分享

Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama
Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama
作者: Lina

Bab 1

作者: Lina
Setelah membawa orang tuaku pulang dan memastikan mereka beristirahat dengan baik, barulah aku menerima telepon dari Arga.

Dia langsung menginterogasi dengan nada yang agak kasar.

"Kami sudah sampai di restoran, kenapa tidak ada orang di ruangan?"

"Pernikahan itu adalah hal besar, apa orang tuamu tidak menganggapnya serius? Bahkan sampai terlambat begitu?"

Aku terdiam sejenak, baru menjawabnya dengan suara datar.

"Arga, orang tuaku sudah menunggu selama tiga jam, kalian yang tidak datang."

"Bukan kami yang tidak menganggapnya serius, tapi kalian yang tidak pernah menghargai orang tuaku."

Orang di seberang telepon terdiam sejenak, lalu suaranya melunak.

"Maya berhasil diterima program pascasarjana lewat jalur rekomendasi, orang tuanya hari ini datang dari kampung untuk merayakan."

"Mereka berdua masih asing di kota ini, dan Maya yang masih mahasiswa tidak bisa mengurus semuanya sendirian, jadi aku pergi menjemput mereka di stasiun."

"Kau juga tahu, keluargaku sudah membiayai Maya selama tiga belas tahun, aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri. Orang tuanya datang, aku tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja."

Arga jarang sekali memberikan penjelasan, tetapi setelah mendengarnya, hatiku justru semakin sesak.

Saat orang tuaku datang kemarin, di kantorku sedang ada rapat besar, jadi aku benar-benar tidak bisa pergi.

Terpaksa aku menelepon Arga dan memintanya untuk menjemput mereka.

Bagaimana dia menjawab saat itu?

"Mereka kan sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Minta saja mereka naik taksi sendiri, masa bisa hilang?"

Aku menjelaskan dengan sabar.

"Orang tuaku jarang bepergian jauh, mereka juga tidak terbiasa memesan taksi daring. Bahkan, tiket kereta api mereka pun aku yang membelikannya."

"Stasiun tidak jauh dari rumah, kau bisa mengemudi ke sana untuk menjemput mereka ...."

Belum selesai aku berbicara, dia sudah memotong dengan nada tidak sabar.

"Aku sudah capek seharian bekerja, setelah pulang kerja masih harus disuruh-suruh ini dan itu olehmu."

"Mereka itu orang tuamu, ya tanggung jawabmu. Pokoknya aku tidak mau tahu."

Telepon berbunyi dua kali, lalu ditutup olehnya.

Akhirnya, aku menelepon temanku, dan dia langsung pergi menjemput tanpa banyak bicara.

Orang yang sebentar lagi akan menjadi suamiku ternyata tidak lebih bisa diandalkan daripada seorang teman.

Memikirkan hal itu, aku merasa agak ironis, dan tak bisa menahan diri untuk tertawa.

Di ujung telepon, Arga terdengar jauh lebih santai.

"Kalau kau tertawa, berarti masalah ini sudah selesai."

"Rania, lain kali jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini lagi. Kau juga tahu, perbedaan latar belakang keluarga kita sangat besar, dan orang tuaku memang sejak awal kurang setuju dengan hubungan kita."

"Aku akan cari waktu lagi. Nanti, suruh orang tuamu minta maaf pada orang tuaku, baru kita bahas pernikahan lagi."

Nada suaranya terdengar sangat angkuh, kata-katanya terdengar seakan itu adalah hal wajar.

Aku menggenggam ponselku erat-erat, lalu menjawabnya.

"Tidak usah"

"Orang tuaku akan segera pulang."

Arga terdiam sesaat sebelum menjawab dengan ringan.

"Ya sudah, lagipula pernikahan ini akan dilakukan sesuai keinginan orang tuaku, orang tuamu sepertinya juga tidak bisa memberi saran apa-apa"

Dari ujung telepon, tiba-tiba terdengar suara manis Maya.

"Kak Arga, orang tuaku sudah pesan makanan, benar-benar merepotkanmu. Ayo cepat masuk, kita makan bersama."

Lalu, seperti biasanya, telepon itu langsung ditutup begitu saja olehnya.

Di ruang tamu, ibu menghampiriku dengan canggung, dia menggenggam tanganku, raut wajahnya dipenuhi kelembutan.

"Rania, aku dan ayahmu tidak apa-apa. Jangan mengucapkan kata-kata seperti itu hanya demi membela kami."

"Asal Arga memperlakukanmu dengan baik, itu sudah cukup. Kami akan pulang setelah menghadiri pernikahan dan tidak akan merepotkan kalian."

Hatiku terasa perih, aku berbalik memeluk lengan ibuku, dan berkata.

"Ibu, kantor pusat sedang membuka cabang baru di kampung halaman kita, aku sudah mengajukan permohonan mutasi."

"Tiga hari lagi, aku akan pulang bersama kalian."

Ibu tampak sangat terkejut, nada suaranya meninggi penuh kegembiraan, lalu bertanya balik.

"Benarkah?"

Aku tersenyum mengangguk.

"Sungguh."

Ayah dan ibu kembali bergegas membereskan barang-barang. Semua barang perlengkapan yang semula mereka bawa untuk kugunakan setelah menikah nanti.

Sekarang, barang-barang itu harus dibawa kembali dalam keadaan utuh.

Saat Arga pulang, waktu sudah lewat tengah malam.

Dalam keadaan setengah tertidur, aku dipeluk dari belakang,

"Sayang, kenapa malam ini kau tidur duluan tanpa menungguku?"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 8

    Aku tidak menyangka akan bertemu Arga lagi.Juga tidak menyangka, dia akan muncul dengan penampilan seperti ini.Dia berdiri dengan bertumpu pada tongkat dan mengenakan mantel tebal, tak lagi memancarkan pesona gagah dan menawan seperti dulu.Dia terlalu kurus hingga tulang pipinya menonjol, membuat wajah tampannya itu tampak agak suram. Begitu melihatku, dia bertumpu pada tongkatnya dan melangkah maju dua langkah dengan penuh haru.Sorot matanya berkilau, lalu dia berbicara dengan suara serak. "Rania ....""Di acara pertunangan waktu itu, tidak ada campur tangan Maya sama sekali.""Sembilan ratus sembilan puluh sembilan tangkai mawar merah kupilih satu per satu dengan tanganku sendiri.""Undangan yang dikirim, aku tulis satu per satu dengan tanganku sendiri sampai begadang.""Lokasi acaranya juga kupilih sendiri. Aku bolak-balik mencarinya sampai akhirnya menemukan tema langit berbintang yang paling kau sukai.""Aku kira ... kau akan datang."Aku berdiri di tempat, terdiam sejenak,

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 7

    Di sisi lain, ibunya Arga memandang kosong ponselnya sendiri yang baru saja diputus panggilannya.Di telinganya, suara tangisan nyaring Maya terus terdengar.Dia mengangkat kepala, melirik sekilas, lalu mencibir dengan nada sinis. "Arga sedang operasi, dia tidak bisa melihat kepura-puraanmu itu. Jadi, tidak perlu akting lagi!"Wajah Maya langsung membeku, matanya berkaca-kaca. Dia menoleh ke arah ibunya Arga, dan berkata pelan."Tante, apa maksudnya? Aku cuma khawatir pada Kak Arga."Ibunya Arga menatapnya sambil tertawa dingin, lalu mencibir."Kau benar-benar mengira aku tidak bisa melihat aktingmu yang payah itu?""Dulu aku tidak suka dengan Rania, jadi aku sengaja memihakmu untuk membuatnya kesal.”"Sekarang kalau dipikir-pikir, apa yang kulakukan itu benar-benar tidak sebanding. Membuang mutiara, hanya demi memungut ...."Maya masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada saat itu, pintu ruang operasi terbuka dari dalam.Seketika, ibunya Arga tidak lagi memedulikan Maya dan langsung

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 6

    Pikiranku ditarik kembali dari kenangan masa lalu yang jauh. Di ujung telepon, suara makian ibunya Arga sudah berubah menjadi permohonan."Rania, Tante yang salah. Semuanya adalah kesalahanku.""Di acara pertunangan, kau tidak datang, lalu cincin dan gaunmu semuanya diberikan pada Maya.""Arga menunggumu sangat lama dan tidak kunjung datang, lalu dia melihat Maya memakai barang-barangmu.""Dia marah dan menghancurkan seluruh tempat acara. Maya bilang kau sudah pergi, tapi Arga berteriak tidak percaya.""Dia berlari keluar dari tempat acara, bilang mau mencarimu, lalu, lalu … terjadi kecelakaan ....""Sebelum pingsan, dia masih terus memanggil namamu.""Rania, tolonglah, anggap saja Tante memohon padamu. Tolong datang dan temui Arga, ya?""Dia ... kali ini, mungkin tidak akan bisa bertahan ...."Di ujung telepon, tak ada lagi kata-kata yang terucap, hanya tersisa isakan pilu.Aku menggenggam ponsel erat, jari-jariku menegang hingga memutih.Saat kuku hampir menusuk telapak tangan, seseo

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 5

    Aku membuka suara dan memotong perkataannya."Tante, aku sudah putus dengan Arga.""Kalau ada apa-apa, cari Maya saja! Tidak usah cari aku.""Lagipula, dari dulu Tante juga selalu meremehkan keluarga kami, kan?"Dari seberang telepon, terdengar suara teguran tajam yang penuh amarah. "Rania, apa maksudmu?""Berapa banyak yang telah dikorbankan putraku demi kau?""Demi tetap menikahimu, dia bahkan hampir putus hubungan dengan keluarganya. Sekarang Arga kecelakaan, tapi kau bersikap begini?"Aku terdiam, teringat saat-saat awal aku bersama Arga.Saat itu, aku hanya mengira kondisi ekonomi keluarganya sedikit lebih baik, tidak menyangka dia adalah anak orang kaya.Pada bulan ketiga hubungan kami, ibunya Arga datang menemuiku. Tidak seperti adegan klise di novel yang melemparkan cek.Dia hanya duduk di sana dan menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.Lalu, dia mengangkat cangkir kopi, menyesapnya, dan berkata dengan anggun. "Rania, kudengar kau berasal dari sebuah desa di wilayah s

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 4

    Begitu melihatku, dia berdiri. Setelah terdiam sejenak, baru membuka suara. "Orang tuanya Maya akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu.""Bukannya orang tuamu sebentar lagi akan pulang? Aku sudah minta orang untuk membereskan barang-barang mereka."Aku menyunggingkan senyum sinis, lalu berkata sarkas."Arga, dulu aku tidak pernah sadar kalau kau ternyata benar-benar menantu yang baik."Setelah itu, aku tidak lagi menghiraukan tiga pasang mata yang menatap penuh kewaspadaan di ruang tamu, lalu kembali ke kamar sendirian.Arga mengikutiku masuk, dan mencoba membujukku dengan lembut seperti biasa. "Rania, jangan marah. Aku sudah menyuruh orang memesankan hotel bintang lima untuk orang tuamu. Nanti aku akan antar barang-barangnya ke sana dengan mobil.""Keluarga Maya bagaimanapun juga adalah tamu, kita harus menghargai mereka."Aku tidak berkata apa-apa, dan terus membereskan barang-barang.Arga mendekatiku, lalu membantuku melipat pakaian. "Rania, aku merasa akhir-akhir ini ka

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 3

    Saat bergegas tiba di rumah sakit, aku melihat ibuku sedang bersandar di atas tandu di koridor sambil meneteskan air mata dalam diam.Aku segera berlari menghampiri dan melihat ada luka menganga yang besar di kepala ayahku.Luka itu sudah ditangani secara sederhana, tetapi darahnya masih terus mengalir."Dokter, di mana dokternya? Lukanya masih berdarah, kenapa tidak segera menolongnya?"Ibu terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata. "Hanya ada satu dokter di ruang gawat darurat, dan di ruang perawatan sementara juga tinggal satu. Arga menyuruh … menyuruhnya untuk menolong orang lain dulu." Kepalaku terasa berdenyut kencang. Aku langsung berdiri, dan tepat saat itu pintu ruang rawat di belakangku terbuka.Maya memeluk Arga, matanya memerah, berkata dengan suaranya yang terdengar lemah. "Kak Arga, terima kasih. Kalau bukan karena kau meninggalkan orang tua Kak Rania dan datang menolongku, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana."Pria itu menepuk pelan punggungnya sambil menenan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status