Se connecterUntuk kali ini, meja makan akhirnya tenang. Setidaknya… secara visual untuk sementara.
Tidak ada yang bersuara ketika makan, termasuk Keyra yang fokus dengan makanannya. Meski mual karena tidak terbiasa sarapan pagi, dia tetap menghabiskan makanan yang disajikan di piringnya. Kini, hanya terdengar suara sendok diletakkan pelan di piring. Arya membersihkan tangannya dengan serbet, lalu menatap ke arah Keysha. Dia berusaha untuk tersenyum, tapi tetap saja tajam di waktu yang sama. “Keysha,” kata Arya tenang, “kau tidak pergi sekolah hari ini?” Keysha yang baru saja meneguk jus jeruk langsung terbatuk kecil. “Sekolah?” Alestair melirik jam tangannya. “Sekarang pukul tujuh lewat sepuluh.” nada suaranya seperti guru killer yang sudah mencatat siapa saja yang datang terlambat. “Biasanya jam segitu, murid sepertimu sudah duduk di kelas.” "Oh ya?" Keysha menaikkan alisnya, nada suaranya terdengar polos. Mungkin terlalu polos untuk seseorang yang baru saja ketahuan tidak sekolah. Damian, yang sejak tadi diam sambil mengaduk kopinya yang sudah dingin, akhirnya bersuara. “Sekarang hari Senin,” kata Damian menambahkan. “Kau tidak sedang dalam masa libur, bukan? Atau jangan bilang… kau sudah putus sekolah dan memilih untuk bekerja demi menghidupi diri sendiri?” Kalimat itu langsung membuat udara di ruang makan berubah. Arya menoleh pelan ke arah Keysha, ekspresinya seperti seseorang yang baru saja menyadari sesuatu yang sangat penting. “Putus sekolah?” ulang Arya pelan, suaranya mengandung nada tak percaya.Tatapannya meredup, bahkan sedikit menyesal di sana. “Benarkah begitu? Kau tidak melanjutkan sekolahmu?” Keysha melongo. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan ditenggorokannya. “Sebenarnya...” “Keysha,” potong Arya cepat, “jika memang begitu… kau tidak perlu khawatir. Kalau kau ingin sekolah lagi, aku bisa mengatur semuanya. Kau tidak perlu malu dengan umurmu. Lagipula umurmu masih 18 tahun kan?” Keysha langsung menatapnya, mata bulatnya berbinar bingung didetik itu juga. "Sebenarnya..." “Bahkan jika kau tidak nyaman bersekolah di tempat umum, aku bisa mengatur pendidikan khusus di rumah. Kita bisa panggil guru pribadi untukmu.” potong Arya lagi. Keysha menggaruk rambutnya yang tak gatal. “Maksudnya...” Keysha sedikit linglung, “Home schooling? Tapi...” Sebastian menyela, "Tidak usah tapi-tapi. Menurut orang-orang yang kemarin membawamu ke sini, kamu setiap hari berada di Universitas. Apakah di Horizon University, kamu bekerja sebagai tukang sapu untuk menambah biaya hidup juga?" Keysha mendelik, matanya membulat seolah Sebastian baru saja menusuk hatinya dengan kalimat itu. “Apakah orang yang tidak punya uang tidak boleh ke universitas ya?” jawab Keysha menekan dadanya seolah menahan sakit hati. Sebastian menatap Keysha sebentar, sedikit tersentak. “Maksudku... Di sana, kebanyakan mahasiswa memang dari kalangan konglomerat atau penerima beasiswa dengan prestasi luar biasa.” “Prestasi luar biasa?” Keysha menyipit, menahan napas. “Jadi aku ini beneran otomatis dikategorikan sebagai… tukang sapu atau apa?” "Tidak sembarangan orang bisa mendapat akses masuk, jika bukan seorang pekerja atau mahasiswa dan tidak memiliki urusan di dalam universitas. Aku adalah alumninya satu tahun yang lalu." "Sebentar-sebentar..." Keysha meski tidak baper, dia harus meluruskan harga dirinya, "Kamu benar-benar menganggapku sebagai tukang sapu di Universitas?" Sebastian mengangkat bahu, wajahnya tetap datar tapi matanya menyiratkan sedikit rasa bersalah. “Aku hanya… menyingkap fakta. Katanya kau sering terlihat membawa sapu, membersihkan kampus. Dari sudut pandang orang luar, pasti orang akan berpikiran kau bekerja di sana kan?” Keysha akhirnya mengangguk paham. Dipikiran mereka jelas menyimpulkan, kalau Keysha ini bukan mahasiswa. Apakah karena wajahnya masih terlihat seperti anak SMA? “Baiklah… aku mengerti,” kata Keysha pasrah, “Mungkin dari sudut pandang kalian, aku terlihat seperti tukang sapu. Tapi ngomong-ngomong… Selama jadi mahasiswa di Horizon, apakah kamu nggak pernah dihukum? Nggak pernah membersihkan koridor kampus karena terlambat?” Sebastian mengernyit, sedikit terganggu oleh nada bicara Keysha. “Untuk apa terlambat?” jawabnya singkat, nada suaranya kaku. “Hidup harus selalu tepat waktu. Semua hal harus sesuai jadwal.” Keysha berdehem. “Benar juga ya… kalian saja makan jam enam pagi, jadi wajar kalau menganggap keterlambatan itu… seperti dosa besar.” Arya menatap Keysha dengan serius, nadanya menahan penasaran. “Tunggu sebentar… apakah benar kau menjadi tukang sapu di universitas bergengsi itu?” Keysha melongo. Apakah perkataannya masih belum jelas juga dia siapa? Keysha akhirnya menggebrak meja, dan membuat beberapa pelayan yang berlalu lalang menghela napas. “Aku… mahasiswanya!” seru Keysha lantang. “Aku selalu terlambat beberapa menit, dan itu membuatku dihukum membersihkan koridor. Itu… bagian dari hukuman, bukan pekerjaan tetap!” Alestair mendesis, "Kebiasaan, tidak sopan." Keysha menatap Alestair sengit. Kedepannya, dia akan memusuhi Alestair. Laki-laki tua itu terlalu menyebalkan. Sebastian mengernyit, matanya menatap Keysha serius. “Serius… kau mahasiswa? Padahal wajahmu terlihat seperti anak-anak.” Keysha menatap balik, tak mau kalah. “Kenapa? Ada yang salah? Aku bahkan sudah menjadi mahasiswa satu tahun yang lalu.” Sebastian mengangkat alisnya, tak percaya. “Satu tahun yang lalu? Aku tidak pernah melihatmu di kampus.” Keysha tersenyum, tapi sedikit sinis. “Memang dari ribuan mahasiswa, kita harus bertemu gitu?” Arya Dominic yang sejak tadi menatap dari sisi meja, langsung mengusap wajahnya kasar, setengah frustasi, setengah heran. Kenapa ketiga anaknya yang keras seperti es batu itu, tiba-tiba semakin banyak bicara? Arya akhirnya menatap Keysha serius, menahan campuran penasaran dan bingung. “Kalau begitu… Apakah kamu berkuliah di sana lewat jalur beasiswa?” Mendadak Keysha menyandarkan tubuhnya di kursi, bersedekap dada, dan menyunggingkan senyum tengil. “Aku jenius.” Alestair, yang tak mau ketinggalan berkomentar, mendengus. “Tidak mungkin kau jenius. Memang kau jadi mahasiswa jurusan apa?” Keysha menatap tegas. “Kedokteran.” Damian, yang dari tadi menyesap kopinya, tiba-tiba menyemburkan sedikit kopi ke udara. Ini tidak mencerminkan sosok Damian, tapi dia kaget dengan apa yang dikatakan Keysha. “Serius? Kedokteran?” tanya Damian tiba-tiba. Keysha menatapnya, sedikit terkejut tapi tetap santai. “Memang kenapa? Ada yang salah?” "Tidak yakin," Damian menatapnya tajam, masih mengingat perbuatan Keysha yang terlambat. “Dengan kelakuanmu yang sering terlambat, itu tidak menggambarkan mahasiswa kedokteran.” Keysha menghela napas panjang, jengah. “Karena aku terlalu lelah. Setelah kuliah, aku bekerja sampai jam sepuluh malam." kata Keysha menjelaskan, "Itu pun aku tidak langsung tidur. Jam sebelas malam aku akan belajar sampai jam satu. Jadi, wajar kalau kadang terlambat sedikit.” Damian mengernyit, tak puas. “Tapi kemarin… Kenapa jadwal bekerjamu pagi?” Keysha mengangguk. “Iya, untuk akhir pekan. Jadwalku memang pagi dan seharian.” Damian menatapnya lagi, ragu. “Aku tetap tak percaya… kau mahasiswa kedokteran di sana.” Keysha melotot, matanya menegaskan kekesalan. Ternyata Damian tidak kalah menyebalkan dengan Alestair. Sebastian akhirnya nimbrung, suaranya tenang tapi tegas. “Kau tau, Keysha… Dia seperti ini, karena dia ditolak tiga kali di Kedokteran sana meski dengan kecerdasan dan ketekunanya. Makanya dia sulit percaya begitu saja. Mimpinya menjadi Dokter terpendam begitu saja.” Damian menghela napas panjang, mendadak setengah frustrasi. “Cukup memalukan… menerima fakta itu kembali.” Damian langsung menatap Keysha dengan tatapan penasaran dan ingin memastikan kebenaran yang baru saja dia dengar. “Kalau begitu…” Damian mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyorot Keysha dengan tajam. “Mari kita tes sedikit. Ilmu kedokteranmu. Kita lihat seberapa dalam pemahamanmu.” Keysha mengangkat alisnya, sedikit terkejut tapi segera menahan senyum. “Apakah aku sedang diuji?” Damian tersenyum tipis, hampir mengejek. “Barangkali kamu hanya mengaku-ngaku.Kita mulai dari hal dasar—anatomi manusia. Bisa jelaskan dengan tepat posisi ginjal terhadap organ lain?” Keysha menatap serius, itu terlalu mudah. Dari penampilan, sepertinya Damian adalah orang yang memiliki pengetahuan tinggi. Tapi kenapa laki-laki itu sampai tidak diterima? Apalagi dengan statusnya yang bukan orang biasa. “Ginjal terletak di bagian retroperitoneal, di belakang peritoneum, satu di kanan dan satu di kiri. Ginjal kanan biasanya sedikit lebih rendah karena adanya hati di sisi kanan tubuh." Keysha akhirnya menjelaskan, "Di bagian anterior, ginjal berdekatan dengan organ seperti hati, limpa, dan usus besar. Sedangkan di bagian posteriornya, berhubungan dengan otot punggung dan tulang belakang. Vaskularisasi utama berasal dari arteri renal, dan vena renal mengalir ke vena cava inferior.” Semua orang di sana menahan napas, terkesima dengan ketepatan jawaban Keysha. Damian menatapnya lama, mengerutkan keningnya, tapi tak ada celah untuk menyela. “Bagus… dan mengenai fisiologi, bagaimana mekanisme filtrasi glomerulus bekerja?” Damian melanjutkan, mencoba menekan Keysha lagi. Keysha menarik napas sebentar, menatap Damian dengan tatapan penuh keyakinan. “Glomerulus adalah struktur kapiler yang berada di dalam kapsula Bowman. Filtrasi terjadi ketika tekanan darah memaksa plasma darah melewati membran filtrasi glomerulus." lanjut Keysha menjelaskan, "Molekul besar seperti protein dan sel darah tidak dapat melewati, sedangkan air, glukosa, elektrolit, dan urea masuk ke filtrat. Tekanan filtrasi dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik kapiler, tekanan hidrostatik kapsula Bowman, dan tekanan osmotik plasma.” Damian terkesiap sebentar, menatap Keysha dengan kombinasi takjub dan sedikit frustrasi karena ia tak menemukan kesalahan. “Hmm… tepat. Baiklah, lanjut ke farmakologi dasar. Bagaimana mekanisme kerja ACE inhibitor?” Keysha tersenyum tipis, tak ragu menjawab. “ACE inhibitor bekerja dengan menghambat angiotensin converting enzyme, sehingga mengurangi pembentukan angiotensin II." Keysha melanjutkan, "Akibatnya, vasokonstriksi menurun, tekanan darah turun, dan sekresi aldosteron berkurang, sehingga natrium dan air dikeluarkan lebih banyak melalui ginjal. Efeknya menurunkan tekanan darah dan mengurangi beban pada jantung.” Damian menghela napas, kali ini terdengar lebih berat, seolah melepaskan beban. “Baik… baiklah. Kau memang mahasiswa kedokteran, dan bukan sembarangan mahasiswa. Aku akui itu.” Keysha duduk kembali, menatap Damian dengan puas tapi tetap tenang. “Jadi… sekarang kalian percaya, kan? Kalau aku bukan tukang sapu universitas?” Sebastian menyipit mata, tersenyum samar. Arya hanya bertepuk tangan tiga kali, cukup kagum dengan anak yang baru saja dia temukan. Dipikir-pikir, Keysha sangat cocok menjadi bagian dari keluarga Dominic. Gadis itu sepertinya akan menjadi anak kebanggaanya. Sedangkan Alestair hanya diam, mengangguk. Di dalam hati dia berpikir, tidak ada salahnya dia mengawasi Keysha untuk kedepannya. Keysha ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan! “Kau benar-benar harus disiplin." Damian melanjutkan, "Aku akan menaruh semua mimpiku di dalam dirimu. Kedepannya, jangan terlambat lagi. Aku akan mengawasimu.” "Aku juga." kata Sebastian tidak mau kalah. Alestair diam-diam menatap kedua Adiknya. Sepertinya dia tidak akan mengawasi gadis itu sendirian! *****Keysha baru berjalan beberapa langkah ketika akhirnya sadar... ini bukan pagi santai seperti yang ia bayangkan.Lapangan golf itu terlalu luas. Terlalu sunyi. Terlalu rapi untuk disebut sebagai tempat olahraga ringan. Hamparan rumput hijau membentang tanpa cacat, seolah tidak pernah disentuh kesalahan sedikit pun. Setiap langkah Keysha terasa kecil, nyaris tidak berarti, di tengah ruang terbuka yang terasa menekan.Udara pagi memang sejuk, tapi justru itulah yang membuatnya semakin tidak nyaman. Sunyi di tempat ini bukan sunyi yang menenangkan. Sunyi itu seperti tatapan. Diam, mengamati, dan menunggu.Ia melirik ke belakang.Alestair dan Adrian sudah bersiap, berdiri berhadapan dengan jarak aman yang justru terasa berbahaya. Dua pria itu tidak banyak bicara. Tidak ada basa-basi. Tidak ada tawa ringan yang biasanya muncul di pagi hari.Hanya fokus.Keysha menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Oke. Ini jelas bukan jogging.“Keysha.”Ia menoleh. Alestair berdiri teg
Keysha tau ada yang tidak beres sejak mobil melaju terlalu jauh dari komplek.Awalnya ia masih bersandar santai di kursi penumpang, rambutnya diikat asal, hoodie abu-abu menutupi tubuhnya yang masih setengah mengantuk. Tapi ketika jarum jam di dashboard menunjukkan hampir satu jam perjalanan, Keysha mulai menyipitkan mata.“Kita… mau ke mana?” tanyanya akhirnya.Alestair tetap fokus ke jalan. “Tempat yang enak buat olahraga.”“Aku bilang mau jalan santai,” Keysha menoleh tajam. “Mungkin cuma keliling komplek. Lima belas menit. Bukan—” ia melirik keluar jendela, “—entah ke mana ini.”“Sudah sampai,” jawab Alestair singkat. “Di sini lebih segar.”Mobil akhirnya berhenti di area parkir luas dengan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang. Matahari baru naik, embun masih menempel di rerumputan yang terpotong rapi.Keysha turun perlahan. Menatap sekeliling. Lalu menoleh ke Alestair dengan ekspresi tak percaya.“Kita pergi sejauh ini, hanya untuk ke tempat golf?”Alestair mengambil kunci
Keysha sebenarnya bukan tipe orang yang bangun pagi.Ia selalu percaya pagi terlalu sunyi untuk orang yang pikirannya terlalu ramai. Terlalu banyak ruang untuk merenung, terlalu sedikit gangguan untuk mengalihkan. Ditambah dia justru sering begadang hingga waktu menjelang pagi karena bekerja dan belajar, untuk bangun disekitaran jam enam pagi saja rasanya mustahil untuk Keysha capai. Tapi pengecualian ketika Keysha masuk ke dalam keluarga Dominic, banyak hal berubah tanpa ia sadari.Jam biologisnya ikut menyesuaikan.Ritme hidupnya bergeser.Dan pagi, yang dulu selalu tak bisa ia taklukan, perlahan menjadi kebiasaan.Kini Keysha terbangun saat langit masih berwarna abu-abu pucat. Jam di ponselnya menunjukkan angka yang nyaris tidak masuk akal untuk hari libur.05.00.Ia menatap layar itu lama. Lalu mematikan ponsel tanpa menyalakan alarm lagi."Gokil,” gumamnya pelan. "Ini mungkin catatan rekor terbaruku untuk bangun pagi."Biasanya dulu ia akan membalikkan badan, menarik selimut, da
ADRIAN NATHANIEL ANDERSON. Adrian Nathaniel Anderson berdiri dengan punggung lurus, tangan bersedekap di depan dada. Mantel hitamnya menyatu dengan gelap malam, nyaris tak membedakan tubuhnya dari bayangan pepohonan di sekeliling. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi berlebih. Tidak ada gestur yang sia-sia.Orang-orang yang mengenalnya tahu satu hal:Adrian bukan pria yang banyak bicara—tapi setiap katanya adalah perintah.“Jam?” tanyanya singkat.“00.47,” jawab Luke tanpa melihat jam lagi. “Masih sesuai jadwal.”Di hadapan mereka, area hutan itu telah disulap menjadi titik transaksi sementara. Lampu mobil dimatikan. Hanya senter kecil dan cahaya bulan yang terhalang awan yang memberi penerangan seadanya. Peti-peti besi dibuka satu per satu.Zayn berjongkok di dekat kontainer, membuka segel, mengecek isi dengan cepat dan teliti.“Model terbaru. Kaliber sesuai permintaan. Jumlah lengkap.”Adrian mengangguk sekali. “Rute keluar?”“Aman, Tuan. Untuk jalur barat,” jawab Zayn. “Tidak ada pe
Keysha menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihatnya.Lampu temaram menggantung diam. Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan yang konstan, terlalu stabil untuk menenangkan. Ia sudah berbaring cukup lama, namun tubuhnya tak juga menemukan posisi yang nyaman. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di bawah kulitnya—bukan sakit, bukan gelisah, hanya… tidak selesai.Ia menghela napas, lalu tertawa kecil.Pendek. Hambar. Seperti refleks.“Lucu,” gumamnya pelan, entah pada siapa.Padahal tidak ada yang lucu.Keysha menggeser tubuhnya, memiringkan badan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terlipat di pangkuan, rapi, seperti kebiasaan lama yang terbentuk bahkan ketika ia sendirian. Benar... Ia selalu rapi saat sendirian. Selalu terkendali. Kebiasaan itu terbentuk jauh sebelum ia kembali menemukan keluarganya—saat dunia hanya berisi dirinya sendiri, dan tidak ada ruang untuk berantakan meski dunia mengecamnya.Ia hidup sendiri terlalu lama untuk terbiasa bergantung pada o
Langkah Keysha baru saja kembali menyentuh lantai ballroom, ketika sebuah suara memanggil namanya dengan nada yang terlalu familiar dan terlalu panik. “Keysha!” Ia menoleh. Sebastian sudah berlari ke arahnya, jasnya sedikit terbuka, langkahnya tergesa hingga nyaris menabrak beberapa tamu yang sedang berbincang. Wajah pria itu jelas tidak tenang. Napasnya sedikit memburu ketika akhirnya berhenti tepat di hadapan Keysha, dadanya naik turun seolah baru saja menahan napas terlalu lama. “Kamu dari mana saja?” tanya Sebastian cepat. “Kamu bikin Kakak khawatir.” Keysha tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam, cukup lama. Terlalu lama untuk ukuran orang yang seharusnya hanya menjawab pertanyaan sederhana. Seolah kalimat itu perlu waktu untuk benar-benar sampai ke kesadarannya. Suara musik, tawa kecil para tamu, dan denting gelas di sekeliling mereka bahkan terasa menjauh, berubah menjadi dengung samar yang tidak lagi ia perhatikan. "Kenapa diam saja? Apakah ada yang jahat dengan ka







