共有

Terimakasih, Manis

作者: Olivia
last update 公開日: 2025-10-17 00:34:03

Setelah makan malam selesai, mereka duduk di ruang tamu kecil itu. Hujan turun perlahan di luar, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan.

Sevi bersandar di kursi, memeluk bantal kecil di pangkuannya.

Arlan duduk di sebelah, menatap jendela yang berkabut oleh embun.

Di luar, hujan semakin deras. Sementara di dalam, waktu seolah berhenti di antara mereka berdua. Saling memandang dan perlahan tangan Sevi meraih tangan Arlan, dengan lihai ia mengelus punggung tangan Arlan.

“Tanganmu panas seka
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bos, Jangan di Sini!   Sonya di Mata Arlan

    Sore mulai turun perlahan di luar jendela rumah sakit. Langit yang tadinya terang kini berubah jingga redup, membuat suasana kamar rawat Sevi terasa lebih tenang dibanding siang tadi. Televisi menyala kecil tanpa benar-benar mereka perhatikan.Di atas meja samping ranjang sudah ada beberapa camilan yang dibawa Arlan sebelumnya, lengkap dengan susu stroberi dingin favorit Sevi. Namun perempuan itu masih belum benar-benar berselera makan sendiri karena tubuhnya masih terasa lemas.Maka sekarang, Arlan duduk di samping ranjang sambil memegang mangkuk makanan. Sedangkan Sevi duduk bersandar dengan selimut menutupi kakinya.“Mulutnya buka.”Sevi menurut pelan.Suapan demi suapan masuk dengan tenang. Sesekali Arlan meniup makanannya dulu sebelum menyuapi Sevi lagi, takut masih terlalu panas.Padahal tangan Sevi sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Infusnya pun berada di tangan kiri. Namun Arlan tetap keras kepala ingin menyuapi.“Nggak usah disuapin juga bisa kali…” gumam Sevi pelan.“Bisa sih

  • Bos, Jangan di Sini!   Pura-pura Pingsan?

    Ruangan itu kembali sunyi setelah Arlan keluar untuk meeting tadi pagi. Pendingin ruangan terasa dingin menusuk kulit, namun Sonya tetap memejamkan matanya di sofa panjang milik Arlan. Napasnya perlahan mulai teratur kembali. Pusing yang tadi menyerang memang nyata adanya, kepalanya bahkan masih terasa berat sampai sekarang.“A-aku pingsan?” Tanya nya pada dirinya sendiri.Jujur saja, kemarin ia benar-benar keteteran. Semua pekerjaan yang biasanya dibantu Arlan mendadak harus ia tangani sendiri karena pria itu terus fokus pada Sevi yang pingsan. Belum lagi revisi data, laporan meeting, dan email yang masuk tanpa henti membuat Sonya nyaris tidak tidur.Ditambah pikirannya sendiri yang semakin kacau. Ia terlalu memikirkan Arlan, tentang bagaimana pria itu sekarang mulai menjaga jarak yang membuatnya tak bisa lagi menggoda ataupun memberi perhatian kecil.Sonya menggertakkan giginya pelan. Dadanya terasa sesak lagi mengingat perubahan itu.“Emang pengganggu, sial.”Padahal dulu Arlan ma

  • Bos, Jangan di Sini!   Akhirnya Tegas

    Langkah Arlan yang awalnya ringan langsung terhenti di depan pintu ruang rawat. Kantong plastik berisi camilan dan susu stroberi yang ia bawa bergesekan pelan di tangannya. Wajahnya yang tadi sempat terlihat lega karena meeting selesai lebih cepat, kini perlahan berubah tegang.Sevi duduk di sofa dekat jendela rumah sakit. Tubuhnya menyandar lemah dengan selimut tipis menutupi kakinya. Cahaya sore dari luar masuk menerpa wajah pucatnya.Namun yang membuat dada Arlan terasa tidak nyaman, Sevi bahkan tidak menoleh sedikit pun saat dirinya datang.“Sayang…” panggil Arlan pelan.Tidak ada jawaban.Hanya suara notifikasi handphone yang sedari tadi berbunyi tanpa henti.Arlan berjalan mendekat. Baru saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Sevi mengangkat tangannya pelan.Bukan untuk menyambut, melainkan menunjuk handphone di meja samping sofa.“Liat aja sendiri.” Nada suaranya datar. Alis Arlan langsung mengernyit. Ia mengambil handphone itu dan membaca isi grup kantor yang ramai seja

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidur di Ruangan Pak Arlan

    Pagi itu suasana kantor masih cukup sepi. Beberapa karyawan baru datang dan sibuk menyalakan komputer masing-masing, sedangkan sebagian lainnya masih mengambil kopi di pantry. Langkah Arlan terdengar pelan memasuki area kantor dengan jas yang masih rapi dan wajah lelah karena kurang tidur hari ini. Pikirannya sebenarnya masih tertinggal di rumah sakit. Namun pekerjaan tetap harus berjalan.Arlan menghela napas pelan sambil membuka pintu ruangannya. Baru saja ia hendak duduk, suara langkah tergesa terdengar mendekat.“Pak…”Sonya berdiri di depan pintu sambil memegang map. Wajahnya terlihat pucat, tidak seperti biasanya yang selalu tampak segar dengan riasan rapi dan senyum manisnya.Arlan hanya mengangkat kepala sekilas.“Iya?”“Mau minta tanda tangan buat revisi data kemarin…” Nada suara Sonya pelan, bahkan seperti berbisikArlan mengambil map itu tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cepat membuka lembar demi lembar sambil sesekali memberi koreksi singkat. Namun baru beberapa men

  • Bos, Jangan di Sini!   Keluar ASI?!

    Cahaya matahari pagi masuk perlahan dari sela tirai kamar rawat. Suasana rumah sakit masih cukup tenang, hanya terdengar suara roda troli dan langkah para perawat yang sesekali lewat di depan ruangan.Arlan yang sedari tadi duduk sambil menyandarkan kepala di samping ranjang perlahan membuka mata. Lehernya terasa pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman semalaman.Namun begitu sadar, hal pertama yang ia cari adalah Sevi. Ternyata wanitanya masih tertidur miring menghadap ke arahnya. Napasnya lebih stabil dibanding kemarin, wajahnya juga tidak sepucat sebelumnya.Arlan tersenyum kecil lega. Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Sevi.“Pagi sayang…” gumamnya lirih walau Sevi belum benar-benar bangun.Tak lama kemudian, Sevi bergerak pelan. Keningnya sedikit mengerut seperti merasa tidak nyaman.“Hmm…”Arlan langsung mendekat. “Udah bangun, sayang?”Namun alih-alih menjawab, Sevi justru menunduk pelan ke arah bajunya sendiri. Wajahnya berubah panik dan bingung.“Lan…”“Iya, ken

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidak Akan Kecolongan

    Pelukan Arlan tidak pernah lepas sedari tadi. Tangannya masih mengusap pelan punggung Sevi, sesekali mengecup rambut perempuan itu dengan hati-hati. Setelah menangis dan mengeluarkan apa yang selama ini ia tahan sendiri, tubuh Sevi perlahan mulai rileks.Napasnya yang tadi tidak teratur kini mulai tenang.“Ngantuk…” gumam Sevi pelan sambil memejamkan mata.“Tidur aja, sayang” jawab Arlan lembut. “Aku di sini kok.”Sevi mengangguk kecil. Tangannya masih menggenggam ujung baju Arlan seperti takut laki-laki itu pergi. Namun rasa lelah dan obat yang mulai bekerja membuat kesadarannya perlahan menghilang.Tak lama kemudian, Sevi benar-benar tertidur.Arlan menunduk memperhatikan wajah perempuan itu cukup lama. Wajah pucatnya mulai sedikit membaik dibanding tadi pagi. Walau masih terlihat lelah, setidaknya Sevi kini bisa tidur lebih tenang.Jemari Arlan menyapu pelan rambut yang menutupi kening Sevi.Dadanya terasa sesak. Ia benar-benar tidak menyangka semuanya bisa sampai sejauh ini.Awaln

  • Bos, Jangan di Sini!   Tertahan

    Dengkuran halus terdengar bersahutan.Televisi sudah lama dimatikan. Cahaya layar hitam memantulkan bayangan samar di dinding ruang tengah. Selimut tebal menutup rapi tubuh para ayah yang tertidur di depan TV, posisi mereka berantakan namun nyaman, seolah dunia bisa menunggu sampai pagi.Namun tida

    last update最終更新日 : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Keputusan

    Siang itu seharusnya menjadi jeda yang tenang.Sevi duduk berhadapan dengan Arlan di ruangannya, makan siang sederhana yang Arlan bawa dari luar. Tidak ada obrolan berat, hanya cerita ringan tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh gejolak, Sevi m

    last update最終更新日 : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Lamaran

    Udara siang itu terasa berbeda. Hangat, namun tidak menyengat. Matahari bersinar cerah, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Angin berembus perlahan, menyapu dedaunan di halaman rumah Sevi, membawa aroma tanah basah dan bunga segar yang sejak pagi dirangkai dengan penuh ketelatenan.Mobil y

    last update最終更新日 : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last update最終更新日 : 2026-04-01
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status