LOGIN
“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …Pertanyaan Ratri itu datang terlalu tiba-tiba. Pak Hendra langsung menatap putrinya. “Kenapa tanya itu?” tanyanya.“Karena semua orang kayak saling kenal.” Ratri mengangkat bahu kecil. “Pelabuhan. Kontainer. Shipping. Nama-nama itu muter di orang yang sama. Papa aja lancar banget jawab soal suaminya Sheza. Dan dengan kata lain … Papa kenal dua suaminya Sheza.” Ia kemudian diam.Pak Hendra tersenyum lagi. Namun kali ini senyum itu terasa jauh lebih tipis. “Bisnis dunia atas memang kecil.”“Iya. Kecil. Jawaban Papa juga diplomatis.” Ratri mengangkat bahu. “Dan anehnya … Sheza dapat suami dua-duanya orang pelabuhan.”“Untuk itu … Satria lebih dulu turun ke dunia pelabuhan. Temannya itu, mungkin belajar dari Satria. Mereka dekat, tapi berbeda gaya. Jauh.” Pak Hendra mengemukakan pendapatnya dengan lebih wajah serius. Kali ini penilaiannya memang objektif.Ratri mendecak kecil sambil mengambil roti panggangnya. Namun beberapa detik kemudian ia kembali bicara.“Tapi serius…” tatapannya turu
Ratri baru turun dari lantai dua setelah memastikan anaknya benar-benar sudah bangun dan bersiap berangkat sekolah. Rambutnya masih setengah basah. Kemeja putih longgar yang dipakainya membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.Begitu memasuki ruang makan, ia langsung melihat Pak Hendra sudah duduk di sana.Padahal biasanya papanya jarang sarapan di rumah saat hari kerja.“Tumben,” gumam Ratri sambil menarik kursi.Pak Hendra hanya mengangkat mata sebentar dari koran bisnis di tangannya. “Papa juga masih punya rumah.”Ratri terkekeh kecil lalu mulai menuang teh hangat ke cangkirnya sendiri. Namun baru beberapa detik duduk, ia mulai sadar sesuatu. Papanya memperhatikannya terlalu sering.Bukan tatapan biasa.Tatapan seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu masih berada di tempatnya.“Kamu kemarin ke mana aja?” tanya Pak Hendra akhirnya terdengar santai.Ratri mengangkat alis kecil. “Ke kantor.”“Terus?”“Jemput Raka.”“Terus?”Ratri mulai tertawa kecil sekarang. “Interog
Di ruang kerja Satria, Arga dan Julian menempati sofa berukuran untuk dua orang berdampingan. Di depan mereka ada coffee table yang di atasnya sudah tersedia nampan dengan teko dan beberapa cangkir keramik. Julian lebih dulu menyesap teh yang asapnya masih mengepul.“Kebetulan hari ini belum ada kena caffeine,” kata Julian.“Kenapa nggak ngopi sekalian?” Arga ikut mengambil teh dan memasukkan gula sesendok teh.“Kalau kopi nggak tahan lambungnya,” sahut Julian.“Kalau orang tua biasa emang gitu,” sahut Roman dari belakang Satria. Ia tengah membersihkan luka itu dengan kasa steril. Ia lalu mengamati luka itu dengan raut serius. “Ternyata bagus juga hasil jaitan gue,” ucapnya.“Kalau bagus … lebaran nanti bisa terima jaitan,” sambung Julian, gantian meledek.“Mau jait tunik, atau jait gamis, Say?” Roman kemudian terkekeh-kekeh. Beberapa saat tertawa, ia kemudian diam. “Dah, ah. Diem,” ucapnya sendiri.“Sinting,” kata Arga.Satria tersenyum seraya meringis karena gerakan tangan Roman menj
Semalam akhirnya Satria berhasil membujuk Nayla pulang.Butuh waktu hampir satu jam sampai gadis kecil itu benar-benar mau memakai sandal dan turun dari sofa ruang keluarga sambil memeluk tas kecilnya dengan wajah berat.“Aku minggu depan ke sini lagi?” tanyanya untuk ketiga kali.Satria yang sedang berjongkok di depannya langsung mengangguk. “Iya.” Tangannya membelai pipi sang putri. “Padahal bukan jadwal Papa, tapi Papa akan usahakan izin biar kamu bisa nginep di sini.”Dan Nayla akhirnya diam.Perjalanan mengantar Nayla pulang berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Satria. Rumah Nadine terlihat sepi saat mobil masuk ke halaman. Beberapa asisten rumah tangga membantu membawakan barang Nayla sementara Nadine sendiri sedang tidak ada di rumah.Sebelum turun dari mobil, Nayla sempat memeluk leher papanya sebentar.“Papa jangan lupa.”Satria mengusap puncak kepala putrinya pelan. “Papa nggak pernah lupa.”Pagi hari berikutnya rumah itu kembali hidup oleh rutinitas kecil
Malam sudah jauh lewat.Rumah besar itu memang terlihat selalu tenang. Terlalu tenang bahkan untuk ukuran rumah yang memang jarang berisik sejak bertahun-tahun lalu.Ratri turun dari lantai dua sambil membawa botol minum anaknya yang tadi masih berada di kamar. Lampu-lampu rumah sudah diredupkan sebagian. Hanya menyisakan cahaya hangat di area pantry dan ruang baca.Anaknya sudah tidur sejak satu jam lalu. Anak laki-laki kecil yang meski sudah berusia delapan tahun tapi selalu tidur sambil memeluk dinosaurus kain lusuh kesayangannya.Ratri berhenti sebentar saat melihat papanya masih duduk sendirian di ruang baca.Pak Hendra mengenakan kemeja rumah warna gelap dengan kacamata baca bertengger rendah di hidungnya. Namun lembar koran bisnis di tangannya sudah lama tidak dibalik.Tatapannya kosong ke arah taman belakang.Ratri berjalan mendekat perlahan.“Papa belum tidur?”Pak Hendra menoleh sebentar lalu tersenyum tipis. “Belum ngantuk.”Ratri mendengus kecil. “Padahal obat darah tingg
Satria menatap tangan Sheza yang masih menahan pergelangan tangannya pelan.Lampu kamar sudah diredupkan. Dari kamar bayi di sebelah hanya terdengar dengung kecil baby monitor dan sesekali suara napas Saga yang samar.“Aku cuma capek,” ucap Satria rendah.Namun Sheza tidak melepas tangannya. Tatapannya justru semakin tenang. Semakin lembut. Dan itu selalu lebih berbahaya.Karena Satria tahu, Sheza hanya akan bicara selembut itu kalau wanita itu sudah benar-benar memperhatikan sesuatu.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Satria mengembuskan napas pendek. Ia menyerah pada sorot mata cantik yang menatapnya.“Ada luka kecil,” katanya akhirnya.Sheza masih diam.Tangannya tetap menggenggam tangan Satria seolah meminta pria itu tetap di sana.“Luka di punggung. Kecil. Dan aku nggak apa-apa,” lanjut Satria pelan.Namun kali ini Sheza menggeleng kecil.“Kita udah tidur bareng cukup lama, Mas,” katanya lirih.Tatapan Satria turun padanya.“Aku hafal tubuh Mas Satria.”Kalimat itu membuat r
Arga yang pertama memecah sunyi. Ia tidak meninggikan suara atau bergerak mendekati Roman. Ia hanya menyilangkan tangan, menatap Roman sejenak—cukup lama untuk membuat orang lain sadar, sekarang giliran siapa yang diuji.“Man,” kata Arga ringan, “gue mau nanya satu hal.”Roman mengangkat wajah, lal
Alina membasahi bibirnya.Tatapannya sempat turun ke lantai, lalu naik perlahan ke wajah Sheza. Bukan tatapan menantang. Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan—wanita di depannya cukup kuat untuk mendengar cerita yang akan ia buka. Meski bukan kekuatan fisik yang dibutuhkan saat itu. Ia men
Roman tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.“Serius banget sih, Sat. Dari dulu juga hidup lo nggak pernah santai.”Satria menatapnya sebentar.Tatapan itu mampu membuat Roman berhenti tertawa.“Gue memang nggak pernah hidup buat santai,” kata Satria. Ia tidak menaikkan suara.“Dan orang yang b
“Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny







