MasukMalam harinya, jam sepuluh lewat sedikit, kamar tidur utama di kediaman Heri terasa sunyi dan hangat.Lampu tidur bersinar kekuningan meremang. Sintya sudah berbaring di atas tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur katun yang longgar, bersandar pada tumpukan bantal.Wajah cantiknya masih menunjukkan raut diam, bibirnya agak sedikit cemberut, sikap merajuk manja yang jarang ia perlihatkan kalau bukan karena pengaruh hormon kehamilannya.Heri keluar dari kamar mandi setelah melepaskan seluruh pakaian kerjanya. Pria tegap itu kini hanya mengenakan celana kain santai dan kaos hitam polos.Melihat istrinya yang masih bungkam dan memalingkan wajah ke arah jendela, Heri menyunggingkan senyum tipis.Di luar sana ia boleh jadi CEO yang dingin dan ditakuti, namun di dalam kamar ini, ia sepenuhnya milik Sintya.Heri melangkah ke sisi tempat tidur sembari membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat dan selembar handuk lembut."Kaki kamu pegal
Heri langsung melangkah rapat ke sisi Sintya.Sebelum kebingungan karyawan di sekitar meja kasir berubah menjadi tontonan para pelanggan, Heri menggenggam jemari dingin istrinya, lalu memboyong Sintya naik tangga menuju ruang kerja privatnya di lantai dua.Brak.Heri menutup pintu jati ruang kerjanya hingga terkunci rapat. Sintya melepas genggaman tangan Heri secara perlahan, membanting tas bekal di atas meja kerja, lalu memutarkan tubuhnya dengan dada naik-turun menahan emosi yang meluap."Mas Heri gila ya?" cecar Sintya langsung, suara lembutnya kini bergetar kencang akibat lonjakan hormon kehamilan dan rasa cemburu yang membakar."Kenapa Mas bisa-bisanya pekerjakan Mayang di sini? Mas lupa siapa dia?!"Heri melangkah mendekat dengan tenang, menangkup kedua bahu Sintya lembut. "Sintya, tenang dulu. Tarik napas pelan-pelan, jangan emosi, kasihan anak kita di dalam.""Gimana aku bisa tenang, Mas?!" potong Sintya cepat sembari
Dua bulan berlalu pasca-krisis sabotase. Restoran utama dan seluruh cabang bisnis kuliner milik Heri makin melesat tajam, mendominasi pasar tanpa ada kompetitor yang sanggup menandingi.Di sisi lain, kehidupan pribadi Heri kian sempurna. Sintya kini memasuki usia kehamilan tiga bulan; aura keibuannya mulai terpancar, membuat wajah cantiknya kian mempesona di mata Heri.Sore itu, jam empat lewat sedikit, Heri sedang berdiri di koridor lantai dua, mengawasi operasional sore restoran utama dari balik pagar kaca.Suasana lantai dasar ramai lancar oleh lalu-lalang pengunjung. Namun, perhatian Heri mendadak teralih oleh keributan kecil yang terjadi di area pintu masuk samping—akses khusus untuk keluar-masuk karyawan.Heri memicingkan mata. Di bawah sana, Maman tampak sedang menahan dada seorang wanita bertopi lusuh dengan pakaian kusam berkelemban longgar gaya gembel-chic yang dipaksakan. Wanita itu nekat ingin menerobos masuk sembari memanggil-m
Heri menatap lembaran bukti transfer bank di mejanya dengan mata menyipit tajam. Pria tegap itu berdiri dari tepi meja, meraih cangkir kopinya, lalu melangkah santai menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan lanskap kota."Jangan pakai cara kasar, Man," ujar Heri dingin tanpa berbalik. "Konfrontasi otot cuma buat kelas preman jalanan. Pria seperti Robert harus dihancurkan lewat sistem sampai dia tidak punya ruang buat bernapas lagi."Maman menyilangkan kedua tangannya di atas dada, menyunggingkan senyum miring yang kaku. "Lalu apa instruksimu, Her?"Heri memutar tubuhnya, menatap Maman dan Karin yang berdiri di dalam ruangan."Karin, panggil tim pengacara utama kita sekarang. Serahkan seluruh rekaman percakapan, jejak digital, dan bukti transfer dari agensi cyber itu langsung ke Krimsus Polda Jawa Barat. Minta mereka terbitkan laporan atas tuduhan kejahatan UU ITE, fitnah terorganisir, dan sabotase bisnis.""Siap, Pak Heri," jawab Karin cepat sembari mencatat instruksi tersebut."
Pagi harinya, jam delapan lewat tiga puluh menit, area ruang utama restoran pusat sudah dipenuhi puluhan wartawan dari berbagai media massa, kamera stasiun TV lokal, serta lembaga pengawas pangan independen. Tensi ruangan terasa riuh oleh bisik-bisik spekulasi.Tepat jam sembilan, Heri keluar dari ruang privatnya. Ia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi yang amat rapi. Di sampingnya, Sintya tampil sangat anggun dengan blus formal warna krem.Sikap tenang, dagu terangkat, serta pendar percaya diri yang dipancarkan pasangan suami-istri itu seketika membungkam riuh suara wartawan. Pendar lampu kilat kamera langsung menyambar-nyambar tanpa henti.Heri berdiri di balik podium utama, sementara Sintya berdiri tegap tepat di sisi kanannya."Selamat pagi rekan-rekan media dan seluruh masyarakat yang menyaksikan lewat siaran langsung pagi ini," buka Heri dengan suara bariton yang dalam, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun."Hari ini saya tidak berdiri di sini untuk membela diri dengan kat
Pagi itu, Heri sedang duduk santai di meja makan rumahnya, menikmati segelas kopi hitam hangat sembari memperhatikan Sintya yang mengoleskan mentega pada selembar roti.Suasana hangat di meja makan itu mendadak buyar ketika ponsel pintar Heri di atas meja berdering tanpa henti.Layar memperlihatkan nama Karin, disusul belasan panggilan tidak tertangkap dari manajer operasional restoran utama.Heri menggeser tombol hijau di layarnya dan menempelkan ponsel ke telinga."Mas Heri! Gawat, Mas!" suara Karin terdengar panik dan terengah-engah dari seberang telepon.“Media sosial mendadak geger dari jam lima subuh tadi. Ada video potongan gambar yang viral di TikTok sama Instagram. Mereka mengklaim ada bangkai tikus sama daging busuk di dapur restoran utama kita!"Heri tidak langsung merespons. Wajahnya tetap tenang, hanya alisnya yang menyatu tipis. "Video potongan? Dapur yang mana?""Dapur pusat, Mas!" potong Karin cepat."Ada tiga influencer kuliner lokal yang langsung bikin narasi provoka
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun







