LOGINDominic, itu marga bukan sembarang marga.
Nama yang membuat banyak orang bergetar hanya dengan mendengarnya. Dari dunia bisnis, politik, sampai jaringan bawah tanah. Semuanya punya hutang budi, atau justru dendam pada keluarga itu. Arya Dominic memijit pelipisnya yang tiba-tiba pusing. Baru kali ini dia banyak menahan emosi. Antara kesal karena tingkah gadis itu, marah karena merasa dipermainkan oleh gadis itu, kemudian lega dengan hasil yang sejak awal dia duga itu. Tapi dari semua yang terjadi hari ini, dia bingung antara harus sedih atau terharu! "Ternyata benar… gadis itu darah dagingku." Kalimat itu terus berputar dikepala Arya Dominic, seperti gema yang sulit padam. Pintu besar pintu utama tiba-tiba berderit terbuka. Seorang pria muda masuk dengan langkah tegap dan aura yang menekan udara di sekitarnya. Dibalut kemeja hitam dan mantel panjang, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Mata tajamnya menyorot seolah bisa menembus siapa pun yang berani menatap balik. Alestair Dominic. Anak tertua keluarga itu. Sebelas dua belas menakutkannya dengan sang ayah, hanya saja jauh lebih dingin. Lebih tak terduga. “Sudah keluar hasilnya?” tanyanya datar, langsung duduk di hadapan ayahnya tanpa melepas pandangan sedikit pun. Tanpa basa-basi sama sekali. Arya hanya mengangguk pelan, menatap putranya dengan mata yang tampak letih namun tegas. “Sudah.” “Dan?” Arya tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia menatap ke lantai dua. Tempat dimana kamar Keysha sekarang berada. "Menurutmu, jika tebakan kita dari awal tidak meleset, kita harus bertindak seperti apa ke depannya?" bukannya menjawab, Arya justru balik bertanya. Alestair menatap ayahnya lama. Tatapan tajamnya tak berubah, tapi ujung bibirnya sedikit bergerak—bukan senyum, lebih seperti gerakan refleks yang nyaris tak terlihat. “Kalau tebakanku benar,” suara Alestair rendah, dalam, dan datar. “Maka gadis itu adalah ancaman sekaligus tanggung jawab.” Arya mengangkat pandangan, menatap balik mata dingin putranya itu. “Kau menganggap semua hal sebagai ancaman, Alestair.” “Karena memang begitu kenyataannya.” Alestair menyandarkan tubuh ke sofa. “Kau tau siapa yang menargetkan keluarga ini akhir-akhir ini. Kalau seseorang tau gadis itu memiliki darah Dominic… dia bisa jadi umpan, atau… alasan keluarga ini hancur, lagi?” Arya menghela napas pelan. “Kau tidak berubah.” “Dan kau masih terlalu mudah iba,” balas Alestair cepat. “Lihatlah sekelilingmu, Ayah. Setiap kelembutan bisa jadi peluru yang menembak balik.” Arya berdiri, melangkah pelan ke arah jendela besar di balik ruangan itu. Hujan baru saja mulai turun, menciptakan bunyi gemericik di kaca yang entah kenapa justru membuat suasana semakin mencekam. Dia terdiam lama sebelum akhirnya berkata lirih, “Dia bukan hanya memiliki darah Dominic. Dia… Adikmu juga." Mata Alestair menyipit sedikit. Nama yang selama ini tidak pernah disebut kembali melintas di benaknya. > Sintiya. Nama yang dulu membawa badai dalam keluarga mereka. “Dia tidak tau apa-apa dan sekarang pasti dia bingung,” lanjut Arya pelan. “Gadis itu hidup dalam kebingungan, tanpa tau siapa dirinya. Dunia ini sudah terlalu kejam untuknya.” Alestair akhirnya tertawa, "Meski aku enggan mengakui. Tapi seperti perkataanmu, dia adalah Adikku. Kedepannya aku harus mengawasinya kan?" Arya menoleh pelan, menatap putranya dalam-dalam. “Dengan caramu yang dingin itu?” “Dengan caraku yang efektif,” balas Alestair tanpa ragu. “Kau bisa menyebutku kejam, tapi aku tidak akan membiarkan darah Dominic yang baru ditemukan… mati sia-sia. Benar bukan?” Keduanya saling berpandangan lama. Ketegangan di udara seolah bisa diiris dengan pisau. Hening. Sampai akhirnya Arya berkata pelan, “Jangan terlalu membenci Ibumu. Dia pergi meninggalkan keluarga ini, juga ada alasannya." Alestair terdiam. Kalimat terakhir ayahnya menggantung di udara, seperti racun yang perlahan menembus pikirannya. Ibunya. Nama yang bahkan sudah ia kubur dalam-dalam bersama sisa empatinya yang terakhir. “Alasan?” ucap Alestair lirih, hampir seperti gumaman. Ia menunduk sedikit, menatap jarinya yang bergetar samar, sebelum matanya kembali menajam. “Tidak ada alasan yang cukup untuk meninggalkan keluarga ini begitu saja, Ayah.” Arya membalikkan badan, menatap anak sulungnya itu. Tatapan yang dulu penuh kebanggaan, kini hanya menyisakan lelah dan sesal. “Dia pergi untuk melindungi kalian, bukan karena menyerah.” Alestair tersenyum tipis, dingin. “Melindungi?”Dia berdiri perlahan, langkah kakinya berat tapi mantap. “Kalau itu bentuk perlindungan, maka dia berhasil dengan sempurna—karena sejak saat itu, tidak ada yang tersisa untuk dilindungi.” Suara hujan di luar semakin deras. Kilatan petir memantul di kaca besar di belakang Arya, menyorot wajah Alestair yang kini tampak seperti bayangan tanpa cahaya. Arya menatapnya lama. “Alestair, jangan biarkan kebencian membuatmu lupa siapa dirimu.” “Justru kebencian itulah yang membuatku bertahan selama ini,” jawabnya datar. “Ketika Ibu pergi, kau sibuk dengan urusan bisnis yang hampir runtuh dan kedua adikku—mereka menangis setiap malam. Aku yang harus menenangkan mereka. Aku yang harus memastikan pondasi rumah ini tidak ikut hancur.” Suara Alestair perlahan meninggi, tapi tetap tenang. Terlalu tenang—jenis ketenangan yang justru paling menakutkan. “Aku melihat mereka tumbuh lemah. Terlalu lembut. Terlalu mudah percaya pada kasih sayang, pada kebaikan, pada dunia luar.” mata Alestair menatap lurus ke arah ayahnya, seolah ingin menusuk ke dalam hati pria itu. “Dan sekarang, satu lagi muncul—anak dari wanita yang pergi itu. Seorang gadis polos yang bahkan tidak tau siapa dirinya dan dengan siapa dia berurusan.” Arya mengeraskan rahangnya. “Keysha tidak seburuk yang kau pikirkan.” Alestair tertawa kecil. Tawa yang terdengar pahit dan nyaris tak berjiwa. “Kau tidak tau seburuk apa dunia di luar sana, Ayah. Tapi aku tau. Aku tau karena aku yang membersihkan nama Dominic dari lumpur setiap kali orang lain mencoba menyeretnya ke bawah.” Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan ayahnya. Tatapannya tajam, tapi di baliknya ada sesuatu yang lebih gelap dari sekadar amarah—luka yang belum pernah sembuh. “Jadi, kalau kau ingin aku mengawasinya, aku akan lakukan. Tapi jangan harap aku memperlakukan gadis itu seperti adik. Karena di bawah nama Dominic, keluarga bukan tentang kasih sayang.” Alestair menunduk sedikit, berbisik dengan nada dingin, “Keluarga adalah tanggung jawab. Dan tanggung jawab… kadang menuntut darah.” Arya terpaku. Ia tau kata-kata Alestair bukan sekadar ancaman—itu prinsip hidup yang tumbuh dari luka masa lalu yang ia biarkan menganga terlalu lama. Langkah kaki Alestair menjauh, mantelnya bergoyang mengikuti setiap gerakan. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia berhenti sejenak di ambang pintu. “Kalau Ibu benar-benar pergi untuk melindungi…” kata Alestair tanpa menoleh, “…maka aku harap dia melihat hasilnya sekarang. Anak-anaknya tumbuh menjadi monster yang bahkan dia sendiri tak akan kenal.” Pintu tertutup pelan. Dan ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara hujan yang jatuh di luar. Arya memejamkan mata, bahunya turun pelan. “Seburuk apa pun kau sekarang, Alestair…” gumamnya lirih. “…kau tetap anakku.” *****Keysha baru berjalan beberapa langkah ketika akhirnya sadar... ini bukan pagi santai seperti yang ia bayangkan.Lapangan golf itu terlalu luas. Terlalu sunyi. Terlalu rapi untuk disebut sebagai tempat olahraga ringan. Hamparan rumput hijau membentang tanpa cacat, seolah tidak pernah disentuh kesalahan sedikit pun. Setiap langkah Keysha terasa kecil, nyaris tidak berarti, di tengah ruang terbuka yang terasa menekan.Udara pagi memang sejuk, tapi justru itulah yang membuatnya semakin tidak nyaman. Sunyi di tempat ini bukan sunyi yang menenangkan. Sunyi itu seperti tatapan. Diam, mengamati, dan menunggu.Ia melirik ke belakang.Alestair dan Adrian sudah bersiap, berdiri berhadapan dengan jarak aman yang justru terasa berbahaya. Dua pria itu tidak banyak bicara. Tidak ada basa-basi. Tidak ada tawa ringan yang biasanya muncul di pagi hari.Hanya fokus.Keysha menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Oke. Ini jelas bukan jogging.“Keysha.”Ia menoleh. Alestair berdiri teg
Keysha tau ada yang tidak beres sejak mobil melaju terlalu jauh dari komplek.Awalnya ia masih bersandar santai di kursi penumpang, rambutnya diikat asal, hoodie abu-abu menutupi tubuhnya yang masih setengah mengantuk. Tapi ketika jarum jam di dashboard menunjukkan hampir satu jam perjalanan, Keysha mulai menyipitkan mata.“Kita… mau ke mana?” tanyanya akhirnya.Alestair tetap fokus ke jalan. “Tempat yang enak buat olahraga.”“Aku bilang mau jalan santai,” Keysha menoleh tajam. “Mungkin cuma keliling komplek. Lima belas menit. Bukan—” ia melirik keluar jendela, “—entah ke mana ini.”“Sudah sampai,” jawab Alestair singkat. “Di sini lebih segar.”Mobil akhirnya berhenti di area parkir luas dengan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang. Matahari baru naik, embun masih menempel di rerumputan yang terpotong rapi.Keysha turun perlahan. Menatap sekeliling. Lalu menoleh ke Alestair dengan ekspresi tak percaya.“Kita pergi sejauh ini, hanya untuk ke tempat golf?”Alestair mengambil kunci
Keysha sebenarnya bukan tipe orang yang bangun pagi.Ia selalu percaya pagi terlalu sunyi untuk orang yang pikirannya terlalu ramai. Terlalu banyak ruang untuk merenung, terlalu sedikit gangguan untuk mengalihkan. Ditambah dia justru sering begadang hingga waktu menjelang pagi karena bekerja dan belajar, untuk bangun disekitaran jam enam pagi saja rasanya mustahil untuk Keysha capai. Tapi pengecualian ketika Keysha masuk ke dalam keluarga Dominic, banyak hal berubah tanpa ia sadari.Jam biologisnya ikut menyesuaikan.Ritme hidupnya bergeser.Dan pagi, yang dulu selalu tak bisa ia taklukan, perlahan menjadi kebiasaan.Kini Keysha terbangun saat langit masih berwarna abu-abu pucat. Jam di ponselnya menunjukkan angka yang nyaris tidak masuk akal untuk hari libur.05.00.Ia menatap layar itu lama. Lalu mematikan ponsel tanpa menyalakan alarm lagi."Gokil,” gumamnya pelan. "Ini mungkin catatan rekor terbaruku untuk bangun pagi."Biasanya dulu ia akan membalikkan badan, menarik selimut, da
ADRIAN NATHANIEL ANDERSON. Adrian Nathaniel Anderson berdiri dengan punggung lurus, tangan bersedekap di depan dada. Mantel hitamnya menyatu dengan gelap malam, nyaris tak membedakan tubuhnya dari bayangan pepohonan di sekeliling. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi berlebih. Tidak ada gestur yang sia-sia.Orang-orang yang mengenalnya tahu satu hal:Adrian bukan pria yang banyak bicara—tapi setiap katanya adalah perintah.“Jam?” tanyanya singkat.“00.47,” jawab Luke tanpa melihat jam lagi. “Masih sesuai jadwal.”Di hadapan mereka, area hutan itu telah disulap menjadi titik transaksi sementara. Lampu mobil dimatikan. Hanya senter kecil dan cahaya bulan yang terhalang awan yang memberi penerangan seadanya. Peti-peti besi dibuka satu per satu.Zayn berjongkok di dekat kontainer, membuka segel, mengecek isi dengan cepat dan teliti.“Model terbaru. Kaliber sesuai permintaan. Jumlah lengkap.”Adrian mengangguk sekali. “Rute keluar?”“Aman, Tuan. Untuk jalur barat,” jawab Zayn. “Tidak ada pe
Keysha menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihatnya.Lampu temaram menggantung diam. Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan yang konstan, terlalu stabil untuk menenangkan. Ia sudah berbaring cukup lama, namun tubuhnya tak juga menemukan posisi yang nyaman. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di bawah kulitnya—bukan sakit, bukan gelisah, hanya… tidak selesai.Ia menghela napas, lalu tertawa kecil.Pendek. Hambar. Seperti refleks.“Lucu,” gumamnya pelan, entah pada siapa.Padahal tidak ada yang lucu.Keysha menggeser tubuhnya, memiringkan badan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terlipat di pangkuan, rapi, seperti kebiasaan lama yang terbentuk bahkan ketika ia sendirian. Benar... Ia selalu rapi saat sendirian. Selalu terkendali. Kebiasaan itu terbentuk jauh sebelum ia kembali menemukan keluarganya—saat dunia hanya berisi dirinya sendiri, dan tidak ada ruang untuk berantakan meski dunia mengecamnya.Ia hidup sendiri terlalu lama untuk terbiasa bergantung pada o
Langkah Keysha baru saja kembali menyentuh lantai ballroom, ketika sebuah suara memanggil namanya dengan nada yang terlalu familiar dan terlalu panik. “Keysha!” Ia menoleh. Sebastian sudah berlari ke arahnya, jasnya sedikit terbuka, langkahnya tergesa hingga nyaris menabrak beberapa tamu yang sedang berbincang. Wajah pria itu jelas tidak tenang. Napasnya sedikit memburu ketika akhirnya berhenti tepat di hadapan Keysha, dadanya naik turun seolah baru saja menahan napas terlalu lama. “Kamu dari mana saja?” tanya Sebastian cepat. “Kamu bikin Kakak khawatir.” Keysha tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam, cukup lama. Terlalu lama untuk ukuran orang yang seharusnya hanya menjawab pertanyaan sederhana. Seolah kalimat itu perlu waktu untuk benar-benar sampai ke kesadarannya. Suara musik, tawa kecil para tamu, dan denting gelas di sekeliling mereka bahkan terasa menjauh, berubah menjadi dengung samar yang tidak lagi ia perhatikan. "Kenapa diam saja? Apakah ada yang jahat dengan ka







