Share

Pernyataan

Author: Olivia
last update publish date: 2025-10-16 00:53:02

Hujan telah berhenti sore itu, meninggalkan aroma tanah basah yang samar menembus kisi jendela kantor. Di luar, langit mulai menampakkan semburat jingga lembut, sementara di dalam ruangan, suasana terasa lebih tenang dari biasanya.

Sevi duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer tanpa fokus. Jari-jarinya menyentuh mouse, tapi pikirannya melayang jauh masih pada kata-kata Alya malam itu, ancaman yang terus menghantui tidurnya selama beberapa hari terakhir.

Namun di sela ketakutannya, ada ses
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Nur Ajifa
semangat KK author dan sehat selalu
goodnovel comment avatar
Nur Ajifa
kenapa nggak tinggal dulu di rumah orang tua nya Arlan dulu sementara kasus nya di proses JD biar nggak ada ancaman LG
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Siapa Lagi Coba

    Pagi itu, Sevi bangun lebih awal dari biasanya. Udara Lembang yang sejuk membuatnya sedikit menggigil, namun juga memberi semangat tersendiri. Tanpa membangunkan Arlan yang masih terlelap, ia langsung bersiap membantu ibunya di dapur.Tak lama, ia sudah ikut membonceng ibunya menuju pasar.Perjalanan pagi itu terasa segar. Jalanan belum terlalu ramai, namun aktivitas sudah mulai terlihat. Beberapa pedagang membuka lapak, kendaraan hilir mudik, dan suara khas pasar mulai terdengar bahkan sebelum mereka sampai.Setibanya di pasar, ibunya langsung turun dan berpamitan sebentar.“Ibu ke dalam dulu ya, kamu tunggu di sini aja.”Sevi mengangguk.“Iya, Bu.”Ia memilih duduk di dekat parkiran, membeli air kelapa muda dari penjual di pinggir jalan. Gelas plastik dingin itu ia pegang santai, sambil menatap keramaian di depannya.Orang-orang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing.Ada yang menawar harga, ada yang mengangkat barang, ada pula yang sekadar berjalan sambil membawa kantong bel

  • Bos, Jangan di Sini!   Dasar Anak Muda

    Sevi dengan sigap merebahkan dirinya, sedangkan Arlan langsung melucuti semua yang Sevi kenakan saat ini. Arlan menatap penuh puja oleh pemandangan Sevi yang tanpa busana, gerakan tangan Sevi yang menutupi area intim ya malu-malu membuat Arlan semakin gemas.“Ngapain ditutupin gitu?” Tanyanya sambil menciumi seluruh badan Sevi.“Umm, ge-geli sayang.”Tak butuh waktu lama, Sevi menggeliat pelan dan merasakan bawahnya sudah terasa basah. Kejantanan yang sedari itu tegak, kini sudah menggesek pelan pada labia, mencari titik enak Sevi yang katanya sekecil kacang tanah. Tangan kirinya ikut mengelus bagian enak Sevi, sedangkan satunya memijat dada secara bergantian.“Di-disitu sayang.. Enak banget,” racau Sevi.Semakin Sevi meracau dan mendesah, Arlan begitu semangat menggerakkan pinggulnya ke depan belakang. Yang di dalam semakin mengetat, tanda akan dekat untuk mengeluarkan cairan kenikmatan. Sedangkan Arlan yang merasa terjepit membuatnya semakin mengerutkan kening dan langsung mencabu

  • Bos, Jangan di Sini!   Membujuk Arlan

    Acara berjalan dengan khidmat. Semua orang tampak larut dalam suasana hangat yang tercipta. Percakapan berlangsung dengan sopan, diselingi senyum dan anggukan dari masing-masing pihak keluarga. Namun di balik itu, ada dua orang yang tidak sepenuhnya menikmati momen tersebut.Arlan masih terlihat sedikit cemberut. Wajahnya tenang, tetapi jelas ada rasa tidak puas yang ia sembunyikan. Baginya, keputusan menunda hingga pertengahan bulan keenam terasa terlalu lama.Sementara itu, Sevi duduk di sampingnya dengan pikiran yang justru tidak kalah sibuk. Ucapan tentang “balak” tadi terus terngiang di kepalanya. Ia berusaha fokus, namun bayangan-bayangan kecil tetap muncul tanpa diminta.Di luar mereka berdua, suasana justru terasa lega.Orang tua, keluarga, bahkan para saudara yang hadir terlihat bahagia. Obrolan tentang rencana ke depan mulai mengalir, disambung dengan tawa ringan dan candaan khas keluarga.Setelah sesi utama selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan sederhan

  • Bos, Jangan di Sini!   Hari yang Ditetapkan

    “Si sekretaris Arlan nggak buat ulah lagi kan?”Suara Mama Arlan terdengar pelan namun penuh kehati-hatian. Tangannya masih sibuk merapikan salah satu bingkisan terakhir, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya ada di sana.Sevi yang duduk di sampingnya tersenyum tipis.“Aman, Ma. Akhir-akhir ini balik kayak dulu.”Mama Arlan mengangguk pelan, meski keraguan masih tersisa di wajahnya.“Bagus deh…” gumamnya. “Waktu kamu cerita kemarin, Mama agak khawatir… sama was-was juga sama dia. Padahal Mama juga nggak tahu orangnya yang mana. Tapi kayak…”Kalimat itu menggantung.Seolah ada firasat yang sulit dijelaskan.Tiba-tiba, dari belakang, Arlan datang dan langsung memeluk pundak mamanya dengan manja.“Tenang, Ma,” ucapnya lembut. “Percayain semua ke Arlan sama Sevi.”Mama sedikit terkejut, namun tangannya refleks mengelus lengan Arlan.“Arlan juga jaga jarak. Apapun kegiatan di luar kantor, pasti Arlan libatin Sevi,” lanjutnya.Mama menoleh, menatap anaknya lebih dalam.“Iya… Mama paham,”

  • Bos, Jangan di Sini!   Hari yang Ditunggu

    Hari berganti hari tanpa terasa. Waktu yang sempat terasa lambat kini justru berjalan cepat, seolah semua hal sedang bergerak menuju satu titik yang sama. Hingga akhirnya, hari yang dinanti itu benar-benar tiba.Sore itu, setelah pulang kerja, Sevi dan Arlan tidak banyak membuang waktu. Keduanya langsung bersiap menuju rumah utama Arlan. Beberapa tas sudah disiapkan, berisi pakaian dan perlengkapan yang akan mereka bawa ke Lembang keesokan harinya.Suasana kontrakan Sevi terasa sedikit berbeda. Ada kesibukan kecil, namun di balik itu terselip rasa antusias yang sulit disembunyikan.“Mandinya nanti aja di rumah Mama, sayang,” ucap Arlan sambil memasukkan barang ke dalam tas.Sevi yang sedang berdiri di depan cermin hanya mengangguk.“Iya, ini cuma cuci muka aja.”Ia lalu menoleh sedikit.“Itu tas yang di atas meja rias aku kamu bawa nggak?”Arlan berhenti sebentar, berpikir.“Iya, satu kan?”“Iya... Udah di mobil kok.”Sevi mengangguk puas.“Terus tas baju udah di bagasi kan?”“Udah, a

  • Bos, Jangan di Sini!   Hangat

    Sepulang dari kantor, suasana di kontrakan Sevi terasa jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada beban pikiran yang menggantung, tidak ada rasa was-was yang mengganggu. Hari itu berjalan begitu mulus hingga Sevi sendiri merasa ingin menikmati momen kecil yang sering terlewat.Tanpa banyak kata, ia sudah duduk di pangkuan Arlan di sofa ruang tengah. Televisi menyala, namun tidak benar-benar mereka tonton. Fokus mereka sepenuhnya ada satu sama lain.Sevi bersandar, tubuhnya rileks. Tangannya melingkar di leher Arlan, sementara wajahnya perlahan mendekat. Ia mengusap pelan leher Arlan, menikmati kehangatan yang terasa familiar.Arlan tidak menolak. Justru tangannya refleks memeluk pinggang Sevi, menahan tubuh itu agar tidak menjauh.Beberapa detik terasa tenang.Namun Sevi, dengan sifat jahilnya, tidak berhenti sampai di situ. Ia mencium leher Arlan pelan, lalu dengan sengaja mengusik lebih jauh.Sevi menjilat pelan hingga tubuh Arlan menegang seketika, lalu wajahnya be

  • Bos, Jangan di Sini!   Memerah Sapi

    Toko pakaian itu tidak besar, berdiri di pinggir jalan utama desa dengan etalase sederhana yang memajang manekin berpakaian kasual. Arlan masuk dengan langkah agak ragu. Ini bukan lingkungan yang biasa ia datangi untuk berbelanja. Tidak ada pendingin ruangan yang dingin menusuk, tidak ada musik lem

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Bos, Jangan di Sini!   Rumah Baru

    Mobil Arlan sudah terparkir rapi di pelataran rumah yang dikelilingi halaman luas dan tanah merah yang masih lembap. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan sekeliling dengan saksama. Udara yang tak pernah ia rasakan setelah sekian lama berada di kota, Lembang memang masih menyimpan udara bersih

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Bos, Jangan di Sini!   Panggilan

    Sevi terbangun bukan karena cahaya pagi atau suara bising dari luar apartemen, melainkan oleh getaran pelan di samping kepalanya. Notifikasi ponsel. Awalnya ia hanya mengernyit, meraba-raba nakas dengan mata setengah tertutup, lalu menarik ponselnya mendekat.Layarnya menyala, cukup terang untuk me

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Bos, Jangan di Sini!   Dasar Anak Muda

    Malam itu, Arlan tidur di kamar tamu.Bukan karena ia tidak ingin berada satu ruang dengan Sevi, melainkan karena ia paham betul batas yang harus dijaga. Ia adalah tamu di rumah orang tua Sevi, dan apa pun perasaannya, ada adab yang tidak boleh dilangkahi. Meski demikian, pemahaman itu sama sekali

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status