Home / Romansa / Bos, Jangan di Sini! / Sabar Ini Ujian

Share

Sabar Ini Ujian

Author: Olivia
last update publish date: 2026-04-17 22:34:43

“Nanti aku mau gym di tempat Bima ya..” celetuk Sevi sambil masih menatap handphone nya dengan senyum sumringah.

“Nggak ada tempat gym lain kah? Aku sewain deh atau dimanapun asal jangan di...”

“Telat, mama sama aku udah mau booking member di sana.”

Arlan hanya bisa berdecak pelan, matanya tak fokus untuk menatap kedepan. Bayangan bagaimana di tempat gym nanti sudah memenuhi kepalanya.

“Sayang..” ucapnya sedikit memelas, bibirnya pun sudah mengerucut.

Sevi tak menghiraukannya barang sedetikpu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Sabar Ini Ujian

    “Nanti aku mau gym di tempat Bima ya..” celetuk Sevi sambil masih menatap handphone nya dengan senyum sumringah.“Nggak ada tempat gym lain kah? Aku sewain deh atau dimanapun asal jangan di...”“Telat, mama sama aku udah mau booking member di sana.” Arlan hanya bisa berdecak pelan, matanya tak fokus untuk menatap kedepan. Bayangan bagaimana di tempat gym nanti sudah memenuhi kepalanya.“Sayang..” ucapnya sedikit memelas, bibirnya pun sudah mengerucut. Sevi tak menghiraukannya barang sedetikpun, ia masih sibuk dengan apa yang ada di handphone nya. Mau tak mau,“Iyadeh nggak apa-apa. Asal jaga batas loh ya.”“Ada Mama juga loh, pastinya beliau juga tau gimana di sana” Dengan lembut Sevi memberi pengertian, elusan jemarinya di bahu Arlan membuat sang empunya tak berdaya. Terasa bahu Arlan sedikit mengendur, dahi yang sedari tadi dikerutkan juga sudah kembali seperti semula.“Aku percaya kamu, yaudah nanti biar biaya aku yang cover. Kabari kalau udah booking ya, cantik.”Tangan Sevi di

  • Bos, Jangan di Sini!   Pulang

    Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya. Suasana rumah sudah ramai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Tidak ada lagi santai seperti hari sebelumnya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.Tas-tas sudah mulai disusun.Bingkisan yang sempat dibawa kini dirapikan kembali.Beberapa barang dipastikan tidak tertinggal.Keputusan pulang hari itu memang mendadak. Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, membuat mereka harus kembali lebih cepat dari rencana awal.Meski begitu, suasana tidak sepenuhnya berat.Justru terasa… ringan.Terutama bagi Sevi.Ia berdiri di tengah ruang tamu, memperhatikan ibunya yang sedang melipat beberapa kain dengan rapi. Sesekali ia ikut membantu, tapi lebih sering memperhatikan dengan senyum kecil yang tidak lepas dari wajahnya.“Kok senyum-senyum sendiri?” tanya ibunya tanpa menoleh.Sevi terkekeh.“Enggak apa-apa.”Namun dalam hatinya, Ia tahu.Kali ini berbeda.Biasanya, setiap kali harus meninggalkan Lembang, ada rasa berat yang mengganjal

  • Bos, Jangan di Sini!   Yang Penting Ngomong

    Sevi menatapnya lama. Lalu perlahan Ia mendekat sedikit. Tangannya menyentuh lengan Arlan. “Cemburu itu wajar, Lan,” ucapnya lembut. Arlan menatapnya. “Apalagi kalau kamu sayang.” Sevi tersenyum tipis. “Tapi kamu tahu nggak bedanya?” Arlan menggeleng pelan. Sevi melanjutkan. “Cemburu yang sehat itu… diomongin. Bukan dipendam.” Hening sebentar. Lalu Sevi menghela napas kecil. “Aku sama Bima emang deket dulu,” jelasnya. “Tapi ya cuma teman. Bahkan lebih ke kayak saudara.” Ia menatap Arlan lurus. “Aku nggak punya perasaan apa-apa ke dia.” Nada suaranya tegas. terdengar tidak ada keraguan. “Dan sekarang,” lanjutnya pelan, “aku punya kamu.” Kalimat itu sederhana. Namun cukup. Arlan terdiam. Dada yang sejak tadi terasa berat, perlahan mengendur. Sevi menepuk pelan tangannya di setir.“Kalau kamu nggak nyaman, bilang,” katanya. “Jangan dipendam terus mikir sendiri.” Arlan mengangguk pelan. “Iya…”Sevi tersenyum kecil. “Lagipula,” tambahnya santai, “kalau aku mau sa

  • Bos, Jangan di Sini!   Jujur

    Langit mulai berubah warna. Jingga perlahan memudar, digantikan oleh semburat gelap yang merayap pelan di ufuk barat. Udara Lembang semakin dingin, membawa suasana sore menuju malam.Dirasa sudah cukup lama berkunjung, Bima akhirnya berdiri dari tempat duduknya.“Bima pamit ya, Pak, Bu… Sev, Lan,” ucapnya sambil tersenyum. “Maaf datangnya dadakan gini.”Ibu Sevi langsung berdiri dan mendekat.“Kayak siapa aja kamu ini,” ucapnya sambil memeluk Bima hangat.Pelukan itu dibalas dengan santai oleh Bima.Tak lama, Mama Arlan ikut mendekat dan memeluknya juga.“Hati-hati di jalan ya.”“Iya, Bu,” jawab Bima sopan.Yang lain hanya berdiri di belakang, memperhatikan dengan senyum kecil.Sebelum benar-benar pergi, Bima menoleh ke arah Sevi.“Mampir nanti ke gym Bima ya,” ucapnya sambil menaikkan alis, memberi kode. “Dikasih diskon aman aja.”Sevi tertawa kecil.Namun belum sempat ia menjawab Arlan sudah lebih dulu mendelik ke arah Bima. Tatapan tajam, meski hanya sekilas.Bima seperti menangkap

  • Bos, Jangan di Sini!   Lega

    Arlan duduk di kursi kayu itu dengan tubuh sedikit condong ke depan. Kedua tangannya saling bertaut, jemarinya bergerak pelan, seolah menahan sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan.Papa dan ayah Sevi bergantian menasihatinya.“Perasaan itu wajar,” ucap Papa pelan. “Tapi jangan sampai jadi asumsi.”Ayah Sevi ikut menimpali.“Iya, Nak. Kamu lihat dari jauh, belum tentu yang kamu pikir itu benar.”Arlan hanya diam. Tatapannya kosong ke depan. Bukan tidak mendengar, tapi juga tidak benar-benar memahami. Semua kata-kata itu seperti masuk… lalu menghilang begitu saja.Ia menghela napas panjang. Matanya terpejam sebentar.Berusaha menenangkan diri.Namun bayangan tadi soal tangan Bima di pipi Sevi, cara mereka bercanda masih terputar jelas di kepalanya.“Arlan!”Suara Sevi dari dalam rumah memecah lamunannya.“Papa! Ayah! Masuk, yuk!”Arlan membuka mata.Papa menepuk pundaknya pelan.“Udah, jangan terlalu dipikirin. Santai aja.”Ayah Sevi mengangguk setuju.“Yang penting kamu percaya sama pas

  • Bos, Jangan di Sini!   Tipe Sevi

    “Bima! Katanya siangan?”Sevi berlari kecil menghampiri, wajahnya terlihat cerah. Bima yang baru saja mematikan mesin motornya hanya tersenyum santai, seolah kehadirannya yang lebih cepat itu bukan masalah besar.“Gapapa,” jawabnya ringan. “Takutnya kamu pulang cepat. Di rumah juga lagi sepi, jadi main sini deh.”Tanpa canggung, ia mengangkat tangan dan menarik pelan pipi Sevi.“Mbul mbul… masih aja ya,” godanya.Sevi refleks meringis.“Ih, apaan sih kamu,” balasnya sambil menepis tangan Bima, namun tetap tertawa.Di kejauhan, Arlan yang menyaksikan interaksi itu langsung merengut. Rahangnya sedikit mengeras. Ia berdiri, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tidak terburu-buru, tapi jelas menunjukkan kehadirannya.Bima yang baru saja memarkirkan motor, akhirnya menyadari sosok Arlan.“Siapa, Sev?” tanyanya sambil menoleh.Sevi langsung mengisyaratkan.“Oh, Arlan… sini, Lan,” ucapnya memanggil. “Arlan ini Bima, teman SD-ku dulu.”Ia lalu menoleh ke arah Bima.“Bima, ini Arlan. Tun

  • Bos, Jangan di Sini!   Perasaan itu Lagi

    Hidup Sevi sempat terasa tenang. Setelah ia dan Arlan sepakat untuk backstreet, ia merasa bisa bernapas lega. Desas-desus yang kemarin sempat menggerogoti pikirannya perlahan mereda, bahkan nyaris hilang. Di kantor, semua tampak normal. Tidak ada lagi bisik-bisik yang menyebut namanya bersama Arlan

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Bos, Jangan di Sini!   Bukan Siapa-Siapa

    Mobil Arlan berhenti tepat di depan kontrakan kecil itu. Nafasnya masih terengah, tangannya bergetar ketika ia mematikan mesin. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju pintu, menekan angka-angka pada gembok digital yang sudah diingatnya dari kunjungan sebelumnya.Pintu terbuka dengan bunyi kl

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Bos, Jangan di Sini!   Sendiri...

    Kedatangan Alya ke kantor telah mengubah banyak hal. Sevi merasakannya jelas, meski tidak ada yang mengatakannya langsung. Dua hari terakhir, Arlan tidak lagi sama. Tidak ada lagi pesan singkat di pagi hari yang biasanya membuat Sevi tersenyum, menanyakan apakah ia sudah sarapan atau bagaimana kon

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Bos, Jangan di Sini!   Ketergantungan

    Dalam bilik sempit itu, antara desahan yang hampir bocor dan suara langkah di luar, Sevi sadar—yang berbahaya bukan rasa sakitnya, tapi kenyataan bahwa ia menikmati sentuhan dirinya.“Kamu… ngapain?”Sevi menunduk dalam, pipinya memanas. Jemarinya yang tadi berusaha menutupi dada kini tak berdaya,

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status