Se connecterRaut wajah Bagas mendadak berubah heran melihat perubahan aura Heri yang mendadak sangat dominan dan mengintimidasi.
Tatapan mata Heri yang sebelumnya terkesan lugu kini menyipit tajam, memancarkan aura dingin yang membuat tenggorokan Bagas mendadak kering seketika.
Senyum manis dan ramah yang biasa diumbar Heri hilang tanpa sisa, digantikan oleh garis wajah kaku penuh kendali mutlak.
"Maksud... maksud Mas Heri apa ngomong begitu?" tanya Bagas, mencoba tertawa kecil meski
Heri terpaku kaku di tempatnya berdiri. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh dokter keluarga seolah menghentikan aliran waktu di sekitarnya.Dada tegap pria itu berdesir hebat, dipenuhi oleh kombinasi rasa haru, kaget, dan rasa syukur yang teramat luar biasa hingga matanya tanpa sadar sedikit berkaca-kaca."Hamil... Sintya hamil anak saya, Dok?" tanya Heri lagi, memastikan pendengarannya tidak salah.Dokter senior itu tertawa pelan sembari mengangguk mantap. "Benar, Pak Heri. Janinnya masih sangat muda, baru empat minggu. Ibu Sintya cuma mengalami mual awal kehamilan yang wajar. Silakan masuk, beliau sudah menunggu di dalam."Tanpa membuang waktu sedetik pun, Heri melangkah cepat masuk ke dalam ruang pemeriksaan.Di atas tempat tidur medis, Sintya sedang menyandarkan punggungnya dengan wajah yang masih agak pucat namun memancarkan binar kebahagiaan yang sangat menawan.
Mobil SUV hitam milik Heri membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya berhenti presisi di depan halaman gedung sekolah swasta internasional tempat Nathan mengejar ilmu.Heri turun lebih dulu dengan langkah-langkah lebar yang mantap, diikuti oleh Sintya yang melangkah cepat di sampingnya.Wajah Heri kaku tanpa senyum, memancarkan aura dominan mutlak yang membuat beberapa guru di koridor otomatis menepi memberi jalan.Begitu pintu ruang kepala sekolah dibuka dari luar, pemandangan di dalam ruangan seketika menyulut amarah di dada Heri.Nathan duduk di kursi kayu dengan kepala menunduk dalam, sudut pipinya tampak agak memar kemerahan.Di seberangnya, seorang anak laki-laki bertubuh gempal bersikap acuh tak acuh di samping seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan setelan jas norak serta jam tangan emas mencolok, orang tua pelaku perundungan."Saya nggak mau tahu ya, P
Suasana ruang rapat lantai dua restoran Heri terasa sangat fokus pagi itu. Lembaran peta kawasan elite pusat kota serta draf proyeksi keuangan untuk cabang kedua terbentang di atas meja kaca.Di ujung meja, Heri duduk tegap memimpin rapat direksi dan tim operasional. Kemeja putihnya yang digulung rapi hingga siku memperlihatkan ketegasan dan wibawanya yang kini kian matang sebagai seorang CEO."Target pasar cabang kedua ini adalah eksekutif muda dan ekspatriat," ujar Heri dengan suara bariton yang mantap dan tenang."Poin utamanya bukan cuma soal estetika tempat, tapi efisiensi dapur dan konsistensi rasa. Saya nggak mau ada penurunan mutu sedikit pun."Heri menunjuk angka-angka di layar proyektor dengan penunjuk laser.Pengetahuannya tentang efisiensi modal, analisis margin keuntungan, hingga detail kenyamanan staf dapur membuat seluruh kepala divisi mengangguk paham.Pria itu bukan lagi pengusaha
Pasca penangkapan Bagas dan terseretnya Wawan ke ranah hukum atas tuduhan pencucian uang serta penipuan terorganisir, persaingan kotor yang selama ini mengintai restoran Heri resmi tumpas hingga ke akar-akarnya.Restoran kembali beroperasi dalam suasana yang jauh lebih aman, stabil, dan melesat makin sukses besar.Nama baik Heri justru kian melambung di mata publik sebagai pebisnis yang jujur, tegas, dan tak tergoyahkan.Malam harinya, Heri menutup restoran lebih awal dari biasanya.Ia menggelar acara makan malam privat khusus di dalam area dining utama untuk mengapresiasi kerja keras Maman, Karin, serta seluruh staf dapur dan pelayanan yang telah setia berdiri di sampingnya selama konflik berlangsung.Suasana ruangan riuh oleh gelak tawa, denting gelas, dan bau harum hidangan steak daging panggang yang melimpah.Heri berdiri di ujung meja panjang, mengangkat gelas jusnya tinggi-tinggi di hadapan seluruh staf.Sintya duduk anggun di s
Raut wajah Bagas mendadak berubah heran melihat perubahan aura Heri yang mendadak sangat dominan dan mengintimidasi.Tatapan mata Heri yang sebelumnya terkesan lugu kini menyipit tajam, memancarkan aura dingin yang membuat tenggorokan Bagas mendadak kering seketika.Senyum manis dan ramah yang biasa diumbar Heri hilang tanpa sisa, digantikan oleh garis wajah kaku penuh kendali mutlak."Maksud... maksud Mas Heri apa ngomong begitu?" tanya Bagas, mencoba tertawa kecil meski suara kekehannya terdengar sangat sumbang di dalam ruangan yang mendadak mencekam itu."Saya ini investor Mas Heri. Saya ke sini murni mau bantu Mas Heri supaya bisnisnya berkembang pesat. Kenapa Mas Heri malah nuduh saya yang enggak-enggak?"Sebelum Bagas sempat menyelesaikan ucapan defensifnya, Heri mengambil sebuah stopmap tebal berwarna merah menyala dari bawah meja kerja.Tanpa keraguan sedikit pun, Heri melemparkan stopmap tebal itu tepat di hadapan Bagas.
Hari penandatanganan kesepakatan investasi yang paling ditunggu-tunggu oleh Bagas akhirnya tiba.Sekitar pukul sebelas siang, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu masuk. Bagas turun dari mobil dengan setelan jas paling mahal berwarna abu-abu gelap, lengkap dengan dasi sutra dan jam tangan emas yang berkilau.Pria itu melangkah masuk ke dalam restoran dengan dada membusung, pandangan matanya menyapu sekeliling dengan penuh keangkuhan dan rasa memiliki yang premature.Bagas melangkah melewati meja kasir, melambaikan tangannya secara acuh tak acuh kepada para pelayan yang menyapanya."Panggil pemilik kalian! Suruh dia siap-siap di ruang VIP sekarang," perintah Bagas kepada salah seorang pelayan dengan nada memerintah yang sangat tinggi.Tanpa menunggu balasan, Bagas langsung melangkah lebar menuju ruang VIP di sudut restoran.Di dalam ruangan kedap suara yang megah tersebut, Heri sudah duduk di ujung meja kayu besar.Heri men
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n







