LOGINSore itu, Andrea duduk berhadapan dengan cowok yang dalam dua hari ke depan akan menyandang status sebagai tunangannya. Jasper Ruthorford.
Mereka bertemu di sebuah kafe yang cukup tenang. Namun bagi Andrea, suasana nyaman itu sama sekali tidak membantu meredakan kegelisahan di dadanya. Ia bahkan tidak menyentuh minuman yang sejak tadi diletakkan di hadapannya.Tatapannya tajam mengarah kepada Jasper yang ia curigai sebagai dalang yang membongkar rahasianya pada sang kakek.Sore itu, Andrea duduk berhadapan dengan cowok yang dalam dua hari ke depan akan menyandang status sebagai tunangannya. Jasper Ruthorford.Mereka bertemu di sebuah kafe yang cukup tenang. Namun bagi Andrea, suasana nyaman itu sama sekali tidak membantu meredakan kegelisahan di dadanya. Ia bahkan tidak menyentuh minuman yang sejak tadi diletakkan di hadapannya.Tatapannya tajam mengarah kepada Jasper yang ia curigai sebagai dalang yang membongkar rahasianya pada sang kakek."Apa kamu yang memberi tahu kakekku?" tanya Andrea.Jasper mengangkat alis, sementara Andrea melanjutkan ucapannya. "Soal aku yang sekolah di Alveroz High, lalu soal aku dan Kyrran?"Gadis itu mengulum bibirnya tipis. "Supaya kita bisa bertunangan dan membuat aku putus dari pacar aku?"Jasper tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat gelasnya, menyesap minuman dengan tenang, lalu meletakkannya kembali di atas meja."Untuk apa aku melakukan itu, Miss
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Andrea lebih banyak diam. Taksi melaju membelah jalanan kota yang ramai, sementara dirinya hanya duduk di kursi belakang sambil memandang keluar jendela.Gedung-gedung tinggi, lampu lalu lintas dan orang -orang yang berjalan di trotoar. Semuanya berlalu begitu saja di depan matanya. Namun pikiran gadis itu sendiri berada jauh di sebuah rumah sakit yang berada ribuan kilometer dari sini. Tepatnya di sebuah ruang perawatan tempat Kyrran masih terbaring tanpa sadar.Andrea kemudian menunduk, menatap jarinya yang menggenggam erat ponsel di pangkuannya.Setibanya di hotel, Andrea menuju restoran pribadi yang berada di lantai atas. Pelayan membukakan pintu untuknya. Begitu masuk, langkahnya melambat.Di dekat jendela dengan pemandangan kota yang luas, kakeknya sudah duduk menunggu. Paman Dimitri berdiri di samping beliau.Andrea berhenti beberapa detik, menarik napas panjang, lalu melangkah mendekat.
Andrea akhirnya tiba di Alveroz High. Ia berjalan menuju taman di samping perpustakaan, tempat yang biasa digunakan dirinya dan para sahabatnya untuk berkumpul. Dari kejauhan, mereka sudah terlihat duduk di bangku taman. Ada Noela, Derby, Davin, Elyse, Cassandra, Jolina, Jeremy, Vanko, Teressa dan Rasya.Begitu Andrea mendekat, percakapan anggota OTTD mendadak terhenti dan semua kepala menoleh, mata mereka tertuju kepada gadis itu dengan berbagai macam tatapan. Ada yang berkilat penuh kecewa, terluka dan bingung.Andrea mengerti, pasti mereka tidak menyangka dengan apa yang terjadi dalam satu waktu. Kyrran tidak sadarkan diri di ribuan kilometer di sana, operasinya dimajukan dan Andrea diberitakan akan bertunangan dengan Jasper Ruthorford.Andrea dengan mata sembab kemudian berhenti beberapa langkah dari mereka. Ia berdiri seperti orang asing di tengah-tengah para sahabatnya."Guys… aku—"Ucapan Andrea terpotong lantaran Noela lebih dulu
Andrea bahkan tidak ingat bagaimana ia keluar dari hotel. Pikiran gadis itu masih dipenuhi percakapan dengan kakeknya. Pilihan yang diberikan pria tua itu terus terngiang di kepala Andrea. Pindah sekolah dan berpisah dengan Kyrran. Atau tetap bisa sekolah di Alveroz High dengan konsekuensi menerima perjodohan yang sudah disiapkan. Kedua pilihan itu terasa sama menyakitkannya. Seperti dua jalan yang sama-sama berakhir dengan kehilangan. Langkah gadis itu terasa ringan sekaligus kosong saat menyusuri koridor pejalan kaki di pusat kota. Lampu-lampu malam mulai menyala satu per satu, bunyi kendaraan berlalu-lalang di jalan raya menemani langkahnya. Air matanya masih terus mengalir dan sekarang hanya ada satu orang yang ingin ia dengar suaranya. "Kyrran…" lirih Andrea. Ia merogoh saku blazer dan mengeluarkan ponsel. Ketika layar menyala, dadanya terasa sesak. Ternyata ada belasan pesan masuk dan beberapa panggilan tak terjawab dari Kyrran. Jari Andrea gemetar dan langkah sepatunya
"Dari semua laki-laki yang ada di dunia ini, kenapa harus dia, Andrea?"Mendengar kalimat kakeknya itu membuat hati Andrea perih. Air matanya mengalir semakin deras membasahi pipinya."Karena dia yang aku mau, Kakek…" lirih Andrea. "Dan jangan salahkan Kyrran atas kepergian ibu dan ayah… Kyrran hanya korban kakek…"Andrea maju selangkah dengan pelan. "Kyrran bahkan punya penyakit langka yang mematikan karena penculikan itu, Kakek… Jadi jangan salah Kyrran…"Kakek Dedrick memejamkan mata keriputnya sebentar, lalu kembali menatap Andrea cucunya. "Kakek mungkin bisa memaafkan hal itu, tapi kakek tidak akan pernah lupa, Andrea… dan kakek tetap tidak bisa menerima kamu bersama Kyrran.""Jika sekadar berteman, mungkin Kakek tidak akan keberatan, tapi kamu sampai punya hubungan spesial yang lebih dari teman dengan dia…""Kakek—""Soal penyakit yang diderita Kyrran, Kakek tahu… Kakek sudah bicara dengan Drassha dan Adriell. Dan
"Saya akan membawa cucu saya kembali ke Mirelle Girls Academy, tempat seharusnya dia berada."Kalimat Kakek Dedrick membuat Andrea tersentak. Kepalanya terangkat dan matanya yang memerah, membelalak."Kakek, enggak…" Andrea menggeleng cepat. Tanpa pikir panjang, ia meraih lengan pria tua itu."Aku gak mau pindah sekolah, Kakek," ujar Andrea, suaranya bergetar. "Aku gak mau ke Mirelle, aku mau lulus dari Alveroz High.""Aku mau di sini, Kakek," isak Andrea.Kakek Dedrick menatap tangan Andrea yang mencengkeram lengannya. Namun ekspresinya tidak berubah. Tetap dingin dan tegas."Tolong, Kakek." Mata gadis itu semakin memerah. "Tolong dengarkan aku, aku mau lulus di sekolah ayah dan Ibu."Kakek Dedrick tidak menanggapi, alih-alih pria tua itu perlahan melepaskan genggaman Andrea. Gerakannya tidak kasar. Namun cukup untuk membuat hati gadis itu semakin tenggelam."Kita bicara nanti, segera kemas barang-barangmu.""Kakek—""Sudah cukup, Andrea." Kakek Dedrick berbalik meninggalkan ruangan.
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]
"Kamu lebih mendalami soal teknologi sejak pindah ke sini, kan?" tanya Andrea. Gadis itu menusuk-nusuk pelan nasi mentega yang ada di foodtray. "Ya, kenapa, Andrea?" Derby menyendok sup krim jagung ke dalam mulutnya. "Kamu… bisa hack handphone orang lain gak?"Derby h







