LOGIN"Varel, kamu benar-benar gila! Jadi cewek yang kamu bawa kemarin itu pacar Yuda? Astaga—" Ezra bicara sambil menahan napas, lalu menyugar rambutnya gusar."Kita dapat masalah besar," imbuh Varan dengan helaan napas berat.Meski tidak satu sekolah, siapa yang tidak kenal Yuda? Pemuda itu adalah salah satu anak paling berpengaruh dari sekolah sebelah yang terkenal sebagai ketua Black Viper—geng motor jalanan yang paling ditakuti."Baca ini baik-baik! Dia menantang kita!" Ezra menyodorkan ponselnya tepat di depan wajah Varel. Layarnya menunjukkan pesan ancaman yang dikirim Yuda. Sejak tadi Ezra yang terus membaca pesan itu dengan wajah panik, dialah yang paling heboh.Varel yang semula menyandarkan punggungnya santai di sofa kini menegakkan duduknya. Ia malah tersenyum tipis tanpa beban, seolah tidak baru saja membuat masalah."Hei, ayolah. Kemarin aku cuma mengajaknya bersenang-senang. Lagipula Bella sendiri yang mengaku single dan mendatangiku," bela Varel santai. Sudah terlanjur,
Zayn segera mengambil alih sepasang sepatu flyboard yang terhubung dengan selang pendorong. Setelah memastikan semua alat pengaman terpasang sempurna di tubuh Azalea, ia menuntun gadis itu ke area air yang lebih dalam.Zayn berdiri tepat di belakang Azalea, merapatkan tubuh mereka tanpa celah. Lengan kokohnya melingkar erat mengunci pinggang ramping Azalea, sementara kedua tangannya menggenggam jemari Azalea untuk membantu mengarahkan keseimbangan."Pegang lenganku dan jangan lepas," bisik Zayn tepat di samping telinganya. Suara mesin jet ski mulai mengudara, menandakan dorongan air siap dihentakkan."Zayn, kamu yakin kita tidak akan jatuh ke air kan?""Kamu meragukanku?" Zayn merespon dengan senyum santai. Belum sempat Azalea kembali meyakinkan diri, tekanan air berkekuatan tinggi menyembur dari bawah sepatu board.Wushhh!Sensasi hentakan keras langsung mendorong tubuh mereka terangkat dari permukaan laut. Azalea memekik kaget saat gravitasi seolah menghilang. Dalam hitungan
Keesokan harinya, liburan mereka di vila masih terus berlanjut. Kali ini suasana terasa berbeda karena hanya tersisa Azalea dan geng Zayn—Varan, Varel, serta Ezra yang masing-masing sudah ditemani oleh pasangan mereka.Pagi itu, Azalea selesai bersiap di kamarnya. Gadis itu mengenakan gaun santai selutut khas pantai dengan topi lebar untuk menghalau teriknya sinar matahari. Gaun berbahan jatuh berwarna lembut itu terlihat sangat feminin—sebuah gaun yang diberikan Zayn. Langkah Azalea terasa agak berat saat berjalan menuju area ruang makan luar ruangan yang menghadap langsung ke pantai. Rasa gugup dan salah tingkah melingkupinya, membayangkan harus berhadapan dengan Zayn. Saat Azalea berjalan mendekat, atmosfer meja makan seketika berubah.Zayn, yang semula sedang memangku segelas minuman sembari mendengarkan obrolan santai teman-temannya, menghentikan pergerakannya. Pemuda itu menatap Azalea tanpa kedip, menyapu penampilan feminin gadis itu dari atas hingga bawah dengan binar
Azalea tertegun. Ucapan Zayn sungguh berhasil membuat Azalea linglung untuk sesaat. Suasana mendadak hening, hanya tatapan mereka yang saling bertaut. Bibir Azalea bergetar namun tidak ada suara yang berhasil ia keluarkan. Jantungnya berdebar kencang hingga membuat gadis itu bahkan hanya mendengar detak jantungnya saat ini. Melihat Azalea yang membisu dengan pipi merona merah, sudut bibir Zayn terangkat tipis. Bagi cowok yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dan tak pernah mengenal kata penolakan, diamnya Azalea berarti setuju dengan ucapan Zayn. Tanpa mengalihkan pandangan, Zayn mengikis sisa jarak di antara mereka. Tangan kokohnya meraih jemari Azalea, menyatukannya satu per satu hingga genggaman itu terikat erat. Azalea tersentak pelan saat rasa hangat dari telapak tangan Zayn merayap di kulitnya, memicu getaran manis yang mendadak liar di dalam dadanya.Belum sempat Azalea menghela napas, Zayn dengan lembut menarik tangan yang tertaut itu, memutar pelan tubuh
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," ucapnya dengan suara rendah dan tenang, tatapannya fokus pada Azalea. "Yakin, mau tidur dengan Jeje? Tidak di--""Iya. Aku lebih nyaman bersamanya, lagi pun aku dan Jeje masih ada banyak cerita yang ingin kami bahas sebelum tidur," lanjut Azalea dengan antusias. Ia sengaja menunjukan diri penuh samangat dan senang di depan Zayn, hanya agar pemuda itu mau mengizinkannya tidur bersama Jeje tanpa perlu khawatir. "Hm, baiklah--" Zayn tidak banyak bicara namun sebelah tangannya beralih membelai pipi Azalea dengan pelan dan lembut, bahkan seolah penuh kehati-hatian dan rasa menikmati. Tatapannya mengikuti setiap gerak telunjuknya yang sedang bermain di kulit pipi Azalea yang halus. "Zayn--" Azalea menahan napas, ia kembali berdebar dan salah tingkah. "Bisakah kamu mengizinkanku pergi? Jeje mungkin sudah sampai di kamar, kalau tahu aku tidak ada pasti dia akan--"Ucapan Azalea terhenti saat telunjuk Zayn tertahan di bibir bawahnya dan men
Setelah menyelesaikan makan malamnya, rasa canggung Azalea perlahan luntur, tergeser oleh kehangatan suasana malam di tepi pantai. Jeje langsung menarik lengannya untuk bergabung dengan lingkar utama di dekat api unggun.Di sana, suasana makin riuh saat salah satu teman sekelas mereka mulai memetik gitar akustik, memainkan lagu-lagu ceria yang dihafal semua orang. Azalea ikut tertawa saat Jeje dan beberapa siswa lain berjoget heboh dengan gerakan asal-asalan, menyanyikan lirik lagu secara sumbang tanpa beban. Permainan truth or dare sederhana yang memanfaatkan botol minuman kosong pun dimulai, memicu gelak tawa dan sorak-sorai riuh setiap kali botol berhenti menunjuk salah satu dari mereka.Sementara Azalea tenggelam dalam keseruan bersama anak-anak kelas, Zayn tetap menjaga jarak. Pemuda itu berkumpul tak jauh dari sana bersama Varan, Varel, dan Ezra. Mereka duduk santai di atas kursi lipat pantai dengan kaleng minuman dingin di tangan, mengobrol santai khas cowok.Meskipun te
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--







