LOGINSaat Jenni menonton dengan seksama. Tiba-tiba saja Aiden ditarik oleh Aila, dan tangan Aiden tak sengaja menyenggol tempat kamera kecil itu diletakkan sampai kameranya jatuh.
Tuk! "Apa-apaan ini?!" Jenni berdiri dengan kesal. "Aila, ku mohon maafkan aku," ujar Aiden. Karena suaranya masih bisa di dengar, Jenni kembali dudDi tangan Kyle, terdapat sebuah foto yang menampilkan Aiden tengah duduk berhadapan dengan Aila di sebuah cafe. "Hanya fotoku dengan Aiden, kan," sahut Aila dengan santainya. "Hanya kau bilang?! Aila! Ingat posisi mu!" teriak Kyle. "Posisiku? Memangnya apa hubungannya posisiku dengan foto itu?" balas Aila. Kyle sangat marah, sampai rasanya darahnya mendidih. Dengan kesal Kyle merobek foto itu jadi potongan-potongan kecil, lalu ia memijat keningnya sambil menggertakkan giginya. "Apa yang membuat mu begitu marah, Kyle? Bukannya di foto itu aku hanya duduk?! Aku tidak melakukan sesuatu di luar batas!" jelas Aila. "Ya, itu benar. Kau hanya duduk, DENGAN LELAKI ASING!" tegas Kyle di akhir katanya.
Saat Jenni menonton dengan seksama. Tiba-tiba saja Aiden ditarik oleh Aila, dan tangan Aiden tak sengaja menyenggol tempat kamera kecil itu diletakkan sampai kameranya jatuh. Tuk! "Apa-apaan ini?!" Jenni berdiri dengan kesal. "Aila, ku mohon maafkan aku," ujar Aiden. Karena suaranya masih bisa di dengar, Jenni kembali duduk dan memperbaiki postur nya. "Aiden, serahkan liontin itu," sahut Aila. "Aku pasti memberikannya padamu. Tapi, kau harus memaafkan ku. Aku tidak meminta hal lebih, hanya ingin kau memaafkan ku," pinta Aiden berkali-kali. "Baiklah, aku akan maafkan mu," sahut Aila. Jenni yang mendengar itu menyering
Sesuai dengan perkataan Jenni, tanpa melalui kesulitan apapun, Aiden langsung bergabung sebagai tokoh pendukung dalam shooting film yang di sutradarai oleh Mikel. "Koneksi memang luar biasa, ya. Dengan memiliki seorang Ibu yang cakap, bisa langsung masuk peran tanpa audisi," singgung salah satu aktor yang memerankan pemeran tambahan. "Film Morning Sky adalah film yang menceritakan tentang gadis desa yang memimpikan kebebasan di pagi hari. Film yang cukup unik dan memiliki alur yang manis, dimana pemeran utama pria akan memberikan segalanya untuk pemeran utama wanitanya," sahut Aiden. Tiba-tiba membahas soal jalan cerita film yang akan mereka mainkan, rekan Aiden yang menyinggungnya tadi menatap Aiden dengan bingung. "Ada apa? Kenapa kalian menatap ku begitu?" tanya Aiden.
Beberapa menit berlalu sejak Aila mengajukan pertanyaan. Kyle terus diam mematung di depan pintu, tak memberi jawaban barang sepatah kata pun. Sementara di lain sisi, Aila yang tak kunjung mendapat jawaban, merasa sangat malu sampai rasanya ingin bersembunyi di lubang tikus. "Lu-Lupakan yang ku tanyakan tadi. Aku mengantuk, tidak perlu memanggil dokter," ujar Aila yang langsung berbaring dan mengubur dirinya di dalam selimut. Dari jarak yang cukup jauh, Kyle tersenyum tipis. Tak lama kemudian, Aila mendengar suara pintu yang terbuka kemudian tertutup. Aila keluar dari selimut, dan mendapati kamar nya sudah kosong. "Apa aku yang berpikir terlalu jauh?" ujar Aila sambil menggaruk kepalanya. Sementara itu, Kyle yang baru saja keluar dari kamar Aila, mendapat panggilan dari Heri kalau perintahnya terkait Melissa sudah selesai
Sesampainya Kyle di rumah sakit, ia melihat Nenek, Bibi kedua, dan Bibi ketiganya tengah menangis. "Kalian kenapa? Apa yang terjadi pada Ailaku?" tanya Kyle. "Kyle, kau lihat saja sendiri. Keajaiban telah terjadi," ujar Bibi kedua. Mendengar kata keajaiban, Kyle menduga akan ada kabar baik soal Aila. Tapi entah kenapa lututnya teras lemas, sampai langkah kakinya teras sangat berat. "A-Aila....Aila," gumam Kyle. Saat Kyle sampai di depan ruang ICU, tangannya gemetar saat memegang gagang pintu. "Tenang lah, Kyle," ujarnya ke diri sendiri. Saat Kyle akhirnya berani memutar gagang pintu, ia melihat sosok Aila tengah tersenyum tipis ke arahnya. "Kyle, akhirnya kau datang
Kyle mengurung Melissa di ruang tertutup yang lembab. Pencahayaan di ruangan itu hanya sebuah lampu gantung yang redup, sampai terasa seperti ruang interogasi. "Ka-Kau mau apa?" tanya Melissa. "Menurut mu?" tanya Kyle balik. Melissa langsung merasakan firasat buruk. Dia meronta-ronta sekuat tenaga, sampai lengannya memar dan darah mulai mengalir di sudut bibirnya. "Untuk seukuran orang yang organnya terluka, bisa-bisanya kau bergerak seperti itu," ujar Kyle. Dada Melissa memang terasa berdenyut sakit. Tapi rasa takut akan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya, membuat Melissa tak menghiraukan rasa sakitnya. "Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Melissa. "Kenapa aku harus melepaskan mu? Aku membayar mahal untuk mengeluarkan mu," jelas Kyle. Mendengar hal itu, Melissa sontak terbelalak. Ia t







