LOGIN"Kyrran brengsek!" maki Andrea pelan.
Di jok belakang taksi online, Andrea menyandarkan kepalanya di jendela kaca. Lampu kota bergerak samar di luar sana, memantul di matanya yang masih panas karena emosi.Setelah menampar dan mengeluarkan ucapan kecewa, Andrea memelesat pergi meninggalkan Kyrran, membawa amarahnya yang meluap-luap.Bahkan dia masih terngiang-ngiang kalimat Kyrran. Apa cowok itu menganggap Andrea sama seperti cewek-cewek lain yang Kyrran dekati?"Nona Andrea… siapa pemuda ini?" tanya Paman Dimitri penuh selidik.Kyrran dan Andrea saling melemparkan lirikan sebelum kembali menatap kepala pelayan itu."Dia…" suara Andrea terjeda, bahu gadis itu tegang. "Emm… dia…"Kata-kata yang biasanya begitu mudah diucapkan tiba-tiba terasa sulit keluar. Keningnya mengerut memikirkan jawaban.Kepala pelayan itu justru tersenyum tipis. "Kekasih Nona Andrea, bukan?" sahut pria paruh baya tersebut.Andrea melongo bukan main, matanya berkedip-kedip. "Kenapa bisa—""Kyrran Diandra Yoseviano," sambung Paman Dimitri.Sesaat kemudian, Andrea mengembuskan napas lega. "Jadi Paman tahu?""Tentu, Nona Andrea."Di sebelah gadis itu, Kyrran mengangkat sebelah alisnya. Pantas saja perjalanannya memasuki kediaman Beaumont malam ini terasa terlalu mudah untuk ukuran kediaman keluarga konglomerat. Rupanya kepala pelayan di hadapannya itu sudah mengetahui segalanya.Pam
Setelah panggilan video berakhir dengan Andrea, Kyrran menatap layar ponselnya beberapa lama. Jari-jarinya masih menggenggam erat perangkat berwarna hitam itu.Diagnosis umurnya terbayang lagi di pikiran Kyrran. Bibirnya perlahan mengatup tipis. Bagaimana jika ini adalah tahun baru terakhirnya?Pikiran itu membuat dada Kyrran terasa sesak.Tak lama kemudian, cowok itu menghampiri opanya secara pribadi dan mengajaknya sebentar ke ruangan kerja.Tanpa basa-basi, Kyrran meminta izin menggunakan helikopter. Namun alasannya untuk bisa menemui Andrea dan merayakan tahun baru bersama gadis itu—tidak ia sampaikan pada Opa Riovandra.Beruntung opanya tidak bertanya banyak dan hanya mengangguk pelan sambil menepuk-nepuk bahu Kyrran, seolah sudah memahami alasan di balik permintaan mendadak itu.Sekitar dua jam kemudian, helikopter yang membawa Kyrran akhirnya mendarat di kota Estonia. Tanpa membuang waktu, ia masuk ke mobil yang telah disi
"Kyrran…"Andrea bangun cepat-cepat, tangannya lincah merapikan rambutnya kemudian mengarahkan layar ponsel ke wajahnya sebelum menerima panggilan video dari Kyrran.Di layar, cowok itu tampak sibuk mondar-mandir di kamarnya. Kyrran kemudian terlihat merapikan pakaian dan barang pribadinya ke dalam koper yang terbuka di atas ranjangnya."Sudah sampai ya?" tanya Kyrran sambil melipat sebuah jaket."Iya," jawab Andrea, kemudian lanjut bertanya. "Kamu kapan ke Alveroz Estate?""Nanti sore," sahut Kyrran.Setelah itu percakapan mereka mengalir begitu saja. Mereka membicarakan perjalanan, kegiatan liburan, buku yang sedang dibaca, hingga hal-hal sepele yang sebenarnya tidak penting. Namun, tak satu pun dari mereka yang merasa bosan.Baru ketika Kakek Dedrick memanggil untuk makan bersama, Andrea mengakhiri panggilan video tersebut.Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Meski terpisah jauh, chat, telepon dan pa
Keesokan harinya, Andrea berlari kecil begitu melihat kakeknya yang sudah menunggu di depan gerbang asrama Mirelle Girls Academy. Senyum lebar langsung merekah di wajahnya. Tanpa ragu, ia memeluk kakeknya erat."Kakek!"Kakek Dedrick tertawa hangat sambil mengusap puncak kepala Andrea. "Akhirnya kakek bertemu lagi dengan cucu kesayangan kakek."Andrea terus tersenyum dalam pelukan kakeknya. Di saat yang sama, Daisy berjalan mendekat. Senyum manis menghiasi wajahnya."Selamat liburan, Andrea."Andrea menoleh dan seketika membeku. Keterkejutan sempat melintas di matanya. Gadis itu pelan-pelan melepaskan pelukan dari kakeknya.Sejak setuju menggantikan Andrea di sekolah ini, mereka sudah sepakat agar Daisy tidak pernah muncul di depan kakek Andrea.Kakek Dedrick ikut menoleh penasaran. "Oh? Siapa ini? Sahabatmu?"Andrea menggigit bagian dalam pipinya. Setelah jeda singkat, ia memaksakan senyum."Iya, Kakek
"Oh tidak begitu, Andrea. Aku tahu kamu sekolah di sana karena itu sekolah kedua orang tuamu, kan?" sahut Daisy cepat.Andrea menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis."Aku cuma berpikir kamu bisa lebih betah di sana karena punya pacar dan sahabat-sahabat yang seru," kata Daisy, mengedikkan bahu dan tersenyum manis."Ya, aku senang bisa bersama mereka," ucap Andrea.Daisy terus menahan senyum, tangannya meraih pegangan koper Andrea, hendak menariknya. Namun, Andrea menahan cewek itu."Biar aku saja," kata Andrea, menarik kopernya.Daisy terkekeh kecil lalu mengangkat kedua bahunya. "Oke, kalau begitu ayo masuk."Mereka berjalan berdampingan melewati gerbang Mirelle Girls Academy, lalu memasuki area asrama. Beruntung liburan musim dingin di sekolah ini telah dimulai sejak beberapa hari lalu. Sebagian besar siswi sudah kembali ke rumah masing-masin, sehingga keberadaan seorang tamu seperti Andrea tidak akan menimbulka
"Aku mengerti, Paman," kata Andrea sebelum mengakhiri telepon itu. Tanpa membuang waktu, Andrea bergegas keluar dari gedung utama menuju asrama. Cahaya lampu festival dan salju yang jatuh menemani langkah buru-buru gadis itu. Sesampainya di asrama, ia segera menutup pintu kamar dan melepas gaunnya yang baru beberapa jam lalu dipakai. Tak lama kemudian, Andrea berganti dengan pakaian musim dingin yang lebih nyaman. Ia mengenakan sweter rajut, mantel wol berwarna gading, celana panjang, serta syal lembut yang melingkari lehernya. Sembari membuka koper, Andrea mengabari di grup OTTD kalau dia harus pergi kota Valoria karena kakeknya mau datang. Ia kemudian menata beberapa set pakaian, perlengkapan mandi, buku catatan, charger dan barang-barang penting lainnya masuk satu per satu ke dalam koper dengan gerakan cepat dan teratur. Andrea mengembuskan napas panjang setelah semuanya selesai. Dia menggenggam pegangan koper, lalu menariknya keluar dari asrama putri. Begitu melewati ge
"Enggak!" jawab Andrea cepat. Dia mencengkram pakaian olahraganya kuat-kuat. "Amit-amit!" desis gadis cantik itu. Tapi, tak bisa dia menolak binar cerah yang seketika melapisi iris kecokelatannya. Kyrran membungkuk hingga wajah putih bersih cowok itu terlihat dari ja
BRAK! Tubuh Kyrran terangkat sesaat sebelum terhempas ke rumput. Bola di tangan cowok itu terlepas begitu saja dan menggelinding menjauh tanpa arah."KYRRANNNNN!"Teriakan para pemain menggelegar di lapangan. Sorakan menyusul terputus saat bunyi peluit panjan
"Nope, i'm good," kata Kyrran. "Aku sebenarnya mau merokok tapi pertandinganya sebentar lagi dimulai dan cuma kamu yang ada di sini." Andrea menggigit bibir bawahnya. Jadi kalau Andrea tidak ada, maka Kyrran akan mencium cewek mana saja yang dia temui? G
"Rea! Aku punya berita penting!" Teriakan heboh Noela membuat Andrea terkejut. Dia tidak mengenakan headphone dan pintu kamarnya memang terbuka lebar, sehingga suara melengking sahabatnya itu langsung menyerang pendengarannya. Andrea menoleh, iris kecokelatannya yang bening beralih dari layar l







