ログイン"Kyrran brengsek!" maki Andrea pelan.
Di jok belakang taksi online, Andrea menyandarkan kepalanya di jendela kaca. Lampu kota bergerak samar di luar sana, memantul di matanya yang masih panas karena emosi.Setelah menampar dan mengeluarkan ucapan kecewa, Andrea memelesat pergi meninggalkan Kyrran, membawa amarahnya yang meluap-luap.Bahkan dia masih terngiang-ngiang kalimat Kyrran. Apa cowok itu menganggap Andrea sama seperti cewek-cewek lain yang Kyrran dekati?"Aku minta tolongnya ke Vanko ya," ketus Andrea dengan suaranya yang lemah. Mata gadis itu kemudian beralih ke depan, menghindari tatapan mematikan Kyrran."Terus mana Vanko? Yang bareng kamu sekarang siapa?" cecar Kyrran, suaranya menekan dan menuntut. Andrea memilih bungkam dengan melipat bibirnya ke dalam, dia tampak sudah terlalu lelah untuk berdebat. Kyrran sendiri tidak melanjutkan ucapannya lagi, cowok itu akhirnya menarik pintu mobil turun, kemudian mengitari depan McLaren hitamnya.Sebelum Kyrran membuka pintu mobilnya untuk masuk, getaran berulang dari ponselnya terdengar. Kyrran merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih hitam itu. Layarnya menunjukkan Vanko yang sedang memanggil. Cowok itu segera menjawab telepon tersebut. "Ya.""Ran, pelakunya sudah kami tangkap, aku dan anak-anak mau bawa ke kantor polisi terdekat," lapor Vanko di ujung telepon. "Tunggu, jangan langsung ke sana.""Kenapa?"
"Sakit…" lirih Andrea. Ia merunduk pada kulitnya yang terasa lecet dan perih. Sambil menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya, ia menoleh ke belakang dan napas gadis itu tercekat karena siluet driver itu semakin dekat. "Shit!" umpatnya. Andrea memaksa bangkit meski lututnya gemetar sakit. Dia kembali berlari, tapi kali ini langkahnya pincang dan jauh lebih lambat. Dia menyusuri jalanan gelap yang di kanan kirinya hanya dipenuhi pepohonan tinggi dan semak liar. Astaga, Andrea dibawa sejauh apa sebenarnya? Bulir-bulir air mulai merebak dari sudut mata Andrea sambil terus memaksa langkah kaki telanjangnya untuk melangkah secepat mungkin. Namun, sangat sial baginya, langkah pria itu mendekat dan lengan Andrea berhasil ditangkap dengan kasar. Andrea menjerit kecil. "Ah! Lepas!" Pria berkumis tipis itu menahan tubuh Andrea, mencengkeram bahunya sambil terengah. "Beraninya kau kabur, Nona Manis." Andrea meronta panik. "Lepas! Tolong!" Ponselnya terlepas dari geng
"Kyrran brengsek!" maki Andrea pelan.Di jok belakang taksi online, Andrea menyandarkan kepalanya di jendela kaca. Lampu kota bergerak samar di luar sana, memantul di matanya yang masih panas karena emosi.Setelah menampar dan mengeluarkan ucapan kecewa, Andrea memelesat pergi meninggalkan Kyrran, membawa amarahnya yang meluap-luap. Bahkan dia masih terngiang-ngiang kalimat Kyrran. Apa cowok itu menganggap Andrea sama seperti cewek-cewek lain yang Kyrran dekati? Apa sih sebenarnya isi kepala cowok itu?Tidak boleh. Cukup ciuman pertamanya yang dicuri oleh Kyrran. Andrea akan mati-matian mempertahankan keperawanannya untuk suaminya kelak. Larut dengan amarahnya membuat Andrea baru sadar kalau taksi online yang membawanya—berbelok ke jalur tidak biasa. Alis gadis itu langsung mengerut tipis. Ini bukan arah menuju distrik Alveroz High. Namun Andrea tetap mempertahankan posisi santainya di kursi belakang.Alih-a
"Lama atau enggak, yang penting grup itu harus bubar. Aku juga gak mau ada korban lagi, Kyrran." Andrea menatap dingin. "Bicara soal proses yang cepat, kenapa gak kamu aja yang membuat pengumuman lagi?" gadis itu menyilangkan tangan di dada. "Umumkan kalau kamu sudah tahu mengenai grup KGA itu dan minta jangan ada lagi cewek yang dibully secara privat karena gara-gara 'kelihatan' dekat sama kamu." Sorot mata Andrea menusuk ke iris hitam cowok itu. "Atau jangan-jangan kamu memang suka semua orang ribut memperebutkan kamu?" Ruangan itu mendadak hening, menyisakan suara samar sorakan arena bawah yang terdengar dari balik kaca besar. Kyrran tetap dengan tatapan dinginnya. "Kalau aku menyukainya aku gak mungkin memberimu tugas membongkar skandal grup konyol itu." Andrea mengedip pelan dan bibirnya terbuka tipis. "Dan pengumuman yang kamu maksud, gak akan memberikan pengaruh yang ban
Jam malam sudah berlaku, lorong asrama mulai sepi dan lampu utama sudah diredupkan. Sekitar satu jam kemudian, Andrea diam-diam keluar dari asrama putri. Hoodie hitam menutupi kepala gadis itu agar bisa lebih menyatu dengan hitamnya malam. Dia bergerak luwes macam cat woman menghindari penjaga dan kamera pemantau. Berbekal kartu akses dari Kyrran juga, Andrea berhasil menyelinap keluar melewati jalur belakang sekolah. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Andrea berdiri di depan sebuah underground fight club tersembunyi. Lampu neon berkedip samar menyambut mata gadis itu di lorong masuk. Dentuman musik bas bercampur suara sorakan samar dari bawah tanah memekakkan pendengarannya. Seorang pria bertubuh besar di pintu yang melirik kartu akses di tangan Andrea, langsung mempersilahkannya masuk tanpa banyak tanya.Andrea berjalan masuk melewati kerumunan orang, asap rokok, gelas alkohol dan layar taruhan digital yang memenuhi ruanga
"Oh no!" celetuk Jolina panik. Andrea dan Noela saling melemparkan lirikan. Dalam waktu singkat keduanya ditarik masuk ke dalam kamar Jolina. "Gawat!" "Kenapa?" tanya Noela heran. "Harusnya kamu lega ada yang membela. Andrea dan Kyrran berani bersuara buat kamu," sambung gadis berambut sebahu itu. "Ya aku gak masalah kalau Andrea yang bela," kata Jolina, nadanya sedikit gengsi, dia melirik Andrea sejenak, "tapi karena Kyrran yang angkat suara itu yang masalah! Kenapa gak anggota OSIS yang lain!" Jolina mulai berjalan mondar-mandir panik. Dia memegangi kepalanya sendiri. "Kamu bikin aku stres tau gak!" gerutu Noela. "Aku juga stres!" kata Jolina frustrasi. "Kenapa?" sahut Andrea, memancing. Dia sudah curiga mengenai hal lain yang mengganggu Jolina dan dia mau mendapatkan konfirmasi. Jolina memejamkan matanya sekilas dan berhenti di hadapan Andrea dan Noela. "Beberapa hari lalu aku disekap sama Kyrran’s Guardian Angels," aku Jolina mengendus lemas. Noela membela







