Share

PIN ATM

Author: Fikri Mahmud
last update Last Updated: 2022-03-22 16:45:32

Dompet Mas Abraham sudah kutemukan di laci meja dekat ranjang pasien, sesuai dengan petunjuk Mbak Fatma Kumala.

Kartu ATM suamiku ada tiga. Apa semuanya berisi uang?

Yang mana, yang akan kupakai untuk membayar tagihan rumah sakit ini nanti. Aku tercenung menatap isi dompet suamiku. 

Selembar uang senilai sepuluh ribu ada di tangan. Nanti jika diizinkan pulang oleh dokter aku mau menengok Maryam. Tadi kata Mbak Fatma Maryam dititipkan pada tetanggaku.

Setidaknya aku beruntung punya tetangga yang baik hati. Hubungan kami simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Jika darurat, saya bisa titip Maryam padanya dan dia jika butuh sayur mayur segar bisa memetik di kebun belakang rumahku, halal. Apalagi saat harga cabai meroket, dia akan bersyukur sekali kuperbolehkan memetik di kebunku.

Aduuh! Aku kebelet pipis. Panggilan alam membuatku menghentikan lamunan.

Dengan langkah tergesa, aku menuju ke kamar mandi.

Ih, ribet sekali buang air kecil harus melepas celana panjang. Mana keburu keluar lagi. 

Aku mondar-mandir sambil berusaha melepas resleting agar tak mengucur di lantai sebelum masuk toilet. Duh, seret pula. Demi bisa ngempet kualihkan pikiranku dengan sebungkus sate, kalau tidak begitu bisa mengucur tanpa kendali. Ah, akhirnya bisa. Tergesa kumasuk.

Sambil duduk atau berdiri? 

Biasanya laki-laki kalau buang air kecil sambil berdiri. Aelah, duduk sajalah lagi pula tak ada yang lihat. Sunnahnya duduk 'kan meskipun lelaki.

Malam harinya dokter berkunjung. Ia mengatakan aku boleh pulang besok pagi. Ada yang kupikirkan sejak sebelum kedatangan Dokter, yaitu tentang PIN ATM suamiku. Aku tak tahu PIN dia. 

Jadi ketika dokter bertanya, "Ada keluhan apa?"

Kujawab saja padanya, "Dok, saya kesulitan mengingat beberapa hal penting. Tapi, saya masih ingat nama, istri dan anak saya."

"Contohnya?"

"Seperti, saya lupa PIN ATM, lupa detail pekerjaan saya sebagai Carik. Lupa kenapa saya bisa berada di rumah sakit ini detail kejadiannya seperti apa. Lupa kenapa istri saya tak ada yang menjenguk. Kemana keluarganya?"

Entah apakah ada istilah medis lupa sebagain atau sama saja amnesia istilahnya. Apakah ada amnesia lupa gender? Untuk yang satu ini aku tak ingin mengatakannya pada Dokter ini.

Tentu saja drama bahwa aku bukan laki-laki harus kutahan. Demi diagnosis jiwaku normal.

"Tampaknya benturan di kepala cukup keras sampai Bapak lupa. Berapa tahun Bapak sudah menikah?"

"Nah, itu dia saya juga lupa. Mungkin empat tahun karena saya ingat punya anak usia tiga tahun."

"Bisa jadi Bapak saat ini menderita amnesia sementara."

"Bisa balik 'kan, Dok?" tanyaku khawatir.

"Pasti bisa. Jangan khawatir."

Dokter ini baik sekali, kata-katanya selalu positif.

"Oh, begitu. Dok, bisa tolong buatkan surat dokter agar saya bisa ke bank untuk mengubah PIN karena saya lupa. Ini penting buat saya untuk bisa membayar tagihan rumah sakit, nantinya."

Hanya itu ide yang terbetik di pikiran. Khawatir jika ke bank mengatakan lupa PIN, mereka tak percaya dan bikin lama prosedurnya, lebih baik nanti kusodorkan surat dokter. Aku juga belum tahu cara lain karena semenjak jadi istri Mas Abraham, ATM ku kosong. Untung Syari'ah wadi'ah jadi rekening tidak gosong apalagi sampai diblokir meski isinya cuma seribu selama dua tahunan. 

Pikiranku bekerja keras untuk hari esok. Sementara Pak Dokter sedang berbicara pada perawat yang sedang mengiringinya.

"Nanti ingatkan saya untuk buat surat dokter tentang Bapak ini. Besok pagi boleh pulang, jangan lupa suratnya nanti berikan."

Para perawat mengiyakan lalu mereka permisi untuk mengunjungi pasien lain.

"Ham, kamu amnesia?" tanya Mbak iparku.

Oh, aku lupa bercerita. Mbak iparku, ada di ruang ini sejak tadi tapi dia lebih banyak diam saat kunjungan dokter tadi.

"E-he ... he ... sedikit, Mbakyu," ucapku sambil menyipitkan sebelah mata lalu ibu jari dan telunjuk membentuk huruf o yang saling tak bersentuhan. Bahwa yang kulupa hanya sak ndulit, sedikit sekali.

"O, pantes."

"Pantes apanya, Mbakyu."

"Pantes dari kemarin manggil aku Mbakyu terus. Biasanya saja cuma Mbak. Apalagi yang kamu lupa?"

"Aku lupa kalau aku laki-laki Mbakyu," ucapku spontan. Segera aku tersadar dan menutup mulutku.

"Heh! Jadi yang kamu ingat kamu perempuan? Amnesia macam apa itu?"

Kutepuk-tepuk mulutku. Asem, gara-gara lidah tak bertulang aku bisa dikata abnormal. Huh!

"Becanda, Mbakku, becanda ... suwer."

Jujur aku sendiri bingung dengan kondisiku. Bagaimana bisa aku merasa perempuan tapi sebenarnya laki-laki dan seolah aku Ulfa Khairiyah. Bagaimana medis menjelaskan itu? Apa iya kepribadian ganda? Mana mungkin. Aku kan tak punya trauma masa lalu. Ah, tak taulah.

Aku hanya meyakini bahwa sebenarnya jiwaku ini adalah istri Mas Abraham.

Masa kecilku sangat bahagia sebagai putri tunggal keluarga yang kemampuan ekonominya cukup. Apa saja yang kuinginkan, nyaris selalu terpenuhi. Jarang dikecewakan dan aku mengingat semua itu.

Hanya ketika menjadi istri Mas Abraham saja hidupku agak susah. Makan hati, mbatin terus. Ada suami sepelit dia, apalagi kikirnya cuma padaku, tambah nyesek tiap tahu ia sedekah besar besaran ke orang lain. Untung orang tuaku mewariskan rumah dan kebun belakang untukku. Jadi hidupku tak segera berakhir kelaparan.

Aku jadi teringat saat Mas Abraham mengatakan bahwa Almarhum Kahunan memberikannya jabatan Carik. Sebetulnya tak begitu serta merta beliau yang mengangkat, tapi dulu ayahku lah yang minta pada beliau agar menantunya itu diangkat Carik setelah ia menjabat.

Seharusnya Mas Abraham punya utang budi pada ayahku kenapa ia justru menduakanku dengan alasan utang budi ke Almarhum Kahunan.

Apa baginya membayar budi itu harus menikahi anak perempuannya?

Kasihan Arina. Nasibnya bakal berakhir sepertiku juga nantinya.

Keesokan harinya aku menghadap ke perawat jaga menanyakan biaya yang harus kubayar.

Setelah menunggu beberapa saat untuk menghitung semuanya, wanita berpakaian medis itu menyerahkan nota biaya rinciannya.

"Sus, saya tidak bisa membayar sekarang. Kalau boleh pukul sembilan nanti saya bawa dulu surat keterangan dokter. Nanti saya segera kembali. Lagi pula istri saya masih di sini."

Perawat tersebut tampak berpikir keras. 

"Harusnya dilunasi dulu, ya, Pak. Tapi, coba saya telpon dulu diizinkan tidaknya." Perawat cantik di depanku mulai menghubungi atasannya.

Pfff! Rasanya susah juga beradaptasi dengan kelelakian suamiku. Sebenarnya pihak bank mau tidak ya, mengurusku mengubah PIN yang tak kuketahui tanpa surat dokter?

"Oh, ya, Pak. Sebenarnya mengurus PIN tidak perlu menggunakan surat dokter. Tapi, agar Bapak bisa mengurus biaya tagihan rumah sakit. Bapak boleh ke bank dulu."

Alhamdulillah, kalau bisa. Aku segera permisi darinya.

Kepada Mbak Fatma Kumala, aku meminta agar ia tetap menunggu istriku sebentar.

Singkat cerita, aku sampai di bank BCI setelah sebelumnya buru-buru pulang untuk mengambil buku tabungan.

Saat CS Bank meminta tanda tanganku. Dia kembali menyodorkan kertas.

"Maaf, tanda tangan harus sama dengan KTP, ya, Pak." 

Aku menerima kertas yang harus kutanda tangani. Tanganku meraba dompet dan mengeluarkan KTP.

Di situ aku baru tersadar belum berlatih tanda tangan suamiku. 

Duh, gimana ini? Mengapa aku kurang perhitungan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jiwa Yang Tertukar   Kunci Utama

    "Pembukaannya sudah sempurna. Sekarang tarik napas dalam-dalam!"Mas Abraham menarik napas sesuai arahan, pipinya tampak menggelembung besar.Aku menahan tawa dengan menakupkan tangan ke mulut karena ia sampai menyimpan udara di pipi."Kau, ke-ter-laluan mener-ta-wakanku," ucapnya tebata-bata di sela rintihannya yang menyayat jiwa.Mendengar ucapannya, aku segera memasang wajah serius."Mulai! Dorong!" perintah Bu Bidan.Ia mendorong sekuat tenaga seperti orang wasir yang ingin buang hajat tapi kotoran tak kunjung keluar karena kesangkut di ambiennya."Yeah! Dorong, dorong, dorong," kataku dengan mulut komat-kamit tanpa suara di belakang bidan tapi menghadap wajah Mas Abraham. Kedua tangan kuangkat sambil mengepal dan menggerakkan siku ke atas ke bawah seperti yel-yel."Bu, Bi-sa ge- ser, auuuuh!" Ia memohon Bu Bidan geser sambil merintih. Suaranya mirip lolongan serigala, ups.Karena Bu Bidan geser ke bawah aku jadi maju sedikit dekat kakinya. Tak disangka dengan cepat kakinya yang t

  • Jiwa Yang Tertukar   Detik-detik Melahirkan

    Sehari sebelum kelahiran, Mas Abraham memegangi perutnya."Perutku sekit sekali, lihatlah!" keluhnya sambil menunjukkan telapak tangannya yang gemetar, mungkin karena menahan rasa sakit. Tak lama kemudian tangannya menggenggam kencang dengan wajah yang meringis, keringat dahinya bercucuran.Kupikir mungkin ia sedang mengalami kontraksi, tapi aku yakin bahwa ia tak tahu kalau akan segera melahirkan."Sudah berapa lama sakit kayak gitu?" tanyaku santai."Habis subuh tadi pas rakaat kedua. Saking sakitnya aku lanjutkan shalat sambil duduk. Terus waktu salam sakitnya ilang terus sekarang sakit lagi. Ini kenapa, ya. Dalam perut rasanya ada tangan yang meremas-remas bagian dalamnya. Apa janinnya tidak mati remuk.""Hus, remuk-remuk, kayak roti kering diremat saja. Ke bidan, yok. Periksa kenapa bisa gitu. Kali aja dikasih obat pereda sakit," ajakku. Tak ingin kukatakan padanya bahwa ia sudah harus bersiap. Takutnya keluar bandelnya minta di SC.Kalau berdasarkan dengan penuturannya ada jara

  • Jiwa Yang Tertukar   Ingin SC

    "Sabar," jawabku saat ia mengeluh selepas dari kamar mandi."Kapan kita bisa kembali ke raga masing-masing. Sudah enam bulan tak ada titik terangnya." Ia kembali mengeluh."Kau beruntung bisa mengeluh padaku. Dan aku mau mendengarkanmu. Kau ingat dulu, betapa cueknya dirimu saat aku mengaduh.""Iya, aku ingat. Kupikir kau hanya berlebihan. Ternyata memang lelah luar biasa dan bikin stressssss!"Aku tersenyum mendengarnya. Semoga tak ada lagi di dunia ini yang menuduh istrinya di rumah cuma ongkang-ongkang kaki. Apa yang dikerjakan dan dirasakan oleh wanita itu tak terlihat mata hasilnya. Padahal meletihkan.Andaikan semua yang dilakukan oleh wanita dihargai dengan uang. Aku yakin mereka pantas diberi nafkah lebih banyak dari ART yang merangkap sebagai baby sitter sekaligus sebagai koki bahkan lebih dari itu.Usia kandungan mulai menginjak sembilan bulan aku mengajaknya untuk USG terakahir kalinya."Buat apa? Buang-buang uang lagi pula aku malu jika harus dilihat lagi. Ini aurot," tola

  • Jiwa Yang Tertukar   Belum Terpecahkan

    Pertanyaan Mbak Ipar soal keramas membuat aku dan Mas Abraham saling pandang, lalu kami tertawa sambil menutup mulut."Kenapa tertawa?" tanya Mbak Fatma Kumala."Kami semalam itu cuma ngobrol saja, Mbak. Tentang urusan desa. Kami tidak nganu, kok. Iya, 'kan, Dek?" Aku mencoba meluruskan serta meminta penguatan pada Mas Abraham."Iya, Mbak. Wong Mas Abraham kuajak ndak mau, kok."Et, dah kenapa pula jawaban Mas Abraham pakai menyudutkan aku."Kamu ndak kangen, Ham? Kasihan istrimu, loh." Mbak Fatma Kumala, kok, tak malu, ya, bilang gitu. Padahal dia 'kan perempuan."Aku capek, Mbak. Mana ada mood." Kujawab saja seperti itu, rasanya mukaku panas kayak kepiting rebus yang baru ditiriskan. "Yang sabar, ya, Fa. Gitu dia mau kawin lagi sama Arina. Satu istri saja ndak kuat." Mbak Fatma berkata menghadap ke Mas Abraham yang menghuni ragaku."Entahlah Mas Abraham itu. Baru jadi carik saja, sok-sokan mau poligami. Ya, kan, Mbak?" Aku tersedak air minum. Mentang-mentang tubuh yang dia pakai

  • Jiwa Yang Tertukar   Pengakuan Mas Abraham

    Malam itu, aku, Maryam, Mbak Fatma dan Mas Abraham berkumpul di ruang tamu dengan beralaskan tikar.Mereka berdua bertanya tentang kejadian yang menimpa kami. Tentu kuceritakan menit-menit terjadinya likuifaksi. Juga tentang Pak Lana yang tak sanggup kami selamatkan."Kalau saja Pak Lana tak terlalu sombong, ...." Mas Abraham menyayangkan kejadian itu. "Sudah takdirnya hanya sampai di situ," ucapku.Kami banyak bercerita sampai tak terasa kami berempat, tertidur di ruang tamu beralaskan tikar. Kasur kapuk yang ada di kamar juga di bawa ke depan agar Maryam tidur di situ sekalian. Jarang-jarang Mbakyu Fatma Kumala mau menginap.Jam dua dini hari aku terbangun. Kulihat Mbak Fatma dan juga Maryam tertidur pulas begitu pula Mas Abraham. Kutinggal mereka untuk pergi ke kamar mandi karena kebelet pipis.Sekembaliku, Mas Abraham sudah bangun dan duduk menantiku."Mau ke kamar mandi?" tanyaku padanya."Nanti saja. Aku mau bicara mumpung mereka tidur," jawabnya sambil matanya seolah menunju

  • Jiwa Yang Tertukar   Kami Bertemu Keluarga

    "Kalian tunggulah di sini, saya akan pergi meminta bantuan untuk transportasi kita ke pemukiman baru," ujar Pak Lurah."Ham, ayo, ikutlah!" ajak Pak Lurah."Kemana, Pak?" tanyaku."Ke pemesanan travel. Kita pesan bus pariwisata.""Mau tamasya, Pak?"Tiba-tiba Pak Lurah memukul kepalaku dengan dahan ranting kecil.Salahku apa?"Mau ikut tidak?" tanyanya.Kalau di suruh milih ikut atau tidak, pastinya ingin tidak ikut. Lha, di sini ada Muzakka ya, pilih tinggal di sini, nunggu mantan. Andai tak disemat namaku dengan label Pak Carik. Sayangnya karena faktanya aku Pak Carik, suka duka harus mau mendampingi Pak Lurah. Jadi, mau tak mau harus brangkat.Aku naik ke boncengan motor Pak Carik. "Kami cari bantuan, kalian tunggu di sini. Tapi kalau ada bencana cepat pindah ke tempat aman. Jangan lupa terus berzikir!" perintah Pak Lurah."Siap, Pak!" Semua yang ada di situ menjawab bersamaan."Oh, ya. Yang bawa motor boleh melakukan perjalanan lebih dulu, ada yang sudah tahu kan lokasinya? Bus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status