로그인Hawa panas di atas kap mesin mobil seketika berpindah saat lengan kekar Rendra mengangkat tubuh Arini ke dalam gendongannya. Kaki jenjang Arini melingkar erat di pinggang kokoh sang montir, membiarkan dirinya dibawa melangkah menuju lorong sempit di sudut belakang bengkel. Pintu kayu bercat putih kusam di ujung lorong didorong terbuka, memperlihatkan sebuah kamar mandi sederhana berlantai semen halus dengan dinding keramik putih berlumur embun sejuk pagi. Rendra menutup pintu itu dengan tumit kakinya, lalu memutar grendel kunci hingga berbunyi klik di tengah kesunyian ruangan. Gemercik air dari pipa pancuran sederhana mulai berdesis pelan, memecah hening saat kran diputar ke arah bawah. Rendra menurunkan pijakan kaki Arini perlahan ke lantai semen yang basah, namun kedua tangannya tetap mengunci pinggang ramping wanita itu menempel lekat pada tubuhnya. Uap air dingin yang menyembur halus dari pancuran berhamburan ke udara, membasahi ujung kemeja flanel kotak-kotak yang mem
Pintu lipat besi bengkel hanya dibuka separuh oleh Rendra untuk menyambut dua perwira penyidik yang berdiri siaga di pelataran. Penyerahan salinan berkas penahanan resmi berlangsung singkat dan tegas. Tanda tangan disematkan di atas lembar berita acara, memastikan Danang dan Hartono telah resmi mendekam di sel isolasi tanpa hak penangguhan, sementara seluruh rekening keluarga Adiningrat yang terkait pencucian uang telah dibekukan negara. Setelah menyampaikan rasa hormat dan berjanji mengawal kasus hingga meja hijau, kedua petugas itu berpamitan dan membiarkan mobil dinas mereka melaju membelah pagi. Rendra kembali menurunkan daun pintu besi hingga membentur lantai semen dengan dentuman berat, lalu memutar gerendel kunci ke posisi terkunci rapat. Bengkel itu kembali sunyi senyap, terisolasi sempurna dari hiruk-pikuk kota. Arini masih berdiri di dekat tiang penyangga, bersandar pada kap depan mobil sedan tua. Kemeja flanel kotak-kotak milik Rendra yang kebesaran jatuh longgar di tub
Dekapan di atas kasur busa tipis itu perlahan meluruhkan sisa ketegangan yang membakar dada mereka. Napas Rendra yang semula memburu berat kini berangsur teratur, menyapu pucuk kepala Arini yang bersandar pasrah di ceruk lehernya. Pria bertubuh kekar itu menarik selimut kain sederhana hingga menutupi bahu porselen Arini, mengurung wanita itu dalam kehangatan tubuhnya yang kokoh tanpa membiarkan hawa dingin dini hari menyusup masuk. Arini memejamkan mata rapat-rapat, menikmati ketenangan langka yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun terbelenggu dalam istana megahnya. Jemari lentiknya masih meraba perlahan garis bekas luka di punggung liat sang montir, merasakan setiap detak jantung Rendra yang berdenyut tenang bagai genderang perlindungan. "Mas Rendra..." bisik Arini lirih, suaranya parau memecah sunyi. Rendra menunduk sedikit, mengecup lembut kening Arini seraya menyisipkan helai rambut yang menutupi pelipisnya ke belakang telinga. "Tidurlah, Arini. Semuanya sudah selesai."
Rendra menarik tuas pintu geser besi bengkel ke bawah perlahan hingga dasarnya berdentang rapat menghantam lantai semen. Gembok baja besar dipasang dari arah dalam dengan bunyi klik yang solid, mengunci rapat seluruh dunia luar yang penuh intrik dan kebisingan di balik dinding seng tebal. Bengkel tua itu kini hening, hanya diterangi seberkas lampu bohlam kuning temaram yang menggantung di dekat meja perkakas. Arini berdiri mematung di tengah ruangan beraroma oli mesin dan pelarut karat, memeluk kedua lengannya sendiri seraya menatap sekeliling dengan binar mata yang berkilat lembut. Langkah kaki Rendra melangkah mendekat tanpa alas kaki, bayangan tubuh kekarnya yang menjulang menenggelamkan sosok ramping sang nyonya. "Ini tempat tinggal saya, Arini... jauh dari kata layak untuk nyonya besar seperti kamu," bisik Rendra seraya menatap gaun sutra Arini yang tampak begitu mewah di antara tumpukan roda gigi dan dongkrak hidrolik. Arini mengangkat pandangannya, menatap sepasang mata e
Deru mesin mobil bak ganda milik Rendra membelah dinginnya jalanan aspal menuju ruko bengkel di ujung gerbang komplek. Di dalam kabin yang sempit dan beraroma khas besi tua, keheningan di antara keduanya justru terasa sarat oleh letupan rasa yang belum usai. Arini duduk merapat di kursi penumpang, sesekali melirik jemari kekar Rendra yang mencengkeram lingkar kemudi. Tatapan mata elang pria itu tampak lurus menatap jalan, namun rahang tegasnya yang mengeras memperlihatkan pergolakan batin yang nyata setelah mendengar tantangan sang nyonya di beranda tadi. Namun, ketegangan manis itu seketika buyar begitu mobil berbelok memasuki pelataran bengkel. Lampu tembak mobil bak menyorot tepat ke arah sedan sport merah milik Clarissa yang terparkir melintang di depan pintu lipat besi. Wanita blasteran itu rupanya tidak benar-benar pulang. Clarissa berdiri bersandar di kap mobil mewahnya seraya melipat tangan di dada, mengenakan jaket kulit hitam yang membalut lekuk tubuh rampingnya dengan sa
Satu jam berselang, hiruk-pikuk sirene dan lampu rotator biru perlahan mereda di pelataran depan komplek Cemara Hijau. Garis polisi membentang di sekeliling gerbang mansion. Udara dini hari yang sejuk perlahan mengusir sisa bau gas air mata dari teras beranda marmer. Sejumlah petugas forensik masih sibuk mencatat barang bukti, sementara beberapa tetangga komplek elit berdiri di kejauhan dengan tatapan ingin tahu yang tertahan. Di undakan tangga teras samping yang sepi, Rendra duduk bersandar pada pilar seraya menyalakan sebatang rokok. Kaos hitamnya berdebu dan sobek di bagian lengan kiri, memperlihatkan luka gores memanjang yang mengeringkan bercak darah tipis akibat pecahan kaca tabung gas. Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat. Arini muncul membawa sebuah kotak pertolongan pertama kecil dan sebaskom air hangat. "Duduk diam dan jangan bergerak," titah Arini dengan nada suara yang berusaha terdengar galak, meski matanya masih tampak sembab. Rendra mendongak, tersenyum
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon







