ログインIndah sudah diizinkan pulang. Begitu juga dengan Elang. Dokter Galih memberikan beberapa resep obat dan instruksi perawatan sebelum mengizinkan mereka pulang. Elang, meskipun masih sedikit lemas, mengucapkan banyak terima kasih pada Sardi dan Pak Karto yang telah membantunya memadamkan api dan menjaga kebun.
“Pak Karto, Sardi... aku nggak tahu harus bilang apa,” kata Elang, suaranya masih serak. “Kalian sudah banyak membantu. Terima kasih banyak.”Sardi menepuk punArumi terus berdoa dalam hati agar Indah bisa diselamatkan. Ia duduk di kursi ruang tunggu puskesdes, tangannya masih berlumuran darah ibunya. Tubuhnya gemetar hebat. Elang duduk di sampingnya, memeluknya erat, mencoba menenangkan.Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk. Setiap detik terasa seperti tahun. Arumi menatap pintu ruang tindakan, berharap pintu itu terbuka dan seseorang datang dengan kabar baik.Akhirnya, pintu itu terbuka. Galih keluar dengan wajah tegang dan langkah cepat. Ia masih mengenakan celemek putih yang ternoda darah. Tapi kali ini, ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuat Arumi merasakan dingin menjalari punggungnya.“Pak Galih, bagaimana kondisi Ibu saya?” Arumi langsung berdiri, menghampiri Galih dengan mata yang masih basah.Galih berhenti. Ia menatap Arumi dengan tatapan yang sulit dijelaskan—campuran antara prihatin, lelah, dan pasrah. Ia menghela napas panjang sebelum berbicara.“Mbak Arumi ... saya minta maaf.”Arumi merasakan dadanya seolah ber
Indah sudah diizinkan pulang. Begitu juga dengan Elang. Dokter Galih memberikan beberapa resep obat dan instruksi perawatan sebelum mengizinkan mereka pulang. Elang, meskipun masih sedikit lemas, mengucapkan banyak terima kasih pada Sardi dan Pak Karto yang telah membantunya memadamkan api dan menjaga kebun.“Pak Karto, Sardi... aku nggak tahu harus bilang apa,” kata Elang, suaranya masih serak. “Kalian sudah banyak membantu. Terima kasih banyak.”Sardi menepuk pundak Elang. “Sudah, jangan banyak bicara. Istirahat yang cukup. Kebun bisa kita bangun lagi.”Pak Karto mengangguk. “Iya, Mas Elang. Yang penting Mas Elang dan Mbak Arumi sehat.”Arumi tersenyum haru. Ia menggenggam tangan Elang, lalu menatap kedua pria itu. “Terima kasih banyak, Pak. Kami nggak akan lupa kebaikan Bapak dan Mas Sardi.”***Besoknya, Arumi pamit untuk tidak lagi bekerja di apotek. Wajah Bu Lina sangat bersedih.
“Mas,” kata Arumi pelan. Elang menggumam lalu menyahut. “Iya?” “Ada yang mengirim pesan ke saya. Katanya mau bertemu.” Arumi menjelaskan dengan perlahan. Elang menatap Arumi, matanya langsung waspada. “Siapa?” “Entahlah. Nomor tak dikenal. Tapi sepertinya dia tahu kalau saya ada di puskesdes sekarang.” Elang mencoba bangkit, tapi tubuhnya masih lemah. “Jangan pergi. Kamu di sini aja.” “Tapi Mas—” “Arumi.” Suara Elang tegas, meskipun napasnya masih berat. “Aku nggak mau kamu pergi sendirian. Apalagi malam-malam begini. Siapa pun yang mengirim pesan itu, dia punya niat buruk.” Arumi menggigit bibir bawahnya. Ia tahu Elang benar. Tapi ia juga tidak ingin terus-menerus bersembunyi. “Baik, Mas. Saya nggak akan pergi.” Elang menghela napas lega. Ia menutup matanya sebentar, lalu membukanya lagi. “Kamu tidur di sini aja. Di sampingku.” Arumi hanya mengangguk. “Nanti setelah Ibu udah bisa rawat jalan, kita temui orang itu,” kata Elang pelan. Suaranya masih serak, tapi ad
Arumi sama sekali tidak melangkah mundur mendengar ucapan Darsono. Ia berdiri tegak, menatap ayahnya dengan tatapan yang membuat tangan Darsono berhenti di udara.“Pak, Rumi sudah muak.” Suara Arumi bergetar, tapi ia tidak menangis. “Seumur hidup, Rumi selalu menurut. Rumi dijual ke Juragan Gatot untuk melunasi utang Bapak. Rumi disakiti. Rumi dimintai uang terus. Tapi Rumi nggak akan biarkan Ibu jadi korban lagi. Selama ini Bapak selalu bertindak semena-mena pada Ibu.”Darsono menurunkan tangannya, terkejut dengan keberanian putrinya. “Kamu ... kamu berani melawan Bapak sekarang?”“Rumi sama sekali nggak melawan Bapak. Hanya cara pandang Rumi yang sudah berubah ke Bapak.” Arumi melangkah ke kamar, lalu membantu Indah berdiri. “Bu, ayo kita ke puskesdes. Rumi bawa Ibu.”Indah menatap Arumi dengan mata berkaca-kaca. “Nduk …”“Ibu nggak usah takut. Rumi ada di sini. Mas Elang juga. Kita akan rawat Ibu lagi. Ibu jang
“Ibu? Ada apa, ya?” Arumi lalu mengangkat telepon itu. “Halo, Bu …” sahut Arumi dengan suara lembut. “Arumi. Ibumu sakit!” Suara di seberang terdengar samar-samar, tetapi ia bisa mengenalinya. Itu adalah suara Darsono, ayahnya. Arumi terbelalak. Tubuhnya menegang. “Ibu sakit lagi, Pak? Aku pulang ke rumah ya …” “Tidak usah! Kirim uang aja!” Kalimat itu membuat Arumi terdiam. Dadanya sesak. Ayahnya tidak berubah. Darsono hanya peduli pada uang. Tidak pernah peduli pada ibunya. Tidak peduli pada Arumi. “Pak, bagaimana kondisi Ibu sekarang? Apa yang sakit?” tanya Arumi, mencoba menahan emosinya. “Ya sakit! Batuk-batuk lagi! Nggak bisa bangun dari kasur!” suara Darsono di seberang terdengar tidak sabar. “Pokoknya kirim uang sekarang! Bapak butuh buat beli obat!” “Pak, saya nggak punya uang sekarang. Mas Elang sedang dirawat di puskesdes. Kebun kami kebakaran.” “Kebakaran? Hah, itu urusan kalian! Yang penting Bapak butuh uang! Kamu itu anak durhaka!” “Pak, tolong dengar dulu—”
Arumi membiarkan Elang tertidur. Ia menatap wajah pria yang berstatus suaminya yang tenang—meskipun masih pucat, napasnya sudah lebih teratur. Perlahan, ia melepaskan genggaman tangannya, lalu berjingkat keluar dari ruang perawatan. Ia berniat menemui Galih untuk menanyakan kondisi Elang lebih lanjut.Namun, baru saja ia melangkah ke koridor, seseorang menabrak bahunya. Cukup keras hingga Arumi terdorong ke samping.“Maaf, Mbak. Saya buru-buru,” kata wanita itu. Suaranya pelan, tapi ada nada gelisah di dalamnya.Arumi mengangguk, meskipun sedikit kesakitan. “Iya, tidak apa-apa, Mbak.”Ia menatap wanita itu sesaat—rambut panjang tergerai, wajah pucat, dan mata yang merah seperti baru menangis. Wanita itu mengenakan jaket abu-abu lusuh dan celana jeans yang kotor.Ada sesuatu di wajahnya yang membuat Arumi merasa tidak asing. Namun sebelum ia sempat mengingat, wanita itu sudah berjalan cepat menuju ujung koridor, menghilang di balik pintu ruang perawatan lain.Arumi mengerutkan dahi, la







