Mag-log in“Oh! Ahh! Mmphh!” desah Nayla, merasakan liang surgawinya di bawah sana sedang dimainkan dengan lembut oleh sang suami.Ia pun kembali menikmati seluruh milik suaminya yang sudah tegak dan keras itu."Ah, oh, Sayang. Kamu benar-benar luar biasa," desah Naufal yang terus merem melek merasakan betapa nikmat dan hangat rongga mulut Nayla ketika tengah menikmati dan menghisap miliknya layaknya sedang memakan es krim.Nayla hanya tersenyum kecil saat melihat sang suami yang benar-benar sudah ketagihan oleh aksinya. Tak hanya menjilati benda itu dengan lidahnya, tetapi kali ini ia juga memainkan dua buah yang menggantung di bawah pisang besar tersebut.Tak mau menunggu lama lagi, Naufal kemudian merengkuh tubuh seksi sang istri dan langsung melumat bibir wanita itu penuh gairah. Ck, ck, ck, sluurpp!Suara sesapan dan hisapan ketika lidah mereka berdua saling beradu. Naufal terus memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Nayla, mengeksprole kehangatannya dengan begitu bebas dan lihai. Sedang
Nayla menatap suaminya dengan mata membulat. Wajahnya mulai memerah karena bisikan Naufal yang begitu dekat di telinganya.“Jangan macam-macam, Na,” ulangnya, tetapi suaranya tidak lagi terdengar setegas sebelumnya. Justru kedua pipi wanita itu terlihat memerah.Naufal tersenyum kecil. Ia perlahan melonggarkan pelukannya, kemudian menatap wajah istrinya sambil memegang pipi wanita itu.“Lihat, wajah kamu merah," godanya.“Ihh, apaan sih?" Nayla memalingkan wajah, tetapi kembali ditatap oleh sang suami.“Aku tau kalau kamu pasti malu-malu. Sekarang katakan, kenapa tadi kamu mengurung aku di dalam kamar?”“Masih nanya itu lagi. Jelas-jelas karena aku kesel sama kamu,” sungut Nayla, ia melipat kedua tangan di dada.“Sekarang masih kesel?”Nayla terdiam dengan wajah cemberutnya. Tetapi ia menggeleng pelan.“Sudah nggak kok.”“Serius?”“Iya, serius.” Nayla mengangguk.“Oke." Naufal mengusap pipi sang istri. “Berarti aku sudah dimaafkan?" “Iya, sudah.”“Kalau begitu, aku pengen menikmati h
“Hah, kenapa ini?”Naufal kaget karena tiba-tiba pintu tertutup dari luar. Ia terkejut dan spontan menoleh ke belakang.Ia segera mencoba membuka gagang pintu. Tidak bisa. Naufal mengernyit, lalu menariknya sekali lagi dengan sedikit tenaga.“Lho, kok gak bisa?”Pintu itu tetap tidak bergerak. Ia mencoba memutar gagang pintu beberapa kali, tetapi hasilnya sama saja. Pintu itu benar-benar terkunci dari luar. Naufal mulai curiga, apalagi sejak tadi ia tidak melihat Nayla di rumah.“Nayla?” panggilnya.“Jangan panggil aku!”Benar saja. Dari luar terdengar suara perempuan.Naufal langsung membelalak. Ia mengenali suara itu.“Sayang, kamu di luar?”“Iya! Aku di sini. Memangnya kenapa?”“Tapi kenapa pintunya dikunci?”“Biar kamu nggak ke mana-mana!” jawab Nayla dari luar kamar.Naufal terdiam. Ia menatap pintu dengan wajah tidak percaya. Beberapa detik kemudian, barulah ia memahami bahwa istrinya benar-benar sengaja mengurungnya.“Nayla, buka pintunya.”“Nggak mau!”“Kenapa?”“Biar kamu ngg
Setelah sampai di depan ruangannya, Naufal membuka pintu. Sinta yang sejak tadi berjalan di belakangnya ikut berhenti di depan pintu.“Kamu bisa istirahat sekarang, Sin," cegah Naufal dengan halus.“Tapi, Dok. Aku mau memastikan laporan operasi yang tadi sudah …." “Nggak usah, Sin.” Naufal langsung menggeleng. “Kamu bisa langsung pulang saja. Aku mau istirahat sebentar.”Sinta mengerutkan kening. “Tapi aku bisa bantu merapikan laporan.”“Nanti saja. Lagian ada istriku di sini. Aku mau quality time sama istriku.”Kalimat terakhir itu membuat Sinta terdiam. Wajahnya langsung berubah cemberut.“Oh.”“Besok kita lanjut lagi. Kamu juga sudah capek.” Naufal tersenyum tipis.“Iya, Dok.”Sinta akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah berat. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap Naufal berubah pikiran. Namun pria itu sudah masuk ke dalam ruangan.Sebenarnya Naufal memang sengaja mengusir Sinta secara halus agar tak ikut masuk ke ruangannya. Setelah operasi panjang, ia ingin beristirahat
Suasana rumah sakit yang semula tenang mendadak berubah ketika suara langkah kaki berlarian terdengar dari ujung koridor.“Dokter! Ada pasien masuk!” Seorang perawat berlari menghampiri Naufal sambil membawa berkas.“Ada apa?” Naufal langsung menoleh.“Pasien perempuan, hamil sekitar tiga puluh enam minggu. Korban mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia mengalami perdarahan dari jalan lahir dan nyeri perut hebat. Denyut jantung janinnya juga mulai tidak stabil.”“Astaga!" Ekspresi Naufal seketika berubah serius. Ia segera mengambil jas dokternya.“Siapkan ruang operasi. Hubungi dokter anestesi dan tim obstetri. Kita kemungkinan harus melakukan operasi sesar darurat.”“Baik, Dok!”Naufal kemudian menoleh kepada Nayla yang masih berdiri di sampingnya.“Sayang, aku harus menangani pasien. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal dulu?” ia memegang kedua bahu sang istri.“Pergilah, Sayang. Selamatkan nyawa pasienmu. Aku akan tunggu di ruangan kamu.” Nayla mengangguk.“Terima kasih. Jangan k
Naufal terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka Nayla akan menangis seperti itu. Tangannya segera terulur, mengusap rambut dan punggung istrinya dengan lembut.“Kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?” tanyanya cemas. “Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba nangis?”Tangis Nayla berhenti sejenak. Ia terdiam, tak mungkin jika menceritakan tentang hal yang sebenarnya kepada Naufal.“Nggak ada apa-apa kok, Sayang. Aku cuma takut kehilangan kamu.” Nayla menggeleng dalam pelukan suaminya itu.Naufal sedikit menjauh, lalu menatap wajah istrinya yang masih basah oleh air mata. Ia menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.“Kamu nggak akan kehilangan aku kok, Sayang. Sampai kapan pun, aku bakalan tetep ada di samping kamu,” ujar pria itu sungguh-sungguh.“Janji?” Nayla menatapnya dengan mata berkaca-kaca.“Aku janji.” Naufal tersenyum lembut. “Apa pun yang terjadi, aku nggak akan ninggalin kamu. Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk menyerah sekarang.”Nayla kembali memeluknya erat
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b







