공유

Bab 13

작가: Mami ice bear
last update 게시일: 2026-10-23 16:41:35
"Ya bener emang, Bu. Tapi Mas Fahri nggak bisa tidur bukan karena nggak aku urusin. Tapi karena mikirin cicilan mobil tiap bulannya."

"Lagian, kemampuannya beli motor bebek ehhh malah maksa kredit mobil. Ya terang aja nggak bisa tidur."

Dua kalimat yang baru saja diucapkan oleh Laras menghantam Monika dengan keras, hingga membuat wajah dan telinganya memerah.

Sementara Rika yang duduk di sofa samping ibunya, mengusap sepatu barunya dengan tisu basah. "Oh ya, Mbak Laras. Laptopku juga uda
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 38

    “Ini maksudnya apa, Ras?”Fahri menunjuk mangkuk di hadapannya dengan telunjuk yang sedikit terangkat. Dia masih berharap ada sesuatu yang tersembunyi di balik kuah bening itu. Mungkin ayamnya ada di dasar mangkuk. Atau setidaknya ada potongan sayuran yang belum terlihat.Namun, setelah mengaduknya beberapa kali, harapannya benar-benar kandas.“Lho, katanya mau soto. Itu soto, Mas,” jawab Laras santai.Fahri mendongak. “Soto apaan? Isinya cuma air begini!”“Yaaa, soto bening. Kamu nggak liat?” ujar Laras tanpa dosa.“Bening apanya? Ini mah malah macam air garam dicampur kecap!” seru Fahri yang mulai kehabisan kesabaran.Laras menarik kursi di seberang suaminya. Dia duduk sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Justru ada senyum tipis yang membuat Fahri semakin kehilangan kesabaran.“Katanya mau yang berkuah, kan? Nih, sudah aku bikinin. Kurang apa lagi, sih?” tanya Laras dengan tatapan lurus ke arah manik mata sang suami.F

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 37

    “Kamu nggak masak, Ras?”Fahri mengelus perutnya yang sejak tadi sudah keroncongan.Cacing di dalam perut laki-laki itu sudah menanti jadwal hingga akhirnya demo.“Enggak, Mas,” jawab Laras enteng. “Masak, sih. Nasi doang tapi. Lauknya nggak ada.”Fahri yang semula berdiri di dekat pintu ruang makan langsung mengerutkan dahi. Pandangannya beralih ke meja yang hanya berisi sebakul nasi putih dan dua piring kosong. Tidak ada sayur, apalagi lauk yang bisa mengganjal perutnya.“Kok, nggak masak? Terus kita mau makan apa?” tanya Fahri pada sang istri.Laras yang sedang duduk di kursi makan mengangkat wajah. Tangannya masih sibuk menggulir layar ponsel. Tidak ada sedikit pun gerakan yang menunjukkan bahwa dia merasa bersalah karena tidak menyiapkan makanan.“Yaaa makan nasi, apalagi?” tutur Laras. “Kalo mau asin, ada garem, tuh. Atau mau manis? Kayaknya kecap masih ada, deh!”Fahri menatap istrinya lekat-lekat. Dia sempat membuka mulut, tetapi urung bicara. Entah harus menanggapi dengan mar

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 36

    ​"Hadeeehhh… lagi-lagi ngedongeng! Jangan halu deh kamu Mbak! NGIMPI!" ​Teriakan Rika melengking tinggi, membelah udara ruang tamu yang mendadak panas. Wajah gadis itu memerah padam, mencak-mencak tidak karuan demi menutupi kepanikan ekstrem yang sempat merayap di dadanya beberapa detik lalu saat melihat kartu hitam eksklusif di atas meja.​Rika melangkah maju, menyambar kartu korporat tersebut dengan gerakan kasar, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai seolah benda itu adalah sampah beracun.​"Kalian percaya sama omongan kosong dia?!" Rika menoleh panik ke arah ibu dan kakaknya dengan tatapan mata menyala-nyala. "Zaman sekarang bikin kartu palsu mirip black card itu gampang banget, Mas! Di toko online banyak jasa cetak kartu akrilik custom! Mbak Laras ini cuma mau ngibul kita biar kita ciut dan kelihatan bodoh!"​Fahri yang masih terduduk di lantai bersimpuh lemah, menatap kartu hitam yang tergeletak di lantai, lalu beralih menatap Laras dengan mata sayu penuh kebingungan. "Ri-R

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 35

    “Kamu inget kan, siapa nama asli aku, Mas?" ucap Laras sambil menatap lurus ke arah sang suami."Halah! Jangan bikin cerita dongeng demi buat nutupin kebusukanmu, Laras!"Teriakan Rika meledak, memecah keheningan mencekam di ruang tamu. Senyum cemooh mengembang di bibirnya, meski wajahnya sempat pucat sesaat lalu. Ia maju satu langkah, menunjuk Laras yang baru saja memegang gagang pintu depan."Kalian percaya sama rekaman rekayasa begini?!" Rika menoleh pada ibunya dan Fahri dengan nada penuh nada kompor. "Zaman sekarang AI dan pengedit suara itu gampang banget dibuat! Mbak Laras ini cuma akting biar kita percaya kalau dia wanita karir sukses!"Fahri yang masih bersimpuh di lantai mendongak, matanya yang sembap menatap Rika, lalu beralih pada Laras. "Ri-Rika... tapi rekaman tadi menyebut nama Larasati...""Ya justru itu, Mas!" potong Rika gemas, menyilangkan tangan di dada dengan gaya menantang. "Pikir pakai logika! Nama pemilik PT Nusantara Digital Brand itu kan Ibu Larasati Saputri.

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 34

    Fahri mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah laki-laki sudah mencapai ubun-ubun. "Bagaimana aku bisa nggak percaya, Laras?! Selama ini kamu selalu bilang nggak punya duit, cicilan mobilku ditarik, rekeningku dibekukan, tapi kamu malah bisa jalan ke kafe mewah sama brondong?! Jelaskan padaku! Dari mana kamu dapet duit buat foya-foya kalau bukan dari duitku?!" Mendengar pertanyaan suaminya, Laras justru tertawa kecil—sebuah tawa ringan yang terdengar sangat merdu namun menusuk tajam ke dalam dada Fahri. "Dari duit kamu, Mas?" Laras menaikkan sebelah alisnya dengan elegan. "Kamu lupa atau sengaja amnesia? Selama lima tahun pernikahan kita, duit kamu yang mana yang bisa aku selewengkan?" "Jangankan buat melihara berondong. Melihara perut sendiri aja nggak becus!” papar Laras dengan nada sinis. "Jangan ngeles kamu, Laras!" serobot Bu Monika ikut maju, membela anaknya dengan suara melengking. "Udah jelas-jelas kamu ketahuan belangnya! Jangan bunuh karakt

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 33

    Laras menghela napas pendek. Ia tetap berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada dengan elegan. "Terus, kalo aku naik mobil mewah dan pake baju bagus, apa urusannya dengan kalian?""Urusannya besar, Laras!" teriak Rika histeris, air mata kemarahan meluap di pelupuk matanya. "Karena uang yang kamu pakai buat foya-foya itu adalah uang hasil kerja keras Mas Fahri! Kamu itu udah menyelewengkan uang suami kamu sendiri!"Fahri terperanjat dari tempatnya duduk. Laki-laki itu menatap Rika lalu beralih menatap Laras dengan napas tersengal. "Rika... jangan ngawur kamu! Laras aja nggak pernah keluar rumah. Aku berangkat dan pulang kerja, dia selalu di rumah." "Itu akal-akalan dia aja, Mas!" serobot Rika dengan suara melengking semakin menjadi-jadi, jarinya kembali menuding Laras tepat di depan hidung wanita itu. "Asal Mas tau ya, semua harta dan uang yang dikorupsi sama Laras dari gaji Mas itu nggak dipakai buat kebutuhan rumah tangga! Dia pakai buat membiayai brondong!"" Kalo Mas kerja, d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status