Share

Bab 3

Author: jimskin003
last update Last Updated: 2026-02-23 12:47:23

INSPEKSI TENGAH MALAM

Valencia menahan napas saat menatap layar interkom. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang tidak beraturan. Ia tahu persis apa arti kedatangan Bella bersama tim legal di jam seperti ini. Ini bukan sekadar kunjungan kekeluargaan. Ini adalah audit wasiat. Bella sedang mencoba mencari celah untuk membuktikan bahwa pernikahan ini hanyalah rekayasa di atas kertas.

"Buka pintunya, Valencia," suara Bella terdengar tenang namun penuh racun melalui pengeras suara interkom. "Aku tahu Kamu belum tidur. Tim legal ingin memastikan bahwa suami baru kamu benar-benar menempati rumah ini dan bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. Jika dia tidak ditemukan di sini sekarang, pernikahan Kamu dianggap gugur secara hukum."

Valencia menoleh dengan panik ke arah koridor. Ragnar baru saja akan menutup pintu kamarnya. Pria itu masih bertelanjang dada, memperlihatkan guratan otot punggungnya yang kokoh di bawah cahaya lampu yang temaram.

"Ragnar! Berhenti!" panggil Valencia dengan suara berbisik yang mendesak.

Ragnar berhenti, memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap Valencia dengan sebelah alis terangkat, nampak tidak terganggu sama sekali dengan kegentingan yang terjadi. "Ada apa lagi?" tanya Ragnar datar.

"Tim legal ada di depan pintu. Mereka datang untuk memeriksa keberadaan kamu," Valencia melangkah mendekat dengan cepat. Matanya menyapu tubuh polos Ragnar yang nampak liar. "I tidak punya waktu untuk menyuruh kamu memakai baju. Masuk ke kamar I. Sekarang!"

Ragnar menyeringai. Sebuah senyum nakal yang membuat Valencia ingin sekali menamparnya. "Masuk ke kamarmu? Dalam keadaan tanpa baju seperti ini? Sepertinya Kamu benar-benar ingin sandiwara ini menjadi sangat nyata, Valencia."

"Jangan membantah! Lakukan saja!" desis Valencia sambil mendorong dada Ragnar menuju pintu kamarnya yang berada di sisi lain ruang tengah.

Pintu utama terbuka dengan bunyi klik pelan karena Baskoro memiliki kode akses cadangan untuk keperluan darurat wasiat. Saat Bella dan dua pria bersetelan jas gelap itu melangkah masuk ke ruang tengah yang luas, mereka disambut oleh pemandangan yang membuat langkah mereka terhenti.

Valencia berdiri di depan pintu kamarnya, merapatkan jubah tidur sutra sampanyenya yang sedikit berantakan. Wajahnya kemerahan, napasnya nampak sedikit memburu, memberikan kesan seseorang yang baru saja melakukan aktivitas berat.

Dan tepat di belakangnya, pintu kamar terbuka. Ragnar keluar dari sana dengan sangat santai. Ia hanya mengenakan celana kain panjang, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka memperlihatkan otot-ototnya yang masih lembap karena sisa air mandi. Ragnar mengusap tengkuknya, menatap para tamu itu dengan tatapan predator yang merasa terganggu dari tidurnya.

"Siapa orang-orang ini, Valencia?" tanya Ragnar dengan suara rendah dan serak, sebuah nada yang sengaja ia buat terdengar provokatif.

Bella tertegun. Rencananya untuk menemukan rumah yang kosong dan pernikahan palsu hancur seketika oleh kehadiran fisik Ragnar yang begitu mendominasi ruangan. Ia menatap Ragnar dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan tidak percaya sekaligus jijik.

"Jadi ini mekanik pilihanmu, Valencia?" Bella melangkah maju, mencoba mengembalikan ketenangannya. Ia menoleh pada pengacaranya. "Pak Baskoro, silakan lakukan prosedur pemeriksaan ruangan. Saya ingin memastikan pria ini benar-benar tinggal di kamar yang sama dengan CEO kita yang terhormat."

Valencia merasakan tangannya dingin. "Bella, ini sudah keterlaluan. I sudah menuruti semua wasiat kakek."

"Wasiat itu meminta pernikahan yang sah secara lahir dan batin, Valencia," sahut Bella sambil tersenyum licik. "Bukan sekadar menyimpan gelandangan di kamar tamu."

Baskoro mengangguk pelan, nampak merasa tidak enak namun tidak punya pilihan. "Maaf, Nona Valencia. Ini adalah prosedur wajib untuk validasi saham trust. Kami harus memastikan tidak ada pemisahan ranjang di minggu pertama pernikahan."

Para auditor itu mulai melangkah menuju kamar utama Valencia. Valencia hanya bisa berdiri mematung, namun tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat melingkar di pinggangnya. Ragnar menarik Valencia mendekat ke tubuhnya, memaksa Valencia bersandar pada dada bidangnya yang telanjang di depan semua orang.

"Silakan periksa sesuka kalian," ujar Ragnar sambil menatap Bella dengan senyum menantang. "Tapi jangan terlalu lama. Saya dan istri saya baru saja ingin melanjutkan urusan kami yang tertunda."

Sentuhan Ragnar di pinggang Valencia terasa sangat posesif. Valencia bisa merasakan detak jantung Ragnar yang tenang, beradu dengan jantungnya sendiri yang menggila. Ia tahu Ragnar sedang berakting, namun cara pria itu menatapnya membuat Valencia merasa seolah-olah ia benar-benar sedang ditelan oleh keberadaan pria itu.

Bella mengepalkan tangannya. Ia memberi isyarat pada para auditor untuk masuk ke dalam kamar. Ruangan itu mendadak sunyi saat semua orang menunggu hasil pemeriksaan. Jika ditemukan bukti bahwa Ragnar tidak tidur di sana, habislah sudah posisi Valencia.

Namun, saat pintu kamar terbuka, pemandangan di dalam sana membuat Bella terdiam kaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 9

    DI BALIK JENDELA SATU ARAHKeheningan di ruang rapat itu terasa lebih memekakkan telinga daripada suara sepatu bot tadi. Bella berdiri dari kursinya dengan tawa kemenangan yang tidak lagi disembunyikan. "Sudah I katakan, dia hanya sampah yang akan menyeret You ke dasar neraka, Valencia."Valencia tidak menoleh sedikit pun ke arah sepupunya. Matanya terpaku pada layar proyektor yang masih menampilkan bukti penggelapan dana milik Bella. Tangannya yang gemetar kini mengepal kuat di atas meja marmer yang dingin."Duduk atau I akan memastikan polisi tadi kembali untuk menjemput You, Bella," desis Valencia dengan nada yang begitu tajam. Suasana ruangan mendadak membeku saat ia menatap satu per satu direktur yang tadi berkhianat. "Rapat ini selesai dan siapa pun yang mencoba keluar dari gedung ini sebelum audit selesai akan berhadapan dengan pengacara I."Valencia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang sangat cepat. Ia tidak memedulikan tatapan bingung para karyawannya di sepanjan

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 8

    SKAKMAT DAN SURAT PERINTAHPak Baskoro memasukkan flashdisk tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar karena suasana yang semakin memanas. Layar proyektor besar di dinding belakang Valencia mendadak menyala menampilkan bagan alur transaksi keuangan yang sangat rumit. Seluruh orang di ruangan itu mendadak terdiam saat melihat data yang terpampang nyata di depan mata mereka."Ini adalah bukti penggelapan dana proyek infrastruktur di Kalimantan yang sangat besar," suara Valencia memecah keheningan dengan nada yang sangat dingin. "Totalnya mencapai dua ratus miliar rupiah dan semuanya berakhir di rekening perusahaan cangkang di Panama. Siapa yang bertanggung jawab atas rekening ini, Bella?"Seluruh direktur senior mendadak riuh dan mereka saling berbisik dengan wajah yang nampak pucat pasi. Ragnar berdiri dari kursinya lalu melangkah perlahan mengelilingi meja rapat layaknya serigala yang sedang mengincar leher mangsanya. Ia berhenti tepat di belakang kursi Bella dan meletakkan kedua ta

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 7

    SERIGALA DI LANTAI MARMERGedung Adhitama Tower berdiri angkuh mencakar langit Jakarta dengan dinding kaca yang berkilau tajam. Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti tepat di depan lobi utama dengan suara derit rem yang halus namun berwibawa. Puluhan karyawan yang sedang berlalu-lalang mendadak mematung saat pintu mobil terbuka secara otomatis.Valencia Adhitama turun dengan langkah presisi, membiarkan sepatu hak tingginya menciptakan bunyi ketukan ritmis di atas lantai granit. Ia mengenakan blazer hitam dengan potongan tajam yang menegaskan otoritasnya sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Aura dinginnya mendadak pecah saat sosok di sisi lain mobil menampakkan diri ke hadapan publik.Ragnar keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir terlihat seperti sedang berjalan di bengkel lamanya. Ia tidak mengenakan dasi, membiarkan kancing kemejanya terbuka hingga memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh. Ia mengabaikan tatapan memuja sekaligus bingung dari para staf wanita, lebih memili

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 6

    PERJANJIAN DI BAWAH CAHAYA PAGICahaya matahari pagi menembus celah tirai sutra yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang besar itu, Valencia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa aroma maskulin yang masih tertinggal di bantal sebelahnya. Ia segera terduduk, merapatkan jubah tidurnya yang berantakan, dan menyadari bahwa sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong.Ragnar berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pusat bisnis Jakarta. Pria itu sudah mengenakan celana kain hitam milik setelan semalam, namun ia membiarkan kemeja putihnya terbuka tanpa dikancingkan, memperlihatkan otot dadanya yang tegap serta guratan bekas luka di perutnya. Di tangannya, sebatang rokok menyala, meskipun ada larangan merokok di dalam seluruh area penthouse."You merusak udara di sini, Ragnar," ujar Valencia sambil turun dari ranjang. Langkah kakinya nampak sedikit ragu saat ia berjalan menuju me

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 5

    PANAS DI BALIK SUTRALampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela besar nampak seperti taburan berlian yang tidak berarti di mata Valencia. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecah oleh suara napas mereka yang saling beradu secara tidak teratur. Valencia berdiri mematung di sisi ranjang, menatap seprai sutra yang berantakan dengan perasaan campur aduk."Kamu mau berdiri di situ sampai pagi, Valencia?" suara Ragnar terdengar rendah dari arah belakang.Valencia berbalik, mendapati Ragnar sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu masih belum mengenakan atasan. Otot-otot perutnya nampak jelas di bawah cahaya lampu tidur yang remang, menciptakan bayangan yang menonjolkan setiap lekuk maskulin tubuhnya. Ragnar menatap Valencia dengan tatapan menantang, seolah sedang menikmati kegelisahan wanita itu."Jangan berpikir yang tidak-tidak. I melakukan ini hanya karena Bella," ujar Valencia dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "You tidur di sisi kir

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 4

    BUKTI DI ATAS SUTRAPintu kayu jati berukir itu terbuka lebar, menyingkap privasi terdalam dari seorang Valencia Adhitama. Bella melangkah masuk dengan senyum sinis yang sudah siap meledak, namun senyum itu membeku di detik pertama matanya menyapu seisi ruangan.Kamar yang biasanya tertata sangat rapi dan steril layaknya museum itu kini nampak kacau. Di atas karpet bulu domba seharga ratusan juta rupiah, tergeletak sepasang sepatu bot kulit yang kotor dan penuh noda oli. Di kursi rias desainer milik Valencia, tersampir sebuah kemeja denim lusuh yang aromanya, campuran keringat, bensin, dan tembakau, tercium hingga ke ambang pintu.Namun yang paling menyita perhatian adalah ranjang besar di tengah ruangan. Seprai sutra yang biasanya kaku tanpa lipatan itu kini berantakan hebat. Bantal-bantal berserakan di lantai, dan selimut tebalnya tergulung tak beraturan, menciptakan kesan kuat bahwa baru saja terjadi pergulatan intens di atas sana."Tidak mungkin," gumam Bella. Ia berjalan mendekat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status