Mag-log inRoni membeku. Kata-kata itu menghantam dadanya seperti godam, menyisakan sesak yang mencekik. Ia menatap Desi, sepasang matanya bergerak liar, berusaha mencerna untaian kalimat yang baru saja telanjur lepas."Apa?" Suaranya nyaris berupa bisikan kosong.Desi menarik napas dalam, mengulangnya dengan nada yang jauh lebih tegas. "Aku hamil, Roni. Dan aku yakin ini anakmu."Seketika, dunia di sekeliling Roni terasa berputar lambat. Pandangannya jatuh pada perut Desi yang masih rata, sebelum kembali terpaku pada wajah wanita itu yang mulai menegang. "Tapi... kita cuma melakukannya sekali. Malam itu. Bagaimana bisa—""Nyatanya ini terjadi!" potong Desi. Suaranya mulai bergetar, menahan tangis yang mendesak keluar. "Aku belum pernah dengan siapa pun selain kamu, Ron. Kamu yang pertama dan satu-satunya. Jadi, jangan coba-coba mengelak—ini anakmu!"Keheningan yang pekat dan menyesakkan mendadak menyelimuti pikirannya. Roni bangkit dan melangkah mundur satu tapak, seolah jarak fisik bisa menjau
Roni duduk di tepi ranjang, masih mencerna semua yang baru saja ia dengar. Foto lama itu masih di tangannya, dan ia menatapnya sekali lagi—Dinda dan Desi, dua gadis yang tersenyum di samping ibu mereka. Dua gadis yang pernah ia tiduri tanpa tahu siapa mereka sebenarnya."Bu Gita," kata Roni pelan, "Apa Desi tahu tentang Bram?"Bu Gita mengangguk pelan, "Tentu saja tahu. Dia juga tidak setuju dengan pernikahan Dinda. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dinda sudah memilih jalannya sendiri." Ia menghela napas, "Desi tinggal di sini agar kami bisa saling melindungi dari bahaya yang dikirim oleh orang-orang yang sering meneror kami."Roni mengangguk, merasakan beban yang semakin berat. Ia menatap Bu Gita, lalu berkata dengan suara hati-hati, "Bu... tentang malam ini. Aku minta maaf. Aku tidak seharusnya—""Jangan," potong Bu Gita, mengangkat tangannya. "Jangan minta maaf. Aku yang memulai. Aku yang menggoda mu. Kau hanya merespon." Ia tersenyum tipis, "Lagipula, kau sudah menikah. Aku ta
"Lebih cepat... Ron... lepaskan semuanya..." Roni menuruti. Ia mempercepat gerakannya, memompa dengan ritme yang semakin liar. Tempat tidur berderit, dan Bu Gita mencengkeram punggung Roni, kukunya menggores kulit. Erangan dan desahan memenuhi kamar, bercampur dengan suara tubuh yang saling mengejar kepuasan. Bu Gita mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi Roni belum selesai. Ia terus bergerak, membuat Bu Gita mencapai puncak lagi, dan lagi. Wanita itu benar-benar kewalahan, tubuhnya lemas, suaranya habis. Setelah hampir satu jam, Roni akhirnya merasakan gelombang panas yang tak terbendung. Ia menekan lebih dalam, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Bu Gita. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal, dan ia terkulai di samping wanita itu. Bu Gita berbaring diam, napasnya juga tersengal-sengal. Ia menatap Roni dengan mata yang masih sayu, lalu tersenyum tipis. "Kamu.
"Ron... kau belum tidur?"Roni baru saja hendak masuk ke dalam rumah ketika suara lembut memanggilnya dari arah pagar.Roni menoleh dan melihat Bu Gita berdiri di depan rumahnya, mengenakan daster panjang dengan selendang tipis menutupi bahunya. Rambutnya diikat longgar, dan ia tersenyum ramah. "Kamu sedang apa di teras sendirian?" Tanya Bu Gita.Roni tersenyum tipis, "Hanya... mencari udara segar, Bu. Tidak bisa tidur."Bu Gita melangkah mendekat, berhenti di pagar yang memisahkan halaman mereka. "Aku juga tidak bisa tidur. Kadang malam-malam begini pikiranku kemana-mana." Ia menatap Roni dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu kelihatan gelisah. Ada masalah?" Lanjut tanya Bu Gita.Roni menghela napas, "Banyak, Bu. Tapi... tidak enak kalau cerita."Bu Gita tersenyum, "Kalau kau butuh teman bicara, aku mau dengerin kok. Kadang kalau ada masalah, kita hanya butuh seseorang untuk mendengarkan."Roni menatap Bu Gita lama, merasakan ketulusan di matanya. Tapi ia juga merasakan sesuatu ya
Hendra menyeka sudut bibirnya yang masih berdarah, lalu tersenyum sinis. "Pergi sana! Roni, kamu dipecat. Mulai hari ini kamu tidak bekerja di sini lagi." Roni tidak menyanggah karena dia sadar ini adalah konsekuensi tindakannya. Dia menerima keputusan itu dan melangkah pergi. Mata Hendra beralih ke Ajeng, dan senyumnya berubah menjadi lebih halus, lebih menggoda. "Tapi Ajeng... kamu tetap bekerja di sini. Kontrakmu masih berlaku. Kalau kamu keluar sekarang, kau melanggar perjanjian. Aku bisa menuntutmu." Ajeng membeku, wajahnya pucat. "Tapi... aku tidak mau bekerja di sini lagi. Kamu sudah—" "Aku tidak melakukan apa-apa," potong Hendra dengan tenang. "Kamu hanya salah paham. Aku hanya ingin bicara. Tapi suamimu yang terlalu emosional malah memukulku." Ia menyentuh kompres di pipinya. "Ini bisa jadi bukti penganiayaan. Aku bisa lapor polisi." Roni melangkah maju, tapi Ajeng menahannya. "Ron, jangan." Hendra tersenyum puas. "Dengar istrimu, Roni. Dia lebih pintar darimu." Ia men
Mereka berjalan keluar dari toko menuju motor yang terparkir. Namun sebelum mereka sempat menyalakan mesin, suara Hendra memanggil dari pintu toko."Ajeng! Roni! Tunggu sebentar."Roni menoleh, merasakan ketegangan kembali menjalari tubuhnya. Hendra berjalan mendekat dengan senyum ramah, tangannya memegang dua amplop kecil."Ini gaji kalian untuk hari ini. Saya bayar harian dulu, ya. Nanti kalau sudah seminggu, kita hitung mingguan," kata Hendra, menyerahkan amplop pada Roni dan Ajeng.Roni menerimanya dengan hati-hati, "Terima kasih, Pak."Hendra mengangguk, lalu menatap Ajeng dengan tatapan yang lagi-lagi terlalu lama. "Ajeng, besok datang lebih pagi, ya. Ada beberapa laporan yang harus dirapikan."Ajeng mengangguk sopan, "Baik, Pak."Roni menggenggam tangan Ajeng, menariknya pelan menuju motor. "Kita pulang," katanya pelan.Mereka menaiki motor dan melaju pulang. Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng memeluk pinggangnya, merasakan ketegangan di tubuh suaminya."Ron







