分享

Bab 2

作者: Lina
Aku membalikkan badan, menghindar dari sentuhannya.

"Aku kira, kau akan menemani Maya semalaman."

"Lagipula, dia masih mahasiswa, tidak bisa apa-apa tanpamu."

Lampu kamar tidur tiba-tiba dinyalakan, cahayanya sangat menyilaukan.

Arga turun dari tempat tidur, nadanya terdengar tidak sabar.

"Rania, apa kau harus bicara sinis seperti itu?"

"Aku sudah jelaskan berkali-kali, aku hanya menganggap Maya sebagai adik, tidak ada apa-apa di antara kami."

Aku tidak berkomentar apa-apa, lalu mengeluarkan ponsel dan menunjukkan kepadanya status WhatsApp yang diunggah Maya.

Terlihat sebuah foto yang berisi keluarga Arga dan keluarga Maya tampak sangat harmonis di ruang makan privat yang sudah kami pesan.

Dalam foto itu, Arga sedang menunduk untuk mengupas udang untuknya, sementara Maya menunduk menyentuh wajah pria itu.

Jarak keduanya sangat dekat, bahkan nyaris saling menempel.

Keterangan fotonya: [Pertemuan kedua orang tua, kakak yang mensponsoriku selama bertahun-tahun ini akan segera menjadi suamiku!]

Aku mengangkat ponsel dan menatapnya.

"Kalian memang pandai memanfaatkan fasilitas. Aku sudah menghabiskan seminggu penuh untuk memilih restoran dan tempat itu, tapi tiba-tiba jadi tempat kalian membicarakan pernikahan."

Ekspresi Arga sedikit berubah, dan langsung mengerutkan kening.

"Aku tidak tahu dia posting hal itu, sekarang aku akan meneleponnya dan menyuruhnya untuk hapus foto itu."

"Lagipula, Maya mungkin hanya mendengar kalau kedua keluarga kita sedang membahas pernikahan, lalu iseng mengunggahnya karena bercanda."

"Dia masih anak-anak, mana mungkin paham hal-hal seperti ini? Kau kan calon kakak iparnya, seharusnya lebih lapang dada, jangan terlalu perhitungan."

Aku tertawa sinis.

"Anak umur dua puluh tiga tahun? Kenapa tidak sekalian kau panggil dia bayi saja?"

Arga mengacak rambutnya dengan kesal.

"Kita ini mau menikah, aku tidak mau bertengkar denganmu."

"Malam ini aku akan tidur di ruang kerja. Aku akan kembali kalau kau sudah tidak marah lagi."

Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga membangunkan orang tuaku.

Mereka bergegas keluar dengan wajah panik dan menanyakan apa yang terjadi.

Aku hanya menggeleng dan menenangkan mereka, kemudian meminta mereka kembali beristirahat.

Keesokan harinya, aku bangun sangat awal. Benar saja, ayah dan ibu sudah ada di ruang tamu dan menyiapkan sarapan.

Di atas meja tersaji acar jahe yang mereka bawa dari kampung, makanan kesukaanku sejak kecil.

Arga keluar dari ruang kerja dengan wajah muram.

Orang tuaku sempat ragu sejenak, tetapi tetap dengan hangat memanggilnya untuk sarapan bersama.

Namun, begitu mendengar ajakan itu, dahinya langsung berkerut.

"Kenapa kalian ada di sini?"

Tatapannya menyapu acar jahe di atas meja, lalu menutup hidungnya dengan jijik.

"Apa ini? Kalian bawa barang menjijikkan apa? Seluruh ruang tamu jadi penuh bau begini."

"Ini Valoria, bukan kampung halaman kalian. Bisa tidak punya sedikit sopan santun? Jangan bawa sampah macam begitu ke sini!"

Ayah dan ibuku langsung berdiri terpaku, mereka tampak merasa canggung.

Ibu dengan panik bergegas mengambil acar jahe itu di atas meja, lalu berkata dengan rasa khawatir.

"Ma ... maaf ya Nak Arga, Ibu pikir Rania suka sekali makan ini sejak kecil, makanya Ibu sengaja bawakan. Ibu benar-benar tidak berpikir sejauh itu."

"Akan langsung Ibu bereskan, kau ... jangan marah, ya ...."

Karena panik, mangkuk di atas meja tidak sengaja tersenggol dan jatuh ke lantai.

Ibu tersentak ketakutan, lalu diam-diam melihat raut wajah Arga, bingung harus lebih dulu membereskan pecahan mangkuk atau menenangkannya.

Ayah tidak mengatakan apa pun, dengan tubuh yang membungkuk karena usia, dia perlahan berjongkok untuk memungut pecahan mangkuk itu.

Mataku tak kuasa menahan rasa pedih dan panas.

Dulu, saat masih di kampung halaman, orang tuaku selalu berjalan dengan punggung tegak.

Setiap kali ada orang memuji prestasiku, mereka selalu membusungkan dada dengan bangga, meski mulut mereka tetap merendah sambil tersenyum.

Namun, sejak aku menjalin hubungan dengan Arga, mereka sepertinya menjadi selalu bersikap hati-hati.

Mereka tidak pernah mau menerima uang yang kukirim, dengan alasan agar aku bisa menyimpannya untuk membeli hadiah bagi orang tua Arga, supaya mereka tidak meremehkanku.

Saat pulang kampung untuk Tahun Baru, mereka tidak mengizinkanku membeli apa pun. Sebaliknya, saat aku hendak kembali, mereka malah menyiapkan banyak oleh-oleh khas untuk kubawakan pada orang tua Arga.

Bahkan ketika orang tua Arga membatalkan janji sepihak, mereka juga tidak berani marah. Mereka khawatir jika aku akan diperlakukan tidak adil atau menderita setelah menikah nanti.

Aku berjalan menghampiri dan menghentikan mereka, suaraku sedikit tercekat dan serak.

"Ayah, Ibu, kalian makan saja dulu. Biar aku yang bereskan."

"Oh iya, acar jahenya tidak usah disimpan, aku suka makan itu."

Mereka masih ingin membantu, tetapi aku dengan tegas menyuruh mereka untuk tetap duduk.

Arga berbalik dan melihatku. Raut wajahnya sejenak membeku, lalu dengan ragu-ragu memberikan penjelasan.

"Bukan begitu maksudku. Aku kan punya sinus, jadi tidak tahan dengan bau yang menyengat. Kau tahu sendiri, kan?"

Aku tidak menghiraukannya, hanya terus memungut pecahan mangkuk di lantai dalam diam, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Arga mengikuti di belakangku selangkah demi selangkah, beberapa kali hendak membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku pura-pura tidak melihatnya.

Setelah sarapan, aku awalnya berencana mengajak orang tuaku jalan-jalan ke beberapa tempat wisata terdekat, tetapi tiba-tiba kantor menelepon.

Proyek yang kutangani mengalami masalah yang cukup serius.

Arga pun langsung menawarkan diri.

"Kau pergi saja! Aku yang akan menemani om dan tante jalan-jalan, kebetulan hari ini aku tidak ada urusan di kantor."

Aku menoleh menatapnya, dan Arga memalingkan wajah dengan perasaan canggung.

"Ucapanku tadi memang sudah keterlaluan. Aku masih terbawa emosi semalam."

"Setelah kita menikah, orang tuamu adalah orang tuaku juga. Tenang saja, aku pasti akan menjaga mereka dengan baik."

Mengingat tiga hari lagi ayah dan ibu akan pulang bersamaku, rasanya sayang kalau mereka sudah datang jauh-jauh tetapi tidak sempat berkeliling kota, akhirnya aku pun mengangguk.

Setelah urusan proyek selesai, hari sudah larut malam.

Baru saja aku hendak menelepon orang tuaku untuk menanyakan bagaimana jalan-jalannya, tiba-tiba ponselku bergetar.

Begitu telepon kuangkat, terdengar suara tangis ibu yang panik.

"Rania, kau ... kau cepat ke rumah sakit, ayahmu terluka dan pingsan ...."

Kepalaku seolah bergemuruh. Saat bangkit berdiri, tubuhku sampai limbung dan hampir kehilangan keseimbangan.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 8

    Aku tidak menyangka akan bertemu Arga lagi.Juga tidak menyangka, dia akan muncul dengan penampilan seperti ini.Dia berdiri dengan bertumpu pada tongkat dan mengenakan mantel tebal, tak lagi memancarkan pesona gagah dan menawan seperti dulu.Dia terlalu kurus hingga tulang pipinya menonjol, membuat wajah tampannya itu tampak agak suram. Begitu melihatku, dia bertumpu pada tongkatnya dan melangkah maju dua langkah dengan penuh haru.Sorot matanya berkilau, lalu dia berbicara dengan suara serak. "Rania ....""Di acara pertunangan waktu itu, tidak ada campur tangan Maya sama sekali.""Sembilan ratus sembilan puluh sembilan tangkai mawar merah kupilih satu per satu dengan tanganku sendiri.""Undangan yang dikirim, aku tulis satu per satu dengan tanganku sendiri sampai begadang.""Lokasi acaranya juga kupilih sendiri. Aku bolak-balik mencarinya sampai akhirnya menemukan tema langit berbintang yang paling kau sukai.""Aku kira ... kau akan datang."Aku berdiri di tempat, terdiam sejenak,

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 7

    Di sisi lain, ibunya Arga memandang kosong ponselnya sendiri yang baru saja diputus panggilannya.Di telinganya, suara tangisan nyaring Maya terus terdengar.Dia mengangkat kepala, melirik sekilas, lalu mencibir dengan nada sinis. "Arga sedang operasi, dia tidak bisa melihat kepura-puraanmu itu. Jadi, tidak perlu akting lagi!"Wajah Maya langsung membeku, matanya berkaca-kaca. Dia menoleh ke arah ibunya Arga, dan berkata pelan."Tante, apa maksudnya? Aku cuma khawatir pada Kak Arga."Ibunya Arga menatapnya sambil tertawa dingin, lalu mencibir."Kau benar-benar mengira aku tidak bisa melihat aktingmu yang payah itu?""Dulu aku tidak suka dengan Rania, jadi aku sengaja memihakmu untuk membuatnya kesal.”"Sekarang kalau dipikir-pikir, apa yang kulakukan itu benar-benar tidak sebanding. Membuang mutiara, hanya demi memungut ...."Maya masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada saat itu, pintu ruang operasi terbuka dari dalam.Seketika, ibunya Arga tidak lagi memedulikan Maya dan langsung

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 6

    Pikiranku ditarik kembali dari kenangan masa lalu yang jauh. Di ujung telepon, suara makian ibunya Arga sudah berubah menjadi permohonan."Rania, Tante yang salah. Semuanya adalah kesalahanku.""Di acara pertunangan, kau tidak datang, lalu cincin dan gaunmu semuanya diberikan pada Maya.""Arga menunggumu sangat lama dan tidak kunjung datang, lalu dia melihat Maya memakai barang-barangmu.""Dia marah dan menghancurkan seluruh tempat acara. Maya bilang kau sudah pergi, tapi Arga berteriak tidak percaya.""Dia berlari keluar dari tempat acara, bilang mau mencarimu, lalu, lalu … terjadi kecelakaan ....""Sebelum pingsan, dia masih terus memanggil namamu.""Rania, tolonglah, anggap saja Tante memohon padamu. Tolong datang dan temui Arga, ya?""Dia ... kali ini, mungkin tidak akan bisa bertahan ...."Di ujung telepon, tak ada lagi kata-kata yang terucap, hanya tersisa isakan pilu.Aku menggenggam ponsel erat, jari-jariku menegang hingga memutih.Saat kuku hampir menusuk telapak tangan, seseo

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 5

    Aku membuka suara dan memotong perkataannya."Tante, aku sudah putus dengan Arga.""Kalau ada apa-apa, cari Maya saja! Tidak usah cari aku.""Lagipula, dari dulu Tante juga selalu meremehkan keluarga kami, kan?"Dari seberang telepon, terdengar suara teguran tajam yang penuh amarah. "Rania, apa maksudmu?""Berapa banyak yang telah dikorbankan putraku demi kau?""Demi tetap menikahimu, dia bahkan hampir putus hubungan dengan keluarganya. Sekarang Arga kecelakaan, tapi kau bersikap begini?"Aku terdiam, teringat saat-saat awal aku bersama Arga.Saat itu, aku hanya mengira kondisi ekonomi keluarganya sedikit lebih baik, tidak menyangka dia adalah anak orang kaya.Pada bulan ketiga hubungan kami, ibunya Arga datang menemuiku. Tidak seperti adegan klise di novel yang melemparkan cek.Dia hanya duduk di sana dan menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.Lalu, dia mengangkat cangkir kopi, menyesapnya, dan berkata dengan anggun. "Rania, kudengar kau berasal dari sebuah desa di wilayah s

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 4

    Begitu melihatku, dia berdiri. Setelah terdiam sejenak, baru membuka suara. "Orang tuanya Maya akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu.""Bukannya orang tuamu sebentar lagi akan pulang? Aku sudah minta orang untuk membereskan barang-barang mereka."Aku menyunggingkan senyum sinis, lalu berkata sarkas."Arga, dulu aku tidak pernah sadar kalau kau ternyata benar-benar menantu yang baik."Setelah itu, aku tidak lagi menghiraukan tiga pasang mata yang menatap penuh kewaspadaan di ruang tamu, lalu kembali ke kamar sendirian.Arga mengikutiku masuk, dan mencoba membujukku dengan lembut seperti biasa. "Rania, jangan marah. Aku sudah menyuruh orang memesankan hotel bintang lima untuk orang tuamu. Nanti aku akan antar barang-barangnya ke sana dengan mobil.""Keluarga Maya bagaimanapun juga adalah tamu, kita harus menghargai mereka."Aku tidak berkata apa-apa, dan terus membereskan barang-barang.Arga mendekatiku, lalu membantuku melipat pakaian. "Rania, aku merasa akhir-akhir ini ka

  • Jangan Terperangkap di Rawa yang Sama   Bab 3

    Saat bergegas tiba di rumah sakit, aku melihat ibuku sedang bersandar di atas tandu di koridor sambil meneteskan air mata dalam diam.Aku segera berlari menghampiri dan melihat ada luka menganga yang besar di kepala ayahku.Luka itu sudah ditangani secara sederhana, tetapi darahnya masih terus mengalir."Dokter, di mana dokternya? Lukanya masih berdarah, kenapa tidak segera menolongnya?"Ibu terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata. "Hanya ada satu dokter di ruang gawat darurat, dan di ruang perawatan sementara juga tinggal satu. Arga menyuruh … menyuruhnya untuk menolong orang lain dulu." Kepalaku terasa berdenyut kencang. Aku langsung berdiri, dan tepat saat itu pintu ruang rawat di belakangku terbuka.Maya memeluk Arga, matanya memerah, berkata dengan suaranya yang terdengar lemah. "Kak Arga, terima kasih. Kalau bukan karena kau meninggalkan orang tua Kak Rania dan datang menolongku, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana."Pria itu menepuk pelan punggungnya sambil menenan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status