เข้าสู่ระบบAku menatap pria bernama Aksa itu dengan wajah terkejut setengah mati. Jantungku berdegup tak karuan. Sementara pria itu justru tampak datar, nyaris tanpa reaksi. Wajahnya tetap tenang, sikapnya terkendali, seolah keputusan sebesar itu sama sekali tidak mengguncangnya. Sangat berbanding terbalik dengan kepanikan yang meledak-ledak dalam diriku.
Bagaimana aku bisa tidak bereaksi berlebihan? Jika dalam hitungan detik setelah calon pengantin priaku membatalkan pernikahan, aku justru diminta menikah dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Bahkan, ini adalah kali pertama aku bertemu dengannya. Aku tak tahu siapa dia, bagaimana sifatnya, atau kehidupan seperti apa yang nanti akan aku hadapi bersamanya. Meski, ia memiliki tubuh yang kokoh serta wajah yang tampan dan berkarisma, semua itu tak serta-merta menenangkan kegelisahanku karena dia sangat asing bagiku. “Mbak Mar, kamu jangan ngawur. Masa tiba-tiba meminta orang lain bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di keluarga kita?” Ayah menegur pendapat konyol Bude Maryati dengan nada tertahan. “Aku nggak ngawur, Har!” sahut Bude Maryati tenang. Ia kembali mendongakkan pandangannya ke arah pria itu. “Bagaimana, Aksa? Kamu mau, kan, menikah dengan ponakan Bude ini? Kamu sendiri pernah bilang ingin menjadi bagian dari keluarga Bude.” Pria itu hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan pelan. Tak ada raut ragu di wajahnya, seolah keputusan itu sudah dipertimbangkannya sejak awal. Mungkin ia merasa tak enak hati untuk menolak permintaan Bude. Terlebih Bude Maryati memang memiliki cara memaksa yang halus. Jenis tekanan yang membuat orang lain sungkan untuk menolak, meski permintaan itu terdengar tak masuk akal. “Ke sini, Mbak,” Ayah menarik lengan Bude Maryati menjauh beberapa langkah dari kami. Namun, aku masih bisa menangkap inti pembicaraan itu, di mana intinya Bude Maryati berusaha meyakinkan Ayah, bahwa keluarga kami tak boleh menanggung malu di hadapan para tamu undangan penting yang hadir hari ini. Aku pun memberanikan diri untuk mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula dan saat itulah aku menyadari betapa janggalnya situasi ini. Banyak wajah asing yang tampak berkelas, orang-orang yang jelas bukan tamu sembarangan. Bahkan, aku mengenali beberapa di antaranya adalah para pejabat dan menteri yang selama ini hanya kulihat lewat layar televisi. Mereka duduk berbaur di antara tamu undangan lainnya. Aku benar-benar tak mengerti bagaimana mereka bisa hadir di sini. Keluargaku hanyalah keluarga sederhana, tanpa pangkat, tanpa koneksi, apalagi relasi yang memungkinkan kami mengundang orang-orang sepenting itu. Begitu pula dengan keluarga Arjun yang berasal dari latar belakang serupa. Mustahil mereka memiliki jejaring hingga ke lingkaran tersebut dan kesadaranku kembali menghantam keras, ketika aku tak melihat satu pun wajah dari kalangan keluarga atau kenalan Arjun di aula ini. Tidak ada sahabatnya, tidak ada kerabat dekatnya. Kesadaran itu membuat dadaku kian sesak. Bodohnya aku baru menyadari, seolah sejak awal Arjun memang telah merencanakan kegagalan pernikahan ini. Jauh sebelum hari ini tiba. “Sini, aku kenalkan Aksa dengan benar padamu,” suara Bude Maryati terdengar mendekat kembali. Kali ini, justru beliau yang menarik Ayah agar kembali berdiri di antara kami. “Dan kamu, Wulan,” imbuhnya sambil menoleh ke arah Ibu, “sini. Biar sekalian juga aku kenalkan dengan pria ganteng ini.” Ibu tampak ragu. Pandangannya beralih pada Ayah, seolah meminta pertimbangan. Ayah terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan seperti sebuah isyarat agar kami mendengarkan saja apa yang akan disampaikan Bude Maryati kali ini. “Pria bagus ini, namanya Arjun Aksana,” ucap Bude Maryati mantap, seolah petir menyambar tepat di atas kepalaku. Aku tertegun. Dadaku terasa dihantam sesuatu yang keras dan dingin. Kedua orang tuaku pun serempak saling melempar tatapan, sama terkejutnya denganku. Nama itu sama persis. Nama pria yang berdiri di hadapanku kini, sama persis dengan nama kekasihku. Lelaki yang beberapa menit lalu, membatalkan pernikahannya denganku lewat sambungan telepon. “Ya, namanya memang sama persis dengan pacarnya Laras yang tidak bertanggung jawab itu, tapi kalau yang ini biasanya dipanggil Aksa. Iya, kan, Aksa?” Sekali lagi, Bude Maryati mendongakkan wajahnya dengan senyum lebar ke arah pria itu. Pria itu menunduk sedikit dengan sikap penuh wibawa ke arah Ayah dan Ibu. “Dia ini guru di salah satu sekolah ternama di Jakarta, loh, Har,” lanjut Bude Maryati, menoleh pada Ayahku yang bernama Harry, seolah tengah menawarkan sesuatu yang sangat meyakinkan. Sebelum Ayah atau Ibu sempat merespons, Pak Penghulu yang sejak tadi berdiri di antara kami akhirnya angkat suara. “Jadi bagaimana, Pak, Bu? Apakah ijab kabulnya akan tetap dilaksanakan?” tanyanya dengan nada sabar, meski jelas diburu waktu. “Iya, Pak. Tetap dilaksanakan saja. Ini mempelai prianya,” sambung Bude Maryati cepat, nyaris memotong kesempatan siapa pun untuk berpikir ulang. Ayah dan Ibu tampak saling pandang dengan raut bimbang. Sementara aku, calon pengantin wanitanya bahkan belum diberi ruang untuk menyuarakan pendapat, meski hidupku akan berubah selamanya setelah akad ini diucapkan. “Baik kalau begitu. Mari kita laksanakan segera, karena saya sudah tidak memiliki banyak waktu,” ucap Pak Penghulu akhirnya. “Iya, Pak. Mari, mari,” sahut Bude Maryati sigap, seraya menggiringku, Ayah, Ibu, dan pria itu menuju meja akad. Tempat di mana nasibku akan ditentukan.Aku larut dalam curhatku bersama Erlan hingga tak lagi menyadari waktu. Saat ia kembali mengantarku pulang menggunakan mobilnya, hari telah beranjak gelap. Begitu kami tiba di depan gerbang rumah Mas Aksa yang tak biasanya terbuka lebar, jantungku kembali berdegup tak karuan.“Kalau ada apa-apa, kamu harus jujur sama aku ya, Ras,” ucap Erlan saat aku meraih gagang pintu mobil, bersiap turun.Aku menoleh padanya, lalu mengangguk dengan senyum selebar yang bisa kupaksakan, seharusnya cukup untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Namun, degupan jantungku yang berpacu, membuat dadaku naik turun lebih cepat, hingga tetap tak luput dari perhatiannya. Meski begitu, Erlan memilih untuk tidak mendesakku.“Aku akan berusaha cari informasi yang kamu butuhkan. Aku usahakan lebih dari itu.” lanjutnya.Nada suaranya terdengar mantap, dan entah bagaimana, kata-kata itu terasa seperti usaha halus untuk menenangkanku.Aku mengangguk sekali lagi, lalu turun dari mobilnya. Kami sempat saling melam
Aku masuk tergesa-gesa ke dalam sebuah kafe tempatku biasa bekerja. Bukan karena aku terlambat masuk kerja, melainkan karena aku belum membayar taksi yang kutumpangi. Aku berniat meminjam uang kepada pemilik kafe itu untuk melunasi ongkosnya.Loh, kok bisa?Sebentar, aku akan menceritakannya setelah aku benar-benar menyelesaikan urusan ini.“Pinjami aku uang dulu, cepat!” pintaku sambil menadahkan tangan ke arah Erlan.Erlan tampak sedikit bingung, tetapi tetap menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah muda tanpa banyak bertanya.Begitu uang itu kuterima, aku segera keluar dari kafe dan membayar taksi yang masih menungguku di depannya.“Jadi, berapa totalnya, Pak?” tanyaku kepada sopir taksi itu.“Tujuh puluh tiga ribu, Kak,” jawabnya.“Kembaliannya untuk Bapak aja. Terima kasih, ya, Pak,” ucapku sambil menyodorkan selembar uang yang baru saja kuterima dari Erlan.“Terima kasih, Kak.”Setelah urusan pembayaran selesai, aku kembali melangkah masuk ke dalam kafe itu. Oh ya, tadi a
Pagi itu aku membuka mata dan menggeliat perlahan. Butuh beberapa detik sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya dan seketika itu juga aku terkesiap. Tempat di sampingku kosong dan sosok pria itu tak ada. Mungkinkah semalam aku benar-benar sedang bermimpi?“Haii, akhirnya kamu bangun juga” Suara riang Mas Aksa terdengar tepat di belakang telingaku. Ternyata, dia benar-benar nyata dan bukan hanya sosok yang ada di dalam mimpi saja.Aku menoleh spontan dan mendapati ia telah berdiri di sana. Sejak kapan? Apakah ia sudah lama mengamatiku yang masih terlelap, atau memang berniat membangunkanku sebelumnya?Entahlah, yang jelas, penampilannya pagi ini sudah kembali rapi dan terasa sangat berbeda.Jika semalam rambutnya tersisir ke belakang dengan minyak rambut yang mengilap, menegaskan kesan berwibawa dengan kacamata yang membingkai matanya. Kini, rambut itu justru dibiarkan tergerai seadanya, jatuh lurus menutupi seluruh dahinya. Tanpa kacamata, wajahnya juga terlihat jauh lebih muda, bahkan,
Aku refleks hendak meraih tali itu, berniat menyimpulkannya kembali sebelum situasi berkembang lebih jauh. Namun, refleks Mas Aksa jauh lebih cepat. Tangannya lebih dulu menangkap tali tersebut, lalu menariknya dengan satu hentakan singkat, hingga terputus.Mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Aksa, aku tak tinggal diam. Dengan cepat kutarik kedua ujung robe itu, berusaha menutupinya kembali bagian depan tubuhku yang terbuka. Namun, Mas Aksa bergerak lebih sigap. Hanya dengan satu tangannya, ia mencekal kedua pergelangan tanganku sekaligus, menahannya di tempat seolah tenagaku tak berarti apa-apa dibanding ketenangannya.Genggamannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa perlawanan spontan itu sia-sia. Aku mendongak, menatap wajahnya yang jauh lebih tinggi di atasku dengan jarak yang begitu dekat. Dari balik kacamata itu, pandangan Mas Aksa turun menatapku. Dalam, tajam, dan penuh kendali, membuat jantungku berdegup tak karuan."Tidak usah ditutup-tutupi. Untu
Aku sempat mengira, begitu pintu itu kubuka, aku akan langsung berada di dalam kamar mandi atau setidaknya berdiri tepat di depan wastafel. Namun, dugaanku keliru. Meski Mas Aksa sempat mengangguk, ketika ku tanya, apakah pintu tersebut menuju kamar mandi. Nyatanya pintu ini tidak langsung mengarah ke sana.Hal yang pertama menyambutku justru sebuah ruang ganti yang terbentang sangat luas. Ruangan itu lebih menyerupai galeri pribadi, seolah menyimpan seluruh koleksi milik Mas Aksa dengan ketertiban nyaris obsesif. Deretan jas, kemeja, dan mantel tergantung rapi di kedua sisi, tersusun simetris mengikuti garis dinding, seakan setiap helai kain memiliki tempat yang tak boleh tertukar.Rak-rak sepatu berjajar rendah di sepanjang dinding, menampilkan koleksi yang tampak lebih seperti pameran daripada barang yang benar-benar dipakai. Di atasnya, tas-tas dan kotak penyimpanan perhiasan tersusun sejajar, masing-masing ditempatkan dengan jarak presisi.Di tengah ruangan, sebuah ottoman berla
Setelah hingar bingar pesta usai, pria bernama Arjun Aksana itu meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk langsung membawaku tinggal di rumahnya, bahkan tanpa perlu menunggu hari esok.Malam itu juga, kami angkat kaki dari rumah orang tuaku tanpa membawa banyak hal. Hanya sebuah koper kecil berisi beberapa potong pakaianku, sebab aku memang tak pernah menyiapkan apa pun sebelumnya.Bersama Arjun dulu, aku dan dia sepakat untuk tinggal bersama kedua orang tuaku setelah menikah, setidaknya sampai kami mampu membeli rumah sendiri, hingga aku tak perlu berkemas sama sekali. Namun, bersama Aksa semuanya jadi berbeda. Ia seolah telah menyiapkan segalanya jauh sebelum hari ini tiba. Setiap langkah hidup yang ia ambil tampak terukur, matang, dan nyaris tanpa celah, bahkan tiba-tiba, ia membawaku seolah telah siap melakukan peran rumah tangga sepenuhnya, hingga akhirnya aku terpaksa mengemas beberapa potong pakaian untuk kubawa bersamanya.Mobil yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan se







