تسجيل الدخول"Baik, Nyonya Freya, saya akan membacakan poin-poin utama dalam perjanjian pernikahan ini," Johan membuka suara. "Poin pertama dan yang paling krusial, Anda berkewajiban untuk melahirkan seorang pewaris sah untuk Tuan Axel Leonardo."
Di balik meja besar bermaterial kayu mahoni, Johan, pengacara pribadi Axel yang berambut klimis, merapikan tumpukan berkas setebal dua puluh halaman.
Di sudut ruangan, Samuel—asisten pribadi Axel berdiri siaga dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Sementara Axel sendiri duduk di kursi kebesarannya, menopang dagu sembari menatap Freya yang duduk di seberang meja.
Freya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. "Lalu?"
"Poin kedua," Johan membalik halaman berkas. "Selama ikatan pernikahan ini berlangsung, Anda wajib menunjukkan sikap dan gestur bahwa Anda dan Tuan Axel saling mencintai dengan tulus. Hal ini berlaku mutlak di hadapan publik, kolega bisnis, maupun di depan keluarga besar Tuan Axel."
Mata Freya langsung membola mendengar poin kedua itu. Ia lalu menoleh cepat ke arah Axel, bahkan mengabaikan Johan yang masih memegang pena.
"Kau... kau masih memiliki keluarga?" tanya Freya, suaranya sedikit meninggi karena terkejut.
"Tentu saja aku punya keluarga. Kau pikir aku lahir dari batu?" sahut Axel datar.
Freya gelagapan salah tingkah mendengarnya. “Bu-bukan itu maksudku. Lantas kenapa pada pernikahan kita dua hari lalu, tidak ada satu pun anggota keluargamu yang hadir?" Freya menuntut penjelasan.
Dia mengingat kembali ruang kerja ini yang sepi saat mereka mengucap janji, hanya disaksikan oleh Samuel dan seorang petugas sah. "Bahkan tidak ada telepon atau ucapan digital dari mereka."
Axel kemudian bersandar ke sandaran kursinya, sambil mengetukkan jemarinya ke permukaan meja. "Keluargaku berada di luar negeri. Dan mereka sudah tahu bahwa aku sudah menikah."
"Tanpa melihat siapa pengantin wanitanya?" tanya Freya tak percaya.
"Mereka tidak peduli siapa layang-layang yang sedang kumainkan, Freya. Yang mereka pedulikan adalah hasilnya," jawab Axel dingin.
"Mereka akan datang kemari sebulan lagi, tepat di acara pesta anniversary perusahaan. Di sanalah kau akan diperkenalkan secara resmi. Maka dari itu, kau harus memasang wajah paling bahagia di hadapan mereka."
Freya menurunkan pandangannya ke arah berkas perjanjian di atas meja. Dadanya terasa bergemuruh oleh beban baru yang mendadak diletakkan di pundaknya. "Memasang wajah bahagia di hadapan orang asing saat hidupku baru saja hancur... itu adalah hal yang paling sulit."
"Kalau begitu, belajar dari sekarang," potong Axel tanpa kompromi.
Freya langsung mendongak dan menatap manik mata elang pria di depannya dengan kilatan sarkasme yang tak mampu ia tahan. "Belajar apa? Belajar mencintaimu?" tanyanya spontan.
Axel terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Pria itu bahkan tidak berkedip, hanya menatap datar wajah Freya selama beberapa detik yang terasa mencekik.
Kesunyian di ruang kerja itu mendadak menjadi begitu pekat hingga Samuel dan Johan bahkan menahan napas mereka. Tidak ada kehangatan, tidak ada sangkalan, hanya ada kekosongan yang mengintimidasi dari tatapan Axel.
Sadar dirinya baru saja melewati batas aman, Freya langsung mengoreksi kalimatnya sendiri sebelum Axel mengeluarkan kata-kata yang bisa mencekiknya lebih dalam.
"Maksudku... baik. Aku akan belajar memperlihatkan bahwa aku sangat mencintaimu di hadapan mereka. Aku akan berakting dengan baik," ujar Freya cepat, suaranya kembali merendah.
"Bagus. Karena aku tidak membayar dua puluh miliar untuk seorang aktris amatiran," sahut Axel dingin, lalu memberikan isyarat dagu ke arah Johan. "Berikan penanya."
Johan lantas menyodorkan pena meluncur di atas meja, tepat ke hadapan Freya. "Silakan tanda tangan di sebelah sini, Nyonya."
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Freya meraih pena tersebut. Ia tidak lagi membaca detail pasal-pasal lainnya. Tidak ada gunanya. Di atas kertas putih itu, ia menorehkan tanda tangannya, meresmikan dirinya sebagai komoditas berharga milik Axel Leonardo.
Axel mengambil berkas yang sudah ditandatangani itu. Ia pun bangkit dari kursinya, berjalan ke sisi meja, lalu memasukkan dokumen tersebut ke dalam laci meja kerjanya yang kemudian dikunci rapat.
"Johan, Samuel, kalian boleh keluar," perintah Axel.
"Baik, Tuan," jawab kedua pria itu serempak sebelum melangkah mundur dan meninggalkan ruang kerja, menyisakan keheningan yang kembali menegangkan di antara suami istri baru itu.
Axel berjalan mendekati jendela besar dan memunggungi Freya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Perjanjian sudah sah. Sekarang kita bicara tentang tenggat waktu."
Freya menahan napas, firasat buruk kembali merayapi tengkuknya. "Tenggat waktu apa?" tanyanya pelan.
Axel membalikkan tubuhnya perlahan dan menatap Freya dengan pandangan menuntut yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. "Aku ingin, dalam waktu tiga bulan ini kau harus sudah mengandung anakku."
"Tiga bulan?" Freya terbelalak. "Itu terlalu cepat! Kau baru saja bilang tadi malam kau tidak akan menyentuhku jika aku masih ketakutan!"
"Aku tidak bilang kita akan melakukannya di kamar ini, dalam kondisi kau yang terus meratapi nasib," Axel melangkah mendekati kursi Freya dan membungkuk sedikit hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Bersiaplah. Minggu depan kita akan pergi bulan madu."
"Bulan madu?" Freya mencengkeram pinggiran kursi. "Ke mana?"
"Sebuah pulau pribadi di Karibia. Hanya ada kau, aku, dan pelayan," bisik Axel dengan tatapan yang menjelaskan tidak ada penolakan apa pun bagi Freya.
"Di sana, tidak akan ada dinding tempatmu bersembunyi, Freya. Kau punya waktu satu minggu untuk menyiapkan mentalmu sebelum aku benar-benar menagih hakku."
Ketegangan membeku yang sempat menguasai ruang makan perlahan-lahan mencair seiring dengan respons yang diberikan oleh para sesepuh keluarga.Ayah Juan menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati berukir mewah, menganggukkan kepala secara perlahan dengan raut wajah puas dan bangga atas ketegasan serta keanggunan yang ditunjukkan oleh menantunya."Pernyataan yang amat bermartabat, Freya," puji Ayah Juan dengan nada suara berat yang tak lagi kaku."Keluarga Leonardo memang membutuhkan sosok pendamping yang memiliki keteguhan hati serta keberanian untuk berdiri tegap di situasi sulit."Dada Freya bergetar pelan mendengar pengakuan tersebut. Rasa sesak yang sejak awal menghimpit ulu hatinya perlahan surut, berganti dengan helaan napas lega yang tertahan.Verrel menimpali dari sisinya dengan senyuman tipis yang hangat, menyilangkan kedua tangannya santai."Saya harus mengakui, kejujuran dan ketenanganmu dalam mempertahankan kehormatan rumah tangga di bawah tekanan interogasi tadi amat meng
Dampak dari pengakuan tulus Freya mengguncang bagian terdalam dari diri Axel.Pria yang biasanya selalu memegang kendali penuh atas emosi dan ekspresi wajahnya itu seketika terdiam seribu bahasa di tempatnya.Tatapan mata elang Axel mendadak membeku, tertuju amat tajam pada sosok Freya yang masih berdiri tegak dengan keanggunan kaku di sampingnya.Di balik topeng datarnya yang kian mengeras, benak Axel bergolak hebat, mencoba mencerna dan menguraikan barisan kalimat yang baru saja diucapkan oleh istrinya di hadapan seluruh klan Leonardo.Ketegangan internal yang membakar dada Axel berpusat pada benturan psikologis yang teramat rumit.Pria itu terjebak dalam dilema dan kebingungan mendalam: apakah jawaban luar biasa yang diberikan Freya hanyalah sebuah bentuk sandiwara yang dipersiapkan dengan sangat sempurna demi menjaga harga diri serta mematuhi perintahnya untuk tampil tanpa cela, ataukah kalimat-kalimat emosional itu sungguh-sungguh merupakan ungkapan hati nurani Freya yang jujur d
Freya memalingkan wajahnya sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata elang milik Axel yang berdiri tepat di sampingnya.Dalam sepersekian detik keheningan yang menyiksa itu, Freya menyerap ketegangan suaminya.Ia merasakan bagaimana cengkeraman jemari kekar Axel di pinggangnya kian mengerat, sebuah pijatan intim yang seolah menyalurkan seluruh sisa daya untuk menopang tubuhnya.Freya mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam dadanya sebelum akhirnya memutar tubuhnya kembali menghadap Ibu Manda secara utuh.Dengan dagu terangkat dan suara yang tetap tenang namun bergetar penuh penghayatan mendalam, Freya mematahkan kecurigaan Ibu Manda secara tegas dan gamblang.Topik pembicaraan malam itu sepenuhnya berfokus pada pembelaan emosional Freya atas kehormatan pernikahannya yang selama ini dipertanyakan."Jika Ibu menduga bahwa pernikahan ini hanyalah sekadar transaksi dingin, kesepakatan bisnis, atau perjanjian di atas kertas formalitas belaka..." buka Freya dengan nada suara yang ter
"Cukup, Ibu! Pertanyaan Ibu benar-benar sudah sangat melintasi batas kesopanan!" tegur Evelyn tajam seraya menatap dengan penuh amarah saat menatap Manda."Freya adalah Nyonya rumah di sini. Dia sudah menyambut kita semua dengan sangat baik sejak kita menginjakkan kaki di vila ini. Tidak sepantasnya Ibu mempermalukannya seperti ini di meja makan, apalagi tidak menghargai keputusan Axel dalam memilih pasangan hidupnya!"Manda memiringkan kepalanya sedikit, menatap putri kandungnya dengan raut wajah tak percaya sekaligus tersinggung.Perdebatan kecil seketika meletus di meja makan saat kedua wanita berdarah bangsawan itu saling melempar argumen yang kian memanas mengenai batasan privasi anak dan hak orang tua untuk tahu."Jangan mengguruiku, Evelyn!" balas Manda dengan intonasi yang tak kalah tinggi dan sengit."Aku adalah ibunya! Sebagai seorang ibu, aku berhak tahu apakah putraku menikah dengan wanita yang benar-benar mencintainya atau hanya dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Ka
Sajian hidangan utama berupa potong daging wagyu dengan saus truffle mulai dinikmati di atas meja mahoni, namun tekanan psikologis di ruangan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.Keheningan yang menyelimuti hanya dihiasi oleh denting halus pisau dan garpu perak di atas porselen mahal.Helena, dengan sudut pandang medisnya yang amat analitis dan dingin, memperhatikan setiap gerak-gerik serta ketegangan terselubung di antara Axel dan Freya dari seberang meja sebelum akhirnya ikut angkat bicara."Freya," panggil Helena dengan nada suara datar, menusuk keheningan tanpa basa-basi."Sebagai seorang dokter, aku bisa melihat tingkat stres yang sangat tinggi pada garis wajah Axel.“Bisnis Holding Leonardo menuntut stamina fisik dan kestabilan emosi yang ekstrem. Apakah kau sudah benar-benar siap secara fisik dan mental untuk mendampinginya setiap hari?"Freya meletakkan pisaunya perlahan, meremas serbet linen di pangkuannya dengan jemari dingin."Saya selalu berusaha memberika
Suasana ruang makan utama kediaman Leonardo malam itu terasa teramat megah sekaligus mencekam.Pelayan berseragam rapi melangkah tanpa suara, menyajikan hidangan pembuka berupa appetizer laut berkelas tinggi.Namun, suasana hangat yang sempat diimpikan Freya seketika menguap, berganti menjadi arena wawancara terselubung yang amat menegangkan.Manda, yang duduk di sisi kiri meja dengan gaun mewahnya, mengamati Freya yang duduk tepat di samping Axel.Dengan kepribadiannya yang cerewet dan selalu ingin mendominasi setiap pembicaraan, Manda membuka diskusi seraya mengibaskan serbet linen di pangkuannya."Harus kuakui, perubahan penampilanmu malam ini sangat mencolok, Freya," buka Manda dengan suara nyaring yang seketika menarik perhatian seluruh meja.Matanya menyapu wajah dan postur tubuh Freya secara terang-terangan. "Kulit wajahmu tampak jauh lebih segar, bercahaya, dan berkelas. Garis bahumu juga lebih tegap dari terakhir kali aku lihat saat Axel mengirimkan fotomu padaku."Freya ters







