Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 1. Lelaki yang Tidak Pulang

Share

KAMAR KEDUA
KAMAR KEDUA
Penulis: juskelapa

Bab 1. Lelaki yang Tidak Pulang

Penulis: juskelapa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 15:28:07

“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.

“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya.

“Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi.

“Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya.

“Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak.

Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang.

Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal.

Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?"

"Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil.

Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya.

Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu.

“Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan.

“Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin.

"Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya.

"Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak.

“Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya.

Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.”

Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya.

Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya.

Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik.

BRAAAK!

Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos.

Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh.

Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung.

“PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit.

Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga.

“Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu.

*****

(IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota)

Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar.

Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.”

Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan.

Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?"

Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya.

Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti.

“Bapak telepon atau kita….”

“Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (42)
goodnovel comment avatar
efy
di awali dengan dag dig dug ser di awal babnya... (baca ulang)
goodnovel comment avatar
Muza Ulum
baru berani baca udah takut lanjut......
goodnovel comment avatar
Styaningsih Danik
udah meloow dibab 1 ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 131. Training Adik Baru

    Satria meraih tangan kecil itu di atas meja. “Nayla.” Tatapannya hangat namun tegas. “Dengar baik-baik. Hati Papa itu bukan kamar satu pintu. Bukan kalau ada yang masuk, yang lain harus keluar.”Nayla menatapnya tanpa berkedip.“Cinta itu nggak terbagi,” lanjut Satria. “Cinta itu bertambah.”Sunyi beberapa detik.“Janji?” tanya Nayla.“Papa nggak pernah main-main,” ucap Satria.Nayla mengangguk.Lalu, dengan gaya yang lebih ringan, ia berkata, “Kalau gitu nanti bayinya jangan manja banget.”Satria tertawa kecil. “Kamu aja yang ajarin.”“Aku bakal ajarin dia jangan ganggu Papa kalau lagi jemput aku,” ujar Nayla diiringi tawa ringan.Satria tersenyum tipis. “Deal.”Percakapan itu mereda pelan. Nayla tidak lagi bertanya. Wajahnya sudah lebih tenang. Tidak sepenuhnya selesai, tapi cukup untuk hari itu.Beberapa detik mereka hanya duduk berdampingan menyantap pesanan mereka tadi. Lalu setelahnya Satria menoleh sedikit, seperti baru teringat sesuatu.“Kamu mau ikut Papa nggak?”Nayla langsu

  • KAMAR KEDUA   Bab 130. What We Don’t Say

    Satria tidak langsung bertanya lagi. Ia menggenggam tangan Nayla lebih lama dari biasanya sebelum membukakan pintu mobil.“Papa lapar,” katanya ringan. “Temenin makan siang?”Nayla mengerling. “Papa aja kali yang lapar.”“Kamu nggak?”Nayla pura-pura berpikir. “Kalau ada es krim, mungkin.”Satria tersenyum tipis. “Licik.”Saat Satria menggandeng Nayla, sopir pribadi keluarga Kertasoedibyo yang berdiri tak jauh dari mereka terlihat ragu.“Pak, Nayla habis ini ada les tambahan. Sekarang langsung pergi sama Bapak atau ….” Kalimatnya menggantung. Satria tahu yang tidak diucapkan: ‘Takut Bu Nadine marah.’Satria menatapnya tenang. “Pak Safri pulang saja.”“Tapi Bu Nadine—”“Saya yang antar Nayla nanti.” Nada suaranya datar, tapi sangat tegas. Pak Safri mengangguk cepat. “Baik, Pak.”Mereka berpisah di depan sekolah. Nayla kemudian masuk ke mobil dan tetap memperhatikan ke mana Safri pergi. “Pak Safri takut dimarahin Mama,” ucapnya.Satria melirik sebentar. “Kalau Pak Safri langsung bilang

  • KAMAR KEDUA   Bab 129. As Parents 

    Sheza terbangun lebih dulu pagi itu.Tubuhnya masih menyimpan sisa hangat malam sebelumnya. Di kulitnya, juga di dada. Ia berbaring beberapa detik, memandangi langit-langit kamar. Lalu ia menoleh pada Satria yang masih tertidur di sampingnya. Satu tangan berat pria itu masih di pinggangnya. Seakan percintaan semalam tak pernah benar-benar selesai.Sheza tersenyum kecil.Satria benar-benar tahu cara mencintainya, juga cara memenuhi pikirannya.Satria jarang berkata manis.Pria itu tidak pandai merangkai kalimat.Tapi Satria selalu menyempatkan diri mengantar, menjemput, mengusap punggungnya saat ia terlihat lelah, atau memijat bahunya saat ia kecewa, juga membelai perutnya tanpa diminta. Satria juga menyeka tubuhnya setelah bercinta, dan memastikan ia tak pernah merasa sendirian.Perlahan Sheza mengangkat tangan Satria dari pinggangnya dan duduk di tepi ranjang hanya mengenakan celana dalam. Rambutnya terurai, tubuhnya semakin berat oleh kehamilan yang usianya semakin bertambah. Payu

  • KAMAR KEDUA   Bab 128. Di Antara Napas yang Ditahan

    Satria menghembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan ketika Sheza mendekat lebih dalam. Ia tidak terburu-buru. Namun hal itu yang membuat segalanya terasa panjang.Sheza bergerak dengan kesabaran yang hampir bisa dibilang kejam. Lambat, memberi, lalu menahan. Mendekat, lalu mundur sedikit. Seolah ia sengaja membuat Satria menunggu setiap detik berikutnya.Tubuh Satria mengencang di bawahnya.Tangannya yang semula hanya tergeletak di sisi kini naik, menyusuri rambut Sheza perlahan lalu berdiam di kepala itu karena ikut merasakan gerakannya.Napasnya mulai berubah menjadi lebih berat dan dalam. “Zee ….” Suaranya serak, nyaris seperti peringatan yang formalitas saja.Sheza tidak menjawab.Wanita itu hanya menaikkan tatapannya sebentar. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang berkilat di sana, yang bukan sekadar gairah.Sheza tahu persis apa yang sedang dilakukannya. Dan Sheza melakukan itu untuknya.Sheza menggenggamnya, hangat, erat dan tetap lambat. Maju mundur dengan basah seperti omb

  • KAMAR KEDUA   Bab 127. Hangat yang Tidak Terucap

    Satria benar-benar tidak menyentuh kopinya seharian itu. Ia baru menyadarinya ketika tubuhnya mulai terasa berat dan kepalanya sedikit berdenyut.Saat Sheza selesai membereskan meja, Satria menyandarkan punggungnya ke kursi dan berkata pelan, “Zee, bikinin aku kopi sedikit. Hitam aja.”Sheza mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu itu bukan sekadar kopi. Itu jeda. Itu cara Satria menurunkan hari yang terlalu panjang.Aroma kopi menyebar pelan di dapur yang sudah hampir gelap. Sheza menuangkannya ke cangkir kecil favorit Satria. Tanpa gula, tanpa tambahan apa pun. Ia menyerahkannya, dan Satria menerimanya dengan tatapan yang sedikit lebih lama dari biasanya. “Terima kasih.”Sheza hanya tersenyum kecil, lalu duduk tak jauh dari Satria. Satu tangan pria itu berpindah ke pahanya, lalu mengusap bagian itu dan pindah ke lengannya. Satria terus membelainya sampai tangan mereka bertemu, lalu bertaut. Satria menggenggam tangannya lama dan hangat. Beberapa menit kemudian mereka masuk ke kamar. Lamp

  • KAMAR KEDUA   Bab 126. Bukan yang Mama Pikir

    Garpu itu berhenti.Nasi beruang yang tadi ditekan sampai rusak kini diam di ujung sendok. Nayla menatapnya beberapa detik, seperti sedang menenangkan sesuatu di dalam dadanya.Lalu ia menarik napas kecil.“Papa nggak akan pernah ninggalin aku,” katanya pelan.Nadine tersenyum tipis. “Mama juga nggak bilang Papa ninggalin.”“Tapi Mama ngomongnya bikin aku takut.” Kalimat itu keluar tanpa marah dari mulut Nayla.Nadine sedikit terdiam.Nayla menaruh sendoknya pelan. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi suaranya berusaha tenang. “Papa kalau peluk aku itu beda,” lanjutnya.“Beda bagaimana?” tanya Nadine.Nayla berpikir sebentar, mencari kata yang ia punya. “Kalau Papa peluk aku, Papa nggak liat jam,” kata Nayla pelan.“Papa nggak sambil pegang HP. Papa nggak sambil bilang, ‘Sebentar ya.’”Sunyi turun tipis. “Aku juga nggak pernah dengar Ibun minta apa-apa sama Papa,” tambah Nayla. “Ibun cuma bilang Papa juga harus istirahat, jangan kerja terus.”Nadine menyilangkan tangan di dada. “Kamu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status