LOGINBab 156. Efek Gu Raja.Untuk beberapa saat, tidak seorang pun mampu berbicara.Bai Lian, Luo Qing, dan dua anggota Kelompok Harimau Hitam masih tergeletak di tanah. Qi di dalam tubuh mereka bergerak kacau, membuat setiap usaha untuk berdiri terasa seperti mencoba mengendalikan arus liar yang telah lepas dari jalurnya. Bahkan sekadar mengangkat tangan pun membutuhkan tenaga yang sangat besar.Sementara itu, Tian Fan berdiri dengan tenang di tengah hutan yang dipenuhi debu dan pecahan benda berbentuk pil. Tatapannya beralih kepada dua anggota Kelompok Harimau Hitam yang tergeletak tidak jauh dari posisinya.Kedua pria itu masih sadar. Mereka dapat melihat Tian Fan mulai berjalan mendekat, tetapi tubuh mereka sama sekali tidak mampu bergerak. Salah seorang dari mereka berusaha mengedarkan Qi untuk melawan gangguan di dalam meridian, namun energi spiritual yang baru saja dikumpulkannya kembali berantakan.“Jangan… jangan mendekat…” gumamnya dengan suara serak.Tian Fan tidak menjawab.Lan
Bab 155. Serangan dari Bayangan.Untuk beberapa saat, tidak seorang pun bergerak.An Jing masih berdiri kaku di hadapan Yin Ping dengan pedang terangkat, tubuhnya bergetar hebat seolah sedang menahan rasa sakit yang tidak terlihat. Yin Ping sendiri hanya berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan wajah penuh kebingungan, sementara Luo Qing, Bai Lian, dan dua anggota Kelompok Harimau Hitam lainnya masih terpaku melihat keadaan pemimpin mereka.Namun sebelum siapa pun sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba terdengar suara desingan tajam dari arah belakang Yin Ping.Whoosh! Whoosh! Whoosh!Ratusan benda kecil melesat dari balik pepohonan dengan kecepatan tinggi. Bentuknya bulat dan ukurannya tidak jauh berbeda dari pil alkimia, tetapi permukaannya dipenuhi garis-garis aneh yang memancarkan cahaya samar.Luo Qing langsung bereaksi.“Berpencar!”Begitu teriakannya terdengar, tubuhnya bergerak mundur dengan cepat. Bai Lian juga segera menuju Yin Ping untuk membawanya menj
Bab 154. Jebakan di Hutan Jati Merah.Tian Fan terus berjalan meninggalkan lembah kecil itu tanpa pernah menoleh ke belakang. Langkahnya tetap santai, seolah percakapan yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang penting baginya. Baginya, tujuan utama sudah tercapai. Ia telah mengetahui nama dua murid Sekte Emei yang selama ini menjadi teka-teki dalam pikirannya.Namun bagi tiga wanita yang ditinggalkannya, kepergian itu justru meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.Yin Ping memandang punggung Tian Fan yang semakin jauh sebelum akhirnya sosok pemuda itu menghilang di balik pepohonan. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada gurunya dan Bai Lian yang masih berdiri di tempat mereka. Setelah beberapa saat, Yin Ping akhirnya bertanya, “Guru, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita benar-benar akan mengikuti sarannya dan mengganti jalur perjalanan?”Bai Lian langsung menjawab sebelum Luo Qing sempat membuka mulut, “Tidak. Aku justru merasa kita tidak seharusnya
Bab 153. Percakapan yang Berakhir.Mereka tiba di sebuah lembah kecil yang tersembunyi di antara pepohonan. Di sana terdapat sebuah batu besar yang membentuk tempat berteduh alami. Setelah memastikan tidak ada aura asing di sekitar mereka, Luo Qing akhirnya berhenti dan berbalik menghadap Tian Fan. Bai Lian tetap berada di sisi Yin Ping, sementara tangannya masih menggenggam gagang pedang. Pertemuan yang pada awalnya hanya dipenuhi kewaspadaan kini berubah menjadi percakapan yang jauh lebih rumit.Tatapan Luo Qing tertuju pada Tian Fan cukup lama sebelum akhirnya ia bertanya.“Sekarang aku ingin mengetahui sesuatu. Bagaimana kau bisa mengenal Yue Han dan Bai Ruo? Dan mengapa kau begitu ingin mengetahui tentang mereka?” Suaranya tidak keras, tetapi ada tekanan yang jelas di dalamnya. Sebagai tetua muda Sekte Emei sekaligus guru Yin Ping, Luo Qing tidak mungkin mengabaikan seseorang yang tiba-tiba muncul di tengah perjalanan lalu menyebut dua murid sektenya.Tian Fan tidak langsung me
Bab 152. Nama yang dicari.Bai Lian langsung mengarahkan ujung pedangnya kepada Tian Fan. Tatapannya penuh kewaspadaan, sementara Qi perlahan mengalir ke sepanjang bilah pedangnya. “Ternyata kau seorang pemuda. Jika kau tidak segera menyingkir, jangan salahkan kami jika aku benar-benar menganggapmu sebagai musuh.”“Jika begitu, bukankah lebih baik kau bertanya terlebih dahulu sebelum menghunus pedang?” ujar Tian Fan menjawab dengan tenang.Bai Lian terdiam sesaat. Ia jelas tidak menyangka pemuda di hadapannya masih bisa berbicara dengan santai dalam keadaan seperti ini.Luo Qing tetap berdiri di depan Yin Ping. Tatapannya tidak pernah lepas dari Tian Fan. Ia dapat merasakan bahwa pemuda tersebut tidak sederhana. Meski usianya masih muda, aura yang terpancar dari tubuhnya sangat stabil dan tidak menunjukkan sedikit pun kegugupan. Bahkan ketika berhadapan dengan dirinya, Tian Fan masih terlihat seolah-olah sedang berbicara dengan orang biasa.“Siapa kau? Dan apa tujuanmu menghentikan k
Bab 151. Anomali dalam Konspirasi.Setelah meninggalkan kedai arak, Tian Fan tidak lagi kembali ke kediaman Klan Qin. Ia hanya berjalan santai melewati jalan utama Kota Dalian, lalu menuju gerbang kota tanpa menunjukkan sedikit pun ketertarikan terhadap keramaian di sekitarnya. Namun, berbeda dari sebelumnya, pikirannya kini telah menyusun seluruh informasi yang diperolehnya menjadi sebuah gambaran yang jauh lebih besar.Klan Qin menerima perintah dari Klan Tang untuk mencari Tang Bohu. Pada saat yang sama, mereka juga menerima perintah dari pihak selir raja untuk menghentikan Yin Ping sebelum gadis itu tiba di ibukota. Di balik semua itu, Shui Feng jelas memiliki kepentingan sendiri, sedangkan Ma Durung, yang kemungkinan besar akan datang sebagai alkemis dari Sekte Raja Obat, juga tidak mungkin muncul secara kebetulan.Tian Fan berhenti sejenak di depan gerbang kota. Ia menoleh ke arah jalan yang baru saja dilaluinya, lalu tersenyum tipis. “Tampaknya konspirasi orang-orang ini suda
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o







