เข้าสู่ระบบ“Re .…”Tubuh Renata rasanya membeku.Satu suku kata itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menatap wanita di atas ranjang dengan mata melebar. Suaranya memang sangat lemah, tetapi Renata yakin ia tidak salah dengar.“Re .…” Wanita itu kembali menggerakkan bibirnya.Renata maju selangkah. “Kamu … manggil aku?”Wanita tersebut tidak menjawab. Matanya hanya menatap Renata dengan lemah.“Kamu kenal aku?” Renata mendekat lagi. “Coba bilang sekali lagi.”Namun sebelum Renata sempat berdiri lebih dekat, pintu kamar terbuka. Dokter Arman masuk bersama seorang perawat.Dokter Arman segera memeriksa pasien. Setelah melihat monitor dan kondisi wanita tersebut, ia mengangguk kecil.“Kondisinya Cukup stabil. Tapi jangan terlalu banyak diajak bicara. Dia masih sangat lemah.”Renata menoleh kepada dokter. “Dok, tapi tadi dia memanggil saya.”“Memanggil kamu?”“Iya." Renata mengangguk. “Dia mengucap nama saya dua kali." Dokter Arman kembali melihat pasien. “Bisa saja itu respons spontan, a
Beberapa hari berlalu sejak Renata pertama kali menyimpan gelang milik wanita misterius tersebut. Selama waktu itu, kondisi pasien perlahan menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Tidak ada perubahan drastis, tetapi setiap hari selalu ada kemajuan kecil yang membuat dokter dan keluarga yang menunggu merasa lebih tenang.Pagi itu, Nayla, Naufal, dan Renata kembali berada di rumah sakit. Mereka baru saja keluar dari lift ketika Dokter Arman menghampiri.“Pagi, Naufal,” sapa dokter tersebut.“Pagi, Arman,” jawab Naufal.“Bagaimana kondisinya?” tanya Nayla.Dokter Arman tersenyum tipis. “Lebih baik. Napasnya sudah semakin stabil. Respons tubuhnya juga mulai bagus.”Nayla terlihat lega. “Benarkah?”“Iya. Beberapa kali dia sudah bisa menggerakkan tangannya ketika diperiksa. Dia juga mulai memberikan respons sederhana saat diajak berkomunikasi.”“Berarti sebentar lagi dia sadar?” tanya Naufal.“Belum bisa dipastikan kapan. Tapi perkembangannya cukup positif.” Dokter Arman berhenti sebentar
Renata masih menatap pergelangan tangan wanita itu. Gelang yang semalam ia lihat masih melingkar di sana kini sudah tidak ada. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali melihatnya, tetapi pikirannya justru dipenuhi rasa penasaran.“Semalam aku melihat ada gelang di tangannya,” ujar Renata akhirnya. “Lalu kenapa sekarang sudah tidak ada?”Nayla dan Naufal saling pandang. Keduanya memang tidak mengetahui apa pun tentang gelang tersebut. Renata juga tak pernah cerita pada mereka.“Bisa jadi dilepas saat operasi,” kata Naufal. “Pasien memang biasanya tidak boleh memakai benda-benda tertentu saat menjalani tindakan medis.”“Bisa jadi." Renata mengangguk, tetapi rasa ingin tahunya belum hilang. Ia menoleh ketika seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi pasien.“Permisi,” panggil Renata. “Saya mau bertanya sesuatu.”Perawat itu berhenti di samping ranjang. “Iya, Bu?”“Gelang yang sebelumnya dipakai pasien ini, sekarang ada di mana?”Perawat tampak memahami maksudnya. “Oh, gelangnya mema
Entah sudah berapa jam Nayla dan Naufal bergumul panas dalam percintaan liar itu. Setelah keduanya mencapai klimaks yang ke beberapa kali, kini mereka kembali berbaring. Naufal memeluk Nayla dari belakang. Napasnya kini jauh lebih tenang.“Lumayan juga,” gumamnya.Nayla terkekeh. “Apanya?”“Pikiran aku agak ringan,” jawab Naufal santai.“Berarti caraku berhasil dong?” tanya Nayla seraya mengerlingkan sebelah mata.“Berhasil banget.”“Tuh, kan. Istrimu memang hebat.” Nayla tersenyum puas.“Cup!" Naufal mencium keningnya. “Iya. Istriku paling hebat.”“Sekarang tidur ya, Suamiku Sayang.”“Iya, Sayangku.”Nayla memejamkan mata sambil tersenyum kecil. Tangannya masih menggenggam tangan Naufal yang melingkar di pinggangnya. Setelah melewati hari yang begitu berat, keduanya akhirnya bisa beristirahat tanpa harus memikirkan masalah di luar kamar.Tak lama kemudian, suara napas mereka terdengar teratur. Malam yang sebelumnya dipenuhi kecemasan perlahan berganti dengan ketenangan. Setidaknya u
Malam itu, florist yang biasanya dipenuhi aroma bunga menjadi tempat berkumpul sementara bagi mereka. Karena sudah terlalu larut untuk pulang, Nayla, Naufal, Renata, Aldo, Hendra, dan Laras memutuskan menginap di sana. Beberapa orang tidur di ruangan belakang, sedangkan Nayla dan Naufal menempati kamar kecil yang biasa digunakan Nayla ketika harus bekerja sampai malam.Meski tubuhnya lelah setelah seharian menghadapi berbagai masalah, Naufal belum bisa tidur. Ia berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan terlipat di dada, memandang halaman florist yang gelap.Pikirannya kembali kepada rumah mamanya, terutama Rianti dan Dimas.Sejak kecelakaan itu, kondisi kakaknya semakin sulit. Naufal tahu Dimas sedang berusaha menerima kenyataan bahwa kedua kakinya tidak lagi bisa digunakan seperti dulu. Rasa kehilangan, marah, dan tidak berdaya membuat emosinya tidak stabil. Memikirkan kondisi Dimas sekaligus melihat mamanya yang terus berusaha menghadapinya membuat hati Naufal semakin berat.Ma
Begitu keluar dari kamar Dimas, Nayla menundukkan kepala sambil membawa nampan kosong. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia melihat Naufal dan Rianti yang ternyata sudah menunggu di depan pintu. Keduanya seolah tidak ingin terlalu jauh dari sana karena khawatir terjadi sesuatu.“Nayla,” panggil Rianti pelan.Nayla mengangkat wajah. Ia berusaha tersenyum, tetapi matanya yang sudah berkaca-kaca membuat senyum itu terlihat begitu dipaksakan.Naufal yang melihat air mata di pipi istrinya segera menghampiri. Ia tidak banyak bertanya dan merangkul tubuh Nayla ke dalam pelukannya.“Nggak apa-apa, Sayang. Kamu sudah berusaha.”Mendengar suara suaminya, pertahanan Nayla runtuh. Ia menangis di dada Naufal sambil mencengkeram bagian belakang kemeja pria itu.“Aku gagal, Na,” isaknya. “Aku bahkan nggak berhasil membuat dia makan.”Naufal mengusap punggung istrinya perlahan. “Kamu nggak gagal.”“Tapi makanannya malah dibuang.”“Yang dia tolak bukan kamu, Sayang. Dia sedang menolak keadaan yan
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk







