LOGINValencia menahan napas saat menatap layar interkom. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang tidak beraturan. Ia tahu persis apa arti kedatangan Bella bersama tim legal di jam seperti ini. Ini bukan sekadar kunjungan kekeluargaan. Ini adalah audit wasiat. Bella sedang mencoba mencari celah untuk membuktikan bahwa pernikahan ini hanyalah rekayasa di atas kertas.
"Buka pintunya, Valencia," suara Bella terdengar tenang namun penuh racun melalui pengeras suara interkom. "Aku tahu Kamu belum tidur. Tim legal ingin memastikan bahwa suami baru kamu benar-benar menempati rumah ini dan bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. Jika dia tidak ditemukan di sini sekarang, pernikahan Kamu dianggap gugur secara hukum."
Valencia menoleh dengan panik ke arah koridor. Ragnar baru saja akan menutup pintu kamarnya. Pria itu masih bertelanjang dada, memperlihatkan guratan otot punggungnya yang kokoh di bawah cahaya lampu yang temaram.
"Ragnar! Berhenti!" panggil Valencia dengan suara berbisik yang mendesak.
Ragnar berhenti, memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap Valencia dengan sebelah alis terangkat, nampak tidak terganggu sama sekali dengan kegentingan yang terjadi. "Ada apa lagi?" tanya Ragnar datar.
"Tim legal ada di depan pintu. Mereka datang untuk memeriksa keberadaan kamu," Valencia melangkah mendekat dengan cepat. Matanya menyapu tubuh polos Ragnar yang nampak liar. "I tidak punya waktu untuk menyuruh kamu memakai baju. Masuk ke kamar I. Sekarang!"
Ragnar menyeringai. Sebuah senyum nakal yang membuat Valencia ingin sekali menamparnya. "Masuk ke kamarmu? Dalam keadaan tanpa baju seperti ini? Sepertinya Kamu benar-benar ingin sandiwara ini menjadi sangat nyata, Valencia."
"Jangan membantah! Lakukan saja!" desis Valencia sambil mendorong dada Ragnar menuju pintu kamarnya yang berada di sisi lain ruang tengah.
Pintu utama terbuka dengan bunyi klik pelan karena Baskoro memiliki kode akses cadangan untuk keperluan darurat wasiat. Saat Bella dan dua pria bersetelan jas gelap itu melangkah masuk ke ruang tengah yang luas, mereka disambut oleh pemandangan yang membuat langkah mereka terhenti.
Valencia berdiri di depan pintu kamarnya, merapatkan jubah tidur sutra sampanyenya yang sedikit berantakan. Wajahnya kemerahan, napasnya nampak sedikit memburu, memberikan kesan seseorang yang baru saja melakukan aktivitas berat.
Dan tepat di belakangnya, pintu kamar terbuka. Ragnar keluar dari sana dengan sangat santai. Ia hanya mengenakan celana kain panjang, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka memperlihatkan otot-ototnya yang masih lembap karena sisa air mandi. Ragnar mengusap tengkuknya, menatap para tamu itu dengan tatapan predator yang merasa terganggu dari tidurnya.
"Siapa orang-orang ini, Valencia?" tanya Ragnar dengan suara rendah dan serak, sebuah nada yang sengaja ia buat terdengar provokatif.
Bella tertegun. Rencananya untuk menemukan rumah yang kosong dan pernikahan palsu hancur seketika oleh kehadiran fisik Ragnar yang begitu mendominasi ruangan. Ia menatap Ragnar dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan tidak percaya sekaligus jijik.
"Jadi ini mekanik pilihanmu, Valencia?" Bella melangkah maju, mencoba mengembalikan ketenangannya. Ia menoleh pada pengacaranya. "Pak Baskoro, silakan lakukan prosedur pemeriksaan ruangan. Saya ingin memastikan pria ini benar-benar tinggal di kamar yang sama dengan CEO kita yang terhormat."
Valencia merasakan tangannya dingin. "Bella, ini sudah keterlaluan. I sudah menuruti semua wasiat kakek."
"Wasiat itu meminta pernikahan yang sah secara lahir dan batin, Valencia," sahut Bella sambil tersenyum licik. "Bukan sekadar menyimpan gelandangan di kamar tamu."
Baskoro mengangguk pelan, nampak merasa tidak enak namun tidak punya pilihan. "Maaf, Nona Valencia. Ini adalah prosedur wajib untuk validasi saham trust. Kami harus memastikan tidak ada pemisahan ranjang di minggu pertama pernikahan."
Para auditor itu mulai melangkah menuju kamar utama Valencia. Valencia hanya bisa berdiri mematung, namun tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat melingkar di pinggangnya. Ragnar menarik Valencia mendekat ke tubuhnya, memaksa Valencia bersandar pada dada bidangnya yang telanjang di depan semua orang.
"Silakan periksa sesuka kalian," ujar Ragnar sambil menatap Bella dengan senyum menantang. "Tapi jangan terlalu lama. Saya dan istri saya baru saja ingin melanjutkan urusan kami yang tertunda."
Sentuhan Ragnar di pinggang Valencia terasa sangat posesif. Valencia bisa merasakan detak jantung Ragnar yang tenang, beradu dengan jantungnya sendiri yang menggila. Ia tahu Ragnar sedang berakting, namun cara pria itu menatapnya membuat Valencia merasa seolah-olah ia benar-benar sedang ditelan oleh keberadaan pria itu.
Bella mengepalkan tangannya. Ia memberi isyarat pada para auditor untuk masuk ke dalam kamar. Ruangan itu mendadak sunyi saat semua orang menunggu hasil pemeriksaan. Jika ditemukan bukti bahwa Ragnar tidak tidur di sana, habislah sudah posisi Valencia.
Namun, saat pintu kamar terbuka, pemandangan di dalam sana membuat Bella terdiam kaku.
Eksodus Abisal dan Pergeseran Realitas (Bagian 2)Saat Ragnar, Valencia, dan sang bayi melompat ke dalam pusaran merkuri, gravitasi seolah-olah berbalik arah, menarik setiap molekul tubuh mereka hingga terasa seperti benang cahaya yang halus.Mereka tidak lagi merasakan berat badan atau sentuhan air; sebaliknya, mereka terseret masuk ke dalam terowongan dimensi yang disebut "The Chronos-Tunnel", di mana waktu tidak lagi mengalir secara linear.Di dalam lorong cahaya yang memusingkan itu, Ragnar melihat kilasan sejarah masa lalu yang bertabrakan dengan bayangan masa depan—perang besar para Arsitek, pembangunan kota bawah laut, hingga kehancuran permukaan bumi.Sang bayi yang berada di dekapan Valencia bertindak sebagai navigator; setiap kali denyut jantungnya berdetak, arah cahaya di dalam terowongan tersebut bergeser, mencari celah di antara realitas yang retak.Ragnar melihat proyeksi dirinya sendiri dalam ribuan versi yang berbeda: satu di mana ia mati di Pulse Core, satu di mana ia
Eksodus Abisal dan Pergeseran Realitas (Bagian 1)Gelombang kejut dari hantaman pertama bom antimateri Maya merobek lapisan luar Katedral, menciptakan distorsi gravitasi yang membuat lantai logam di bawah kaki Ragnar melengkung seperti kertas yang diremas.Suara alarm dari sisa-sisa sistem Elias memekik dalam frekuensi tinggi, memperingatkan bahwa integritas ruang di dalam The Forge sedang menuju kehancuran total dalam hitungan detik.Ragnar mendekap Valencia dan bayinya sekuat tenaga, namun ia menyadari bahwa pelarian fisik menggunakan kapal penyelamat sudah mustahil; air laut di luar sana telah berubah menjadi plasma panas yang akan menguapkan baja apa pun dalam sekejap."Tekanan gravitasi ini... ia mulai melipat dimensi di sekitar kita, Ragnar!" teriak Elias sambil berusaha menahan konsol kendali yang mulai mengeluarkan percikan api biru yang mematikan.Plafon katedral yang megah mulai rontok, menjatuhkan pilar-pilar kristal raksasa yang hancur berkeping-keping sebelum sempat menye
Ritual di Jantung Katedral dan Pilihan Sang Pelindung (Bagian 2)Ragnar menyadari bahwa untuk melawan kekuatan janin yang bersifat digital-biologis ini, ia tidak bisa menggunakan senjata api, melainkan harus menggunakan "jangkar" dari darah dagingnya sendiri.Ia menarik belati taktisnya dan tanpa ragu menyayat telapak tangannya sendiri cukup dalam, membiarkan darah merah pekatnya yang telah terkontaminasi serum Guardians mengucur deras.Ragnar segera menempelkan telapak tangannya yang bersimbah darah itu tepat di atas perut Valencia yang membara, membiarkan cairan merahnya membasahi sirkuit hitam-emas yang sedang berpendar liar di sana."Ragnar... hhh... apa yang You lakukan?" rintih Valencia saat ia merasakan sensasi dingin dan kental dari darah suaminya mulai meresap ke dalam pori-pori kulitnya.Seketika, "The Singularity" di dalam rahim bereaksi hebat; darah Ragnar yang mengandung kode genetik murni sang ayah bertindak sebagai perisai biologis yang memaksa sang janin untuk kembali
Ritual di Jantung Katedral dan Pilihan Sang Pelindung (Bagian 1)Elias melangkah dengan kaku menuju pusat piramida terbalik, menyeret kakinya yang sebagian besar telah menyatu dengan logam katedral, sementara suaranya menggema seperti logam yang beradu."Selamat datang di The Forge, tempat di mana garis antara pencipta dan ciptaan dihapuskan selamanya," ujar Elias sambil menyentuh altar utama yang terbuat dari kristal hitam.Ragnar memapah Valencia masuk ke dalam ruangan melingkar yang sangat luas, di mana di tengahnya terdapat sebuah kolam berisi merkuri cair yang berpendar dengan energi panas bumi murni yang memancarkan uap berwarna ungu keperakan.Begitu Valencia berada di tepian kolam, seluruh Katedral seolah-olah bernapas kembali; dinding-dinding kuno itu mulai berpendar dengan garis-garis cahaya yang mengikuti denyut jantung Valencia.Langit-langit ruangan yang semula gelap gulita mendadak berubah menjadi layar hologram raksasa yang menampilkan proyeksi rasi bintang kuno yang su
Palung Tak Bertepi dan Suara dari Rahim (Bagian 2)Ragnar tidak bisa lagi hanya menjadi penonton saat melihat Valencia menderita dalam pergolakan batinnya, maka ia memutuskan untuk melakukan hal yang paling berbahaya: menyentuh pusat dari segala kekacauan itu.Ia berlutut di depan Valencia dan perlahan meletakkan telapak tangan besarnya tepat di atas perut istrinya yang terus berdenyut dengan pendar cahaya hitam-emas yang kontradiktif.Seketika, sebuah sengatan listrik statis menghantam telapak tangan Ragnar, namun ia menolak untuk melepaskannya, justru menekan lebih dalam untuk mencari resonansi dengan darah dagingnya sendiri.Pandangan Ragnar mendadak memutih, dan dalam sekejap, kesadarannya ditarik paksa masuk ke dalam sebuah ruang hampa yang disebut "The Neural Womb", sebuah dimensi mental yang diciptakan oleh sang janin.Di sana, Ragnar tidak melihat bayi yang mungil, melainkan sebuah proyeksi entitas raksasa yang tersusun dari jalinan saraf bercahaya dan kode-kode purba yang mel
Palung Tak Bertepi dan Suara dari Rahim (bagian 1)Kapal penyelamat eksperimental itu terus meluncur turun melewati batas kedalaman 11.000 meter, memasuki kegelapan yang begitu pekat hingga cahaya dari lampu kabin terasa seperti redupnya lilin di tengah badai.Sistem navigasi mulai mengeluarkan suara dengingan statis yang tidak beraturan, menandakan bahwa mereka telah memasuki wilayah "The Void", sebuah palung tak bertepi yang secara teknis tidak tercatat dalam peta maritim dunia.Di wilayah ini, hukum fisika seolah-olah mulai melengkung, di mana tekanan air yang seharusnya meremukkan baja kapal justru terasa seperti gravitasi yang menarik mereka ke dimensi lain.Ragnar menempelkan telapak tangannya pada jendela observasi yang terbuat dari berlian sintetis, menyaksikan pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri tegak.Di bawah sana, dasar samudra tidak dipenuhi oleh lumpur atau terumbu karang, melainkan oleh ribuan fosil mekanik raksasa yang tampak seperti bangkai naga logam dari
PELURU TERAKHIR DI KEGELAPANKegelapan di Level Zero bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya bagi Valencia. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia mulai melihat aliran energi statis yang merayap di dinding beton seperti urat emas yang berdenyut lemah. Namun, kekuatan itu tidak memberinya ketenangan
PILIHAN SANG PERMAISURIKeheningan di aula bawah tanah itu terasa lebih tajam daripada mata pisau. Cahaya dari layar monitor yang menampilkan wajah mendiang ibunya bergetar, memberikan efek distorsi bzzzt-klip yang membuat suasana semakin mengerikan. Valencia berdiri mematung di depan konsol digita
PROTOKOL PERMAISURI HITAMLift baja itu meluncur turun melampaui kedalaman yang masuk akal bagi sebuah bunker militer standar. Bunyi desing mesin hidrolik di luar ruang logam itu berubah dari raungan kasar menjadi dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga...whiiieee. Di dalam kotak logam
BAYANG SANG ARSITEKKegelapan seketika menyapu bersih sisa-sisa keamanan di dalam bunker saat Ragnar menekan tombol pemutus arus utama. Ruangan medis yang semula steril kini berubah menjadi gua beton yang mencekam, di mana satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendar biru pucat dari monitor keamanan,







