Mag-log in"Alya, aku sangat sibuk. Kalau kamu menahanku hanya untuk bicara tak penting, lebih baik menyingkir," ucap Azalea tegas, menatap Alya tanpa ragu sedikit pun.Ia lalu kembali melangkah. Karena Alya berdiri memblokir jalannya, Azalea mendorong pelan lengan gadis itu agar bisa lewat. Namun, secara tak terduga, Alya justru memanfaatkan dorongan kecil itu untuk sengaja menjatuhkan diri ke lantai."Ah! Kenapa kamu mendorongku, Lea?!" pekik Alya.Suara pekikannya sengaja dibuat keras untuk menarik perhatian semua orang. Seketika, keriuhan di panti berhenti. Sorot kamera wartawan yang tadinya meliput acara langsung beralih ke arah mereka.Para tamu, sukarelawan, hingga Adinata mendekat. Mereka menjadikan Alya dan Azalea pusat perhatian. Alya terduduk di lantai sambil memegangi perutnya dengan raut wajah kesakitan—menampilkan akting teraniaya yang sempurna di depan media.Azalea mematung di tempatnya. Ia sama sekali tak menyangka Alya nekat bermain drama semenjijikkan ini di depan banya
"Raven itu bukan anggota inti Black Viper--" Varan menambahkan. "Apa kamu punya masalah dengannya? Atau saat pertandingan basket kemarin dia menyinggungmu?" Lanjut Ezra yang juga penasaran. Otaknya tidak bisa lepas dari saat-saat mereka bertanding basket. Zayn masih menatap lurus, namun matanya menyipit seolah sedang membayangkan ada target di depannya. "Karena--" Zayn tampak enggan bicara, namun teman-temannya itu terus mendesak. "Yuda mengusik Lea, hampir saja dia melukainya. Dan Raven, dia terlibat hal besar soal ini," Zayn bicara masih dengan kalimat yang sulit dipahami oleh temannya. Namun semakin panjang mereka paham, ternyata tujuan pertama Zayn memang bukan Yuda, tapi punya konflik sendiri dengan Raven. "Ah begitu--" Varel bersuara. "Karena kamu punya masalah sendiri dengan Raven, aku tak perlu segan lagi. Ayo kita lakukan sesuai keinginanmu." "Kita buat mereka kapok, baik Raven atau pun anggota Black Viper lainnya!" Varan menyahut dengan semangat. Sedangkan Ezra masih t
Azalea bergegas pamit setelah memastikan Raven mampu berdiri sendiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Zayn, Azalea langsung menaiki dan mengayuh sepedanya sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Hatinya diselimuti rasa sedih sekaligus kecewa karena melihat perubahan sikap Zayn yang dinilainya terlalu berbahaya.Sementara itu, Zayn berdiri mematung di samping motor besarnya. Angin pagi menampar wajahnya yang dingin, membekukan sisa-sisa amarah yang baru saja meledak. Matanya menatap lurus pada punggung Azalea yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di balik tikungan jalan.Ia bergeming. Tidak ada niat untuk mengejar, tidak pula ada gerakan untuk memanggil nama gadis itu kembali. Rasa takut menyeruak di benak Zayn bukan takut akan ancaman musuh-musuhnya, melainkan takut bahwa ketakutan Azalea padanya justru akan mendorong gadis itu makin jauh dari pelukannya.Zayn menarik napas panjang, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara dirinya dan Raven yang masih berdiri b
"Arrgggh!"Pekikan sakit terlontar kuat dari tenggorokan Raven. Cengkeraman Zayn di pergelangan tangannya terlalu kuat, memutar sendi itu ke titik paling krusial hingga terasa hendak lepas. Urat-urat di leher dan lengan Raven menegang, menahan rasa panas dan nyeru yang menjalar parah. Namun, harga diri memaksa pemuda itu menolak untuk memohon.Azalea yang melihatnya mendadak ngilu. Bulu kuduknya meremang melihat kilat di mata Zayn—dingin, tajam, dan penuh dominasi. Itu bukan lagi raut Zayn yang biasa dilihatnya, melainkan tatapan seekor predator yang siap mematahkan leher mangsanya tanpa ragu. Ada api cemburu dan kebencian yang meletup-letup di sana, murka karena ada pria lain yang secara terang-terangan berani mengusik miliknya."Zayn, sudah! Lepaskan tanganmu!" pinta Azalea panik, jemarinya bergerak cepat menarik lengan jaket Zayn.Zayn tidak bergeming sedikit pun. Cengkeramannya malah semakin kuat."Zayn, lengan Raven bisa patah jika kamu memelintirnya terus!" jerit Azalea
"Mau bicara dengan Kakek?" Adinata memelankan suaranya, tatapannya pada sang cucu melunak, mencoba membujuk agar Zayn mau mengikutinya. Zayn menghela napas panjang, namun ia tetap menuruti keinginan kakeknya. Ia berbalik dan berjalan membuntuti Adinata ke ruang privat pria itu. *** Keesokan paginya, Azalea memutuskan untuk berangkat sekolah sendiri. Setelah beberapa hari belakangan selalu bersama Zayn yang mengawasinya secara ketat. Kini ia kembali mengayuh sepedanya seorang diri menyusuri jalanan pagi yang cukup lengang. Udara pagi terasa sejuk menyentuh kulit, namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat ia membelok di salah satu tikungan dekat area kompleks ruko lama, laju sepedanya terhenti. Seorang pemuda bertubuh tinggi berdiri menghalangi jalannya. Raven. Pemuda itu tampak berantakan dan frustrasi, dengan napas sedikit memburu. Sudah beberapa hari ini ia menunggu Azalea di jalur yang biasa dilewati gadis itu, namun Azalea tak pernah muncul karena selalu ber
Sementara itu, di kamar lain Alya berdiri membelakangi pintu yang terkunci rapat. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, matanya menatap tajam ke arah luar jendela.Ia menempelkan ponselnya ke telinga setelah sambungan telepon terhubung."Aku masih punya waktu di sini, sebelum mereka menuntut untuk melakukan tes DNA," bisik Alya setengah menekan suaranya agar tidak terdengar sampai luar. "Tapi sebelum mereka curiga, lebih baik kamu bantu aku lenyapkan Zayn!"Suara seseorang di seberang sana terkekeh pelan—sebuah tawa santai yang terdengar licik. "Ah, soal itu kamu tenang saja," sahut Rico dari balik telepon, nada bicaranya begitu tenang seolah tanpa beban. "Aku bisa melakukannya. Tapi bagaimana kondisi bayi kita?""Baik," jawab Alya cepat, tanpa ragu sedikit pun. "Kamu tidak perlu cemas."Rico tersenyum puas di balik layar ponselnya. Rencananya berjalan mulus sejauh ini. Meski ia hanya menjadi pendukung Alya, namun Rico melakukannya dengan penuh minat. Keduanya bertemu di k
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A







