LOGINNaufal masih menatap Nayla dengan wajah tidak percaya. Ide menggabungkan dua pernikahan sekaligus menurutnya terlalu berlebihan, apalagi Nayla sedang hamil.“Sayang, kamu serius mau ngurus dua pernikahan sekaligus?” tanya Naufal."Iya." Nayla mengangguk mantap. “Kenapa? Kan lebih praktis. Satu tempat, satu dekorasi, satu katering. Bisa sekalian.”“Praktis dari mana?” Naufal menghela napas. “Kamu itu sedang hamil, bukan sedang punya tenaga ekstra. Mengurus satu pernikahan saja bisa bikin capek. Ini malah dua.”“Aku cuma mau bantu.”“Aku tahu. Tapi kamu nggak perlu ikut mengurus semuanya.”Nayla langsung cemberut. “Huft! Ya sudah.”Dia menarik selimut, lalu membaringkan tubuhnya dan sengaja memunggungi Naufal. Naufal terdiam sesaat.“Nayla Sayang?”Tidak ada jawaban.“Sayang? Aku bukan melarang kamu membantu. Aku cuma nggak mau kamu kecapekan.”Masih tidak ada respons dari sang istri.Naufal menghela napas pelan. Dia tahu istrinya sedang hamil dan emosinya belakangan memang jauh lebih s
Dimas masih menatap foto-foto di dalam kotak itu dengan ekspresi tidak percaya. Satu per satu foto tersebut ia lihat kembali. Ada foto ketika dirinya duduk menggunakan kursi roda, foto saat berjalan dengan tongkat, bahkan ada foto ketika ia sedang berbicara dengan Naufal di depan rumah sakit.“Jadi selama ini kamu mengambil semua foto ini?” tanya Dimas seraya mengangkat wajah menatap Shella.“Iya.” Shella mengangguk malu dan memainkan ujung bajunya. “Karena aku suka melihat kamu.”Naufal yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung tertawa. “Gila. Ternyata bukan cuma Dimas yang nekat. Shella juga diam-diam.”“Naufal,” tegur Dimas.“Apa? Aku cuma bilang fakta.”Nayla ikut tertawa. “Aku malah baru tahu kalau Shella ternyata sudah suka sama Kak Dimas sejak lama.”Shella tersenyum kecil. “Aku juga nggak pernah berpikir bakal sampai seperti ini. Awalnya aku cuma kagum. Dimas kelihatan dingin, cuek, keras kepala, dan susah didekati. Tapi setelah aku mengenalnya lebih dekat, aku tahu kalau d
Dimas masih berdiri di hadapan Shella setelah memasangkan cincin itu ke jarinya. Tatapannya beberapa kali jatuh pada cincin tersebut, seolah masih sulit percaya bahwa perempuan yang beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya kini benar-benar menerima lamarannya. Shella juga terus memandangi cincin di jarinya. Air matanya memang belum sepenuhnya kering, tetapi senyum bahagia tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.“Aku masih nggak percaya,” bisik Shella.“Aku juga.” Dimas menatapnya lekat.Shella tertawa kecil. “Kamu yang melamar, tapi malah kamu yang nggak percaya.”“Aku takut kamu berubah pikiran.”“Nggak akan.”Dimas menggenggam tangannya. “Aku serius, Shella.”“Aku juga, Dimas.”Keduanya tersenyum hangat tanpa menyadari bahwa dari balik pintu kaca, Naufal dan Nayla masih berdiri sambil memperhatikan mereka. Naufal bahkan masih belum bisa mencerna keputusan kakaknya yang menurutnya terlalu cepat.“Gila,” gumam Naufal pelan.Nayla menahan tawa. “Jangan bilang gila.”“Dimas itu benar-
Setelah mendapatkan informasi dari Aldo, Naufal pun bergegas menyusul Dimas ke rumah Shella tanpa menunggu lebih lama. Nayla ikut bersamanya karena ingin memastikan sendiri bahwa kakak iparnya itu benar-benar baik-baik saja. Akhirnya mobil Naufal pun berhenti di depan rumah Shella beberapa saat kemudian. Sepanjang perjalanan, Naufal masih mengomel karena Dimas bisa-bisanya menghilang tanpa kabar dan membuat semua orang panik.“Kalau nanti Dimas bilang cuma mau jalan-jalan, aku benar-benar nggak tahu harus ngomong apa. Akan aku kasih pelajaran dia,” gerutu Naufal sambil turun dari mobil.Nayla menahan senyum. “Yang penting Kak Dimas aman.”“Iya. Tapi tetap aja. Semua orang sudah bingung dan keliling mencarinya.”Aldo yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum kecil. “Kakakmu itu memang begitu, Fal. Sangat keras kepala sama sepertimu.”Naufal menatapnya tajam. “Jangan samakan aku dengan dia!”Aldo hanya terkekeh.Mereka bertiga berjalan menuju pintu rumah. Belum sempat mengetuk
Ruang tengah rumah Rianti sudah berubah seperti pusat pencarian. Naufal mondar-mandir sambil terus memegang ponselnya, sementara Rianti duduk dengan wajah pucat dan Nayla berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sejak tadi tidak ada satu pun kabar mengenai Dimas. Ponselnya tidak bisa dihubungi, mobilnya tidak terlihat di sekitar rumah, dan tempat-tempat yang biasa didatangi Dimas juga tidak memberikan jawaban.Naufal akhirnya berhenti berjalan. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum membuka daftar kontak di ponselnya.“Udah. Aku nggak bisa cuma nunggu.”Nayla menatap suaminya. “Kamu mau ngapain?”“Aku akan hubungi semua orang yang mungkin tahu keberadaan Dimas.”Naufal mulai menelepon satu per satu. Bukan hanya teman sesama dokter, tetapi juga anak buah Dimas, orang-orang yang biasa bekerja dengannya, relasi bisnis keluarga, kenalan di rumah sakit, bahkan beberapa orang yang pernah berhubungan dengan Dimas dalam urusan pekerjaan.“Coba kamu cek apakah Dokter Dimas datang ke sana.”“Belum ad
Perjalanan dari desa menuju kota berlangsung cukup tenang. Nayla masih beberapa kali terdiam sambil memandang keluar jendela. Pikirannya masih tertuju pada Laras dan Hendra yang harus kehilangan ibu tepat setelah pernikahan mereka.“Masih kepikiran Laras?” tanya Naufal.Nayla mengangguk. “Iya. Kasihan Laras. Kemarin dia menikah, hari ini harus kehilangan ibunya.”Naufal menggenggam tangan istrinya. “Setidaknya ibunya sempat melihat Laras menikah. Itu yang paling dia inginkan.”“Aku juga merasa sedikit lega karena itu.” Nayla menarik napas panjang sebelum menyandarkan kepalanya di bahu Naufal. “Semoga mereka benar-benar bisa bahagia.”“Mereka akan baik-baik saja. Laras punya Hendra.”Nayla tersenyum kecil. “Benar juga.”Beberapa saat kemudian, mobil mulai memasuki kawasan kota. Pemandangan pedesaan perlahan berganti menjadi jalan yang lebih ramai. Toko, kendaraan, dan gedung-gedung mulai memenuhi pandangan. Begitu sampai di rumah, Nayla langsung meletakkan tasnya di sofa dan menghela n
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b







