LOGINBab 189. Taruhan.Suasana di dalam Aula Es terasa jauh lebih tegang dibandingkan sebelumnya. Raja Shui masih terbaring di atas ranjang batu giok dengan wajah pucat dan napas lemah, sementara cahaya dingin dari formasi pelindung memantul di dinding-dinding ruangan. Di sisi ranjang, Permaisuri Duan Ning berdiri bersama Shui Wen, Shui Xian, Tian Fan, Yin Ping, dan beberapa tabib yang dibawanya. Tidak jauh dari mereka, Shui Feng berdiri berdampingan dengan Selir Tang, Ma Durung, Tetua Pong, Tetua Ren, serta tiga alkemis dari Lembah Obat yang diutus oleh Kekaisaran. Mereka semua merupakan orang-orang yang memiliki kepentingan langsung terhadap keadaan Raja Shui. Sementara itu, para menteri, kepala klan, dan pejabat kerajaan lainnya tetap berada di luar kamar, memenuhi halaman Aula Es. Meskipun tidak dapat melihat setiap gerakan dengan jelas, mereka masih bisa mendengar percakapan yang berlangsung di dalam melalui pintu yang terbuka.Shui Feng mengamati rombongan Permaisuri Duan Ning dengan
Bab 188. Senyum di Balik PerangkapCahaya pagi perlahan menyelimuti istana Kerajaan Shui, mengusir kegelapan malam yang selama berjam-jam menyelimuti Aula Es. Embun masih menempel pada dedaunan di sekitar halaman, sementara para prajurit berjubah emas yang bertugas semalaman mulai menunjukkan kelelahan. Meski demikian, tidak seorang pun berani meninggalkan posnya tanpa izin. Perintah Jenderal Besar Lu Bu untuk memperketat penjagaan masih berlaku, terlebih setelah mereka menemukan Formasi Tanam Gu yang tersembunyi di pintu masuk Aula Es. Semua orang menyadari bahwa ancaman yang sedang mereka hadapi jauh lebih rumit daripada sekadar perselisihan di antara para pangeran.Lu Bu sendiri hampir tidak memejamkan mata sepanjang malam. Ia duduk di kursi yang ditempatkan di depan pintu utama Aula Es, sesekali meminum teh yang telah lama kehilangan kehangatannya. Ketika cahaya matahari mulai menyentuh atap paviliun, ia akhirnya berdiri, meregangkan tubuhnya yang kaku, lalu mengalihkan pandangan
Bab 187. Operasi.Dengan gerakan yang sangat terkendali, Tian Fan memulai operasi.Ia terlebih dahulu menangani hati Raja Shui. Setelah memastikan posisi organ dan jalur pembuluh melalui pengamatan energi serta pemeriksaan langsung, ia membuat sayatan kecil pada area yang telah dipersiapkan. Gerakannya tidak tergesa-gesa. Setiap lapisan jaringan diperiksa sebelum ia melangkah lebih jauh, sementara jarum-jarum perak terus menjaga kestabilan Qi dan lapisan penekan energi membantu mengurangi pendarahan. Ia menggunakan penjepit kecil untuk memisahkan jaringan yang telah rusak dari bagian yang masih sehat, kemudian mengisap cairan beracun yang terkumpul di sekitar area tersebut ke dalam wadah giok khusus.Begitu cairan pertama masuk ke wadah, permukaannya langsung berubah menjadi hitam kehijauan. Asap tipis berbau tajam muncul sesaat sebelum ditahan oleh segel yang telah Tian Fan pasang pada wadah itu. Ia mengernyit, lalu memeriksa cairan tersebut dengan kesadaran spiritualnya. Racun itu
Bab 186. Alternatif lain.Di dalam dunia kecil yang terhubung dengan Menara Kegelapan, langit malam membentang luas di atas pegunungan yang diselimuti kabut tipis. Energi spiritual mengalir dengan tenang di antara pepohonan, sementara aliran sungai jernih berkelok melewati lembah sebelum menghilang di balik jajaran batu besar. Di tengah lingkungan yang begitu damai, sebuah istana megah berdiri di puncak gunung, dindingnya berwarna putih keperakan dengan ukiran kuno yang memancarkan kilau samar. Tempat itu merupakan kediaman Tian Fan sekaligus pusat kendali dunia kecil yang selama ini menjadi salah satu rahasia terbesarnya.Sebuah celah ruang terbuka di dalam kamar yang terletak di sayap timur istana. Tian Fan melangkah keluar terlebih dahulu, diikuti tubuh Raja Shui yang masih terbungkus lapisan cahaya tipis. Setelah celah ruang menutup kembali, Tian Fan menggerakkan tangan kanannya. Tubuh sang raja perlahan turun dan terbaring di atas ranjang batu giok putih yang telah dilapisi kasu
Bab 185. Kunjungan dalam KeheninganMalam semakin larut, tetapi suasana di sekitar Aula Es sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali tenang. Setelah menemukan Formasi Tanam Gu di pintu masuk dan mengetahui bahwa kondisi Raja Shui berkaitan dengan Gu yang berbahaya, Jenderal Besar Lu Bu tidak berani menganggap enteng keadaan. Ia segera memerintahkan Pasukan Khusus Pengawal Raja untuk memperketat penjagaan di seluruh area istana, sementara para prajurit berjubah emas ditempatkan di setiap jalur yang mengarah ke Aula Es. Bahkan para penjaga yang sebelumnya bertugas di sekitar paviliun diperiksa satu per satu untuk memastikan tidak ada orang mencurigakan yang menyusup di antara mereka.Lu Bu sendiri memilih tetap berada di depan pintu utama Aula Es. Baginya, menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada bawahannya setelah kejadian hari ini merupakan tindakan yang terlalu berisiko. Ia tidak ingin kembali menghadapi situasi ketika musuh mampu bergerak di dalam istana tanpa sepenget
Bab 184. Rahasia di Balik Kediaman Selir Tang.Di kediaman Selir Tang, suasana di dalam aula utama tampak tenang, tetapi ketenangan itu justru menyembunyikan kegembiraan yang sulit ditutupi oleh orang-orang di dalamnya. Shui Feng duduk di kursi utama dengan satu tangan menopang dagu, sementara Selir Tang berada di sebelahnya. Jenderal Qin Bailo, Ma Durung, serta dua Tetua Sekte Raja Obat, Tetua Pong dan Tetua Ren, duduk mengelilingi meja besar yang dipenuhi teh dan berbagai hidangan. Mereka telah menunggu cukup lama untuk mendapatkan kabar dari orang-orang yang ditempatkan di sekitar paviliun perawatan Raja Shui. Bagi mereka, keberhasilan rencana ini akan menentukan apakah Shui Feng benar-benar dapat menyingkirkan lawan-lawannya dan mengukuhkan posisinya sebagai calon penguasa Kerajaan Shui.Tidak lama kemudian, seorang pelayan memasuki aula dengan langkah cepat. Ia berhenti di belakang Selir Tang, membungkuk hormat, lalu mendekat untuk membisikkan sesuatu ke telinganya. Semakin lama
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain







