登入“Bu Arum tunggu di depan saja!” kata Roni dengan sopan karena sedikit risih.
“Aku Cuma mau lihat saja.” Bu Arum dengan tenang menarik tubuhnya menjauhi Roni beberapa senti. “Nanti kalau mampet lagi kan aku bisa benerin sendiri.”
Roni tersenyum tipis. Meski risih tapi dalam hatinya dia menyukai ketika sikunya menyentuh aset milik Bu Arum. Setelah beberapa saat, Roni selesai memperbaiki keran Bu Arum. “Sudah selesai, Bu!” Roni semringah karena pekerjaannya berhasil. Air yang tadinya tidak keluar sama sekali, kini sudah mengalir seperti sedia kala. Tapi karena ada sedikit kesalahan saat memasang pipa, air itu langsung muncrat membasahi tubuh Roni. “Loh! Loh!” Bu Arum tidak mampu berkata-kata ketika tubuh Roni sudah basah kuyup. “Sial! Basah lagi.” Gerutu Roni kesal sambil menyumbat pipa yang terlepas dengan tangannya. Dengan cepat dia kembali merapatkan sambungan pipa dan semuanya berjalan lancar kecuali tubuhnya yang basah. Ini adalah kali kedua dirinya basah setelah pagi tadi tercebur ke sungai. “Waduh! bajumu sama celanamu basah, Ron!” kata Bu Arum sembari menepuk dada Roni yang mulai tercetak jelas di balik kaos basahnya. Awalnya Roni hanya bersikap tenang karena dia sudah terbiasa menerima kesialan demi kesialan yang datang menghampiri. Namun dia sedikit terkejut ketika tangan Bu Arum mulai turun untuk menepuk pahanya. “Kamu ganti baju dulu, Ron!” kata Bu Arum jarinya hampir saja menyentuh bagian paling sensitif milik Roni. Roni langsung mengusap pahanya sendiri. Berupaya menepis tangan Bu Arum secara halus. “Gak usah, Bu.” Suara Roni mulai gemetar karena kedinginan. “Saya ganti di rumah saja.” Roni beranjak dari tempatnya hendak meninggalkan rumah Bu Arum secepatnya. “Loh kok pulang?” Tangan Bu Arum langsung menahan lengan Roni yang basah. “Kopimu belum diminum.” Bu Arum bergerak lebih agresif dengan merapatkan tubuhnya ke Roni. Seolah tak peduli jika bajunya ikutan basah. “Kamu ganti baju di sini saja.” Bu Arum menggoyangkan lengan Roni. “Aku masih menyimpan baju mendiang suamiku.” Memang biasanya wanita itu terlihat genit padanya, tapi semua hanya sebatas candaan. Tapi kali ini sepertinya terlihat serius dari senyumnya. Roni merasa ada yang salah dari Bu Arum kali ini. Dia mendorong tubuh wanita itu dengan gerakan lembut. “Maaf, Bu! Saya ganti baju di rumah saja!” Roni buru-buru melangkah cepat. Roni hampir berlari kecil berharap agar dia sampai rumah. Setiap langkah dan napas yang mulai tersengal, pikirannya mulai dipenuhi dengan pertanyaan. “Kenapa Bu Arum sangat agresif seperti hendak memakanku?” Pikir Roni. Saat hendak sampai rumah, Roni melihat Bu Sri yang sedang menyapu lantai depan rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Roni. Wanita itu menatap ke arah Roni, matanya langsung menyipit begitu menangkap sosok Roni. “RON! RONI!” Bu Sri berteriak sambil mengangkat sapu ijuk yang ada di tangannya. Roni refleks menghentikan langkah sejenak, jantungnya berdegup kencang. Bayangan sapu yang menghujani kepalanya tadi masih segar di ingatan. “RONI!” Saat Bu Sri memanggil namanya lagi, Roni tak berpikir dua kali. Tap-tap-tap. Roni mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam rumah. Ia bersandar di balik pintu dengan dada naik turun. "Sial," bisiknya pada diri sendiri. "Wanita cerewet itu masih mau memarahiku." Baru saja dia bernapas lega, suara ketukan pintu terdengar—namun kali ini ketukannya lembut. Tok... tok... “Roni! Aku mau ngomong sama kamu! Buka pintunya dulu!” Roni mengerutkan kening karena mendengar suara Bu Sri yang sekarang terdengar lebih kalem, bahkan hampir mendayu. Ia mengintip melalui celah kecil di jendela samping. Bu Sri berdiri di teras, tetapi sikapnya berbeda. Tangannya masih membawa sapu tapi tangan kirinya merapikan rambut sambil tersenyum manis. Ini pertama kalinya Roni melihat ekspresi Bu Sri yang seperti itu. Biasanya Bu Sri memasang wajah judes jika berhadapan dengannya. “Setelah ngomong... pasti akan memukulku lagi dengan sapu,” gumam Roni geli. “Ih, Joni—eh Roni, jangan diem aja dong. Aku mau minta maaf kalau tadi aku keterlaluan,” lanjut Bu Sri, nadanya mendadak manja. Jari-jarinya bahkan mengetuk-ngetuk pintu dengan irama yang aneh. “Aku juga mau masakin kamu ayam goreng sebagai permintaan maaf.” Roni merinding, bukan karena dingin. Tapi karena ucapan Bu Sri yang tak biasa. “Bu Sri... mau masakin?” ulangnya lirih, tak percaya. Seumur-umur ia tinggal di kampung ini, Bu Sri belum pernah sekalipun menawarkan makanan, kecuali makian dan hinaan. Tapi Roni mendadak ingat kejadian tadi dengan Bu Arum. Rasa agresif yang tiba-tiba, sentuhan yang keterusan, senyum yang terlalu manis. Lalu matanya menunduk. Cincin di jarinya mengeluarkan cahaya samar."Ajeng... aku..." Roni terbata, tidak tahu harus berkata apa. Ajeng cepat-cepat menambahkan, "Aku tahu ini mungkin terlalu tiba-tiba. Dan aku tahu kau mungkin tidak melihatku seperti itu. Tapi aku hanya ingin mencoba, Ron. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang peduli, yang mau mendengarkan, yang mau berbagi cerita seperti kita lakukan sekarang." Roni menatap Ajeng, merasakan ketulusan di matanya. Ia teringat pada Dinda, pada Ningrum, pada semua kekacauan yang ia alami akhir-akhir ini. Namun di hadapan Ajeng, ada sesuatu yang berbeda—ketenangan, kesederhanaan, dan ketulusan yang jarang ia temukan. Roni tersenyum, namun ada kegelisahan yang masih menggelayut di hatinya. Ia menatap Ajeng dengan tatapan serius. "Ajeng... aku harus jujur padamu. Jika kita menjalin ikatan ini dan diketahui oleh Pak Raharjo atau orang lain, itu akan menimbulkan masalah." Roni meng
Ajeng menunduk, jari-jarinya memainkan ujung kebayanya. "Aku sering berpikir, mungkin aku juga harus mengikuti gaya seperti itu. Tapi..." ia menggeleng pelan, "aku malu, Ron. Aku tidak bisa memakai pakaian yang terlalu terbuka. Rasanya tidak nyaman dan tidak sopan." Roni menatap Ajeng, dan untuk sesaat, pikirannya tanpa sadar membayangkan gadis itu mengenakan pakaian yang lebih modern—mungkin kaos ketat dan celana pendek seperti yang sering dikenakan Tika. Ia cepat-cepat mengusir bayangan itu, tapi senyumnya tetap terukir. "Ajeng," kata Roni hati-hati, "aku tidak bermaksud menyinggung, tapi... mungkin sesekali kamu bisa mencoba gaya yang sedikit berbeda. Bukan berarti harus terbuka, tapi mungkin sedikit lebih... modern? Siapa tahu kamu suka." Ajeng menunduk, jari-jarinya memainkan ujung kebayanya dengan gugup. "Aku... aku tidak percaya diri, Ron. Tubuhku kurus dan aku rasa wajahku juga tidak cantik." Suaranya pelan, nyaris berbisik.
Roni dan Pak Raharjo kembali melanjutkan pekerjaan membersihkan kandang. Suasana tetap santai, ditemani suara sapi-sapi yang saling bersahutan. Namun tiba-tiba, dari arah jalan depan, seorang tetangga bernama Pak Darsono berjalan tergesa menghampiri mereka. Wajahnya terlihat sedikit terburu-buru. "Pak Raharjo! Pak Raharjo!" seru Pak Darsono dari kejauhan. Pak Raharjo menghentikan sekopnya, menatap tetangganya dengan heran. "Ada apa, Darsono?" Pak Darsono mendekat, napasnya sedikit terengah. "Ada kabar bagus! Orang dari kota datang ke balai desa. Katanya mau membeli sapi Bapak, langsung lima ekor! Dia menunggu di balai desa untuk negosiasi langsung!" Pak Raharjo terkejut, matanya membelalak. "Lima ekor? Sekaligus?!" Ia meletakkan sekopnya dengan cepat. "Benarkah itu?" "Benar, Pak! Saya dengar dari Pak RT. Beliau minta Bapak segera ke balai desa," jawab Pak Darsono. Pak Raharjo lan
Setelah sepanjang pagi bersembunyi di dalam, Roni memutuskan untuk keluar rumah ketika siang datang. Dia mencari kegiatan yang bisa mengalihkan pikirannya dari semua kekacauan yang terjadi. Roni berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah Pak Raharjo, pria tua yang selalu ramah dan sering memberinya pekerjaan. "Pak Raharjo!" sapa Roni begitu sampai di halaman rumah sederhana itu. "Ada yang bisa saya bantu hari ini?" Pak Raharjo yang sedang duduk di teras sambil merokok santai, langsung tersenyum lebar melihat kedatangan Roni. "Wah, Ron! Tepat sekali! Kandang sapiku sudah kotor." Ia bangkit dengan susah payah, lalu menepuk pundak Roni. "Kau datang di waktu yang tepat seperti malaikat penolong." Roni tertawa kecil. "Saya bukan malaikat, Pak. Cuma pemuda yang butuh uang rokok." Pak Raharjo tertawa keras, suaranya menggema di halaman. "Kau ini! Ayo, kita ke belakang. Aku akan ambilkan cangkul dan sekop."
Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, Roni akhirnya mencapai puncaknya bersamaan dengan Dinda yang entah berapa kali. Roni menghela napas panjang, tubuhnya mulai rileks. Namun begitu gairah mereda, panik langsung menggantikannya. Ia menatap pintu, tapi Ningrum sudah tidak ada di sana. Roni menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dinda yang masih terlelap dalam pelukan, menatapnya dengan bingung. "Ron? Ada apa?" tanya Dinda, merasakan perubahan ketegangan di tubuh Roni. Roni menatap Dinda, lalu menatap pintu kamar mandi yang masih sedikit terbuka. "Mbak... pintu kamar mandi... tidak terkunci." Dinda menoleh ke arah pintu, lalu tersenyum santai. "Ah, tidak apa-apa. Tidak akan ada yang lewat di sini." Roni tidak menjawab. Ia tahu ada yang lewat. Dan ia tahu Ningrum telah melihat semuanya. Setelah mereka selesai mandi dan mengenakan pakaian, Roni keluar dari
"Mbak Dinda..." suara Roni serak, "ini... ini gila. Apa yang kita lakukan?" Dinda mendekat, tangannya meraih ujung kaos Roni. "Kita melakukan apa yang kita inginkan, Ron. Tanpa penyesalan." Perlahan, ia menarik kaos Roni ke atas, melepaskannya. Matanya menatap dada bidang Roni yang basah oleh keringat. "Aku tidak akan pernah cukup dengan satu malam bersamamu," bisik Dinda. "Jadi biarkan aku menikmatimu lagi." Roni tidak bisa berkata-kata. Ia membiarkan Dinda melepaskan celananya, lalu membiarkan air shower membasahi tubuh mereka berdua. Dinda berdiri di hadapan Roni, tangannya merayap pelan di dada bidang pemuda itu, seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Matanya menatap tubuh Roni dengan kagum, lalu tanpa sadar ia bergumam. "Ron... dari mana kau mendapatkan barang sebesar dan sekokoh ini?" tanya Dinda dengan nada heran bercampur kagum. Roni tersenyum malu, tapi ad







