เข้าสู่ระบบTongkat naga emas itu terlepas dari genggaman Bramantyo. Suara logam yang menghantam lantai marmer memecah kesunyian yang mencekik ruang VVIP tersebut, bergema seperti dentang lonceng kematian. Bramantyo mundur selangkah, napasnya tercekat. Mulutnya terbuka setengah, namun tidak ada satu pun suara yang keluar dari tenggorokannya. Di sebelahnya, Salim sang pengacara mulai gemetar hebat hingga kacamata tebalnya nyaris jatuh. Mereka datang untuk melihat mayat seorang raja, namun yang menyambut mereka adalah iblis yang sedang berada di puncak kekuatannya. Selamat siang, Paman, sapa Luciano. Suaranya terdengar sangat tenang, tidak ada nada teriakan, namun cukup membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Kau datang sedikit terlambat. Jam besuk untuk orang mati sudah ditiadakan. Luciano melangkah maju. Gerakannya begitu mulus, cepat, dan penuh tenaga. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelumpuhan atau sisa luka di tubuhnya. T-Tuan Luciano... Anda... Anda sudah pulih... gagap Salim, me
Api berkobar melahap laboratorium bawah tanah itu, mengubah sarang pualam Victor menjadi neraka yang menyala merah. Suara tembakan dan jeritan tertahan menggema di kejauhan, pertanda bahwa perintah sang Don sedang dieksekusi tanpa ampun oleh pasukan garis depan. Namun bagi Luciano, dunia luar sudah tidak ada artinya. Di dalam bangku belakang mobil SUV lapis baja yang melaju membelah badai Jakarta, seluruh fokusnya hanya tertuju pada wanita yang terbaring lemah di pangkuannya. Napas Alya terdengar putus-putus. Wajahnya sepucat mayat, dan kemeja putihnya telah berubah warna menjadi merah pekat oleh darahnya sendiri. Berikan vial itu, Rian! bentak Luciano dari kursi belakang. Rian, yang duduk di kursi penumpang depan, memutar tubuhnya dan menyerahkan tabung kecil berisi cairan biru keemasan itu. Tangan Luciano yang gemetar menerima vial tersebut. Ia menatap cairan itu, cairan yang dibayar dengan kelumpuhan istrinya. Tanpa ragu, Luciano menggigit tutup vial hingga pecah, persis sepe
Mesin ekstraksi itu akhirnya berhenti berdengung. Bagi Alya, suara itu terasa seperti datang dari alam bawah air. Pandangannya mengabur, telinganya berdenging hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela sabuk kulit yang masih digigitnya kuat-kuat. Keringat dingin membasahi seluruh meja operasi baja. Victor memutar katup terakhir dengan gerakan santai. Ia mencabut jarum panjang itu dari tulang belakang Alya dalam satu tarikan mulus. Darah segar seketika merembes dari lubang kecil di punggung Alya, menodai kulit putihnya dengan warna merah yang kontras. Selesai, ucap Victor, melepaskan sarung tangannya yang berdarah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Kau bertahan lebih baik dari dugaanku, Nyonya Prawira. Sebagian besar pria militer akan pingsan di menit kedua. Alya memuntahkan sabuk kulit dari mulutnya. Bibirnya robek dan berdarah karena gigitannya sendiri. Ia mencoba mendorong tubuhnya untuk bangun, namun kenyataan mengerikan itu langsung menghantamnya. Dari pinggang
Keheningan di laboratorium bawah tanah itu terasa lebih mencekik daripada ruang kedap udara. Alya menatap wajah Victor yang menyunggingkan senyum malaikat pencabut nyawa. Tawaran itu bergema di kepalanya berulang kali. Setengah liter cairan sumsum tulang belakang. Tanpa anestesi. Risiko kelumpuhan delapan puluh persen. Jika dia setuju, dia akan menukar sepasang kakinya yang sehat dengan kaki Luciano yang kini mati rasa. Dia akan menjadi tawanan di atas kursi roda, tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sang Don Mafia seumur hidupnya. Tetapi jika dia menolak, dalam tujuh hari, pria yang memeluknya erat di tengah halusinasi paranoid tadi pagi itu akan hancur menjadi debu. Alya memejamkan mata. Bayangan Luciano yang rela menenggak racun dan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri di dermaga berkelebat di benaknya. Iblis itu membuang nyawanya demi satu tarikan napas Alya. Kini, alam semesta menagih utang yang setimpal. Lakukan, ucap Alya, membuka matanya. Suaranya terdengar sanga
Malam turun menyelimuti ibu kota seperti kain kafan hitam. Hujan gerimis mulai membasahi jendela kaca ruang VVIP, menghapus sisa-sisa keangkuhan hari ini. Alya berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat rambut hitamnya menjadi ekor kuda yang ketat. Ia mengganti jas dokternya dengan jaket kulit hitam dan celana kargo gelap. Ia harus bergerak cepat, tidak terlihat, dan mematikan. Saat Alya keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung bersirobok dengan tatapan tajam Luciano. Pria itu masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat namun matanya menyala dalam kegelapan ruangan yang sengaja tidak dinyalakan lampu utamanya. Kau benar-benar akan pergi sendirian, Alya? suara Luciano terdengar berat, memecah keheningan. Kau pikir aku akan membiarkan milikku berkeliaran di malam hari saat Bramantyo sedang mengerahkan anjing-anjing pelacaknya? Alya berjalan mendekati ranjang, mengancingkan jaketnya hingga ke leher. Jika aku membawa pasukan Rian, Bramantyo akan tahu aku pergi. Tempat yang ak
Rian langsung melompat maju, mengunci kembali pintu ganda kamar VVIP dengan selot mekanis tambahan. Detik berikutnya, dia berbalik dengan wajah pucat melihat bosnya yang sedang mencengkeram dadanya sendiri dengan ekspresi yang sangat menderita. Nyonya! Apa yang terjadi pada Tuan Besar?! teriak Rian panik, tangannya gemetar di atas tombol darurat di dinding. Jangan tekan tombol itu, Rian! bentak Alya, suaranya melengking tinggi di antara bunyi alarm monitor EKG yang memekakkan telinga. Jika dokter rumah sakit ini masuk dan melihat darah hitam itu, rahasia kita selesai! Bantu aku membaringkannya! Rian dengan sigap menahan tubuh besar Luciano yang mulai kejang ringan. Darah hitam pekat yang keluar dari hidung Luciano kini mulai mengalir dari sudut bibirnya, mengotori seprai putih bersih dengan noda gelap yang berbau sulfur dan besi menyengat. Alya bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia menyambar tabung oksigen darurat, memasangkan masker pernapasan k
Hujan badai kembali mengguyur Jakarta malam itu, mengubah jendela kaca kamar VVIP di lantai 12 Rumah Sakit Prawira menjadi kanvas abstrak yang kelabu. Suara guntur yang menggelegar di kejauhan seolah menjadi soundtrack bagi kepindahan sang Raja dari ruang ICU ke benteng barunya.Ruangan itu luas, l
Lantai koridor VVIP rumah sakit itu seharusnya sunyi, namun kini dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Alya melangkah keluar dari ICU, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tegas. Di hadapannya, Bramantyo tidak pergi. Dia justru kembali dengan artileri yang lebih berat: Salim, pengaca
Bunyi monitor EKG yang tadinya stabil kini berdetak sedikit lebih cepat, seirama dengan ketegangan yang mencekik di ruang ICU VVIP itu. Tangan Luciano yang lemah namun berat masih mencengkeram pergelangan tangan Alya. Mata merahnya menatap tajam, seolah ingin meremukkan Alya hanya dengan tatapan, m
Pintu ruang tunggu VVIP ICU terbanting terbuka. Bukan oleh musuh, tapi oleh "keluarga".Lima orang pria paruh baya berjas mahal masuk dengan langkah lebar. Aura mereka bukan aura pembunuh jalanan seperti pengawal, tapi aura predator birokrat. Di tengah mereka, berdiri Bramantyo Prawira, paman Lucia







