LOGINSonia pergi menemani Jemmy sebentar.Kakek dan cucu itu duduk di koridor yang tenang, memandang orang-orang di pesta yang sedang mengobrol dan tertawa dengan riuh.Jemmy berkata dengan tersenyum, “Apa kamu merasa gembira?”Sonia memalingkan kepalanya, lalu mengangguk dengan serius. “Gembira!”Rasa gembira yang Sonia rasakan ini diberikan oleh Reza, kakeknya, dan abangnya. Dalam acara resepsi pernikahan hari ini, selain merasa terharu, dia juga lebih merasa berterima kasih.Ada begitu banyak orang sudah berusaha keras untuk menyenangkan Sonia. Mereka bahkan begitu detail dalam setiap sesi.Jemmy mengangguk dengan gembira. “Yang penting kamu merasa gembira!”Sonia bertanya, “Hari ini aku bertemu dengan Bibi Julia. Kami ngobrol sebentar. Dia tanya aku proses ketemu Hallie dengan detail.”Jemmy berkata dengan suara ringan, “Jadi, sebenarnya Julia juga peduli apakah Hallie itu putrinya atau bukan.”Seharusnya perasaan Julia juga sangat bertentangan. Dia berharap bisa menemukan putrinya, tet
Kening Morgan berkerut. Dia mengangkat tangannya untuk menahan kepala Theresia, lalu menyandarkannya kembali ke atas pundak. “Tidurlah!”Theresia membalas dengan patuh, “Emm.”Ternyata Theresia benar-benar memejamkan matanya.Namun baru beberapa menit berlalu, Theresia tidak bisa menahan dirinya lagi. Mata berkilauannya terus menatap jakun si pria. Jari tangannya mulai meraba ke bagian atas.Leher pria itu terlihat jenjang. Garis ototnya tampak tegas. Sementara tangan wanita itu putih mulus dan tanpa hiasan berlebihan di atas kukunya, hanya dilapisi kuteks transparan dengan kilau merah muda seperti bunga sakura, yang kini jatuh tepat di atas jakun pria itu.Theresia menyipitkan sedikit matanya, lalu berkata, “Apa aku boleh cium sebelah sini?”Tatapan pria itu melirik si wanita sekilas. Dia membuka sedikit bibir tipisnya. “Tidak boleh!”Theresia mengernyitkan keningnya. “Kenapa nggak boleh?”Kening si pria juga berkerut. “Theresia, apa kamu lagi pura-pura mabuk? Kalau kamu tidak mabuk,
Morgan dan Julia sedang mengobrol dengan santai. Tatapannya terus tertuju pada diri Theresia, Sirla, dan yang lain.Ketika melihat Theresia minum segelas demi segelas, kening Morgan pun semakin berkerut. Beberapa saat kemudian, Morgan berdiri. “Sepertinya dia sudah minum kebanyakan. Aku pergi lihat dia dulu.”Julia melihat jam tangannya sekilas, lalu mengangguk. “Waktu sudah malam. Aku juga sudah harus beristirahat. Kamu jaga Theresia dengan baik.”“Aku akan melakukannya!”Morgan sedikit mengangguk. Dia berjalan ke sisi Sirla dan yang lain dengan langkah besar.Theresia sedang memegang segelas anggur. Dia sedang mendengar Sirla menceritakan masalah seru di Barkia. Saat seorang pria berjalan ke belakangnya, mengambil pergi gelas di tangannya, dan meletakkannya di atas meja, Theresia baru membalikkan kepalanya. Seketika, Theresia tersenyum tipis. “Tuan Morgan, apa mau minum alkohol bersama?”Morgan menatap Theresia sekilas. Dia tahu bahwa Theresia sudah mabuk. Saat Theresia mabuk, tatap
Dengan begitu, Morgan pun tidak akan kesal saat ini.“Sepertinya Roger masih sangat menyukai Theresia, ingin mengejarnya kembali!” kata Julia, “Gimana kalau aku panggil dia kemari?”“Tidak usah!” kata si pria, lalu menunduk untuk meminum alkohol. Dia tidak ingin melihat ke arah Theresia.Beberapa menit kemudian saat Julia mengangkat kepalanya kembali, dia melihat ada 5-6 pria sedang mengerumuni Theresia. Mereka sedang bersenda gurau, hanya saja Morgan tidak bisa mendengar dengan jelas.Julia berkata dengan gugup, “Apa ada orang yang cari masalah di saat mabuk?”Morgan menatap orang-orang yang mengerumuni Theresia, tetapi dia malah tersenyum. “Bukan, kamu tidak usah peduli.”….Orang-orang yang mengerumuni Theresia adalah Sirla, Solmi, dan yang lain. Mereka beranggotakan banyak orang. Dalam seketika, Roger pun terdesak ke samping.Roger ingin meluapkan amarahnya, tetapi Sirla malah langsung merangkul pundak Solmi, berkata dengan cengengesan, “Kami itu temannya Nona Theresia, teman yang
Morgan dan Julia duduk bersama. Ada beberapa orang juga datang untuk bersulang. Ketika melihat mereka berdua sedang mengobrol, mereka pun tidak enak hati untuk mengganggu.Morgan bersandar di bangku dengan pose duduk santai. “Kenapa kamu tidak menemani Kakek Aska?”Julia menggeleng dengan perlahan. “Sudah terlalu lama tidak bertemu. Begitu bertemu, tetap saja bertengkar. Kami berdua pasti bermusuhan pada kehidupan lampau, makanya dendam itu sampai terbawa di kehidupan sekarang!”Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, saat bertemu dengan sang ayah tadi pagi, hati Julia merasa sangat tersentuh. Ayahnya sudah tua, tidak kelihatan tegas seperti saat muda dulu. Mungkin Julia juga sudah seharusnya melepaskan masa lalu, lalu menemani di sisinya untuk beberapa waktu.Namun, pemikiran itu segera disingkirkan. Ayahnya memang sudah tua, tetapi wataknya tetap sangat keras dan egois. Sekarang, dia malah terus memanjakan Hallie. Seandainya Hallie bukanlah putrinya, Julia bahkan tidak tahu bagaim
Kenapa keluar satu lagi?Bahkan memanggilnya … Howie?Tiba-tiba Howard kepikiran dengan neneknya yang sudah meninggal dunia!Casa menatap Cindy dengan panik. “Kenapa aku mesti mencelakai Tuan Howard? Kamu jangan sembarangan bicara. Kamu itu orang yang dicari Howard, sengaja kemari untuk berakting, ‘kan?”“Berakting?” Cindy tersenyum dingin. “Sepertinya aktingku nggak sebagus kamu! Jelas-jelas kamu lagi membantu orang lain untuk menjebak Howie, malah berlagak sok sedih. Kalau aku nggak memahami Howie, aku pasti akan percaya sama kamu!”“Apa kamu memahaminya? Kalau dia juga bilang dia cinta sama kamu, itu hanya bisa membuktikan bahwa dia itu hidung belang!” jerit Casa dengan marah.“Dia nggak bilang dia cinta sama aku. Aku yang cinta sama dia!” kata Cindy. Dia pun mengangkat alisnya terhadap Howard. Ekspresinya juga semakin manis lagi. “Howie, kamu jangan takut. Aku punya bukti bisa membuktikan dia itu sengaja ingin menjebakmu. Kamu memang nggak kenal sama dia. Dia juga sama sekali nggak
Selama dua tahun ini, Tandy memang semakin tinggi saja. Dia bahkan sudah lebih tinggi daripada Sonia. Sekarang tinggi badannya sudah melewati 1,7 meter. Ditambah lagi dengan gen unggul Keluarga Herdian, Tandy yang baru berusia 12 tahun ini kelihatan sangatlah tampan!Tandy mendengus, “Apa kamu masih
Si lelaki menutup matanya, lalu segera memeluk ibunya. “Dia pukul aku dan cubit aku!”Amarah di hati si wanita langsung membeludak. Dia berjalan maju hendak memukul Sonia. “Beraninya kamu pukul anakku? Sini, biar aku habisi kamu!”Sonia tidak menyangka wanita ini sangat susah untuk diajak bicara. Dia
Pikiran Reza seketika menjadi kacau. Wanita yang dirindukannya selama dua tahun ini akhirnya muncul di hadapannya. Pakaiannya sedang dalam keadaan terbuka. Wajahnya juga tampak sangat merona. Sepertinya Sonia sedang menunggu Reza untuk menenangkannya. Bagaimana Reza bisa menahan diri?Reza memeluk So
Setelah setengah jam kemudian, Stella dan Edward duduk di dalam ruangan VIP sebuah restoran barat mewah. Stella meletakkan buket bunga di samping, lalu berkata dengan tersenyum, “Sebenarnya aku ingin minta bantuan Tuan Edward.”Edward menuangkan segelas anggur merah kepada Stella. “Kenapa kamu berbic







