Home / Romansa / Jerat Hasrat sang Penguasa / Akan Pergi Bulan Madu

Share

Akan Pergi Bulan Madu

Author: Aksara_Lizza
last update publish date: 2026-07-05 15:49:48

"Baik, Nyonya Freya, saya akan membacakan poin-poin utama dalam perjanjian pernikahan ini," Johan membuka suara. "Poin pertama dan yang paling krusial, Anda berkewajiban untuk melahirkan seorang pewaris sah untuk Tuan Axel Leonardo."

Di balik meja besar bermaterial kayu mahoni, Johan, pengacara pribadi Axel yang berambut klimis, merapikan tumpukan berkas setebal dua puluh halaman.

Di sudut ruangan, Samuel—asisten pribadi Axel berdiri siaga dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Sementara Axel sendiri duduk di kursi kebesarannya, menopang dagu sembari menatap Freya yang duduk di seberang meja.

Freya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. "Lalu?"

"Poin kedua," Johan membalik halaman berkas. "Selama ikatan pernikahan ini berlangsung, Anda wajib menunjukkan sikap dan gestur bahwa Anda dan Tuan Axel saling mencintai dengan tulus. Hal ini berlaku mutlak di hadapan publik, kolega bisnis, maupun di depan keluarga besar Tuan Axel."

Mata Freya langsung membola mendengar poin kedua itu. Ia lalu menoleh cepat ke arah Axel, bahkan mengabaikan Johan yang masih memegang pena.

"Kau... kau masih memiliki keluarga?" tanya Freya, suaranya sedikit meninggi karena terkejut.

"Tentu saja aku punya keluarga. Kau pikir aku lahir dari batu?" sahut Axel datar.

Freya gelagapan salah tingkah mendengarnya. “Bu-bukan itu maksudku. Lantas kenapa pada pernikahan kita dua hari lalu, tidak ada satu pun anggota keluargamu yang hadir?" Freya menuntut penjelasan.

Dia mengingat kembali ruang kerja ini yang sepi saat mereka mengucap janji, hanya disaksikan oleh Samuel dan seorang petugas sah. "Bahkan tidak ada telepon atau ucapan digital dari mereka."

Axel kemudian bersandar ke sandaran kursinya, sambil mengetukkan jemarinya ke permukaan meja. "Keluargaku berada di luar negeri. Dan mereka sudah tahu bahwa aku sudah menikah."

"Tanpa melihat siapa pengantin wanitanya?" tanya Freya tak percaya.

"Mereka tidak peduli siapa layang-layang yang sedang kumainkan, Freya. Yang mereka pedulikan adalah hasilnya," jawab Axel dingin.

"Mereka akan datang kemari sebulan lagi, tepat di acara pesta anniversary perusahaan. Di sanalah kau akan diperkenalkan secara resmi. Maka dari itu, kau harus memasang wajah paling bahagia di hadapan mereka."

Freya menurunkan pandangannya ke arah berkas perjanjian di atas meja. Dadanya terasa bergemuruh oleh beban baru yang mendadak diletakkan di pundaknya. "Memasang wajah bahagia di hadapan orang asing saat hidupku baru saja hancur... itu adalah hal yang paling sulit."

"Kalau begitu, belajar dari sekarang," potong Axel tanpa kompromi.

Freya langsung mendongak dan menatap manik mata elang pria di depannya dengan kilatan sarkasme yang tak mampu ia tahan. "Belajar apa? Belajar mencintaimu?" tanyanya spontan.

Axel terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Pria itu bahkan tidak berkedip, hanya menatap datar wajah Freya selama beberapa detik yang terasa mencekik.

Kesunyian di ruang kerja itu mendadak menjadi begitu pekat hingga Samuel dan Johan bahkan menahan napas mereka. Tidak ada kehangatan, tidak ada sangkalan, hanya ada kekosongan yang mengintimidasi dari tatapan Axel.

Sadar dirinya baru saja melewati batas aman, Freya langsung mengoreksi kalimatnya sendiri sebelum Axel mengeluarkan kata-kata yang bisa mencekiknya lebih dalam.

"Maksudku... baik. Aku akan belajar memperlihatkan bahwa aku sangat mencintaimu di hadapan mereka. Aku akan berakting dengan baik," ujar Freya cepat, suaranya kembali merendah.

"Bagus. Karena aku tidak membayar dua puluh miliar untuk seorang aktris amatiran," sahut Axel dingin, lalu memberikan isyarat dagu ke arah Johan. "Berikan penanya."

Johan lantas menyodorkan pena meluncur di atas meja, tepat ke hadapan Freya. "Silakan tanda tangan di sebelah sini, Nyonya."

Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Freya meraih pena tersebut. Ia tidak lagi membaca detail pasal-pasal lainnya. Tidak ada gunanya. Di atas kertas putih itu, ia menorehkan tanda tangannya, meresmikan dirinya sebagai komoditas berharga milik Axel Leonardo.

Axel mengambil berkas yang sudah ditandatangani itu. Ia pun bangkit dari kursinya, berjalan ke sisi meja, lalu memasukkan dokumen tersebut ke dalam laci meja kerjanya yang kemudian dikunci rapat.

"Johan, Samuel, kalian boleh keluar," perintah Axel.

"Baik, Tuan," jawab kedua pria itu serempak sebelum melangkah mundur dan meninggalkan ruang kerja, menyisakan keheningan yang kembali menegangkan di antara suami istri baru itu.

Axel berjalan mendekati jendela besar dan memunggungi Freya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Perjanjian sudah sah. Sekarang kita bicara tentang tenggat waktu."

Freya menahan napas, firasat buruk kembali merayapi tengkuknya. "Tenggat waktu apa?" tanyanya pelan.

Axel membalikkan tubuhnya perlahan dan menatap Freya dengan pandangan menuntut yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. "Aku ingin, dalam waktu tiga bulan ini kau harus sudah mengandung anakku."

"Tiga bulan?" Freya terbelalak. "Itu terlalu cepat! Kau baru saja bilang tadi malam kau tidak akan menyentuhku jika aku masih ketakutan!"

"Aku tidak bilang kita akan melakukannya di kamar ini, dalam kondisi kau yang terus meratapi nasib," Axel melangkah mendekati kursi Freya dan membungkuk sedikit hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Bersiaplah. Minggu depan kita akan pergi bulan madu."

"Bulan madu?" Freya mencengkeram pinggiran kursi. "Ke mana?"

"Sebuah pulau pribadi di Karibia. Hanya ada kau, aku, dan pelayan," bisik Axel dengan tatapan yang menjelaskan tidak ada penolakan apa pun bagi Freya.  

"Di sana, tidak akan ada dinding tempatmu bersembunyi, Freya. Kau punya waktu satu minggu untuk menyiapkan mentalmu sebelum aku benar-benar menagih hakku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Pembelaan dari Semua Orang

    Melihat situasi yang kian liar dan berpotensi merusak hubungan darah antara anak dan ibu, Juan dan Evelyn mengambil alih kendali situasi untuk meredakan amarah Axel yang masih membakar atmosfer ruangan.Juan berdiri, melangkah mendekati istrinya yang terduduk kaku di sofa, lalu meletakkan tangan kekarnya di bahu Manda seraya menatap wanita itu dengan sorot mata kecewa yang mendalam."Manda, siramkan air dingin di kepalamu yang panas itu sekarang," tegur Juan dengan suara rendah namun amat berat. "Kau sudah melangkah terlalu jauh."Manda menengadah, matanya yang berkaca-kaca menatap Juan dengan rasa tidak percaya."Juan... kau juga menyalahkanku? Aku melakukan ini demi masa depan klan kita!""Cukup, Manda! Rumah tangga Axel dan Freya bukan lagi wilayah kekuasaanmu!" potong Juan tegas, cengkeramannya di bahu Manda kian menekan."Kau harus belajar menghormati batas. Axel sudah dewasa, dia suami dan kepala keluarga di rumah tangganya sendiri. Caramu memaksakan kehendak ini justru hampir me

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Jangan Menguji Kesabaranku

    Di tengah keheningan ruang tengah yang mencekam, konfrontasi antara Axel dan ibunya mencapai titik terpanas.Melanjutkan deklarasinya yang membekukan darah seluruh anggota keluarga, Axel menjatuhkan larangan keras dan mutlak kepada Manda.Pria itu memasang benteng tak kasatmata yang memagari kehidupan istrinya dari jangkauan siapa pun."Mulai detik ini, aku melarang keras Ibu untuk pernah membawa, menemui, atau bahkan mengajak Freya pergi ke mana pun tanpa izin tertulis dan persetujuan langsung dari mulutku sendiri," tegas Axel, suaranya bergaung menembus setiap sudut ruangan yang sunyi.Axel menetapkan barikade pelindung yang tak menoleransi celah sekecil apa pun di masa depan.Sorot matanya yang tajam menancap lurus pada Manda, menegaskan bahwa hak dan otoritas atas keberadaan, pergerakan, serta napas Freya sepenuhnya berada di tangannya, bukan lagi pada aturan atau tradisi klan Leonardo."Jangan pernah berani mengetuk pintu kamarnya, memanggilnya ke ruang makan tanpa seijinku, apal

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Larangan Tegas dari Axel

    Axel menghubungi seluruh anggota inti keluarga besar Leonardo—Manda, Juan, Evelyn, dan Helena—satu per satu."Batalkan semua janji temu kalian," pangkas Axel dingin sewaktu tersambung dengan ayahnya, Juan."Siang ini, pukul satu tepat, seluruh anggota keluarga harus sudah berkumpul di ruang tengah kediaman utama.""Ada apa, Axel? Ayah sedang ada pertemuan direksi—""Aku tidak menerima alasan," potong Axel tanpa ampun, menyela ucapan Juan dengan nada suara yang sarat akan ancaman dan kemurkaan terselubung."Datang, atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh wewenang bisnis kalian hari ini juga."Nada bicara Axel yang begitu tajam dan berbahaya membuat seluruh anggota keluarga menyadari bahwa telah terjadi krisis besar yang tak bisa dihindari.Beberapa jam kemudian, atmosfer di ruang tengah kediaman utama berubah menjadi sangat tegang dan membisu.Juan duduk di sofa utama dengan raut wajah berat dan kening berkerut dalam, menyadari potensi bahaya dari kemurkaan putranya.Manda tampak g

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Rasa Bersalah Axel

    Aroma antiseptik yang tajam dan dengung halus peralatan medis menyambut Axel yang berdiri mematung di depan ruang perawatan intensif VVIP.Pria tegap itu menolak untuk duduk, memilih menyandarkan punggungnya pada dinding marmer koridor rumah sakit yang dingin.Bayangan wajah pucat Freya yang terkulai tak berdaya terus membayangi benaknya, menyiksa setiap detik penantiannya dengan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter spesialis senior keluar menyapu pandangan, lalu melangkah mantap menghampiri Axel untuk menyampaikan hasil diagnosis resmi."Bagaimana keadaan istriku, Dokter?" potong Axel cepat sebelum dokter itu sempat menyapa, suaranya serak dan sarat akan penekanan yang menuntut.Dokter spesialis itu menghela napas panjang, menatap Axel dengan raut wajah yang sangat serius dan menyudutkan."Kami telah berhasil menstabilkan suhu tubuh dan tekanan darah Nyonya Freya, Tuan Leonardo," buka dokter itu dengan in

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Kondisi Freya

    Pagi-pagi sekali, ketika fajar masih membiaskan warna keabuan yang dingin di langit kota, mobil mewah Axel bergerak pelan memasuki area carport kediaman utama.Axel duduk terdiam di balik kemudi dengan raut wajah yang teramat lelah, kusam, dan dibayangi penyesalan terselubung setelah melewatkan seluruh malam di luar rumah demi meredakan amarahnya yang memuncak.Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, mengusap wajahnya kasar seraya menatap bayangan dirinya di kaca spion.Namun, sebelum ia sempat mematikan mesin kendaraan, ponsel bisnisnya mendadak berdering kencang.Sambungan telepon dari asisten pribadinya memecah keheningan kabin mobil yang pekat."Ada apa?" sapa Axel dingin, menekan tombol penerima dengan suara yang serak dan berat."Selamat pagi, Tuan Axel. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali," ujar suara asisten pribadinya dari ujung saluran dengan intonasi tergesa-gesa."Terjadi krisis akuisisi pada proyek strategis kita di Singapura. Pihak kompetitor mencoba membloki

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Penantian yang Menyiksa

    Sepanjang sisa malam hingga menyingsingnya fajar di ufuk timur, Freya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.Reaksi kimia dari ramuan medis yang berangsur-angsur mereda meninggalkan rasa ngilu di persendian, lemas yang luar biasa, serta kehampaan pekat yang mengendap di dalam dada.Berbaring meringkuk di atas tempat tidur king-size yang teramat luas dan dingin tanpa dekapan hangat Axel membuat ketakutan terbesar Freya kembali mencengkeram jiwanya tanpa ampun.Terbayang jelas di benaknya bahwa kepergian Axel malam ini adalah awal dari berakhirnya kehangatan yang baru saja ia rasakan, sekaligus hancurnya ikatan di antara mereka akibat kecerobohannya sendiri yang terlalu pasrah dan patuh pada mertuanya."Apakah... apakah ini akhir dari segalanya?" bisik Freya serak pada ruangan yang hening, memandangi sisi ranjang yang kosong tempat Axel biasanya mendominasi tubuhnya.Dengan jemari yang gemetar hebat dan mata yang kusam basah oleh genangan air mata, Freya meraih ponsel pintarnya dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status