Share

BAB 130

Author: Nona Mentari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-09 10:26:27

"Eh, Rahma. Apa kabar?"

Heri tampak terkejut, rona kaku sempat melintas di wajah ketatnya sebelum ia berhasil menguasai ekspresi taktisnya kembali. Rahma, teman sekolahnya di SMA dulu di kampung, kini berdiri tegak di hadapannya di tengah restoran elit Jakarta dengan penampilan yang jauh berbeda.

Gaun mini ketat yang membungkus lekuk tubuhnya memancarkan aura metropolis yang pekat, sangat kontras dengan memori gadis remaja berkuncir kuda yang diingat Heri belasan tahun lalu.

Rahma menyunggingka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 273

    Malam beranjak semakin larut, menyelimuti sudut kota yang mulai lengang. Di sebuah area pergudangan tua yang remang-remang di batas luar kota, Maman menghentikan langkah kakinya di balik bayangan bangunan tua.Di bawah perintah tegas dari Heri, Maman tidak membuang waktu sedetik pun. Sahabat sekaligus orang kepercayaan Heri itu bergerak dengan sangat gesit dan penuh kehati-hatian.Maman mengamati sebuah bangunan kantor kecil berlantai dua di tengah area gudang tersebut.Di depan bangunan itu, terparkir mobil sedan hitam milik Bagas serta sebuah mobil mewah milik Wawan, pemilik jaringan restoran kompetitor yang selama ini menyimpan dengki mendalam atas kesuksesan Heri.Maman memanjat tangga besi tua di samping bangunan dengan gerakan tanpa suara.Ia mengintip melalui celah jendela kaca yang sedikit terbuka di lantai dua, lalu mengeluarkan ponsel pintar dengan lensa kamera bertenaga tinggi milik tim keamanannya.Di dalam ruangan ber-AC tersebu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 272

    Dua hari yang dijanjikan Heri hampir tiba, dan Bagas yang mulai tidak sabar mulai merasa cemas jika Heri tiba-tiba berubah pikiran.Demi memastikan Heri benar-benar berada dalam kondisi terdesak dan semakin membutuhkan sosok "penyelamat", Bagas memutuskan untuk menggunakan taktik intimidasi halus.Siang itu, suasana di sekitar area parkir depan restoran Heri mendadak bising.Empat orang pria bertubuh kekar dengan tato membelit di lengan dan pakaian lusuh mulai memarkirkan motor mereka secara sembarangan tepat di depan pintu masuk utama.Mereka mulai berteriak-teriak kasar, menggertak para pengunjung yang hendak masuk, dan sengaja menendang beberapa pot bunga hias hingga pecah."Mana pemilik restoran ini?! Panggil keluar! Tempat ini berdiri di wilayah operasional kita tapi nggak pernah bayar uang keamanan!" teriak salah satu preman bertubuh paling besar dengan suara serak menakutkan.Para pengunjung restoran yang panik mulai berhamburan mundu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 271

    Dua hari berlalu setelah insiden di apartemen. Bagas kembali mendatangi restoran Heri tepat saat jam makan siang mulai mereda.Kali ini, pria klimis itu langsung meminta duduk di meja VIP yang terletak di sudut ruangan yang lebih privat. Di tangannya, Bagas menggenggam sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak sangat eksklusif.Heri yang melihat kedatangan Bagas dari area kasir segera menyunggingkan senyum ramahnya yang khas. Ia melepaskan apron tipis yang melingkar di pinggangnya, lalu melangkah menghampiri meja VIP tersebut."Selamat siang, Mas Bagas. Wah, kelihatannya ada kabar baik ini sampai bawa map mahal begitu," sapa Heri penuh keramahan yang dibuat-buat sembari menarik kursi di hadapan Bagas.Bagas tertawa renyah, menepuk-nepuk map kulit itu dengan gaya amat percaya diri. "Jelas kabar baik, Mas Heri! Ini dia draf kontrak kerja sama investasi yang saya janjikan kemarin. Saya sendiri yang menyusun poin-poinnya sampai larut malam demi memastikan M

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 270

    Melihat Heri tampak sangat mempercayainya dan menyambut setiap sarannya dengan antusiasme yang polos, Bagas mulai melangkah lebih jauh.Pria klimis itu melancarkan taktik manipulasi yang lebih berani: mencoba mengadu domba Heri dengan Sintya.Malam itu, Bagas berkunjung langsung ke apartemen pribadi Heri dengan dalih menyajikan proposal awal ekspansi restoran.Mereka bertiga berada di ruang tamu yang megah dan hangat. Sintya sedang menyajikan cangkir teh dan kudapan hangat di meja kaca, sebelum akhirnya melangkah mundur menuju area dapur yang terbuka tak jauh dari sana.Bagas membuka dokumen tebal di meja, lalu memajukan tubuhnya dan sengaja memelankan nada suaranya dengan wajah sok prihatin."Mas Heri, jujur ya... sebagai calon mitra bisnis yang peduli sama masa depan Mas Heri, ada satu hal yang dari kemarin bikin saya kepikiran," bisik Bagas penuh penekanan.Heri memiringkan kepalanya sedikit, memasang raut wajah polos nan bingung. "Hal apa itu, Mas Bagas? Soal laporan keuangan rest

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 269

    Sore itu, Bagas kembali hadir di restoran Heri dengan kemeja sutra mahal dan senyum percaya diri yang mengembang. Ia langsung melangkah menuju meja bar tempat Heri sedang mengawasi pembukuan harian."Mas Heri! Lihat ini, saya bawakan kue kismis dari toko bakery langganan pejabat di pusat kota buat staf dapur," ujar Bagas dengan suara lantang, meletakkan dua kotak besar berhias pita emas di atas meja bar.Heri menoleh, menyunggingkan senyum ramah yang terlihat amat lugu dan antusias. "Wah, Mas Bagas ini repot-repot amat. Kasihan staf saya nanti jadi tuman dikasih kado mewah terus sama investor keren seperti Mas Bagas."Bagas terkekeh renyah, menepuk bahu Heri dengan keakraban yang dibuat-buat. "Ah, kecil itu, Mas Heri! Buat calon mitra bisnis besar, hal begini mah bukan apa-apa. Lagipula, saya itu makin kagum sama Mas Heri.""Kagum sama saya? Kagum dalam hal apa, Mas Bagas?" tanya Heri berpura-pura heran, sambil merapikan catatan di tangannya."Mas Heri ini pebisnis genius!" puji Bagas

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 268

    Dua minggu pasca kepulangan dari bulan madu yang manis dan penuh gairah di Labuan Bajo, Heri kembali disibukkan oleh operasional restorannya yang kini melesat pesat dan makin populer di pusat kota.Setiap malam, meja-meja reservasi selalu terisi penuh. Namun, keberhasilan Heri rupanya mengundang rasa iri dari para kompetitor lama yang merasa tersaing keras.Mereka diam-diam menyewa Bagas, seorang pria berpenampilan elegan, necis, dan mengenakan setelan jas bermerek, untuk mengacaukan dan menghancurkan bisnis Heri dari dalam.Siang itu, Bagas mendatangi restoran Heri dengan gaya memikat. Ia melangkah penuh percaya diri, sengaja memperlihatkan jam tangan mewahnya saat menyalami Heri di area ruang makan utama.Bagas berpura-pura menjadi investor kaya yang terkesan dengan sistem manajemen restoran Heri dan mengaku berniat menyuntikkan dana segar dalam jumlah fantastis.Heri menyambut Bagas dengan raut wajah amat ramah. Ia menjabat tangan pria itu erat-erat, memasang senyum lebar, dan menu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status