Home / Romansa Pria / Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua! / Bab 4 - Semangka Besar Bu Arum

Share

Bab 4 - Semangka Besar Bu Arum

Author: Frands
last update publish date: 2026-07-07 13:48:23

“Maaf Ron! Maaf!” Kata Wanita paruh baya sekitar 40 tahun namun masih terlihat cantik.

“Bu Arum kalau bawa motor hati-hati, dong.” Gerutu Roni sedikit kesal. “Untung masih bisa saya tahan.”

“Jangan salahin ibu!” Wanita bernama Bu Arum itu justru balik kesal. “Salahin motornya, yang gak mau direm.”

Roni hanya menghela napas panjang. Wanita memang selalu benar meski dalam kondisi salah.

“Iya, deh. Motornya yang salah.” Kata Roni pasrah.

Bu Arum tersenyum genit seolah sedang menggoda pria incarannya. Namun senyum itu seketika berubah.

“Oh iya, Ron. Aku sudah mencarimu sedari tadi.” kata Bu Arum panik.

Roni mengernyitkan dahi. “Memangnya ada apa Bu Arum mencari saya?”

Bu Arum menepuk pundak Roni pelan, lalu mengelusnya dengan lembut. “Begini Ron, Keran saya mampet. Tolong bantu benerin.”

Bu Arum terus mengelus-elus pundak Roni. Sesekali juga memijat bahu pemuda itu karna ada maksud.

“Keran yang di rumah atau yang di warung, Bu?” tanya Roni yang sudah terbiasa dimintai tolong oleh Bu Arum.

Maklum, Bu Arum adalah seorang janda yang kini tinggal sendirian di rumah. Anak perempuannya merantau ke luar kota karena mencari penghasilan yang lebih besar.

Bu Arum sendiri mencukupi kebutuhannya dengan membuka warung kopi kecil-kecilan. Warung yang digunakan untuk nongkrong anak-anak muda desa seperti Roni.

“Yang di kamar mandi!” jawab Bu Arum cepat sambil menyerahkan kunci motornya pada Roni.

Pemuda itu menerima kunci itu dan paham maksud dari Bu Arum. Mereka langsung menuju ke rumah Bu Arum yang terletak di ujung desa.

“Bu Arum.” Roni membuka obrolan dalam perjalanan. “Apa tidak ada orang di warung ibu yang bisa dimintain tolong? Sampai harus repot-repot cari saya.”

Bu Arum yang duduk di belakang Roni memajukan wajahnya dan hampir bersandar di pundak pemuda itu.

“Hari ini aku libur, soalnya nanti sore mau jemput si Tika.” Jawab Bu Arum.

“Loh, Tika pulang hari ini Bu!” Roni terkejut sekaligus senang.

Tika adalah anak Bu Arum yang sudah lima tahun merantau di kota. Roni juga menaruh rasa pada Tika sejak kecil, tapi dia tak pernah berani menyatakannya.

Bu Arum memperhatikan perubahan ekspresi Roni dari kaca spion. Wajahnya berubah menjadi semringah ketika nama Tika disebut.

“Ron.” Panggil Bu Arum sambil menepuk pundak Roni.

“Iya, Bu.” Sahut Roni yang kembali tersadar dari khayalannya tentang Tika.

“Kayaknya kamu seneng banget Tika pulang?” Kata Bu Arum dengan senyum yang menyungging di bibirnya yang merah merona seperti biasa.

Roni gelagapan mendengar pertanyaan itu. “Ee.. anu.. ee—”

Bu Arum tertawa terbahak-bahak membuat motor yang dikendarai Roni sedikit kehilangan keseimbangan.

“Gak apa-apa Ron.” Bu Arum menepuk pundak Roni untuk ke sekian kali. “Aku gak melarang kalau kamu mau deketin Tika.”

Roni sedikit terkejut karena Bu Arum berbeda dari orang tua lainnya yang tidak memperbolehkan anaknya untuk dekat dengannya. Bahkan sekedar mengobrol saja tak boleh.

“Beneran, Bu?” tanya Roni sambil tersenyum.

“Ya, Bener, Ron.” Jawab Bu Arum tegas. “Asalkan Tika mau.”

Bu Arum sangat yakin bahwa anaknya tak akan tertarik dengan Roni. Tapi ucapan itu membuat Roni sedikit lega.

Tanpa sadar Roni langsung melajukan motor Bu Arum lebih kencang saking gembiranya. Baru kali ini dia mendapat lampu hijau. Apalagi dari orang tua gadis yang disukainya.

Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di rumah Bu Arum. Rumahnya hampir sama seperti warga yang lain—sederhana dengan pekarangan yang agak luas.

Tapi yang membedakan rumah Bu Arum dengan yang lain yaitu terdapat warung kecil di sudut pekarangan. Terpisah dari rumah utama sekitar empat meter.

“Ayo, Ron!” kata Bu Arum setelah turun dari motor. Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah.

Roni yang sudah terbiasa membenarkan keran di rumah Bu Arum, tidak berpikir macam-macam. Dia menuju ke pintu depan rumah Bu Arum dengan santai seperti biasanya.

“Bu, kunci inggrisnya ada, kan?” Teriak Roni dari depan pintu.

“Ada Ron di tempat biasanya!” Terdengar sahutan Bu Arum dari dalam rumah.

Roni langsung menuju ke samping rumah Bu Arum, dimana terdapat sebuah lorong yang digunakan untuk menyimpan barang atau alat-alat yang jarang digunakan seperti perkakas milik mendiang suaminya.

Setelah mendapat kunci inggris yang dibutuhkan, Roni langsung menuju ke kamar mandi lewat samping rumah. Semuanya sangat normal bagi Roni tak ada kejanggalan sama sekali ketika membetulkan keran yang mampet.

“Ron! Ini kopi buat kamu.” Bu Arum datang membawa secangkir kopi di tangannya.

“Taruh saja di situ, Bu.” Balas Roni tanpa menoleh karena sedang serius mengutak-atik keran.

Bu Arum mendekat dan berjongkok di belakang Roni seperti anak kecil yang melihat temannya bermain game. Jaraknya begitu dekat hingga hampir membuat “semangka” besar Bu Arum menyentuh lengan Roni.

Siku Roni yang bergerak tanpa sengaja menekan sesuatu yang kenyal. Bukannya mundur, Bu Arum justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengunci pergerakan Roni.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 187 - Roni Milik Kita Bersama

    Sore itu, Roni menjemput Ajeng di toko bangunan seperti biasa. Ajeng keluar dari toko dengan wajah lelah namun tersenyum begitu melihat Roni menunggu di seberang jalan.Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng merasakan ada yang aneh, tapi ia memilih untuk tidak bertanya. Mungkin Roni hanya lelah, pikirnya. Sesampainya di kontrakan, Roni memarkir motor dan mereka berjalan menuju pintu.Namun begitu pintu terbuka, Ajeng terkejut. Desi sudah duduk di ruang tengah kontrakan mereka, dengan wajah pucat dan mata sembab. Ia menunduk, tangannya memainkan ujung seragamnya yang masih ia kenakan."Mbak Desi?" Ajeng mengerjapkan mata, bingung. "Ada apa? Kenapa kamu di sini?"Desi mengangkat kepalanya, menatap Ajeng dengan tatapan yang sulit dibaca. "Aku... aku perlu bicara denganmu."Ajeng menoleh pada Roni, mencari penjelasan. Tapi Roni hanya menunduk, tidak berani menatap istrinya. "Ajeng," kata Roni pelan, "duduklah. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."Ajeng menurut, duduk d

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 186 - Butuh Suami

    "Astaga... apa yang aku lakukan?" bisiknya pelan, merasakan jantungnya berdegup kencang.Roni menyentak tubuh Desi ke dalam gendongannya. Wanita itu terasa begitu ringan, hampir tanpa bobot, seolah ia hanya membawa seonggok pakaian kosong. Dengan langkah yang terburu-buru dan napas memburu, ia menyusuri trotoar, matanya bergerak liar mencari sudut yang tersembunyi dari jangkauan lalu lalang jalan. Kepalanya berputar hebat memikirkan opsi. Membawa Desi ke kontrakan sama saja dengan mengantarkan diri ke tiang gantungan, namun membiarkannya tergeletak di trotoar terbuka ini jelas bukan pilihan.Di ujung gang, ia menemukan ruko kosong terbengkalai dengan pintu yang langsung terbuka saat didorong bahunya. Menyusup ke dalam ruangan gelap berdebu yang dipenuhi perabot lapuk, Roni segera membaringkan tubuh Desi di atas satu-satunya kursi panjang yang tampak masih kokoh.Roni menjulang di kegelapan, matanya terpaku pada paras Desi yang terbujur kaku tak sadarkan diri. Di tengkuk wanita itu,

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 185 - Roni Dilaporkan ke Polisi?

    Roni membeku. Kata-kata itu menghantam dadanya seperti godam, menyisakan sesak yang mencekik. Ia menatap Desi, sepasang matanya bergerak liar, berusaha mencerna untaian kalimat yang baru saja telanjur lepas."Apa?" Suaranya nyaris berupa bisikan kosong.Desi menarik napas dalam, mengulangnya dengan nada yang jauh lebih tegas. "Aku hamil, Roni. Dan aku yakin ini anakmu."Seketika, dunia di sekeliling Roni terasa berputar lambat. Pandangannya jatuh pada perut Desi yang masih rata, sebelum kembali terpaku pada wajah wanita itu yang mulai menegang. "Tapi... kita cuma melakukannya sekali. Malam itu. Bagaimana bisa—""Nyatanya ini terjadi!" potong Desi. Suaranya mulai bergetar, menahan tangis yang mendesak keluar. "Aku belum pernah dengan siapa pun selain kamu, Ron. Kamu yang pertama dan satu-satunya. Jadi, jangan coba-coba mengelak—ini anakmu!"Keheningan yang pekat dan menyesakkan mendadak menyelimuti pikirannya. Roni bangkit dan melangkah mundur satu tapak, seolah jarak fisik bisa menjau

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 184 - Aku hamil

    Roni duduk di tepi ranjang, masih mencerna semua yang baru saja ia dengar. Foto lama itu masih di tangannya, dan ia menatapnya sekali lagi—Dinda dan Desi, dua gadis yang tersenyum di samping ibu mereka. Dua gadis yang pernah ia tiduri tanpa tahu siapa mereka sebenarnya."Bu Gita," kata Roni pelan, "Apa Desi tahu tentang Bram?"Bu Gita mengangguk pelan, "Tentu saja tahu. Dia juga tidak setuju dengan pernikahan Dinda. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dinda sudah memilih jalannya sendiri." Ia menghela napas, "Desi tinggal di sini agar kami bisa saling melindungi dari bahaya yang dikirim oleh orang-orang yang sering meneror kami."Roni mengangguk, merasakan beban yang semakin berat. Ia menatap Bu Gita, lalu berkata dengan suara hati-hati, "Bu... tentang malam ini. Aku minta maaf. Aku tidak seharusnya—""Jangan," potong Bu Gita, mengangkat tangannya. "Jangan minta maaf. Aku yang memulai. Aku yang menggoda mu. Kau hanya merespon." Ia tersenyum tipis, "Lagipula, kau sudah menikah. Aku ta

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 183 - Tiga wanita

    "Lebih cepat... Ron... lepaskan semuanya..." Roni menuruti. Ia mempercepat gerakannya, memompa dengan ritme yang semakin liar. Tempat tidur berderit, dan Bu Gita mencengkeram punggung Roni, kukunya menggores kulit. Erangan dan desahan memenuhi kamar, bercampur dengan suara tubuh yang saling mengejar kepuasan. Bu Gita mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi Roni belum selesai. Ia terus bergerak, membuat Bu Gita mencapai puncak lagi, dan lagi. Wanita itu benar-benar kewalahan, tubuhnya lemas, suaranya habis. Setelah hampir satu jam, Roni akhirnya merasakan gelombang panas yang tak terbendung. Ia menekan lebih dalam, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Bu Gita. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal, dan ia terkulai di samping wanita itu. Bu Gita berbaring diam, napasnya juga tersengal-sengal. Ia menatap Roni dengan mata yang masih sayu, lalu tersenyum tipis. "Kamu.

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 182 - Ukuran yang Luar Biasa

    "Ron... kau belum tidur?"Roni baru saja hendak masuk ke dalam rumah ketika suara lembut memanggilnya dari arah pagar.Roni menoleh dan melihat Bu Gita berdiri di depan rumahnya, mengenakan daster panjang dengan selendang tipis menutupi bahunya. Rambutnya diikat longgar, dan ia tersenyum ramah. "Kamu sedang apa di teras sendirian?" Tanya Bu Gita.Roni tersenyum tipis, "Hanya... mencari udara segar, Bu. Tidak bisa tidur."Bu Gita melangkah mendekat, berhenti di pagar yang memisahkan halaman mereka. "Aku juga tidak bisa tidur. Kadang malam-malam begini pikiranku kemana-mana." Ia menatap Roni dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu kelihatan gelisah. Ada masalah?" Lanjut tanya Bu Gita.Roni menghela napas, "Banyak, Bu. Tapi... tidak enak kalau cerita."Bu Gita tersenyum, "Kalau kau butuh teman bicara, aku mau dengerin kok. Kadang kalau ada masalah, kita hanya butuh seseorang untuk mendengarkan."Roni menatap Bu Gita lama, merasakan ketulusan di matanya. Tapi ia juga merasakan sesuatu ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status