Share

Bab 4

Author: Vaa_Morn
last update Last Updated: 2025-11-12 17:46:00

Suasana pagi di rumah Dominic tidak pernah benar-benar terasa seperti pagi.

Semuanya terlalu tenang, terlalu rapi, terlalu... teratur.

Jam di dinding baru menunjukkan pukul 06.05, tapi meja makan sudah penuh hidangan. ada roti panggang, omelet, kopi hitam, sampai buah yang tersusun nyaris simetris di piring perak.

Keysha berdiri di ambang pintu, mengucek mata berkali-kali, hingga akhirnya menguap lebar seperti tak ada dosa.

"Terlalu lambat." komentar Alestair Dominic tiba-tiba.

Keysha akhirnya membuka matanya lebar-lebar. Meski merasa tersinggung, tapi melihat wajah dingin dari seluruh orang yang sudah duduk di meja makan, membuatnya matanya terbuka lebar-lebar.

Perlahan Keysha menemukan letak jam dan kemudian mendesis, "Emang ada... sarapan jam enam pagi?"

Beberapa pelayan di sekitar meja menunduk cepat, seolah takut menertawakan komentar itu.

Dan di ujung meja, Alestair Dominic sudah duduk tegak, kemeja hitamnya rapi tanpa satu lipatan pun. Tatapannya sudah tidak sedingin sebelumnya, tapi dia terlalu rapi untuk ukuran Keysha yang baru bangun.

“Di rumah ini, semua dimulai tepat waktu, Keysha.” respon Arya Dominic.

Tepat waktu? Jam enam pagi? Keysha menatap jam dinding lagi, memastikan jarumnya tidak rusak.

Lalu dengan wajah polos tapi sangat tulus, Keysha bertanya pelan, “Om… bukannya jam segini tuh... waktu orang baru bangun terus rebahan lima menit lagi, ya?”

Seketika ruang makan yang hening berubah jadi sunyi, bahkan detak jam pun terdengar seperti ingin berhenti.

Beberapa pelayan terlihat menahan napas, sementara Alestair menatapnya dengan ekspresi datar, tapi urat di pelipisnya jelas tidak suka.

“Rebahan?” ulang Alestair pelan, nadanya nyaris tak percaya. “Apa… itu bagian dari rutinitas produktifmu?”

Keysha langsung mengangguk polos, “Memang kenapa? Katanya sebelum menghadapi dunia yang kejam, kita butuh kesiapan mental dulu.”

Alestair bersedekap dada dan menyandarkan tubuhnya di kursi, "Apa hubungannya rebahan dengan kesiapan mental?"

Keysha memiringkan kepala, menatap Alestair dengan ekspresi serius seolah ia baru saja menanyakan sesuatu yang sangat bodoh.

“Ya jelas ada hubungannya dong,” jawab Keysha dengan nada yakin. “Kalau otak masih setengah tidur terus langsung disuruh mikir... nanti hasilnya setengah beres. Rebahan tuh... semacam pemanasan jiwa.”

Arya hampir tersedak kopinya sendiri, sementara salah satu pelayan buru-buru menutup mulut agar tidak tertawa.

Sedangkan Alestair hanya memandangi Keysha dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi nadanya mulai terdengar seperti seseorang yang kehilangan kesabaran secara perlahan.

“Pemanasan… jiwa?” ulang Alestair datar. “Kau pikir hidup ini yoga?”

Keysha mengerjap pelan, namun kemudian bertepuk tangan seolah mendapatkan ide langka. “Kalau dipikir-pikir, iya juga ya. Hidup tuh kayak yoga, Om. Kadang harus seimbang, kadang harus lentur, kadang juga... tersesat di posisi yang salah.”

"Saya bukan Om kamu." tandas Alestair akhirnya.

Tapi Alestair belum sempat menarik napas karena emosi, Keysha sudah mengerutkan alis dan menatapnya dengan wajah penuh kebingungan.

“Bukan Om ya?” ulang Keysha pelan, seolah baru saja mendengar kabar yang mengguncang dunia. “Terus... Bapak?”

Suara kursi bergeser pelan. Alestair hampir maju untuk memberi pelajaran, jika tidak ditahan salah satu Adiknya.

Alestair menatap Keysha dengan pandangan tajam, tapi Keysha sudah keburu mengangkat tangan, buru-buru melanjutkan,

“Oke, bukan Bapak ya?" Keysha jadi bingung sendiri, "Hmm... Mas?”

Beberapa pelayan kembali menunduk, kali ini sambil menggigit bibir supaya tidak tertawa. Arya yang duduk di ujung meja mulai mengusap pelipisnya pelan, tanda bahwa ini akan menjadi pagi yang panjang.

Alestair menghela napas dalam-dalam, “Cukup, Keysha.”

Tapi bukannya berhenti, Keysha justru menatapnya lebih lama, mencoba menebak-nebak. “Kalau bukan Om, bukan Bapak, bukan Mas... jangan-jangan... Abang?”

“Keysha,” tegur Arya berusaha lembut agar tidak terlalu menakutkan, tapi nyatanya suaranya tetap terlihat tegas seperti biasa.

Keysha menoleh, tersenyum canggung. “Aku cuma nyari panggilan yang pas kok, Om—eh, maksudku... Pak... Eh—Tuan?”

"Dia Ayahmu." potong Alestair.

"Oh?" hanya itu yang Keysha bisa katakan.

Dia sudah tau jika kemungkinan Arya Dominic Ayahnya. Tapi tetap saja dia canggung, apalagi memanggil Ayah secara tiba-tiba itu terasa sangat aneh dilidahnya.

Alestair akhirnya memejamkan mata, menahan diri. “Kau bisa panggil aku Alestair.”

“Oh?” itu lebih mirip tanda tanya yang keluar dari mulut Keysha.

Salah satu dari Adik Alestair hendak membuka suaranya, tapi sudah lebih dulu disela oleh Keysha.

"Tapi masa iya aku panggil nama doang?" kata Keysha selanjutnya, "Nggak sopan kan? Nanti dikira aku nggak punya tata krama lagi. Jadi... gimana kalau ‘Pak Alestair’? Atau ‘Om Bos’? Eh, atau ‘Kapten’? Soalnya auranya agak mirip pemimpin pasukan di film perang gitu.”

Arya nyaris tersedak kopinya lagi. Kali ini pelayan di sebelah kanan benar-benar mengeluarkan suara cekikikan kecil sebelum buru-buru berpura-pura batuk.

Tatapan Alestair perlahan beralih pada adiknya itu. Dengan tatapan dingin yang bisa membuat bunga layu tanpa disentuh.

Namun Keysha tampaknya belum selesai. Ia bersedekap sambil menatap ke langit-langit, seolah sedang benar-benar memikirkan teori hidup.

“Sebenernya panggilan itu penting loh,” lanjut Keysha dengan nada serius. “Kalau misalnya tukang bangunan ya dipanggil Pak Tukang, tukang gali kuburan dipanggil Pak Gali—eh, enggak ding, itu serem banget ya—terus kalau guru dipanggil Bu, dokter dipanggil Dok, berarti kalau orang segenting ini,” Keysha menunjuk Alestair dengan ragu, “dipanggilnya apa ya? Pak Tegas? Pak Serius? Pak... Dingin?”

Kali ini Arya benar-benar tidak kuat lagi. Ia berdehem keras, mencoba memotong kekacauan itu sebelum Alestair benar-benar kehilangan kesabaran.

Karena dari semua anaknya, hanya Alestair yang tidak kenal ampun. Bisa saja, dia melakukan hal yang tidak-tidak kepada Keysha.

“Keysha,” kata Arya, suaranya tenang tapi penuh peringatan. “Sebelum kau membuat pagi ini jadi lebih panjang dari yang seharusnya, sebaiknya kuperkenalkan dulu orang-orang di rumah ini.”

Arya berdiri perlahan dari kursinya, membetulkan posisi jasnya dengan elegan. Suaranya tetap tenang, tapi ada tekanan halus di dalamnya. Seolah sedang berusaha menjaga rumah ini dari kehancuran akibat satu makhluk bernama Keysha.

“Keysha,” katanya sambil tersenyum tipis, “biar aku bantu kau menyesuaikan diri... sebelum Kakakmu di ujung meja itu kehilangan kendali sepenuhnya.”

Keysha otomatis melirik ke arah Alestair. Pria itu kini sudah duduk tegak, wajahnya kaku seperti patung marmer, tangan bersedekap di dada, dan tatapannya cukup tajam untuk memotong baja.

Keysha tersenyum kikuk. “Hehe... iya deh, Om—eh, Pak... Eh...?”

Arya menatapnya sebentar, lalu menghela napas pasrah. “Aku maklumi. Mungkin kau belum bisa memanggilku Ayah.”

Lalu ia menoleh ke arah dua sosok yang duduk di sisi kiri meja.

“Yang di sana,” Arya menunjuk pria berambut hitam legam dengan jas abu-abu gelap, “itu Sebastian Dominic. Kakak ketigamu.”

Keysha menyipit. Sebastian ini adalah laki-laki yang banyak bicara kemarin. Dia terlihat dingin, tapi tidak sedingin yang lain. Sepertiny dari empat pria dingin itu, Sebastian adalah orang yang mudah diajak bicara.

Sebastian melambaikan tangannya dan tersenyum singkat. Tapi bagi Keysha, wajahnya tetap datar seolah tidak ada perubahan.

“Hai,” katanya singkat.

Keysha tiba-tiba membalas dengan canggung, "Hai."

Satu detik hening. Dua detik. Tiga—

Arya menepuk pelan meja. “Keysha. Yang disebelahnya Damian Dominic. Dia Kakak keduamu."

Keysha mengangguk-angguk, lalu matanya langsung menatap ke arah Alestair dan menunjuknya dengan sedikit ragu, "Kalau mereka Kakak pertama dan kedua, jadi dia bukan Om-om?"

Damian, pria berambut agak panjang dengan kacamata tipis di hidungnya, memalingkan wajah pelan, seolah sedang berusaha keras untuk tidak tertawa.

Aura tenangnya kontras dengan Alestair yang kini sudah seperti bom waktu dengan sumbu terbakar. BagiDamian, ini adalah hal langka. Alestair tidak pernah seemosi ini, apalagi terlalu banyak bicara.

"Dia Kakak pertamamu." jawab Arya pada akhirnya.

Ruangan yang tadinya hanya berisi aroma kopi dan omelet mendadak terasa seperti medan perang psikologis.

Keysha menatap Alestair lama-lama, ekspresinya campuran antara bingung, syok, dan sedikit... geli?

“Jadi… dia beneran bukan Om-om?” ulang Keysha sekali lagi, memastikan pendengarannya tidak salah. “Tapi Kakak pertamaku?”

Alestair memutar sendoknya perlahan di atas piring, gerakannya sangat pelan… terlalu pelan, seperti seseorang yang sedang berusaha menahan diri agar tidak melempar piring itu ke dinding.

Tatapan Alestair tajam, menusuk langsung ke arah Keysha. “Apakah aku terlihat tua sampai-sampai kau memanggilku Om?”

Keysha buru-buru menggeleng.

“Bukan karena tua kok!” kata Keysha cepat. “Lebih ke… aura!”

“...Aura?” ulang Alestair dengan nada nyaris tak percaya.

Keysha mengangguk mantap.

“Iya, aura ketegasan, aura kedewasaan, aura yang bikin orang pengin berdiri tegak dan minta izin buat napas dulu.” Keysha menatap Alestair dari ujung rambut ke ujung kaki. “Kalau Kak Alestair lewat, burung aja bisa berhenti berkicau, Om—eh, Kak!”

Sebastian menunduk cepat, bahunya berguncang, baru pertama kali dikeluarga ini bisa seabsurd ini. Damian langsung menutup mulut dengan cangkir kopi, tapi matanya jelas sedang menahan hal lain.

Arya sendiri hanya bisa menatap langit-langit, berdoa dalam hati agar pagi ini cepat berlalu.

Alestair mendengus pelan. “Kau... benar-benar...”

Alestair tak melanjutkan kalimatnya, hanya menatap Keysha seolah sedang menilai apakah makhluk di depannya ini sungguh manusia atau eksperimen gagal hasil laboratorium Dominic.

Tapi Keysha tampaknya tidak peka sama sekali.

Ia malah menarik kursi dan duduk di meja makan dengan santai, menguap kecil, lalu berkata tanpa dosa, “Tapi serius deh, sarapan jam enam pagi tuh kayak ujian nasional tanpa kisi-kisi. Aku aja belum sempet sadar penuh.”

Pelayan di pojok ruangan buru-buru menunduk lagi. Damian menutup wajahnya, sementara Sebastian akhirnya batuk keras, padahal jelas-jelas itu bukan batuk.

Arya menyandarkan diri di kursi, berusaha tenang. “Keysha, di rumah ini semua diatur. Disiplin adalah prinsip keluarga Dominic.”

Keysha mengangguk pelan, tapi lalu mengangkat tangan seperti murid di sekolah.

“Boleh nanya nggak, Om—eh, Pak Arya?”

Arya mengangguk, agak waspada. “Tentu.”

“Kalau disiplin itu penting…” Keysha menatap meja, lalu menunjuk piring berisi buah yang tersusun terlalu rapi, “...kenapa apelnya harus ikut sejajar kayak pasukan baris-berbaris? Apel juga butuh kebebasan dan bahagia loh.”

Sebastian terbatuk lagi. Damian memalingkan wajah, sedangkan lestair menatap Keysha lama-lama, kemudian berkata datar.

“Apel tidak butuh kebebasan. Mereka buah, bukan karyawan.” potong Alestair.

Keysha mengangguk-angguk, berpura-pura paham. “Oh, iya. Tapi kan kalau buahnya bahagia, vitaminnya bisa lebih maksimal.”

“Keysha,” kata Alestair, nadanya mulai bergetar halus antara sabar dan frustrasi, “buah tidak punya emosi.”

Keysha membuka mulut, ingin membantah. Tapi Damian langsung bersuara sebelum suasana benar-benar pecah.

“Sudah, sudah,” kata Damian akhirnya membuka. “Keysha itu... unik. Biarkan dia memiliki kebebasan dalam berekspresi.”

“Unik?” Alestair menatap Damian dengan tatapan tajam. “Aku menyebutnya bencana alam bersuara.”

Diam-diam, seluruh pekerja yang berdiri di sana tersenyum tipis. Sepertinya kesuraman keluarga Dominic, perlahan-lahan mulai mencair.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Mafia Tampan   Bab 21

    Keysha baru berjalan beberapa langkah ketika akhirnya sadar... ini bukan pagi santai seperti yang ia bayangkan.Lapangan golf itu terlalu luas. Terlalu sunyi. Terlalu rapi untuk disebut sebagai tempat olahraga ringan. Hamparan rumput hijau membentang tanpa cacat, seolah tidak pernah disentuh kesalahan sedikit pun. Setiap langkah Keysha terasa kecil, nyaris tidak berarti, di tengah ruang terbuka yang terasa menekan.Udara pagi memang sejuk, tapi justru itulah yang membuatnya semakin tidak nyaman. Sunyi di tempat ini bukan sunyi yang menenangkan. Sunyi itu seperti tatapan. Diam, mengamati, dan menunggu.Ia melirik ke belakang.Alestair dan Adrian sudah bersiap, berdiri berhadapan dengan jarak aman yang justru terasa berbahaya. Dua pria itu tidak banyak bicara. Tidak ada basa-basi. Tidak ada tawa ringan yang biasanya muncul di pagi hari.Hanya fokus.Keysha menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Oke. Ini jelas bukan jogging.“Keysha.”Ia menoleh. Alestair berdiri teg

  • Jerat Mafia Tampan   Bab 20

    Keysha tau ada yang tidak beres sejak mobil melaju terlalu jauh dari komplek.Awalnya ia masih bersandar santai di kursi penumpang, rambutnya diikat asal, hoodie abu-abu menutupi tubuhnya yang masih setengah mengantuk. Tapi ketika jarum jam di dashboard menunjukkan hampir satu jam perjalanan, Keysha mulai menyipitkan mata.“Kita… mau ke mana?” tanyanya akhirnya.Alestair tetap fokus ke jalan. “Tempat yang enak buat olahraga.”“Aku bilang mau jalan santai,” Keysha menoleh tajam. “Mungkin cuma keliling komplek. Lima belas menit. Bukan—” ia melirik keluar jendela, “—entah ke mana ini.”“Sudah sampai,” jawab Alestair singkat. “Di sini lebih segar.”Mobil akhirnya berhenti di area parkir luas dengan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang. Matahari baru naik, embun masih menempel di rerumputan yang terpotong rapi.Keysha turun perlahan. Menatap sekeliling. Lalu menoleh ke Alestair dengan ekspresi tak percaya.“Kita pergi sejauh ini, hanya untuk ke tempat golf?”Alestair mengambil kunci

  • Jerat Mafia Tampan   Bab 19

    Keysha sebenarnya bukan tipe orang yang bangun pagi.Ia selalu percaya pagi terlalu sunyi untuk orang yang pikirannya terlalu ramai. Terlalu banyak ruang untuk merenung, terlalu sedikit gangguan untuk mengalihkan. Ditambah dia justru sering begadang hingga waktu menjelang pagi karena bekerja dan belajar, untuk bangun disekitaran jam enam pagi saja rasanya mustahil untuk Keysha capai. Tapi pengecualian ketika Keysha masuk ke dalam keluarga Dominic, banyak hal berubah tanpa ia sadari.Jam biologisnya ikut menyesuaikan.Ritme hidupnya bergeser.Dan pagi, yang dulu selalu tak bisa ia taklukan, perlahan menjadi kebiasaan.Kini Keysha terbangun saat langit masih berwarna abu-abu pucat. Jam di ponselnya menunjukkan angka yang nyaris tidak masuk akal untuk hari libur.05.00.Ia menatap layar itu lama. Lalu mematikan ponsel tanpa menyalakan alarm lagi."Gokil,” gumamnya pelan. "Ini mungkin catatan rekor terbaruku untuk bangun pagi."Biasanya dulu ia akan membalikkan badan, menarik selimut, da

  • Jerat Mafia Tampan   Bab 18

    ADRIAN NATHANIEL ANDERSON. Adrian Nathaniel Anderson berdiri dengan punggung lurus, tangan bersedekap di depan dada. Mantel hitamnya menyatu dengan gelap malam, nyaris tak membedakan tubuhnya dari bayangan pepohonan di sekeliling. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi berlebih. Tidak ada gestur yang sia-sia.Orang-orang yang mengenalnya tahu satu hal:Adrian bukan pria yang banyak bicara—tapi setiap katanya adalah perintah.“Jam?” tanyanya singkat.“00.47,” jawab Luke tanpa melihat jam lagi. “Masih sesuai jadwal.”Di hadapan mereka, area hutan itu telah disulap menjadi titik transaksi sementara. Lampu mobil dimatikan. Hanya senter kecil dan cahaya bulan yang terhalang awan yang memberi penerangan seadanya. Peti-peti besi dibuka satu per satu.Zayn berjongkok di dekat kontainer, membuka segel, mengecek isi dengan cepat dan teliti.“Model terbaru. Kaliber sesuai permintaan. Jumlah lengkap.”Adrian mengangguk sekali. “Rute keluar?”“Aman, Tuan. Untuk jalur barat,” jawab Zayn. “Tidak ada pe

  • Jerat Mafia Tampan   Bab 17

    Keysha menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihatnya.Lampu temaram menggantung diam. Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan yang konstan, terlalu stabil untuk menenangkan. Ia sudah berbaring cukup lama, namun tubuhnya tak juga menemukan posisi yang nyaman. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di bawah kulitnya—bukan sakit, bukan gelisah, hanya… tidak selesai.Ia menghela napas, lalu tertawa kecil.Pendek. Hambar. Seperti refleks.“Lucu,” gumamnya pelan, entah pada siapa.Padahal tidak ada yang lucu.Keysha menggeser tubuhnya, memiringkan badan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terlipat di pangkuan, rapi, seperti kebiasaan lama yang terbentuk bahkan ketika ia sendirian. Benar... Ia selalu rapi saat sendirian. Selalu terkendali. Kebiasaan itu terbentuk jauh sebelum ia kembali menemukan keluarganya—saat dunia hanya berisi dirinya sendiri, dan tidak ada ruang untuk berantakan meski dunia mengecamnya.Ia hidup sendiri terlalu lama untuk terbiasa bergantung pada o

  • Jerat Mafia Tampan   Bab 16

    Langkah Keysha baru saja kembali menyentuh lantai ballroom, ketika sebuah suara memanggil namanya dengan nada yang terlalu familiar dan terlalu panik. “Keysha!” Ia menoleh. Sebastian sudah berlari ke arahnya, jasnya sedikit terbuka, langkahnya tergesa hingga nyaris menabrak beberapa tamu yang sedang berbincang. Wajah pria itu jelas tidak tenang. Napasnya sedikit memburu ketika akhirnya berhenti tepat di hadapan Keysha, dadanya naik turun seolah baru saja menahan napas terlalu lama. “Kamu dari mana saja?” tanya Sebastian cepat. “Kamu bikin Kakak khawatir.” Keysha tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam, cukup lama. Terlalu lama untuk ukuran orang yang seharusnya hanya menjawab pertanyaan sederhana. Seolah kalimat itu perlu waktu untuk benar-benar sampai ke kesadarannya. Suara musik, tawa kecil para tamu, dan denting gelas di sekeliling mereka bahkan terasa menjauh, berubah menjadi dengung samar yang tidak lagi ia perhatikan. "Kenapa diam saja? Apakah ada yang jahat dengan ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status