Teilen

134. Dia Datang Lagi!

last update Veröffentlichungsdatum: 01.06.2026 22:08:05

“Kamu … di sini?” mata Nayla membelalak lebar. Tubuhnya seketika membeku saat melihat sosok pria yang kini berdiri di hadapannya itu.

“Kenapa? Kaget?" Pria itu tersenyum miring.

“Dokter Dimas?” suara Nayla tercekat, hingga nyaris tak terdengar.

Sebelah sudut bibir Dimas terangkat naik membentuk senyum bulan sabit. Senyum yang justru membuat tubuh Nayla menegang.

“Oh, kamu masih ingat ternyata," ucap pria itu dengan nada sinis.

Napas Nayla mulai memburu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   352. Aku Hanya Ingin Membantu

    Suasana haru masih terasa di ruang tamu. Rianti yang sejak tadi menangis akhirnya duduk di sofa sambil menyeka air matanya. Wajahnya tampak begitu lelah. Bukan hanya karena pertengkaran yang baru saja terjadi, tetapi juga karena beberapa hari terakhir ia harus melihat putranya berubah menjadi seseorang yang hampir tidak ia kenali.Dimas yang dulu dikenal keras kepala memang bukan orang yang mudah menerima keadaan. Namun sejak kecelakaan itu, sifatnya menjadi jauh lebih buruk. Ia sering marah, membentak siapa saja yang berusaha membantunya, bahkan beberapa kali menolak makan dan minum karena frustrasi dengan tubuhnya sendiri.“Mama benar-benar nggak tahu harus bagaimana menghadapi Dimas,” ujar Rianti dengan suara bergetar. “Setiap kali Mama mendekatinya, dia marah. Kalau Mama mencoba membantunya, dia malah bilang Mama kasihan sama dia.”Nayla yang duduk di sampingnya merasa dadanya kembali sesak. Ia kemudian merangkul tubuh ibu mertuanya itu.“Mama jangan nangis terus.”Rianti menggel

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   351. Akhirnya Baikan

    “Semua gara-gara wanita pembawa sial itu!" sentak Dimas semakin tersulut amarah.Nayla tersentak dan tak bisa menahan tangisnya. Kepalanya semakin tertunduk dalam, ia benar-benar merasa bersalah.“Kau yang sudah menyebabkan semuanya jadi begini!” Dimas menunjuknya. “Kalau bukan karena kejadian itu, aku nggak akan seperti ini!”“Dimas, cukup!” tegur Rianti.“Kenapa Mama membela mereka, hah?” mata Dimas berkilat, menatap mamanya dengan tajam.“Tidak ada yang membela siapa-siapa. Tapi kamu nggak boleh menyalahkan Nayla seperti itu.”“Kenapa nggak boleh?” Dimas tertawa pahit. “Dia yang sudah membuat hidupku berubah! Apa mama lupa, hah?" Naufal berdiri di depan Nayla, berusaha melindungi istrinya dari luapan emosi kakaknya.“Dimas, kecelakaan itu bukan sesuatu yang direncanakan.”“Tapi akibatnya nyata! Dan kau lihat, Fal, aku jadi seperti ini gara-gara janda sialan yang kau nikahi itu!" “Dimas, jaga ucapan mu!”“Aku tidak butuh menjaga ucapan pada manusia seperti kalian berdua. Sekarang

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   350. Dimas Frustasi

    “Ma, sebenarnya ada apa?” desak Naufal semakin penasaran.Rianti kembali terdiam di seberang telepon. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Hanya terdengar suara napasnya yang berat, seolah wanita itu sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.“Nanti Mama jelaskan setelah kamu sampai.”“Tapi Mama bikin aku khawatir.” Naufal berjalan menjauh sedikit dari bangku taman. “Kalau memang ada masalah, bilang sekarang. Aku bisa cari solusi dari sini.”“Fal, Mama benar-benar nggak tahu harus bagaimana.” Suara Rianti terdengar semakin bergetar.Naufal berdecak tak sabar. Selama mengenal mamanya, ia jarang sekali mendengar Rianti berbicara dengan nada seperti itu. Bahkan ketika menghadapi masalah besar sekalipun, wanita itu biasanya masih mampu menjaga ketenangannya.“Apakah ada orang yang datang ke rumah dan membuat Mama nggak nyaman?”“Bukan! Bukan seperti itu, Fal.”“Terus apa , Ma?”Rianti kembali terdiam di ujung telfon.“Ma?”“Naufal, pulanglah.” Suara Rianti akhirnya

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   349. Kecemasan di Ujung Telfon

    “Kamu … sudah sadar?”Suara Nayla terdengar bergetar. Ia masih menggenggam tangan wanita itu, sementara matanya terpaku pada sepasang mata yang baru saja terbuka di hadapannya.Wanita tersebut tidak memberikan jawaban. Tatapannya tampak kosong dan kebingungan, seolah belum sepenuhnya memahami di mana dirinya berada. Kelopak matanya berkedip perlahan beberapa kali. Napasnya masih dibantu oleh alat medis, sedangkan tubuhnya terlihat begitu lemah di atas ranjang.“Nggak apa-apa,” ujar Nayla lirih. “Kamu nggak perlu bicara dulu.”Dokter Arman mendekat untuk memeriksa kondisi pasien. Ia memperhatikan respons mata, pergerakan tangan, serta perubahan pada monitor yang terhubung dengan tubuh wanita tersebut.“Dia memang sudah sadar, tapi belum sepenuhnya pulih,” jelas Dokter Arman. “Tubuhnya masih sangat lemah. Setelah menjalani operasi dan melalui kondisi kritis seperti ini, responsnya bisa sangat terbatas.”Naufal yang berdiri di belakang Nayla ikut memperhatikan.“Dia bisa mendengar kita?”

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   348. Membuka Mata

    Renata masih terdiam. Dalam benaknya, ia terus teringat pada wanita misterius itu.“Gelang itu …?”Pikirannya kembali tertuju pada malam ketika brankar pasien itu didorong keluar dari ruangan. Saat itulah ia melihat gelang gelap yang melingkar di pergelangan tangan wanita tersebut.Entah kenapa benda itu terasa sangat familiar, seolah-olah ia pernah melihatnya sebelumnya.Renata mengerutkan kening. Ia bahkan sempat mencoba mengingat-ingat apakah gelang tersebut pernah ia lihat pada seseorang yang dikenalnya.“Nggak mungkin …,” gumamnya lirih.“Apa, Ren?” tanya Nayla, yang tak sengaja mendengar ucapan Renata.Renata langsung tersadar. “Hah? Nggak, nggak apa-apa kok, Nay.”Ia tersenyum kecil dan kembali melihat bunga di hadapannya. Namun pikirannya tidak benar-benar kembali kepada pekerjaannya.Renata sebenarnya ingin menceritakan tentang gelang tersebut. Akan tetapi, ia sendiri belum yakin dengan perasaannya. Bisa saja gelang itu memang hanya benda biasa yang kebetulan terlihat familia

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   347. Raut Wajah Renata

    “Halo, ada apa, Arman?” tanya Naufal sedikit gelisah setelah mengangkat telfon itu. Ia khawatir jika terjadi hal buruk pada wanita yang ditabrak oleh Nayla itu.“Fal, aku perlu bicara denganmu.”Naufal yang sejak tadi berdiri di dekat meja langsung menegakkan tubuh. Nayla yang berada di sampingnya pun ikut memperhatikan dengan wajah cemas. Dari nada suara Arman, sepertinya ada sesuatu yang cukup penting.“Kenapa, Man? Apa terjadi sesuatu sama wanita itu? Bagaimana operasinya?" Suara Naufal gelisah.“Tenang dulu, Fal. Aku mau mengatakan hasil operasinya. Sekarang kondisinya justru sudah jauh lebih baik.” Suara Arman terdengar lebih santai dibandingkan sebelumnya. “Operasi rekonstruksi wajahnya berhasil. Tidak ada komplikasi besar selama tindakan, dan sejauh ini respons tubuhnya cukup bagus.”"Ya Ampun! Syukurlah!" Naufal mengembuskan napas lega.“Operasinya memang berjalan cukup lama. Kerusakan jaringan akibat kecelakaan cukup luas, jadi kami harus bekerja sangat hati-hati. Untuk tahap

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   1. Ah, Sakit, Dok!

    "Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   4. Hamili Menantuku!

    What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status