FAZER LOGINBab 193 — Pemberontakan (3)Getaran aneh yang muncul dari dalam Formasi Tanam Gu semakin kuat. Garis-garis merah kehitaman yang memenuhi lantai Aula Es berdenyut seperti pembuluh darah raksasa, sementara simbol-simbol berbentuk serangga yang tersebar di sepanjang jaringan formasi bergerak semakin cepat. Energi yang sebelumnya mengalir dengan teratur mendadak berbalik arah, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang sedang menarik seluruh aliran energi menuju satu titik.Qin Bohai, yang masih berdiri di dalam sekat pelindung kubu Shui Feng, langsung merasakan perubahan tersebut. Wajahnya yang semula dipenuhi keyakinan perlahan berubah serius. Ia menggenggam erat benda pengendali formasi yang tersisa di tangannya, berusaha memeriksa aliran energi yang terhubung dengan kesadarannya. Namun, sebelum ia sempat memahami apa yang sedang terjadi, sesuatu yang mengejutkan muncul dari dalam jaringan formasi.Di wilayah yang mengurung Permaisuri Duan Ning, Shui Wen, Shui Xian, Yin Ping, serta par
Bab 192. Pemberontakan (2)"Ha... hahaha! Tian Fan, lihat baik-baik! Inilah hasil dari semua perbuatanmu! Jika sejak awal kau tidak ikut campur, semua rencanaku pasti telah berjalan lancar. Ayah akan terus terbaring tanpa daya, pihak Permaisuri tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan, dan tidak seorang pun akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di istana ini. Namun, kau harus muncul dan menghancurkan semuanya! Kau membuat para alkemis meragukan diri mereka sendiri, membuat para menteri mencurigaiku, bahkan memaksaku mengungkapkan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi!"Ia menunjuk Tian Fan dengan tangan gemetar, sementara aura kultivasinya mulai bergejolak. "Kau pikir dirimu hebat hanya karena berhasil mengacaukan rencanaku? Jangan bermimpi! Aku masih memiliki rencana lain. Bahkan jika semua orang mengetahui kebenarannya, tidak akan ada yang bisa mengubah hasil akhirnya!"Shui Wen menatap adiknya dengan wajah yang dipenuhi kemarahan dan kekecewaan. "Shui Feng, hentikan o
Bab 191. Pemberontakan.Kata-kata Tian Fan yang terdengar tenang itu justru membuat wajah Shui Feng semakin menghitam. Tidak ada makian kasar, tidak ada ancaman terang-terangan, tetapi setiap kalimat yang keluar dari mulut pemuda itu terasa seperti pisau tajam yang menghujam tepat ke jantungnya. Di hadapan para menteri, kepala klan, dan orang-orang yang selama ini mendukungnya, Shui Feng merasa kedok yang telah ia bangun dengan susah payah sedang dikoyak sedikit demi sedikit. Ia ingin membantah, ingin membungkam Tian Fan, bahkan ingin segera membunuh pemuda itu agar semua persoalan kembali berada dalam kendalinya. Namun, tatapan curiga yang mengarah kepadanya membuatnya menyadari bahwa satu kesalahan lagi dapat menghancurkan seluruh rencananya.Sialan! Semuanya gara-gara orang ini!Shui Feng mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pemuda yang awalnya hanya ingin ia permalukan di hadapan semua orang justru akan memaksanya b
Bab 190. Kedok yang TerbongkarKeheningan menyelimuti Aula Es setelah perubahan pada tubuh Raja Shui mulai terlihat jelas. Aura yang sebelumnya lemah dan tidak stabil kini perlahan kembali teratur, mengalir di sekitar tubuh sang raja seperti aliran sungai yang menemukan jalurnya kembali setelah terhalang bebatuan. Meskipun Raja Shui masih belum sadarkan diri, perubahan tersebut cukup nyata untuk dirasakan oleh semua kultivator yang berada di dalam ruangan. Bahkan mereka yang berdiri di luar Aula Es pun dapat merasakan bahwa tekanan energi dari kamar sang raja tidak lagi sekacau sebelumnya.Shui Feng berdiri kaku dengan kedua mata terpaku pada ranjang batu giok. Senyum mengejek yang sebelumnya menghiasi wajahnya telah lenyap sepenuhnya. Ia tidak pernah membayangkan pil yang dianggapnya sebagai lelucon itu benar-benar mampu menghasilkan perubahan. Ia telah menyaksikan sendiri bagaimana para alkemis dari Lembah Obat menjelaskan betapa parahnya kondisi Raja Shui, bahkan mereka menyatakan
Bab 189. Taruhan.Suasana di dalam Aula Es terasa jauh lebih tegang dibandingkan sebelumnya. Raja Shui masih terbaring di atas ranjang batu giok dengan wajah pucat dan napas lemah, sementara cahaya dingin dari formasi pelindung memantul di dinding-dinding ruangan. Di sisi ranjang, Permaisuri Duan Ning berdiri bersama Shui Wen, Shui Xian, Tian Fan, Yin Ping, dan beberapa tabib yang dibawanya. Tidak jauh dari mereka, Shui Feng berdiri berdampingan dengan Selir Tang, Ma Durung, Tetua Pong, Tetua Ren, serta tiga alkemis dari Lembah Obat yang diutus oleh Kekaisaran. Mereka semua merupakan orang-orang yang memiliki kepentingan langsung terhadap keadaan Raja Shui. Sementara itu, para menteri, kepala klan, dan pejabat kerajaan lainnya tetap berada di luar kamar, memenuhi halaman Aula Es. Meskipun tidak dapat melihat setiap gerakan dengan jelas, mereka masih bisa mendengar percakapan yang berlangsung di dalam melalui pintu yang terbuka.Shui Feng mengamati rombongan Permaisuri Duan Ning dengan
Bab 188. Senyum di Balik PerangkapCahaya pagi perlahan menyelimuti istana Kerajaan Shui, mengusir kegelapan malam yang selama berjam-jam menyelimuti Aula Es. Embun masih menempel pada dedaunan di sekitar halaman, sementara para prajurit berjubah emas yang bertugas semalaman mulai menunjukkan kelelahan. Meski demikian, tidak seorang pun berani meninggalkan posnya tanpa izin. Perintah Jenderal Besar Lu Bu untuk memperketat penjagaan masih berlaku, terlebih setelah mereka menemukan Formasi Tanam Gu yang tersembunyi di pintu masuk Aula Es. Semua orang menyadari bahwa ancaman yang sedang mereka hadapi jauh lebih rumit daripada sekadar perselisihan di antara para pangeran.Lu Bu sendiri hampir tidak memejamkan mata sepanjang malam. Ia duduk di kursi yang ditempatkan di depan pintu utama Aula Es, sesekali meminum teh yang telah lama kehilangan kehangatannya. Ketika cahaya matahari mulai menyentuh atap paviliun, ia akhirnya berdiri, meregangkan tubuhnya yang kaku, lalu mengalihkan pandangan
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain







