Home / Romansa / Bos, Jangan di Sini! / Terimakasih, Manis

Share

Terimakasih, Manis

Author: Olivia
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-17 00:34:03

Setelah makan malam selesai, mereka duduk di ruang tamu kecil itu. Hujan turun perlahan di luar, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan.

Sevi bersandar di kursi, memeluk bantal kecil di pangkuannya.

Arlan duduk di sebelah, menatap jendela yang berkabut oleh embun.

Di luar, hujan semakin deras. Sementara di dalam, waktu seolah berhenti di antara mereka berdua. Saling memandang dan perlahan tangan Sevi meraih tangan Arlan, dengan lihai ia mengelus punggung tangan Arlan.

“Tanganmu panas seka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bos, Jangan di Sini!   Mama Sakit

    Obrolan malam itu akhirnya berlanjut lebih santai. Walau Arlan sempat diam karena cemburu kecilnya muncul lagi, Sevi beberapa kali sengaja menyentuh tangan Arlan di bawah meja. Kadang menggenggam jemarinya, kadang sekadar mengusap punggung tangannya pelan seperti memberi tahu kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Dan memang benar, rasa cemburu Arlan perlahan mereda sendiri. Miko yang sedari tadi memperhatikan malah menyeringai jahil.“Gym lagi kapan kalian?”“Lusa kayaknya.” jawab Sevi sambil menyuap mie.“Eh serius?” Mila langsung antusias. “Aku mau ikut yoga nya.”“Nah iya sekalian aja.”Miko langsung menunjuk dirinya sendiri. “Gue ikut juga.”“Kamu olahraga?” Sevi tertawa mengejek.“Kurang ajar.”Mila ikut tertawa kecil sambil mengelus perutnya. “Sekalian lah Mik, biar nggak ngeluh encok terus.”“Padahal belum tua.” gerutu Miko.Arlan yang sedari tadi diam akhirnya ikut menyahut. “Papa mama ku juga mau ikut kayaknya.”“Hah serius?”“Iya. Mama malah ngambek kemarin karena kita

  • Bos, Jangan di Sini!   Dinner Double Date

    Malam semakin larut ketika Arlan dan Sevi akhirnya sampai di kontrakan Sevi. Begitu pintu dibuka, keduanya langsung masuk dengan langkah malas. Tas kerja dilempar asal ke sofa, sepatu dilepas sembarangan, lalu mereka sama-sama menjatuhkan diri ke kasur kecil di kamar Sevi.“Capek…” gumam Sevi sambil memeluk bantal.Arlan bahkan lebih parah. Ia telungkup sambil mengerang pelan karena pahanya masih terasa nyut-nyutan akibat latihan kemarin.“Kayaknya aku besok nggak bisa jalan.”“Lebay.”“Serius yang.”Sevi tertawa kecil. Tangannya mengusap rambut Arlan pelan yang sudah mulai panjang menutupi dahi.Selang beberapa menit kemudian, perut mereka justru mulai protes. Suara perut Sevi bahkan cukup jelas sampai Arlan langsung tertawa.“Katanya capek.”“Laper juga.”“Yaudah pesen online aja?”Sevi menggeleng sambil duduk pelan. “Bosen.”“Terus?”“Lan, katanya ada pasar malam loh. Mau nyari makan di situ nggak?”Arlan langsung menoleh dengan wajah tidak percaya. “Sebelah mana? Jauh nggak?”Sevi

  • Bos, Jangan di Sini!   Survey Gym

    Hari kerja akhirnya selesai juga. Langit di luar gedung kantor sudah berubah jingga gelap dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu persatu. Karyawan lain perlahan pulang meninggalkan lantai kantor yang sejak pagi ramai suara keyboard dan telepon. Sevi meregangkan tubuhnya pelan sambil berdiri dari kursi. Namun baru beberapa detik kemudian ia langsung memegangi pinggangnya sendiri.“Aduh…”Arlan yang melihat langsung tertawa kecil sambil menutup laptopnya.“Tuh kan, kemarin sok nambah set.”“Padahal yang ngajak gym siapa coba.”“Aku ngajak olahraga sehat, bukan ngajak kamu balapan angkat beban.”Sevi mendelik kesal. Ia mengambil pouch kecil miliknya lalu memukul pelan lengan Arlan.“Jahat.”Arlan malah makin tertawa. Ia berdiri lalu berjalan mendekati Sevi. Tangannya otomatis memijat pundak perempuan itu pelan.“Masih sakit?”“Paha sama tangan.”“Besok udah mendingan kok.”“Kalau besok makin sakit gimana?”“Ya aku gendong.”Sevi langsung menahan senyumnya sendiri. “Gombal.”“Serius i

  • Bos, Jangan di Sini!   Pasti Mau Ngikut

    Pagi itu alarm berbunyi berkali-kali, namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin bangun.Tubuh Sevi terasa pegal di hampir seluruh bagian. Begitu juga Arlan. Bahkan hanya untuk membalikkan badan saja rasanya malas.Sevi menarik selimut hingga dagunya. Rambutnya masih berantakan, matanya setengah tertutup sambil menatap Arlan yang telungkup di sampingnya.“Lan…”“Hm?” jawab Arlan dengan suara serak khas bangun tidur.“Badanku sakit semua.”Arlan mengangkat tangannya pelan lalu menunjuk dirinya sendiri tanpa membuka mata.“Sama.”Sevi terkekeh kecil melihat tingkah Arlan yang seperti orang sekarat. Padahal semalam mereka masih tertawa puas karena akhirnya berhasil gym bareng tanpa drama. Sekarang baru terasa akibatnya.Arlan memaksakan membuka mata. Ia melirik jam di meja samping kasur lalu langsung mengerang.“Anjir sayang…”“Kenapa?”“Kita kesiangan.”Sevi langsung bangun setengah duduk. Namun baru beberapa detik kemudian ia kembali rebah sambil memegangi paha.“Aduh…

  • Bos, Jangan di Sini!   Makan Bersama

    Rumah utama malam itu terasa ramai walau hanya diisi suara tawa keluarga kecil mereka.Begitu Arlan dan Sevi masuk membawa tas olahraga, mama langsung heboh menyuruh keduanya duduk di ruang tengah. Di atas meja sudah ada durian yang dibuka sebagian, lengkap dengan teh hangat dan beberapa camilan.“Nah ini atlet-atlet baru datang,” goda papa sambil tertawa kecil.Sevi langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan dramatis.“Capek pa… ternyata gym susah.”“Alay ma,” balas Arlan santai sambil duduk di sampingnya.Mama langsung memperhatikan mereka berdua dengan mata berbinar penasaran.“Jadi gimana gym nya? Beneran bagus kan?”“Bagus banget ma,” jawab Sevi semangat. “Bima makin serius ngajarnya.”Papa langsung mengangkat alis. “Oh yang anak gede item manis itu?”“PA!” Sevi langsung tertawa.“Lah emang iya.”Arlan yang sedari tadi makan durian langsung tersedak kecil menahan tawa.“Papa jangan ngomong depan orangnya nanti.”“Kenapa? Salah?”Suasana langsung dipenuhi tawa lagi.Mama sendiri

  • Bos, Jangan di Sini!   Adik

    Hari sudah benar-benar gelap ketika sesi olahraga mereka selesai. Gym yang tadi ramai perlahan mulai lebih lengang. Beberapa orang sudah pulang, sedangkan sisanya masih sibuk dengan latihan masing-masing.Sevi duduk di bangku dekat area loker sambil mengusap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil.“Capek juga ternyata…” gumamnya.Arlan yang berdiri di depannya langsung memberikan botol minum.“Makanya tadi jangan sok kuat.”“Padahal kamu yang ngos-ngosan duluan.”“Fitnah.”Bima yang mendengar itu langsung tertawa keras dari meja resepsionis.“Emang paling lucu kalau cowok gengsi diajak olahraga.”“Diam coach gagal,” balas Arlan santai.“Gagal gimana?”“Member baru aja hampir tumbang.”“Lah itu gara-gara kebanyakan ketawa.”Sevi langsung terkekeh lagi.Suasana sore ini terasa ringan. Tidak ada ketegangan seperti beberapa hari lalu. Bahkan Arlan mulai merasa nyaman berada di gym milik Bima. Setidaknya pria itu memang terlihat tulus menjaga Sevi.Setelah semuanya selesai mandi dan

  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last updateHuling Na-update : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Tertahan

    Dengkuran halus terdengar bersahutan.Televisi sudah lama dimatikan. Cahaya layar hitam memantulkan bayangan samar di dinding ruang tengah. Selimut tebal menutup rapi tubuh para ayah yang tertidur di depan TV, posisi mereka berantakan namun nyaman, seolah dunia bisa menunggu sampai pagi.Namun tida

    last updateHuling Na-update : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Salah Paham

    Bermaksud atau tidak,” sela Mila, “hasilnya sama.”Sevi menunduk. “Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu.” “Maaf?” Mila tersenyum miring. “Kamu selalu punya kata itu.” “Mila,” suara Sevi bergetar. “Aku nggak merebut siapa pun.” “Ya,” balas Mila dingin. “Karena dari awal dia milik kamu, kan.”

    last updateHuling Na-update : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Baikan

    Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p

    last updateHuling Na-update : 2026-03-31
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status