LOGINSetelah melaju kurang lebih dua jam. Leo akhirnya sampai di depak rumah. Wajahnya masih menunjukkan kemarahan. Leo tidak menyangka, ternyata Nadia bersekongkol dengan Rendi. Mereka menjebaknya.Pintu rumah terbuka pelan. Leo melangkah masuk dengan napas yang masih berat. Wajahnya tegang, sisa emosi dari kejadian di puncak belum sepenuhnya hilang.Namun, saat Leo membuka pintu. Dia mengerutkan keningnya. Rumahnya sepi."Sayang…" panggilnya.Tapi tidak ada jawaban.Ia mengernyit.Biasanya, suara Dinda akan langsung menyahut. Atau setidaknya, terdengar suara aktifitas di dapur. Namun kali ini, begitu sunyi.Leo melangkah lebih dalam."Dinda?" panggilnya lagi, sedikit lebih keras.Tetap tidak ada jawaban. Matanya mulai bergerak cepat, menyapu seluruh ruangan. Bahkan Leo tidak melihat Sindi yang biasanya sibuk di dapur."Sindi?" panggilnya lagi.Jantung Leo mulai berdetak lebih cepat. Ia berjalan menuju dapur lalu pindah ke kamar.Saat pintu kamar terbuka. Ternyata kosong. Tempat tidur r
Beberapa hari berlalu.Hari Minggu yang dinanti akhirnya tiba. Sejak pagi, Leo sudah terlihat bersiap. Ia mengenakan pakaian santai, namun tetap rapi. Wajahnya tampak lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya.Dinda yang melihatnya sedikit heran."Mau ke mana, Mas?" tanyanya.Leo menjawab santai, "Ke kantor sebentar.""Ini kan minggu? Gak libur?" Dinda mengerutkan kening."Iya, ada urusan penting," jawab Leo cepat.Dinda mengangguk pelan. ""Oh… ya udah."Leo mendekat, lalu mencium kening anaknya."Jaga Vino yah," ucapnya.Dinda tersenyum kecil. "Iya, Mas."Leo menatap Dinda sebentar. "Aku mungkin agak lama."Dinda mengangguk. "Nggak apa-apa. Yang penting hati-hati."Leo tersenyum tipis. "Iya."Tanpa banyak bicara lagi, Leo langsung keluar dari rumah.Begitu masuk ke dalam mobil, ia langsung menghembuskan napas panjang."Hari ini…" gumamnya.Ada senyum tipis di wajahnya. Perasaannya berbeda. Antara senang dan penuh harap.Ia langsung menyalakan mesin mobil dan melaju menuju tempat yan
Tak lama kemudian."Kita langsung pulang saja ya, Mas," ucapnya.Leo mengangguk tanpa banyak bicara. "Iya. Nanti keburu sore."Mereka berjalan menuju mobil. Dinda masih menggendong Vino, sementara Leo membuka pintu dan membantu mereka masuk. Begitu mobil melaju, suasana sempat hening.Leo fokus menyetir, namun pikirannya tidak tenang."Ini nggak mungkin cuma soal pasar," batinnya.Ia mengingat kembali penjelasan Rendi tadi. Terlalu rapi. Seolah tidak ada celah.Leo menyipitkan mata sedikit."Aku yakin. Ada yang disembunyikan dia," gumamnya pelan.Dinda menoleh. "Kamu ngomong apa, Mas?"Leo langsung menggeleng. "Ah. Nggak, cuma kepikiran kerjaan."Dinda mengangguk. "Oh…"Beberapa detik kemudian, Dinda kembali bicara."Menurut kamu tadi gimana penjelasan Rendi?" tanyanya.Leo menjawab santai, "Ya… cukup jelas."Dinda tersenyum tipis. "Iya kan."Leo melirik sebentar. "Kamu percaya banget sama dia ya."Dinda langsung menjawab, "Iya. Karena udah lama yang menangani perusahaan ku, Mas."Leo
Leo menatap Dinda dengan ekspresi yang mulai berubah. Tatapannya tidak lagi santai seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya, dan kali ini mulai keluar."Tapi menurutku. Harusnya Rendi yang beresin semuanya," ucap Leo lebih menekan.Dinda yang sedang merapikan tas langsung menoleh. "Maksud kamu?"Leo menghela napas pendek. "Dia kan orang kepercayaan kamu. Harusnya dia yang tanggung jawab kalau perusahaan lagi turun."Dinda terdiam sejenak, lalu menjawab, "Mas, ini nggak sesederhana itu."Leo mengernyit. "Kenapa nggak? Dia dibayar untuk itu kan?""Iya. Tapi bukan berarti salah Rendi, Mas," balas Dinda dengan nada yang lebih tegas.Leo langsung menatapnya tajam. "Kamu yakin?""Iya," jawab Dinda tanpa ragu.Leo tersenyum tipis, tapi bukan karena senang. "Kamu cepat banget bela dia."Dinda menghela napas. "Bukan bela, Mas. Tapi memang kenyataannya begitu."Leo melipat tangannya di dada. "Atau kamu terlalu percaya sama dia?"Dinda menatap Leo dalam-dalam. "Aku meman
Padahal, mereka hanya bicara biasa. Tapi pikiran Leo tidak bisa diam. Beberapa kejadian sebelumnya kembali teringat. Hal-hal kecil yang terasa janggal. Cara Rendi berbicara dengan Dinda. Cara Dinda merespons. Semua terasa… tidak biasa. "Kami cuma sebentar kok, Pak," ucap Maya mencoba menjelaskan. Leo mengangguk singkat. "Iya, nggak apa-apa." Namun nada suaranya datar. Tidak sehangat biasanya. Dinda melirik Leo sebentar, seolah menyadari perubahan itu. "Mas, kamu mau istirahat dulu?" tanyanya. Leo langsung menjawab, "Iya." Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung berjalan menuju kamar. Langkahnya cepat. Pikirannya mulai tidak tenang. Beberapa detik kemudian. Pintu kamar terbuka. Dinda masuk. "Mas…" panggilnya pelan. Leo berdiri di dekat lemari, lalu menoleh. "Iya?" jawabnya. Dinda mendekat. "Kamu kenapa?" Leo menghela napas pelan. "Itu mereka… ngapain ke sini?" Dinda sedikit terdiam, lalu menjawab, "Ada urusan kantor, Mas." "Urusan apa?" tanya Leo lagi. "Ya…
Leo kembali menatap layar ponselnya. Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Pesan terakhirnya ke Nadia masih terpampang jelas, ajakan untuk melakukan video call.Ia menelan ludah. Rasa penasaran itu semakin kuat."Seperti apa ya dia sekarang…" batinnya.Leo melirik ke arah dalam rumah, memastikan suasana aman. Pintu tertutup, tidak ada suara. Ia menarik napas pelan, lalu menekan tombol panggilan video.Layar mulai berdering. Satu detik. Dua detik.Leo semakin tegang."Ayo angkat…" gumamnya pelan.Matanya terus tertuju pada layar, sementara sesekali ia melirik ke arah pintu rumah. Perasaannya tidak tenang, seolah sedang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.Namun rasa penasaran itu lebih besar.Dan akhirnya...KLIK.Panggilan terhubung.Leo langsung terdiam. Matanya seketika membesar."Nadia…" bisiknya pelan.Di layar, wajah Nadia muncul dengan jelas. Rambutnya tergerai, wajahnya tampak segar meski malam sudah larut. Kulitnya terlihat begitu putih dan bersih, ditambah
Setelah berminggu-minggu menahan perasaan, akhirnya Leo merasa tidak bisa lagi menahan hasratnya yang muncul begitu kuat. Suatu malam, saat mereka berdua sedang bersantai di kamar, Leo memutuskan untuk jujur kepada Dinda. Dia merasa ini adalah satu-satunya cara agar dia tidak lagi merasa tertekan o
Malam itu, Dinda duduk di tepi ranjang, matanya lelah menatap ke luar jendela, memandangi langit yang tampak kelam. Leo, suaminya, berjalan mendekat, senyumnya penuh cinta dan kelembutan. Mereka baru saja menikah beberapa bulan yang lalu, dan Leo masih terus memuja Dinda, menganggapnya sebagai pusa
Dinda menelan ludah, rasa gugup dan takut menyeruak. Dia tahu maksud Pak Bram, dan meskipun perasaan bersalah terus menghantui, dia merasa tak punya pilihan lain. Kehidupannya sudah terperangkap dalam permainan yang dikuasai oleh mertuanya. Tanpa banyak kata, dia mengangguk, mengeluarkan ponselnya,
Dinda terlihat menggenjot lebih cepat, suara benturan antara daging terdengar keras, desahannya pun semakin kencang terdengar. Leo yang juga merasakan aliran darahnya memuncak, dia ikut mempercepat gerakan istrinya sampai akhirnya mereka berdua mengerang kenikmatan. "Cepat Sayang... Argghhh." "I







