แชร์

Bab 96. Ternyata!

ผู้เขียน: Zhang A Yu
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-27 12:54:54

Pemakaman tetua keluarga Shen—Nenek Zui Xu, baru saja selesai di hari berikutnya.

Keluarga pengantar seluruhnya kembali ke kediaman, termasuk jenderal Shang yang memimpin ritual pemakaman.

Sekarang, sambil memandang tenang sisa-sisa timbunan tanah di bangunan belakang area kediaman, jenderal Shang memerintah tegas.

“Jangan sampai Shen Liu Zi mendengar kabar ini.”

Komandan Hutong Bai sempat menoleh menatap sang jenderal, tapi kemudian mengangguk mengiyakan. “Iya, siap, Jenderal!”

Hari ini jenderal Shang dan setiap orang, yang dikirim kota Kekaisaran lanjut mengevakuasi korban, yang belum ditemukan, juga membereskan bekas-bekas longsor, yang untungnya tidak sampai menelan banyak korban maupun merugikan banyak rumah.

Saat bersamaan ....

“Ada kabar dari rumah?” Shen Liu Zi bertanya tak sabar ketika Yu Li baru saja masuk membawakan rebusan obat untuknya.

Yu Li menggeleng samar. “Tidak ada, Nyonya.”

Shen Liu Zi menghela napas berat. Sejak kemarin hati dan pikirannya tidak tenang.

“Minum
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 118. Diam-diam Menertawakan Shen Liu Zi

    Hari berikutnya. Bidak hitam dan putih tersusun rapi di permukaan papan wei qi di ruang kerja kaisar. Cahaya pagi yang condong ke siang menembus kisi jendela, jatuh miring ke permukaan papan, membuat bayangan garis-garisnya tampak tegas dan dingin seperti medan perang yang diperkecil. Kaisar duduk bersandar santai, dua jarinya menjepit bidak hitam. Di seberangnya, jenderal Shang duduk tegak, punggung lurus, wajah datar tanpa emosi berlebih. Sejak awal permainan, nyaris tak ada percakapan. Hanya bunyi halus bidak yang diletakkan bergantian. Tok. Tok. Beberapa langkah berlalu. Kaisar akhirnya tersenyum tipis, tanpa mengangkat kepala. “Permainanmu hari ini agresif.” “Situasi menuntutnya,” jawab jenderal Shang singkat. Kaisar terkekeh pelan, lalu meletakkan bidak hitamnya di sudut papan. “Begitu juga caramu menangani orang.” Jenderal Shang tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan papan, menggerakkan bidak putihnya, memotong jalur hidup hitam dengan presisi dingin. Tok. “Yang

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 117. Kedatangan Chu Qiao

    Tangan jenderal Shang mencengkeram pergelangan Shen Liu Zi dan menariknya menjauh dari cangkir teh tanpa komando! Gerakannya cepat, refleks seorang prajurit yang terbiasa menyelamatkan nyawa di tengah bahaya, bukan gerakan seorang pria yang sempat berpikir panjang. “—!” Shen Liu Zi terhuyung setengah langkah ke depan. Rasa perih membuat matanya membesar, napasnya tercekat. Namun, sebelum keluhannya sempat keluar, dia sudah ditarik lebih dekat. Jenderal Shang menunduk. Tatapannya jatuh ke tangan Shen Liu Zi yang memerah. Air teh masih menetes dari sela jemarinya. Untuk sepersekian detik—sangat singkat, nyaris tak tertangkap, raut wajahnya retak. Ada kilatan cemas di matanya! Shen Liu Zi menangkapnya. Dadanya bergetar. Aku salah lihat? pikirnya. Saat dia menatap lebih saksama, wajah jenderal Shang telah kembali dingin, tertutup rapat seperti pintu baja

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 116. Sangat Cemburu

    Brak! Gerbang kediaman jenderal Shang tertutup dengan suara keras. Shang Xiwu terhenti tepat di depan daun gerbang yang kini memisahkan dirinya dari dunia dalam. Wajahnya memerah, urat di pelipisnya menegang. Napasnya naik-turun cepat, tapi tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Kepala Xun, yang tadi mengiringinya dengan wajah dingin, sudah lebih dulu pergi, meninggalkan Shang Xiwu ditemani amarahnya sendiri. Kini Shang Xiwu mengepalkan tangan. Lalu, menghentakkan kaki kesal, berbalik, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Di dalam kediaman.Jenderal mengenakan jubah tidur tipis. Lekukan di perutnya terbentuk jelas, seakan jubah yang dia kenakan sengaja didesain untuk memperlihatkan bentuk indah di sana.Dia tidak berkata apapun, tetapi kepala Xun yang sebelumnya selesai berbalik usai menutup gerbang, kini melangkah pergi ke sisi lain dengan kepala menunduk sebagai rasa hormat.Sementara itu, Shen Liu Zi yang masih membawa semangkuk obat mulai dilanda kegugupan kembali.

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 115. Chu Qiao Menyelesaikan Tugasnya

    Kereta melesat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya! Udara senja yang semula hangat, kini terbelah oleh derap kaki kuda, juga oleh gemeretak roda yang kini tak lagi sekadar berderak, melainkan mengaum, menghantam batu demi batu tanpa ragu. Debu terangkat tinggi, menutup sebagian pandangan, menjadikan jalanan seperti kabut perang yang terbentuk mendadak di jantung kota. Serangan masih datang bertubi-tubi! Dari atap, bayangan melompat, senjata terhunus, tubuh-tubuh itu meluncur turun dengan niat membunuh yang telanjang. Dari belakang, langkah ringan menyusul cepat, jarak dipangkas dengan teknik yang jelas terlatih. Dari samping, kilatan baja muncul dari sela kerumunan, begitu dekat hingga napas mereka nyaris menyentuh sisi kereta. Kereta seolah hidup! Setiap kali bahaya mendekat, jalurnya berubah setengah tapak—cukup untuk membuat sabetan meleset, cukup untuk membuat panah hanya menyayat udara. Chu Qiao mengendalikan laju secara kejam tapi indah, memanfaatkan

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 114. Shen Liu Bei Juga Diincar

    Sore merayap turun perlahan, cahaya matahari merunduk di antara atap-atap rumah dan gerbang toko yang mulai ditutup setengah. Bayangan orang dan bangunan memanjang di jalanan pusat kota, menyatu bersama debu yang terangkat oleh roda kereta. Sebuah kereta kuda melintas—tidak cepat, tidak pula lambat. Lajunya wajar, nyaris membosankan, seperti ratusan kereta lain yang keluar-masuk kota setiap hari. Kusirnya duduk malas di depan. Pakaiannya sederhana, polos, tanpa hiasan mencolok. Topi bundar menutupi sebagian besar wajahnya, menurunkan bayangan ke dahi hingga mata nyaris tak terlihat jelas. Dari luar, tak ada yang akan menyangka bahwa kusir itu seorang wanita—Chu Qiao. Tangannya memegang kendali dengan mantap. Setiap tarikan tali kekang presisi, setiap ayunan cambuk hanya sekadar isyarat. Kuda melangkah patuh, seakan sudah lama mengenal orang di atas punggung kereta itu. Di dalam kereta, Shen Liu Bei duduk bersandar, tubuhnya sedikit condong untuk menjaga keseimbangan. Tongkatny

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 113. Jenderal Shang Hanya Ngigau

    Cekalan itu membuat Shen Liu Zi membeku. “...” Tangan wanita itu tertahan, pergelangan yang ramping terkurung dalam genggaman panas yang tidak terkontrol. Jantung Shen Liu Zi berdegup keras, kepalanya kosong sesaat. Dia menunduk, menatap wajah jenderal Shang dengan napas tertahan khawatir. Tidak tahu pasti seberapa lama, yang jelas genggaman tangan jenderal Shang mendadak mengendur. Jari-jarinya meluncur turun, terlepas begitu saja, seolah refleks yang lahir dari mimpi buruk singkat. Kelopak mata yang tadi sempat terbuka tapi kosong, kini bergetar samar, lalu kembali terpejam. Napasnya tetap berat, tetapi iramanya perlahan menjadi lebih teratur. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Shen Liu Zi berdiri kaku beberapa saat, baru menyadari bahwa napasnya sendiri memburu. Dia mengangkat tangannya yang sempat dicekal, menekannya ke dada, mencoba menenangkan degup jantung yang belum reda. Wajah jenderal Shang kini terlihat berbeda. Tidak dingin, tidak keras seperti biasanya. Rau

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status