LOGINRuang CCTV itu terasa lebih sempit dari ukuran aslinya.Layar-layar monitor menyala berjajar, menampilkan sudut-sudut gym dari berbagai arah. Biasanya tempat itu hanya dipakai untuk pemantauan biasa, keamanan alat, keluar masuk member, hal-hal teknis.Namun kali ini,Ada sesuatu yang berbeda.Bima berdiri di depan layar dengan napas yang tidak beraturan. Dadanya masih terasa nyeri, tapi ia bahkan tidak memedulikannya. Tatapannya tajam, berpindah dari satu layar ke layar lain.“Putar lagi yang tadi,” ucapnya tegas pada petugas.Rekaman diputar ulang.Area tempat Sevi berdiri tadi terlihat jelas.Sevi ikut memperhatikan, berdiri sedikit di belakang Bima. Tangannya saling menggenggam, berusaha menenangkan diri.Di layar, Ia terlihat sedang mengangkat barbel. Lalu tiba-tiba terkejut dan barbel jatuh.Namun…Tidak ada siapa pun di belakangnya. Bima mengernyit.“Zoom bagian sini.”Layar diperbesar.Tetap sama.Kosong.“Yang sudut kanan.”Dipindah.Tidak ada.“Belakang alat.”Diputar lagi.M
Gedung gym itu berdiri megah, jauh dari bayangan Sevi sebelumnya. Dari luar saja sudah terlihat luas, dengan kaca besar yang memperlihatkan aktivitas di dalamnya. Orang-orang lalu lalang, sebagian membawa tas olahraga, sebagian lagi sudah mengenakan pakaian gym lengkap dengan earphone di telinga. Sevi berhenti beberapa langkah dari pintu masuk.“Ma…” ucapnya pelan.Mama ikut menatap ke dalam.“Ini… gede banget ya…”Sevi mengangguk. “Aku kira cuma gym biasa.”Belum sempat mereka melangkah masuk, seseorang dari belakang langsung merangkul bahu Sevi.“Dateng juga akhirnya yang ditunggu-tunggu.”Sevi refleks kaget. “Eh!”Ia menoleh cepat. “Bima!”Bima tertawa lepas melihat ekspresi Sevi. Mama yang melihat itu juga ikut tersenyum. “Kaget ya kamu.”“Ya kaget lah, tiba-tiba…” Sevi memukul pelan lengan Bima.Bima malah semakin santai. Ia merangkul keduanya, berjalan masuk bersama.“Gimana? Lumayan kan tempatnya?”“Lumayan apanya… ini gede banget,” jawab Sevi jujur.Bima tersenyum bangga. “P
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu kamar sudah dimatikan sejak lama, namun mata Arlan masih terbuka menatap langit-langit. Bayangan kata-kata Sevi terus berputar di kepalanya, seperti kaset rusak yang tidak bisa berhenti.“Kalau nanti kamu mau cari perempuan lain…”Kalimat itu sederhana. Bahkan terdengar seperti candaan ringan. Tapi entah kenapa menancap terlalu dalam.Arlan menghela napas panjang. Tangannya terlipat di bawah kepala. Ia menoleh ke samping, melihat Sevi yang sudah tertidur lebih dulu. Wajahnya tenang. Napasnya teratur.Seolah tidak ada beban apa pun.“Kenapa kamu ngomong gitu…” gumam Arlan pelan, nyaris tanpa suara.Ia memejamkan mata. Namun bukan gelap yang datang. Melainkan bayangan. Bayangan kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum terjadi.Apa itu hanya celetukan?Atau… sesuatu yang selama ini Sevi pendam?Dada Arlan terasa sesak.Ia membuka mata lagi. Menatap ke arah Sevi.“Siapa yang kamu pikirin, Sev…”Tidak ada jawaban.Hanya suara jam dinding
Terangnya hari sudah mulai tergantikan gelapnya malam, semua. Mama dan Papa keluar sore tadi karena ada acara di luar, Mbak sendiri sudah pulang ke rumahnya. Kini tinggal Sevi dan Arlan yang masih belum beranjak dari kasur.Tangan Arlan juga tidak berhenti mengusap perut Sevi. Walau Sevi sudah mengatakan bahwa perutnya sudah tidak lagi sakit, namun kata itu tidak diindahkan oleh Arlan.“Mau makan apa sayang?”“Aku mau yang kuah-kuah boleh?” Karena Sevi sudah menentukan bentuk makanan apa yang mau dimakan, Arlan langsung terpikirkan untuk mengajak Sevi ke restoran Jepang tak jauh dari sini.“Mau ramen? Atau udon? Ada resto jepang baru nggak jauh dari sini.”“Ramen enak nggak sih... Yok sekarang berangkat.”Sevi langsung berdiri dan mencari cardigan yang ada di lemari Arlan. “Kadang heran, kamu tuh tadi siang udah pucet kayak nggak kuat ngapa-ngapain.” Ucap Arlan sambil terkekeh. Ia bingung akan hormon wanita yang begitu cepat berubah, kesakitan yang Sevi rasakan tadi siang kini sepe
“Mau ku pijat aja kah? Atau mau dikompres aja?”“Mau dua-dua nya.”Dengan sigap Arlan langsung turun ke bawah untuk mengambil kain bersih dan air hangat. Sudah tidak ada orang sama sekali di bawah, mungkin mereka sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.Tak butuh waktu lama, Arlan kembali ke atas menuju kamarnya. Sevi terlihat sudah tak lagi mengerang, nafas nya juga kembali teratur. Arlan yang melihatnya jadi tak tega untuk membangunkan, ia malah bersyukur Sevi bisa beristirahat.Arlan memutuskan untuk duduk di sofa dekat balkon, air hangat dan kain nya ia taruh di nakas dekat Sevi. “Jangan sakit-sakit ya, sayang.” Gumamnya sambil menatap penuh kasih pada Sevi.Sebelum benar-benar duduk di sofa, ia mengambil acak buku di laci nakas, membaca nya dengan sesekali menatap ke arah Sevi.“Lan.. Sa-sayang...”Belum juga Arlan fokus pada buku tersebut, Sevi terbangun dan kembali mengerang. “Sa-sakit...”“Iya sayang, bagian mana yang sakit? Kompres ya.”Sevi membuka baju nya dengan mata s
Di sisi lain, Arlan dan Papa nya mencari toko pancingan tak jauh dari rumah. Karena memang hanya mencoba bertanya terlebih dahulu mengenai pancingan.“Di sekitar sini dulu Arlan pernah liat ada toko pancingan, Pa.”“Yaudah parkir dulu mobilnya, kita cari aja. Nggak usah jauh-jauh juga, nanti kena macet.”Tak jauh dari toko mereka parkir, terlihat sebuah toko kecil di pojok yang terpampang pancingan dan beberapa aksesoris ikan di belakang kaca jendela. Papa langsung tersenyum sumringah meninggalkan Arlan yang masih menatap ke sekitar. Saat Arlan ikut masuk ke dalam, ada satu lelaki paruh baya sedang menata senar pancingan di etalase.“Permisi pak,”Lelaki itu tersenyum ramah, “Iya mari silahkan dilihat-lihat dulu”“Mau tanya dulu, pancingan yang sering digunakan terus ada yang diputer-puter buat narik tali nya itu apa ya namanya.” Papa sambil mempraktikkan apa yang ia cari.Sang penjual hanya mengangguk dan mencari box berisi reel pancingan. Ia menaruhnya di atas etalase.“Ini pak?”“
“Pak Bos... Bantu saya, ya...” Suara rendah nan halus, kini hancur sudah dinding kesabaran Arlan.Segera ia menggendong Sevi menuju ruangannya, tak ingin adegan yang membuatnya dejavu ini terekam oleh CCTV ruangan. Selagi menuju ke ruangannya, Sevi hanya mengusak lembut di lehernya. Suara kecipak
Hujan turun pelan malam itu.Butir-butirnya menimpa kaca jendela apartemen Alya, membentuk garis-garis samar seperti air mata yang menetes tanpa henti.Di dalam ruangan yang temaram, hanya cahaya lampu meja yang menerangi sebagian wajahnya. Di atas meja itu, berserakan kertas, foto, dan segelas ang
Malam itu, setelah Arlan pulang dari rumah orang tuanya, udara di sekitar kontrakan Sevi terasa tenang dan hangat. Lampu di dapur menyala redup, menerangi meja kecil yang kini dipenuhi beberapa bahan masakan sederhana, bawang merah, cabai, daun bawang, dan satu ikat sawi segar. Sevi duduk di kursi,
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Lampu-lampu kantor yang biasanya padam selepas sore, malam itu masih menyala di satu ruangan utama. Suara dengung mesin pendingin bercampur dengan bunyi lembut ketikan keyboard. Sevi duduk di meja analisis, matanya fokus pada layar komputer yang men







