Share

Bab 177 - Tatapan Hendra

Author: Frands
last update publish date: 2026-09-27 21:35:01

Pagi tiba, Roni terbangun dengan kepala berat dan hati yang masih diliputi rasa bersalah. Di sampingnya, Ajeng masih terlelap dengan napas teratur, tangannya masih melingkar di pinggang Roni.

Roni menatap wajah istrinya yang tenang, lalu dengan hati-hati melepaskan pelukan dan bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin, lalu keluar.

Suasana kontrakan masih sunyi. Roni melirik ke arah kontrakan Desi yanh pintunya masih tertutup, dan tidak ada tanda-tand
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 178 - Bekerja tak Tenang

    Sesampainya di kontrakan, Roni dan Ajeng beristirahat sejenak. Ajeng menyeduh teh untuk mereka berdua, sementara Roni duduk di ruang tamu, memikirkan tentang Hendra. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tadi ia rasakan. "Ron, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Ajeng, duduk di sampingnya. Roni tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan kerja besok." Ajeng menatapnya dengan tatapan yang tahu, "Kamu memikirkan Pak Hendra, ya? Aku juga lihat caranya memandangku tadi." Roni terkejut, "Kamu sadar?" Ajeng mengangguk, "Aku bukan anak kecil, Ron. Aku tahu kapan pria memandangku dengan cara yang tidak pantas." Ia meraih tangan Roni, "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tergoda kamu adalah pria perkasa yang tak tergantikan." Roni menghela napas, "Aku tahu. Aku hanya... tidak ingin ada masalah lagi." Ajeng mencium pipi Roni, "Tidak akan ada masalah. Kita fokus pada hidup kita. Besok kamu mulai bekerja di gudang. Aku akan mencari pekerjaan la

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 177 - Tatapan Hendra

    Pagi tiba, Roni terbangun dengan kepala berat dan hati yang masih diliputi rasa bersalah. Di sampingnya, Ajeng masih terlelap dengan napas teratur, tangannya masih melingkar di pinggang Roni. Roni menatap wajah istrinya yang tenang, lalu dengan hati-hati melepaskan pelukan dan bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin, lalu keluar. Suasana kontrakan masih sunyi. Roni melirik ke arah kontrakan Desi yanh pintunya masih tertutup, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Roni menghela napas panjang, memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus mencari pekerjaan dan fokus pada hidup barunya bersama Ajeng. Tak lama kemudian, Ajeng bangun dan bergabung dengannya. Ia membawa dua cangkir kopi hangat yang baru ia seduh. "Kenapa nggak bangunin aku kalau sudah bangun?," katanya, mencium pipi Roni. Roni tersenyum tipis, "Hari ini aku mau cari kerjai." Ajeng duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir kopi. "Aku juga ingin cari kerja. Aku

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 176 - Kegelisahan

    Roni merasakan gelombang panas yang tak terbendung memuncak di tubuhnya. Ia menekan lebih dalam, menuntut, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Desi. Tubuh Roni menegang, napasnya tersengal, dan untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa kosong. Desi yang ada di bawahnya juga gemetar, tubuhnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi begitu Roni terkulai lemas di atasnya, sesuatu dalam diri Desi berubah. Kesadaran yang tadi kabur oleh kenikmatan perlahan kembali.Desi merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di antara pahanya. Lalu, rasa sakit yang tadi tersamarkan oleh gairah kini muncul kembali—nyeri yang menusuk, mengingatkannya pada apa yang baru saja terjadi.Desi membuka matanya. Ia menatap Roni yang masih berbaring di atasnya, napasnya masih berat, dengan senyum puas di bibirnya. Dan tiba-tiba, air mata mulai mengalir di pipi Desi."Mas..." suaranya bergetar. "Kenapa... kamu tega banget ngelakuin ini."Roni tersadar. Ia

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 175 - Tak Ingin Berhenti

    Desi berjalan pelan dengan hati-hati, masih meringis setiap kali kaki kanannya menyentuh lantai. Wajahnya sedikit merah, entah karena malu atau karena sakit. "Maaf, Mas," katanya pelan, "aku cuma pakai gini aja." Desi duduk kembali di sofa, mengangkat kaki kanannya ke atas bantal. "Pinggulku juga sedikit sakit. Jadi... kalau boleh, pijatnya sampai ke pinggul juga." Roni menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangan dari celana dalam tipis yang menutupi tubuh Desi. Ia bukan tidak pernah melihat wanita dalam pakaian minim—tapi ini Desi, tetangganya, wanita yang wajahnya mirip dengan Dinda, dan mereka berada di kontrakan Desi yang sunyi, di tengah malam. "B-baiklah, Mbak," jawab Roni akhirnya, suaranya sedikit serak. Ia kembali duduk di lantai di samping kaki Desi, berusaha fokus pada tugasnya. Tangannya mulai memijat pergelangan kaki Desi, lalu naik ke betis, ke lutut, dan ke paha bagian bawah. Kulit Desi terasa hangat dan halus di bawah jari-jarinya, jauh lebih lembut daripada

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 174 - Karyawan Minimarket

    Baru beberapa langkah meninggalkan teras, suara motor yang mendekat membuat Roni menghentikan langkah. Sebuah motor matic berwarna merah muda berbelok ke halaman kontrakan dan berhenti tepat di samping motornya. Roni mengerutkan kening melihat kedatangan Desi. Wanita itu bilang kerja shift malam, tapi sekarang ia sudah pulang. Jam baru menunjukkan pukul sepuluh malam lebih sedikit. Desi turun dari motor dengan hati-hati, sedikit meringis. Ia masih mengenakan seragam minimarket—kemeja biru lengan panjang dan celana jeans panjang. Rambutnya yang bob rapi sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat lelah. "Eh, Mas Roni," sapa Desi pelan, tersenyum tipis. "Kamu belum tidur?" Roni mengerjapkan mata, "Belum, Mbak." Ia menatap Desi dari ujung rambut sampai ujung kaki, memperhatikan cara Desi berdiri yang sedikit miring ke kiri. "Kok sudah pulang? Bukannya tadi shift malam?" Desi menghela napas, lalu menunjuk kakinya yang kanan. "Iya, tapi aku ijin pulang awal. Kakiku sakit. Tadi j

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 173 - Rindu Sentuhan Pria

    Roni keluar dari warung Bu Yuni dengan langkah ringan, meskipun tubuhnya sedikit lelah. Ia mengendarai motornya pelan-pelan menyusuri gang-gang yang mulai sepi. Udara malam Jakarta terasa dingin, dan pikirannya masih dipenuhi oleh janji yang baru saja ia buat—mengajari Pak Anwar cara memuaskan wanita. Sesampainya di depan kontrakan, ia memarkir motornya di halaman. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu pelan-pelan. Kamar tidur hanya dipisahkan oleh tirai kain tipis dari ruang tamu. Roni menyibakkan tirai itu perlahan, dan pemandangan di dalam membuatnya berhenti. Ajeng tertidur pulas di atas spring bed, tubuhnya meringkuk menghadap ke samping. Selimut tipis yang ia pakai sudah tersingkap ke bawah, memperlihatkan seluruh punggungnya yang telanjang. Ajeng hanya mengenakan bra hitam sederhana yang melingkar di dadanya, dan celana pendek berwarna abu-abu yang sangat pendek—hanya menutupi bagian atas pahanya. Kulitnya yang putih bersinar di bawah cahaya lampu tidur yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status