LOGIN“Sev… aku...”“Kamu pikir aku marah karena siapa yang di mobil kamu?”Sevi menggeleng pelan. “Bukan itu.”Arlan menatapnya bingung.“Terus…?”Sevi tertawa kecil. Pahit. “Aku marah karena kamu bikin aku ngerasa… harus nebak.”Hening.“Kamu nutup telepon kayak lagi nyembunyiin sesuatu.”Arlan menggeleng cepat. “Nggak, aku cuma...”“Kamu bisa bilang, Lan,” potong Sevi. “Kamu bisa bilang ‘aku lagi nganter Sonya’. Sesederhana itu loh.”Arlan terdiam.“Kamu tahu aku nggak akan marah karena itu.” Sevi menarik tangannya perlahan.Namun Arlan menahannya.“Tapi kamu pilih buat nutup telepon.” Suaranya melemah. “Itu yang bikin capek.”Arlan menunduk. Tubuhnya gemetar. “Aku… takut kamu salah paham…”Sevi menghela napas. “Dan yang kamu lakukan justru bikin aku salah paham.”Arlan terdiam lagi.Semua yang ia pikirkan sebagai ‘melindungi’… justru berubah menjadi luka kecil yang menumpuk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.Suaranya bergetar. “Aku… bodoh ya…”Sevi tidak menjawab. Arlan kembali b
Arlan akhirnya datang.Namun kedatangannya tidak membawa kehangatan seperti biasanya.Begitu ia melangkah masuk ke rumah Mila, suasana hangat keluarga langsung terasa, tawa kecil, percakapan ringan, aroma makanan yang masih tersisa di udara. Namun semua itu seperti terpisah darinya.Matanya langsung mencari satu orang.Sevi.Sevi berdiri di dekat meja, berbincang dengan Mila dan beberapa anggota keluarga lainnya. Wajahnya terlihat biasa saja. Bahkan… terlalu biasa.Ketika mata mereka bertemu, hanya ada satu hal yang diberikan Sevi, Senyum.Tipis.Getir.Dan setelah itu, Sevi kembali mengalihkan pandangan, melanjutkan obrolannya seolah Arlan tidak baru saja datang. Langkah Arlan terhenti sesaat. Dadanya terasa sesak. Namun ia tetap berjalan masuk.“Lan, sini!” panggil Mila dari kejauhan.Arlan memaksakan senyum kecil.“Iya.”Ia menghampiri sebentar, menyapa seperlunya, lalu akhirnya memilih duduk di sofa pojok.Diam.Tangannya saling bertaut. Matanya… tidak pernah benar-benar lepas da
Sore itu, kantor mulai lengang. Beberapa karyawan sudah pulang, sebagian masih menyelesaikan pekerjaan. Di ruangannya, Sonya menatap layar komputer dengan fokus, meskipun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Ia melirik jam.Sudah hampir waktunya.Hari ini, Sevi tidak pulang bersama Arlan. Ia ada acara di rumah Mila. Bahkan dari siang tadi, Sevi sudah beberapa kali membicarakan soal itu dengan nada antusias.“Kayaknya bakal seru deh,” ucap Sevi waktu itu sambil merapikan tasnya.Arlan hanya mengangguk.“Iya, hati-hati.”“Aku bareng Mila sama suaminya kok. Aman.”Arlan tersenyum tipis.Namun bagi Sonya… itu adalah celah.Kesempatan.\\\“Pak, dokumen ini sudah saya revisi,” ucap Sonya, berdiri di depan meja Arlan.Arlan menerima berkas itu, membacanya cepat. “Iya, sudah oke. Kirim saja.”“Baik, Pak.”Beberapa menit kemudian, pekerjaan mereka selesai.Arlan berdiri, meraih jasnya. “Saya duluan, ya. Ada urusan.”Sonya mengangguk. “Baik, Pak.”Namun ia ikut berdiri. Mereka berjalan bersama
Pagi itu tidak berjalan seperti biasanya.Sevi berdiri di depan pintu apartemen dengan wajah pucat, tubuhnya masih terasa berat, dan kepalanya berdenyut sejak semalam. Demamnya belum benar-benar turun. Bahkan untuk berdiri tegak saja, ia harus menahan napas beberapa detik.Arlan yang berdiri di depannya menghela napas panjang, jelas menahan kesabaran.“Kamu nggak usah masuk hari ini,” ucap Arlan tegas. “Tinggal di apartemen. Atau ke rumah orang tua ku aja. Biar ada yang jagain.”Sevi menggeleng pelan, meskipun gerakannya terlihat lemah.“Nggak mau.”“Kenapa nggak mau?” nada Arlan mulai tegas. “Kamu sakit, Sevi.”“Masih bisa kerja kok.”“Kamu bahkan berdiri aja sempoyongan.”Sevi menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca, tapi tetap keras.“Aku nggak suka diam aja.”Arlan memberi pengertian. “Ini bukan soal suka atau nggak suka. Ini soal kondisi kamu, sayang.”Sevi mengalihkan pandangan.“Kalau aku di rumah, aku malah kepikiran kerjaan.”“Dan kalau kamu masuk kerja, kamu bisa pingsan di
Mungkin bagi sebagian orang, mempercayai ramalan adalah sesuatu yang tabuh. Sesuatu yang tidak masuk akal, bahkan cenderung dianggap tidak waras. Namun bagi Sonya, itu bukan sekadar percaya, itu adalah satu-satunya cara ia bertahan tanpa harus hancur sepenuhnya.Sonya bukan orang yang suka berdebat. Ia juga bukan tipe yang akan menjelaskan dirinya panjang lebar. Sejak kecil, ia sudah belajar satu hal, tidak semua hal yang diucapkan akan berakhir baik.Orang tuanya berpisah ketika ia masih terlalu muda untuk memahami arti pengkhianatan, tetapi cukup dewasa untuk merasakan dampaknya. Ayahnya ketahuan berselingkuh. Ibunya pergi, membawa adiknya. Dan Sonya… tetap tinggal.Bukan karena ia dipilih.Tapi karena ia tidak diperebutkan.“Sonya ikut Papa aja ya. Adik masih kecil,” ucap ibunya waktu itu, sambil tersenyum tipis, seolah keputusan itu ringan.Sonya kecil hanya mengangguk.“Baik, Ma.”Tidak ada tangisan. Tidak ada protes. Ia bahkan tidak bertanya kenapa.Sejak saat itu, hidupnya ber
Hari itu terasa berbeda bagi Arlan.Semakin ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan sikap Sonya dibanding hari-hari sebelumnya. Jika dulu interaksi mereka murni profesional, terukur, seperlunya, tanpa celah, hari ini terasa… terlalu dekat.Terlalu personal.Tatapan Sonya berubah.Senyumnya pun berbeda.Bukan lagi sekadar sopan, tapi seperti menyimpan maksud lain yang tidak diucapkan.Beberapa kali Sonya masuk ke ruangannya bukan hanya untuk urusan kerja. Ia mulai menanyakan hal-hal ringan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.“Bapak biasanya sarapan apa?”“Weekend kemarin ke mana?”Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia tanyakan.Arlan hanya menjawab seperlunya.Singkat.Jelas.Namun tidak memberi ruang untuk berkembang.Puncaknya ketika Sonya masuk membawa secangkir kopi.“Pak, ini kopi.”Arlan langsung mengangkat tangan.“Nggak usah, Sonya. Saya biasa bikin sendiri.”Namun Sonya tersenyum.“Sekali-sekali saya yang buat, Pak.”Arlan menghela napas pelan.Nada Sonya tidak memaksa,
Klinik terasa lebih sepi daripada biasanya. Udara dinginnya menggigit, namun bagi Sevi, ada sesuatu yang lain yang membuat tubuhnya kaku, ketakutan yang sejak semalam menggerogoti ketenangannya.Arlan berdiri sangat dekat, bahkan terlalu dekat, seolah takut jika Sevi menjauh satu langkah saja, ia a
Sevi terbangun bukan karena cahaya pagi atau suara bising dari luar apartemen, melainkan oleh getaran pelan di samping kepalanya. Notifikasi ponsel. Awalnya ia hanya mengernyit, meraba-raba nakas dengan mata setengah tertutup, lalu menarik ponselnya mendekat.Layarnya menyala, cukup terang untuk me
Malam itu, Arlan tidur di kamar tamu.Bukan karena ia tidak ingin berada satu ruang dengan Sevi, melainkan karena ia paham betul batas yang harus dijaga. Ia adalah tamu di rumah orang tua Sevi, dan apa pun perasaannya, ada adab yang tidak boleh dilangkahi. Meski demikian, pemahaman itu sama sekali
Pagi weekend ini benar-benar tidak memberi ruang tenang bagi Arlan.Apartemennya yang biasanya rapi dan senyap kini berubah seperti ruang ganti darurat. Pintu lemari terbuka lebar. Beberapa jas tergantung di sisi ranjang. Kemeja dilipat asal di kursi. Celana berserakan di sofa. Arlan berdiri di dep







