, sementara bibir kasarnya terus menyesap kulit mulus yang berdenyut di bawahnya.Anton tampak tidak buru-buru.Ia justru menikmati setiap reaksi kecil yang lolos dari tubuh Maya, desahan tertahan, getaran di paha, dan cara jari-jari mungil itu mencengkeram kemeja putihnya seolah mencari pegangan.“Om… ah…”Anton mengangkat wajahnya sebentar.Matanya menggelap, penuh rasa lapar, tapi penuh kendali.Ia menunduk lagi dan merebut bibir Maya dalam ciuman yang dalam dan dominan.Lidahnya mendorong masuk tanpa meminta izin, mengeksplorasi, menghisap, dan menggigit pelan bibir bawah Maya sampai wanita itu tersengal.Ciuman itu bukan lembut. Ia menuntut.Anton menekan tubuh Maya ke dinding kamar, satu lututnya menyisip di antara paha Maya, memaksa gaun sutra merah itu tersingkap sedikit lebih tinggi.Tangan kekarnya turun ke punggung Maya, mencari ritsleting gaun. Dengan sat

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 7

    "Ta-tapi, Om. Aku... aku belum siap kalau sekarang. Pesta... pesta bukannya udah mau mulai?" tanya Maya dengan gagap.Anton tak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kokoh terangkat, menyapu helai rambut basah Maya yang menempel di leher jenjangnya.Sentuhan kasar namun perlahan itu mengirimkan gelombang sengatan dingin yang menjalar lurus ke tulang belakang Maya."Saya tahu kapan harus menagih hak saya, Maya," bisik Anton serak, hingga hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit pipi Maya yang membara."Ganti pakaian kamu. Saya tunggu di bawah dalam waktu lima belas menit. Jangan membuat saya menunggu."Tanpa menunggu balasan, Anton berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.Maya merosot pelan di tepi ranjang, lalu meremas kain sutra di pangkuannya sambil berusaha menata detak jantungnya yang bergemuruh liar.Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur membelah jalanan kota yang masih dibasahi sisa ai

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 6

    Jam menunjukkan angka tujuh malam.Maya berdiri di tengah kamar tamunya yang luas, baru saja menyela sisa-sisa tetesan air di tubuhnya usai mandi malam.Rambut panjangnya yang masih setengah basah terurai berantakan di atas bahunya yang polos dan terbuka.Hanya selembar handuk putih tebal yang membebat ketat dada hingga sebatas paha mulusnya, memperlihatkan lekuk tubuh rapuhnya yang begitu terbuka.Klik.Suara engsel pintu yang terdorong tanpa ketukan terdengar memecah sunyinya ruangan."Aaa!" jerit Maya spontan seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan, refleks berbalik membelakangi pintu.Namun, di detik berikutnya, ingatan tentang perjanjian terlarang di ruang kerja Anton tadi siang langsung menghantam kesadarannya.Darah di tubuhnya serasa berdesir dingin, mengingatkannya bahwa kepemilikan atas raga ini bukan lagi mutlak miliknya.Maya menelan ludah dengan susah payah, berbalik pelan seraya menundukkan wajahnya yang terasa membakar."Ada... ada apa, Om?" bisik Maya dengan suara

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 5

    Keheningan pekat seketika membungkus ruang kerja serba kayu jati itu.Maya masih berlutut di lantai dingin, menengadahkan wajahnya yang sembap dengan sepasang mata membiru menatap pria tegap di hadapannya.Anton tak segera menjawab penawaran pasrah itu.Ia perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya, melangkah memutari meja hingga kini berdiri tepat menjulang di depan tubuh mungil Maya.Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap keponakan menantunya yang seperti domba pasrah di ujung tanduk."Kamu bilang bersedia kerjakan apa aja asalkan saya mau berdiri di pihak kamu, kan?"Suara bariton Anton mengalun begitu rendah, sarat akan tekanan intim yang membuat bulu kuduk Maya seketika meremang.Pria dewasa itu membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga aroma parfum maskulin berselimut kayu cendana menusuk tajam ke indra penciuman Maya."Penjara itu dingin, Maya. Dan di mata hukum, kamu sama sekali nggak punya posisi tawar buat membela diri," bisik

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 4

    "Tutup pintunya, Maya. Duduk di depan saya," perintah Anton saat tiba di dalam ruang kerjanya.Maya memutar badannya perlahan, mendorong pintu jati itu hingga terkunci rapat dengan bunyi klik pelan yang memicu kembali debar di dadanya.Dengan tungkai yang masih terasa lemas, ia melangkah mendekati meja kerja Anton lalu menduduki salah satu kursi kulit di hadapan pria tersebut."Om, tolong aku, Om. Aku beneran takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.Namun, Anton tak langsung menjawab, melainkan menyilangkan jemari tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sembap.Sorot mata kelam sang pengacara kondang itu terasa begitu pekat dan peka, menelusuri raut wajah pucat Maya tanpa menyisakan celah."Sebelum saya bicara soal bantuan, saya mau tahu cerita yang sebenarnya dulu," tutur Anton datar namun sarat akan penekanan."Ceritakan ke saya gimana kronologi kecelakaan malam itu, Maya. Jangan ada satu pun detail yang kamu tutupi dari s

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 3

    Maya melepaskan pegangan tangannya pada pakaian ganti itu dengan tergesa-gesa, melangkah mundur satu tapak untuk menjauhkan diri dari Anton."Ma-maaf, Om... aku ganti baju dulu di dalam," bisik Maya pelan seraya menundukkan wajahnya dalam-dalam.Anton mengamati raut wajah Maya yang memerah pasrah, lalu menarik kembali tangannya dengan gerakan yang teratur dan tenang."Kamar mandi ada di sebelah kanan. Jangan lupa kunci pintunya dari dalam," balas Anton datar seraya berbalik melangkah keluar kamar.Pria itu sempat menghentikan langkahnya sebentar di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa menatap mata Maya."Setelah ini langsung tidur. Besok pagi tugas kamu sudah menunggu di bawah," sambungnya tegas sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu rapat-rapat.Dua hari berlalu dengan amat cepat di bawah atap megah milik Anton yang sunyi.Maya mulai terbiasa dengan rutinitas barunya sebagai seorang pelayan, menyapu lantai marmer hingga mengelap perabotan mahal milik Anton.Selama empat puluh delapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status