Home / Romansa / Jerat Hasrat sang Penguasa / Istri yang Sempurna

Share

Istri yang Sempurna

Author: Aksara_Lizza
last update publish date: 2026-07-05 15:59:45

"Angkat sedikit dagunya, Nyonya," pinta Madam Olivia, sang desainer pribadi yang sengaja didatangkan Axel siang itu. Ia tengah menarik pita ukur dan melingkarkannya di sekeliling dada Freya dengan cekatan.

Freya berdiri kaku di tengah ruang ganti yang luas. Di sekelilingnya, dua asisten desainer sibuk memamerkan jajaran gaun malam berbahan sutra dan brokat mewah.

Namun, alih-alih merasa senang, Freya justru merasa sangat tidak nyaman. Ketika cermin besar di hadapannya memantulkan bayangannya sendiri, rasa minder itu langsung menusuk dada.

Tubuhnya tampak terlalu kurus akibat stres berbulan-bulan. Lebih buruk lagi, kain gaun abu-abu yang kini dilepas memperlihatkan memar-memar samar keunguan di lengan dan bahunya, sisa dari cengkeraman kasar para lintah darat malam itu, serta bekas luka lama yang tersembunyi.

"Aku tidak mau gaun yang ini," kata Freya ketat, menolak gaun malam berpotongan backless yang disodorkan seorang asisten. "Potongannya terlalu terbuka di bagian punggung dan dada."

"Tapi Nyonya, ini tren terbaru dan sangat cocok untuk acara formal perusahaan nanti," bujuk Madam Olivia sembari mencoba mencocokkan kain satin merah ke tubuh Freya.

"Aku bilang tidak, ya tidak," suara Freya meninggi, lalu tangannya refleks bersedekap, berusaha menutupi noda memar di lengannya. "Cari yang berlengan panjang. Aku tidak nyaman."

Madam Olivia tampak menghela napas, dengan raut wajahnya menunjukkan riak keberatan. "Tuan Axel meminta koleksi terbaik, dan koleksi musim ini rata-rata—"

"Ganti semua dengan pakaian rajut yang tertutup," potong sebuah suara berat dari sudut ruangan.

Axel yang sedang duduk di sofa beludru hitam, mengawasi seluruh proses sejak awal dengan kaki bersilang. Pria itu tampaknya memahami ketakutan tersembunyi Freya tanpa perlu wanita itu menjelaskan sepatah kata pun. Tatapan tajamnya sempat menyapu sekilas memar di kulit pucat Freya sebelum beralih ke desainer.

"Batalkan semua pilihan gaun terbuka yang kau bawa," perintah Axel mutlak. "Pilihkan pakaian rajut yang hangat, tertutup, tapi tetap elegan untuknya. Pastikan tidak ada satu pun bagian bahu atau punggungnya yang terekspos."

Madam Olivia langsung membungkuk patuh. "Baik, Tuan Leonardo. Kami akan segera menyesuaikan ukurannya dengan koleksi high-neck dan knitwear premium kami."

Para asisten dengan cepat menyingkirkan gaun-gaun minim tersebut dan menggantinya dengan deretan sweter kasmir, rok rajut panjang, dan mantel wol berdesain berkelas.

Freya terdiam di posisinya. Konflik batin di dalam dadanya mulai bergeser. Rasa takut yang sejak awal mendominasi kini perlahan mengikis, berganti menjadi rasa penasaran yang mendalam. Ia menatap Axel dari balik pantulan cermin.

Mengapa pria sedingin es ini bisa membaca ketakutan tersembunyiku dengan begitu jeli? Apakah dia melakukannya karena kasihan, atau ada maksud lain?’

Axel tidak membalas tatapan bertanya Freya. Pria itu justru merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu mengetik sebuah nomor.

"Atur jadwal kosong besok siang," ucap Axel pada orang di seberang telepon. "Ya, aku sendiri yang akan membawanya ke klinik. Pastikan tidak ada pasien lain saat kami datang."

Setelah mematikan ponsel, Axel bangkit dan melangkah mendekati Freya. Langkah kakinya yang berat terdengar intimidatif di atas lantai kayu ruang ganti. Ketika Madam Olivia dan para asisten mundur untuk memberi ruang, Axel berhenti tepat di depan Freya.

Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang besar dan dingin menyentuh memar kebiruan di lengan atas Freya. Sentuhan itu tidak kasar, namun membuat Freya otomatis menahan napas.

"Besok kita akan pergi ke klinik kecantikan milik kakak iparku," kata Axel dengan nada tanpa emosi sedikit pun.

Freya menarik lengannya sedikit, tengah mencoba menghindar meski cengkeraman halus Axel menahannya. "Untuk apa? Tubuhku baik-baik saja,” ucapnya ketus.

"Kau tidak baik-baik saja," Axel menepis sanggahan itu dengan dingin. Matanya menatap lurus, dan menguliti kulit halus Freya yang kini dinodai oleh luka-luka kekerasan fisik, luka lama dan baru yang Freya dapatkan dari tabiat buruk ayahnya sebelum pria tua itu kabur.

"Aku tidak butuh klinik kecantikan," desis Freya sembari menyembunyikan rasa malunya di balik nada ketus.

Axel kemudian menunduk dan mengunci pandangan mata Freya hingga wanita itu tidak bisa berpaling. "Kulitmu penuh luka, Freya. Dan sebagai istriku, kau adalah representasi dari namaku di depan public,” katanya datar.

"Jadi ini hanya soal gengsimu?" tanya Freya pahit.

Namun, Axel tidak membantah ucapan istrinya tersebut. Ia pun melepaskan pegangannya pada lengan Freya, lalu merapikan kerah kemejanya sendiri sebelum berbalik arah.

"Sebut sesukamu," ujar Axel dingin di ambang pintu ruangan. "Tapi satu hal yang harus kau ingat: jadi istriku artinya kau harus memiliki kulit yang mulus. Aku tidak suka melihat barang milikku cacat saat dipamerkan di depan keluargaku bulan depan. Jadi, bersiaplah besok jam sepuluh pagi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Jangan Menguji Kesabaranku

    Di tengah keheningan ruang tengah yang mencekam, konfrontasi antara Axel dan ibunya mencapai titik terpanas.Melanjutkan deklarasinya yang membekukan darah seluruh anggota keluarga, Axel menjatuhkan larangan keras dan mutlak kepada Manda.Pria itu memasang benteng tak kasatmata yang memagari kehidupan istrinya dari jangkauan siapa pun."Mulai detik ini, aku melarang keras Ibu untuk pernah membawa, menemui, atau bahkan mengajak Freya pergi ke mana pun tanpa izin tertulis dan persetujuan langsung dari mulutku sendiri," tegas Axel, suaranya bergaung menembus setiap sudut ruangan yang sunyi.Axel menetapkan barikade pelindung yang tak menoleransi celah sekecil apa pun di masa depan.Sorot matanya yang tajam menancap lurus pada Manda, menegaskan bahwa hak dan otoritas atas keberadaan, pergerakan, serta napas Freya sepenuhnya berada di tangannya, bukan lagi pada aturan atau tradisi klan Leonardo."Jangan pernah berani mengetuk pintu kamarnya, memanggilnya ke ruang makan tanpa seijinku, apal

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Larangan Tegas dari Axel

    Axel menghubungi seluruh anggota inti keluarga besar Leonardo—Manda, Juan, Evelyn, dan Helena—satu per satu."Batalkan semua janji temu kalian," pangkas Axel dingin sewaktu tersambung dengan ayahnya, Juan."Siang ini, pukul satu tepat, seluruh anggota keluarga harus sudah berkumpul di ruang tengah kediaman utama.""Ada apa, Axel? Ayah sedang ada pertemuan direksi—""Aku tidak menerima alasan," potong Axel tanpa ampun, menyela ucapan Juan dengan nada suara yang sarat akan ancaman dan kemurkaan terselubung."Datang, atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh wewenang bisnis kalian hari ini juga."Nada bicara Axel yang begitu tajam dan berbahaya membuat seluruh anggota keluarga menyadari bahwa telah terjadi krisis besar yang tak bisa dihindari.Beberapa jam kemudian, atmosfer di ruang tengah kediaman utama berubah menjadi sangat tegang dan membisu.Juan duduk di sofa utama dengan raut wajah berat dan kening berkerut dalam, menyadari potensi bahaya dari kemurkaan putranya.Manda tampak g

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Rasa Bersalah Axel

    Aroma antiseptik yang tajam dan dengung halus peralatan medis menyambut Axel yang berdiri mematung di depan ruang perawatan intensif VVIP.Pria tegap itu menolak untuk duduk, memilih menyandarkan punggungnya pada dinding marmer koridor rumah sakit yang dingin.Bayangan wajah pucat Freya yang terkulai tak berdaya terus membayangi benaknya, menyiksa setiap detik penantiannya dengan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter spesialis senior keluar menyapu pandangan, lalu melangkah mantap menghampiri Axel untuk menyampaikan hasil diagnosis resmi."Bagaimana keadaan istriku, Dokter?" potong Axel cepat sebelum dokter itu sempat menyapa, suaranya serak dan sarat akan penekanan yang menuntut.Dokter spesialis itu menghela napas panjang, menatap Axel dengan raut wajah yang sangat serius dan menyudutkan."Kami telah berhasil menstabilkan suhu tubuh dan tekanan darah Nyonya Freya, Tuan Leonardo," buka dokter itu dengan in

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Kondisi Freya

    Pagi-pagi sekali, ketika fajar masih membiaskan warna keabuan yang dingin di langit kota, mobil mewah Axel bergerak pelan memasuki area carport kediaman utama.Axel duduk terdiam di balik kemudi dengan raut wajah yang teramat lelah, kusam, dan dibayangi penyesalan terselubung setelah melewatkan seluruh malam di luar rumah demi meredakan amarahnya yang memuncak.Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, mengusap wajahnya kasar seraya menatap bayangan dirinya di kaca spion.Namun, sebelum ia sempat mematikan mesin kendaraan, ponsel bisnisnya mendadak berdering kencang.Sambungan telepon dari asisten pribadinya memecah keheningan kabin mobil yang pekat."Ada apa?" sapa Axel dingin, menekan tombol penerima dengan suara yang serak dan berat."Selamat pagi, Tuan Axel. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali," ujar suara asisten pribadinya dari ujung saluran dengan intonasi tergesa-gesa."Terjadi krisis akuisisi pada proyek strategis kita di Singapura. Pihak kompetitor mencoba membloki

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Penantian yang Menyiksa

    Sepanjang sisa malam hingga menyingsingnya fajar di ufuk timur, Freya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.Reaksi kimia dari ramuan medis yang berangsur-angsur mereda meninggalkan rasa ngilu di persendian, lemas yang luar biasa, serta kehampaan pekat yang mengendap di dalam dada.Berbaring meringkuk di atas tempat tidur king-size yang teramat luas dan dingin tanpa dekapan hangat Axel membuat ketakutan terbesar Freya kembali mencengkeram jiwanya tanpa ampun.Terbayang jelas di benaknya bahwa kepergian Axel malam ini adalah awal dari berakhirnya kehangatan yang baru saja ia rasakan, sekaligus hancurnya ikatan di antara mereka akibat kecerobohannya sendiri yang terlalu pasrah dan patuh pada mertuanya."Apakah... apakah ini akhir dari segalanya?" bisik Freya serak pada ruangan yang hening, memandangi sisi ranjang yang kosong tempat Axel biasanya mendominasi tubuhnya.Dengan jemari yang gemetar hebat dan mata yang kusam basah oleh genangan air mata, Freya meraih ponsel pintarnya dari

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Pergi Begitu Saja

    Usai meluapkan kemurkaannya di telepon, atmosfer di dalam kamar tidur utama bukannya mereda, melainkan berganti menjadi keheningan mencekam yang amat membekukan.Emosi Axel yang terkuras habis serta frustrasi dan rasa murkanya yang masih terpancing membuat pria itu kehilangan kendali penuh atas dirinya sendiri.Axel berdiri mematung di samping ranjang, menatap Freya yang masih berbaring lemas dengan tatapan mata elang yang teramat rumit, dingin, dan berjarak.Tidak ada lagi sisa gairah posesif di manik matanya; yang tersisa hanyalah jarak yang curam dan tajam.Rasa kekecewaan mendalam atas ketidakmampuan Freya untuk menolak keinginan ibunya membakar dada Axel, membuatnya memilih tindakan ekstrem yang belum pernah ia lakukan sebelumnya."Axel..." panggil Freya lirik, menyuarakan kepasrahannya dari balik deru napas yang masih belum stabil akibat efek ramuan. "Jangan menatapku seperti itu..."Axel tidak menjawab. Pria itu menatap tubuh Freya yang meremang dengan riak amarah yang mengenda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status