เข้าสู่ระบบ“Maaf Ron! Maaf!” Kata Wanita paruh baya sekitar 40 tahun namun masih terlihat cantik.
“Bu Arum kalau bawa motor hati-hati, dong.” Gerutu Roni sedikit kesal. “Untung masih bisa saya tahan.” “Jangan salahin ibu!” Wanita bernama Bu Arum itu justru balik kesal. “Salahin motornya, yang gak mau direm.” Roni hanya menghela napas panjang. Wanita memang selalu benar meski dalam kondisi salah. “Iya, deh. Motornya yang salah.” Kata Roni pasrah. Bu Arum tersenyum genit seolah sedang menggoda pria incarannya. Namun senyum itu seketika berubah. “Oh iya, Ron. Aku sudah mencarimu sedari tadi.” kata Bu Arum panik. Roni mengernyitkan dahi. “Memangnya ada apa Bu Arum mencari saya?” Bu Arum menepuk pundak Roni pelan, lalu mengelusnya dengan lembut. “Begini Ron, Keran saya mampet. Tolong bantu benerin.” Bu Arum terus mengelus-elus pundak Roni. Sesekali juga memijat bahu pemuda itu karna ada maksud. “Keran yang di rumah atau yang di warung, Bu?” tanya Roni yang sudah terbiasa dimintai tolong oleh Bu Arum. Maklum, Bu Arum adalah seorang janda yang kini tinggal sendirian di rumah. Anak perempuannya merantau ke luar kota karena mencari penghasilan yang lebih besar. Bu Arum sendiri mencukupi kebutuhannya dengan membuka warung kopi kecil-kecilan. Warung yang digunakan untuk nongkrong anak-anak muda desa seperti Roni. “Yang di kamar mandi!” jawab Bu Arum cepat sambil menyerahkan kunci motornya pada Roni. Pemuda itu menerima kunci itu dan paham maksud dari Bu Arum. Mereka langsung menuju ke rumah Bu Arum yang terletak di ujung desa. “Bu Arum.” Roni membuka obrolan dalam perjalanan. “Apa tidak ada orang di warung ibu yang bisa dimintain tolong? Sampai harus repot-repot cari saya.” Bu Arum yang duduk di belakang Roni memajukan wajahnya dan hampir bersandar di pundak pemuda itu. “Hari ini aku libur, soalnya nanti sore mau jemput si Tika.” Jawab Bu Arum. “Loh, Tika pulang hari ini Bu!” Roni terkejut sekaligus senang. Tika adalah anak Bu Arum yang sudah lima tahun merantau di kota. Roni juga menaruh rasa pada Tika sejak kecil, tapi dia tak pernah berani menyatakannya. Bu Arum memperhatikan perubahan ekspresi Roni dari kaca spion. Wajahnya berubah menjadi semringah ketika nama Tika disebut. “Ron.” Panggil Bu Arum sambil menepuk pundak Roni. “Iya, Bu.” Sahut Roni yang kembali tersadar dari khayalannya tentang Tika. “Kayaknya kamu seneng banget Tika pulang?” Kata Bu Arum dengan senyum yang menyungging di bibirnya yang merah merona seperti biasa. Roni gelagapan mendengar pertanyaan itu. “Ee.. anu.. ee—” Bu Arum tertawa terbahak-bahak membuat motor yang dikendarai Roni sedikit kehilangan keseimbangan. “Gak apa-apa Ron.” Bu Arum menepuk pundak Roni untuk ke sekian kali. “Aku gak melarang kalau kamu mau deketin Tika.” Roni sedikit terkejut karena Bu Arum berbeda dari orang tua lainnya yang tidak memperbolehkan anaknya untuk dekat dengannya. Bahkan sekedar mengobrol saja tak boleh. “Beneran, Bu?” tanya Roni sambil tersenyum. “Ya, Bener, Ron.” Jawab Bu Arum tegas. “Asalkan Tika mau.” Bu Arum sangat yakin bahwa anaknya tak akan tertarik dengan Roni. Tapi ucapan itu membuat Roni sedikit lega. Tanpa sadar Roni langsung melajukan motor Bu Arum lebih kencang saking gembiranya. Baru kali ini dia mendapat lampu hijau. Apalagi dari orang tua gadis yang disukainya. Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di rumah Bu Arum. Rumahnya hampir sama seperti warga yang lain—sederhana dengan pekarangan yang agak luas. Tapi yang membedakan rumah Bu Arum dengan yang lain yaitu terdapat warung kecil di sudut pekarangan. Terpisah dari rumah utama sekitar empat meter. “Ayo, Ron!” kata Bu Arum setelah turun dari motor. Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah. Roni yang sudah terbiasa membenarkan keran di rumah Bu Arum, tidak berpikir macam-macam. Dia menuju ke pintu depan rumah Bu Arum dengan santai seperti biasanya. “Bu, kunci inggrisnya ada, kan?” Teriak Roni dari depan pintu. “Ada Ron di tempat biasanya!” Terdengar sahutan Bu Arum dari dalam rumah. Roni langsung menuju ke samping rumah Bu Arum, dimana terdapat sebuah lorong yang digunakan untuk menyimpan barang atau alat-alat yang jarang digunakan seperti perkakas milik mendiang suaminya. Setelah mendapat kunci inggris yang dibutuhkan, Roni langsung menuju ke kamar mandi lewat samping rumah. Semuanya sangat normal bagi Roni tak ada kejanggalan sama sekali ketika membetulkan keran yang mampet. “Ron! Ini kopi buat kamu.” Bu Arum datang membawa secangkir kopi di tangannya. “Taruh saja di situ, Bu.” Balas Roni tanpa menoleh karena sedang serius mengutak-atik keran. Bu Arum mendekat dan berjongkok di belakang Roni seperti anak kecil yang melihat temannya bermain game. Jaraknya begitu dekat hingga hampir membuat “semangka” besar Bu Arum menyentuh lengan Roni. Siku Roni yang bergerak tanpa sengaja menekan sesuatu yang kenyal. Bukannya mundur, Bu Arum justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengunci pergerakan Roni.Hendra menyeka sudut bibirnya yang masih berdarah, lalu tersenyum sinis. "Pergi sana! Roni, kamu dipecat. Mulai hari ini kamu tidak bekerja di sini lagi." Roni tidak menyanggah karena dia sadar ini adalah konsekuensi tindakannya. Dia menerima keputusan itu dan melangkah pergi. Mata Hendra beralih ke Ajeng, dan senyumnya berubah menjadi lebih halus, lebih menggoda. "Tapi Ajeng... kamu tetap bekerja di sini. Kontrakmu masih berlaku. Kalau kamu keluar sekarang, kau melanggar perjanjian. Aku bisa menuntutmu." Ajeng membeku, wajahnya pucat. "Tapi... aku tidak mau bekerja di sini lagi. Kamu sudah—" "Aku tidak melakukan apa-apa," potong Hendra dengan tenang. "Kamu hanya salah paham. Aku hanya ingin bicara. Tapi suamimu yang terlalu emosional malah memukulku." Ia menyentuh kompres di pipinya. "Ini bisa jadi bukti penganiayaan. Aku bisa lapor polisi." Roni melangkah maju, tapi Ajeng menahannya. "Ron, jangan." Hendra tersenyum puas. "Dengar istrimu, Roni. Dia lebih pintar darimu." Ia men
Mereka berjalan keluar dari toko menuju motor yang terparkir. Namun sebelum mereka sempat menyalakan mesin, suara Hendra memanggil dari pintu toko."Ajeng! Roni! Tunggu sebentar."Roni menoleh, merasakan ketegangan kembali menjalari tubuhnya. Hendra berjalan mendekat dengan senyum ramah, tangannya memegang dua amplop kecil."Ini gaji kalian untuk hari ini. Saya bayar harian dulu, ya. Nanti kalau sudah seminggu, kita hitung mingguan," kata Hendra, menyerahkan amplop pada Roni dan Ajeng.Roni menerimanya dengan hati-hati, "Terima kasih, Pak."Hendra mengangguk, lalu menatap Ajeng dengan tatapan yang lagi-lagi terlalu lama. "Ajeng, besok datang lebih pagi, ya. Ada beberapa laporan yang harus dirapikan."Ajeng mengangguk sopan, "Baik, Pak."Roni menggenggam tangan Ajeng, menariknya pelan menuju motor. "Kita pulang," katanya pelan.Mereka menaiki motor dan melaju pulang. Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng memeluk pinggangnya, merasakan ketegangan di tubuh suaminya."Ron
Saat jam istirahat siang, Roni keluar dari gudang dan menemui Ajeng di meja kasir. Ajeng tersenyum lebar melihatnya, "Ron! Sudah jam istirahat, ya?" Roni menggeleng, "Iya. Kamu gimana? Apa ada masalah dengan kerjanya?" Ajeng menggeleng, "Tidak ada. Pak Hendra baik, tapi..." ia berhenti sejenak, "dia terlalu sering mengajakku bicara. Aku merasa tidak nyaman." Roni merasakan amarah yang mulai membara, tapi ia menahannya. "Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pekerjaan lain. Kamu tidak harus di sini." Ajeng meraih tangan Roni, "Tidak. Aku bisa menjaga diri. Lagipula, ini pekerjaan yang bagus. Kita juga bakal butuh uang." Roni menghela napas, "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung bilang padaku." Ajeng mengangguk, "Iya" Mereka makan siang bersama di warung kecil dekat toko. "Ron, pekerjaanmu pasti berat ya?" tanya Ajeng, melihat keringat yang masih membasahi pelipis Roni. Roni tersenyum tipis, "Biasa saja. Aku sudah terbiasa kerja kasar." Ajeng mengangguk, "Semangat ya
Sesampainya di kontrakan, Roni dan Ajeng beristirahat sejenak. Ajeng menyeduh teh untuk mereka berdua, sementara Roni duduk di ruang tamu, memikirkan tentang Hendra. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tadi ia rasakan. "Ron, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Ajeng, duduk di sampingnya. Roni tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan kerja besok." Ajeng menatapnya dengan tatapan yang tahu, "Kamu memikirkan Pak Hendra, ya? Aku juga lihat caranya memandangku tadi." Roni terkejut, "Kamu sadar?" Ajeng mengangguk, "Aku bukan anak kecil, Ron. Aku tahu kapan pria memandangku dengan cara yang tidak pantas." Ia meraih tangan Roni, "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tergoda kamu adalah pria perkasa yang tak tergantikan." Roni menghela napas, "Aku tahu. Aku hanya... tidak ingin ada masalah lagi." Ajeng mencium pipi Roni, "Tidak akan ada masalah. Kita fokus pada hidup kita. Besok kamu mulai bekerja di gudang. Aku akan mencari pekerjaan la
Pagi tiba, Roni terbangun dengan kepala berat dan hati yang masih diliputi rasa bersalah. Di sampingnya, Ajeng masih terlelap dengan napas teratur, tangannya masih melingkar di pinggang Roni. Roni menatap wajah istrinya yang tenang, lalu dengan hati-hati melepaskan pelukan dan bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin, lalu keluar. Suasana kontrakan masih sunyi. Roni melirik ke arah kontrakan Desi yanh pintunya masih tertutup, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Roni menghela napas panjang, memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus mencari pekerjaan dan fokus pada hidup barunya bersama Ajeng. Tak lama kemudian, Ajeng bangun dan bergabung dengannya. Ia membawa dua cangkir kopi hangat yang baru ia seduh. "Kenapa nggak bangunin aku kalau sudah bangun?," katanya, mencium pipi Roni. Roni tersenyum tipis, "Hari ini aku mau cari kerjai." Ajeng duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir kopi. "Aku juga ingin cari kerja. Aku t
Roni merasakan gelombang panas yang tak terbendung memuncak di tubuhnya. Ia menekan lebih dalam, menuntut, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Desi. Tubuh Roni menegang, napasnya tersengal, dan untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa kosong. Desi yang ada di bawahnya juga gemetar, tubuhnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi begitu Roni terkulai lemas di atasnya, sesuatu dalam diri Desi berubah. Kesadaran yang tadi kabur oleh kenikmatan perlahan kembali.Desi merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di antara pahanya. Lalu, rasa sakit yang tadi tersamarkan oleh gairah kini muncul kembali—nyeri yang menusuk, mengingatkannya pada apa yang baru saja terjadi.Desi membuka matanya. Ia menatap Roni yang masih berbaring di atasnya, napasnya masih berat, dengan senyum puas di bibirnya. Dan tiba-tiba, air mata mulai mengalir di pipi Desi."Mas..." suaranya bergetar. "Kenapa... kamu tega banget ngelakuin ini."Roni tersadar. Ia






