LOGIN"Ini hadiahnya," kata Andrea, mengeluarkan sebuah kotak bekal.
Kyrran memutar tutup botol air di tangannya, kemudian mengangkat sudut bibirnya samar. "Kamu membuatkan sesuatu untukku?"Andrea mengangguk, kemudian membuka tutup kotak perlahan."Tadaaaa…" celetuk Andrea, memperlihatkan isi kota yang di dalamnya tersusun rapi pancake pisang kecil-kecil berwarna keemasan. Di sela-selanya terdapat irisan stroberi merah segar dan blueberry.Setelah itu, Andrea me"Baby Ran, stop!" Andrea tertawa geli sambil berusaha menepis tangan Kyrran yang sejak tadi mengusik pinggangnya. Namun, Kyrran justru semakin jahil. Sudut bibir cowok itu terangkat, menampilkan senyum kemenangan yang membuat Andrea ingin menjitak kepala kekasihnya itu. "Menyerah, Sayang?" tutur Kyrran. "Enak saja! Baby Ran, awas ya!" Alih-alih berhenti, cowok itu kembali menggelitik pinggangnya hingga Andrea menjerit kecil sambil tertawa. "Aaaah!!! Baby Ran! St— aaaah!" Saat Andrea akhirnya berhasil melepaskan diri, ia berlari menjauh dari Kyrran menyusuri tepian pantai. Gaun cantik berwarna putih gading yang ia kenakan berkibar tertiup angin laut. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, sesekali menutupi wajahnya ketika ia berlari di atas pasir basah. Di belakangnya, Kyrran menyusul dengan langkah panjang. Cowok itu mengenakan kemeja linen berwarna putih dengan dua kancing teratas terbuka, dipadukan dengan celana berwarna krem. Lengan kemejanya digulung hingga sik
Kakek Dedrick memejamkan mata sembari mempererat pelukannya pada putri semata wayangnya. "Ayah juga ingin meminta maaf, Ana."Pria tua itu mengusap punggung Anastasia yang masih berada dalam pelukannya. Suaranya terdengar parau, sarat penyesalan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. "Setelah kehilanganmu, Ayah selalu dihantui rasa bersalah. Ayah terus memikirkan bagaimana seandainya dulu Ayah tidak menentang hubunganmu dengan pria yang kamu cintai. Mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini."Wanita itu menggeleng pelan. Ia melepaskan pelukannya, lalu menggenggam kedua tangan Kakek Dedrick yang keriput."Sudah, Ayah. Semuanya sudah berlalu." Anastasia tersenyum tipis di antara air matanya. "Aku sudah kembali sekarang. Kita masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya, bukan?"Kakek Dedrick menatap putrinya lekat-lekat. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi satu dua pertanyaan terus mengusik pikirannya."Tapi, ba
"Sampai kapan kau mau membenci dan menyalahkan Kyrran cucuku atas kematian putrimu, Dedrick?" tanya Opa Riovandra sambil mengamati susunan bidak di hadapannya. Kakek Dedrick mengatupkan rahang. Tangannya bergerak memindahkan satu bidak kuda, mengancam posisi pion milik Opa Riovandra. "Sampai kapan pun, selamanya," jawab Kakek Dedrick tajam, membuat Opa Riovandra mengembuskan napas panjang. "Kau tahu kalau Kyrran cucuku juga hanya korban dari penculikan 15 tahun silam itu." "Kau begitu mudah mengatakannya seolah-olah semua ini sesederhana bermain catur." Kakek Dedrick menatap Opa Riovandra tajam. "Kau tidak mengerti apa yang kurasakan, Riovandra. Kau tidak kehilangan putri seperti aku kehilangan putriku." Opa Riovandra terdiam sejenak. Tatapannya beralih pada papan catur sebelum tangannya mengambil bidak dan memindahkannya ke petak lain. "Tentu saja aku mengerti, lebih dari yang kau kira," jawabnya pelan sambil memindahkan bidak. Opa Riovandra menatap balik dengan sorot yang sama
Helikopter yang membawa Kakek Dedrick yang didampingi Paman Dimitri—mendarat di helipad pribadi yang terletak di salah satu sudut estate keluarga Alveroz. Hembusan angin dari baling-baling helikopter menerbangkan dedaunan di sekitar area pendaratan. Terlihat beberapa staf estate berdiri tak jauh dari sana, menunggu hingga mesin helikopter benar-benar berhenti berputar. Opa Riovandra, pemilik estate tersebut, sudah menerima kabar mengenai kedatangan tamu penting dari keluarga Beaumont. Begitu helikopter dimatikan dan pintunya terbuka, pria tua itu segera melangkah maju untuk menyambut seorang pria berambut putih yang turun dengan wajah serius. "Mana cucuku?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Kakek Dedrick, bahkan sebelum ia sempat membalas sapaan tuan rumah. Opa Riovandra mengangkat alis. "Cucumu?" "Jangan berpura-pura tidak tahu, Riovandra. Cucumu, Kyrran, membawa kabur cucuku! Katanya dia membawa Andr
Keesokan harinya, Kakek Dedrick duduk di balik meja kerja besarnya dengan amarah yang membuncah dalam dada pria tua itu. Kerutan di wajahnya tampak semakin dalam dan sorot matanya mengeras menatap surat yang kini berada dalam cengkeramannya. Ya, itu surat yang ditinggalkan oleh Andrea sebelum melarikan diri bersama Kyrran. "Berani-beraninya dia membawa cucuku!" geram Kakek sembari meremas ujung surat itu. Di samping meja, Paman Dimitri, asisten pribadi sekaligus kepala pelayan yang telah mengabdi lama kepada keluarga Beaumont, berdiri dengan sikap hormat. Ia sudah terbiasa menghadapi temperamen tuannya, tetapi kali ini ia tahu kemarahan Kakek Dedrick bukan semata-mata karena Andrea meninggalkan rumah tanpa pamit. Ada kekhawatiran besar yang tersembunyi di baliknya. "Dari rekaman CCTV, Tuan Muda Kyrran membawa Nona Andrea keluar melalui balkon kamarnya, Tuan," lapor Paman Dimitri hati-hati. Kakek Dedrick memejamkan mata sejenak, berusaha meredam emosinya. Namun, beberapa detik kem
Andrea masuk ke dalam kamarnya dengan langkah tergesa. Setelah menutup pintu, gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Tangannya kemudian terulur meraih ponsel yang tergeletak di nakas.Tanpa membuang waktu, Andrea menghubungi Kyrran. Ia ingin memarahi cowoknya itu karena tidan memberitahu Andrea soal rencana terselubungnya. Namun, setelah beberapa kali nada sambung terdengar, panggilannya justru berakhir tanpa jawaban.Belum sempat ia mencoba menelepon untuk kedua kalinya, terdengar suara ketukan dari arah balkon kamarnya.Tok... Tok...Andrea spontan menoleh. Ia mengerjap sekali sebelum akhirnya bangkit dari ranjang, kemudian melangkah mendekati pintu kaca yang tertutup tirai tebal.Jangan-jangan…"Kyrran?" gumamnya curiga.Gadis itu buru-buru menyibak tirai dan benar saja—Di balik pintu kaca balkonnya, Kyrran berdiri dengan santai sambil melambaikan tangan.Andrea melongo. Ia kira Kyrran suda
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







