Share

Sandiwara Li Lian

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-02-22 14:10:22

"Ibu Suri... hamba tahu hamba adalah duri dalam pandangan Anda," ucap Li Lian, air mata perlahan mengalir di pipinya yang tirus.

"Tapi menuduh hamba menyakiti Putri Zhao Xinyi... itu adalah fitnah yang menyakitkan. Hamba mendoakan kebahagiaannya setiap detik dalam meditasi hamba.

Jika hamba memiliki kemampuan untuk muncul di kamarnya seperti roh, bukankah lebih baik hamba menggunakan kemampuan itu untuk melarikan diri dari sini?"

Kata-kata itu masuk akal bagi Ibu Suri. Jika Li Lian memang mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Matahari di Atas Langit Kekaisaran (End)

    Lonceng emas dari Menara Doa berdentang sembilan kali, suaranya mengalun merdu memenuhi seluruh sudut ibu kota, menandai berakhirnya masa kegelapan dan dimulainya era baru yang penuh cahaya. Jalanan utama istana telah dihampari permadani sutra merah sepanjang mata memandang. Kelopak bunga mawar dan seroja ditaburkan oleh para pelayan, mengharumkan udara senja yang hangat.Kaisar Chen Xu berdiri di puncak tangga tertinggi Aula Agung. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan binar kehangatan yang tak mampu ia sembunyikan. Saat pintu kereta besar terbuka dan Li Lian melangkah keluar sambil mendekap sepasang bayi kembar dalam balutan kain kebesaran, seluruh istana seolah menahan napas.Li Lian tampak begitu anggun dalam balutan hanfu kebesaran berwarna merah tua dengan sulaman burung fenghuang emas yang membentangkan sayap di punggungnya. Meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan dari perjalanan jauh, aura kemuliaan terpancar dari setiap langkahnya. Ia bukan lagi s

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!    Perjalanan Menuju Takhta

    Fajar baru saja menyingsing di cakrawala saat rombongan besar itu mulai bergerak meninggalkan padang rumput Ka-Shar. Kereta kuda yang membawa Li Lian dan kedua bayi kembarnya berada di tengah-tengah formasi pelindung yang sangat ketat. Lin Feng memacu kudanya di sisi kanan kereta, matanya yang tajam menyapu setiap jengkal semak dan bukit yang mereka lalui. Ia tahu, meskipun Permaisuri Xiao telah diringkus, sisa-sisa pengikutnya yang haus darah masih berkeliaran seperti serigala kelaparan, mencari celah untuk menghancurkan kebahagiaan Sang Kaisar.Di dalam kereta, Li Lian memeluk kedua buah hatinya dengan protektif. Bayi laki-lakinya, yang diberi nama sementara "Pangeran Kecil" oleh para tabib, tertidur dengan tenang, sementara adik perempuannya sesekali menggeliat dalam balutan sutra. Li Lian bisa merasakan jimat dari Yan Lu bergetar pelan di dadanya, memberikan sensasi ketenangan yang luar biasa, sesekali dia memegang jimat itu dan berterima kasih padanya. Namun, instingnya sebaga

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Sang Naga yang Gelisah

    Di aula utama istana Kekaisaran, suasana yang biasanya sunyi dan berwibawa kini terasa seperti air mendidih. Sejak matahari terbit, Kaisar Chen Xu tidak bisa duduk tenang di atas takhta emasnya. Langkah kakinya yang berat bergema di atas lantai marmer hitam saat ia berjalan mondar-mandir tanpa henti. Aura naga di tubuhnya bergetar hebat, bukan karena amarah, melainkan karena kegelisahan yang luar biasa yang sudah memuncak selama berbulan-bulan.Tiba-tiba, seorang utusan berkuda dengan pakaian yang berdebu dan napas tersengal masuk ke aula, lalu berlutut dengan terburu-buru. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung perak dengan segel bunga teratai dan naga—tanda pesan rahasia dari tanah Ka-Shar."Yang Mulia! Berita dari tanah Ka-Shar telah tiba!" seru utusan itu dengan suara serak.Chen Xu tidak menunggu Kasim Zhao mengambil pesan itu. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar tabung perak tersebut dan membukanya. Matanya yang tajam menyisir baris demi baris tulisan di atas kain sutra

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!    Persalinan di Bawah Langit Ka-Shar

    Enam bulan telah berlalu. Kini, di hamparan padang rumput Ka-Shar yang luas, musim beralih membawa angin sejuk yang membelai tenda-tenda putih besar. Li Lian duduk bersila di tengah sebuah kolam batu alami yang dialiri air dari mata air suci pegunungan. Usia kehamilannya telah memasuki bulan kesembilan. Perutnya yang membulat besar tampak berkilau di bawah siraman cahaya bulan purnama, sementara para tetua suku dan tabib wanita Ka-Shar melantunkan mantra penyucian di sekelilingnya.Ritual ini adalah ritual terakhir. Selama berbulan-bulan, Li Lian menjalani diet ketat herbal dan meditasi energi Dantian untuk meredam kutukan kuno yang sempat menyusup ke rahimnya. Air mata air suci itu terasa dingin menyentuh kulitnya, namun di dalam rahimnya, ia merasakan kehangatan yang luar biasa. Denyut kehidupan di dalamnya terasa jauh lebih kuat dan aktif daripada bayi normal pada umumnya."Nona, fokuslah pada napas Anda," bisik Tabib Utama Ka-Shar, seorang wanita tua dengan garis-garis kebijaksa

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Putusnya Rantai Kebencian

    “Lin Feng, biarkan dia mendekat! Dia tidak berbahaya!”Suara Li Lian memecah kesunyian hutan pinus yang mencekam itu. Meski suaranya terdengar parau dan lemah, ada nada otoritas yang membuat Lin Feng tertegun di tempatnya. Para prajurit elit yang semula sudah menarik busur panah dengan ujung besi yang berkilat di bawah cahaya obor, kini saling pandang dengan ragu. Atmosfer di perbatasan hutan itu menjadi sangat tegang, seolah-olah satu desahan napas yang salah saja bisa menyulut pertumpahan darah.Lin Feng mengepalkan hulu pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. “Tapi Nona, kita tidak tahu siapa mereka. Di tengah malam buta seperti ini, siapa pun bisa menjadi ancaman bagi Anda dan janin di rahim Anda!”“Aku merasakannya, Lin Feng. Instingku tidak pernah salah,” balas Li Lian dari balik tirai kereta. “Tidak ada hawa membunuh, tidak ada haus darah. Hanya ada kesedihan yang sangat dalam. Biarkan dia maju.”Dengan enggan, Lin Feng memberi isyarat agar barisan prajurit membuka jalan.

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Pergi ke Ka-Shar

    "Li Lian..."Chen Xu berbisik dengan nada yang nyaris hancur. Ia berlutut di sisi tempat tidur, mencengkeram tangan Li Lian seolah-olah jika ia melepaskannya, wanita itu akan hilang ditelan kegelapan. Baginya, takhta ini tidak ada harganya jika ia harus kembali terpisah dari wanita yang baru saja ia selamatkan dari ambang maut.Li Lian mengulas senyum tipis, jemarinya yang dingin mengusap pipi Chen Xu yang kasar. "Yang Mulia, hamba melakukan ini demi putra kita. Anda bisa menjemput kami nanti, saat segalanya sudah suci dan aman. Biarkan hamba memberikan masa depan yang bebas dari kutukan untuknya."Di tengah suasana yang menyesakkan itu, Kasim Zhao melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Ia membungkuk rendah di samping Chen Xu dan berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh sang Kaisar."Yang Mulia, ini adalah strategi yang bijaksana. Biarkan Nona Li Lian melahirkan di sana. Begitu beliau kembali membawa pewaris yang sehat dan bebas kutukan, itu akan menjadi alasan terkuat

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Kematian Tragis

    Angin musim dingin melolong di antara celah-celah pohon pinus yang gundul, membawa serpihan salju yang tajam menusuk kulit. Di sebuah gubuk kayu yang nyaris roboh di pinggiran hutan yang sunyi, Lin Feng berdiri mematung. Napasnya memburu, menciptakan uap putih yang tebal di udara yang membeku. Pe

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Penghakiman

    Zhao Feng menatap Li Lian dengan kebencian yang mendalam. Ia tahu, Li Lian-lah yang melakukan ini, namun ia tidak punya bukti. Jika ia menuduh Li Lian, maka ia harus mengakui bahwa ia sendiri yang memberikan bubuk gairah itu kepada Li Lian untuk menjebak Jenderal."Prajurit itu... seret dia ke penj

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tragedi di Paviliun Anggrek

    Malam semakin larut, namun atmosfer di Paviliun Giok Surgawi tidak mendingin. Setelah Chen Xu dipapah keluar dengan napas yang memburu dan wajah yang memerah, Zhao Feng tampak sangat puas. Ia menyesap sisa tehnya dengan senyum penuh kemenangan yang tak lagi disembunyikan."Menteri sekalian," ucap

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Lakukan!

    Tapi lihat sekarang? Memang langit mendukungku. Apa yang seharusnya jadi milikku, pada akhirnya tetap kembali jadi milikku."Seketika, tatapan Li Lian berubah muram dan dipenuhi kebencian yang mendalam. Kata-kata itu melempar ingatannya kembali ke masa lalu, ke sebuah memori kelam yang ingin ia kub

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status