LOGINKalimat Sheza terpotong saat Satria langsung menindihnya pelan.Detik itu … Sheza tak pernah berpikir akan bisa lolos. Tatapan Satria membuatnya sungkan bergeser. Ia tahu tatapan itu.Itu tatapan pria yang sudah terlalu lama menahan diri.Ia tahu suaminya belum bisa mengajaknya bercinta penuh. Luka paska persalinannya sudah sembuh. Namun … menstruasi hari pertama tidak pernah dianggapnya ringan. Dan Satria yang selalu bersikap hati-hati, tidak akan pernah memaksanya.Namun … tetap saja Satria membutuhkan istrinya. Ia pria yang tetap perlu menyentuh. Mencium dan memuaskan dirinya dengan banyak cara.Tak lama Satria langsung menemukan bibir Sheza dan melumatnya dengan ciuman panas yang dalam.Tangan besarnya menyusup ke pinggang wanita itu. Menarik tubuh Sheza semakin dekat sampai dada mereka saling menempel.Napas Sheza mulai goyah perlahan. “Mas….” Suaranya melemah di sela ciuman.Namun Satria justru turun lebih rendah.Bibir hangat pria itu berpindah ke leher Sheza. Mengecup. Menyesa
Saat matahari perlahan melorot ke ufuk barat, rumah di Jl. Pine II No. 8 kembali dipenuhi suara langkah dan aroma masakan dari dapur.Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu ketika mobil hitam Satria memasuki garasi rumah.Dan seperti biasa hal pertama yang dicari pria itu bukan minuman hangat atau menu makan malam, atau terutama bayi menggemaskan yang semakin menandai orangtuanya.Pria itu mencari istrinya.“Bu Sheza di mana?” tanya Satria singkat pada Mbak Tuti sambil meletakkan ransel di sofa. “Di kamar, Pak. Kayaknya tadi bilang mau mompa ASI.”Tanpa menunggu lama, Satria langsung mengangguk lalu melangkah ke lorong kamar kedua.Ia membuka pintu kamar perlahan. Mengira kalau Sagara sedang di ranjang mereka dan masih menikmati sisa tidur siang. Ternyata tidak.Hanya ada Sheza yang duduk di sofa tunggal dekat nakas. Wanita itu memakai jubah mandi warna putih gading yang longgar membungkus tubuhnya. Rambutnya terlihat masih sedikit lembap.Di sebelahnya alat pompa ASI masih me
Ruang meeting utama di lantai atas gedung Rylee Logistics sudah penuh sejak sebelum pukul sembilan.Layar besar di ujung ruangan menampilkan jalur distribusi batubara, angka tonase, dan jadwal keberangkatan tongkang yang bergerak padat hampir tanpa jeda.Beberapa pria berseragam lapangan berdiri di sisi ruangan sambil membawa map tebal. Sedangkan tim operasional dan keuangan duduk lebih dulu dengan laptop terbuka.Udara ruangan dipenuhi aroma kopi hitam dan ketegangan yang ditahan profesional.“Pihak buyer minta renegosiasi rate pengangkutan untuk kuartal berikutnya, Pak.”Direktur Operasional menggeser beberapa dokumen ke depan meja.“Mereka keberatan dengan kenaikan biaya solar dan maintenance armada.”Tatapan Satria turun pada angka-angka di layar. Wajahnya tampak tenang. Namun cukup membuat seluruh ruangan ikut diam menunggu reaksinya.“Selisihnya?” tanyanya singkat.“Kalau kita turunkan sesuai permintaan mereka…” Direktur Keuangan berhenti sebentar sambil menghitung cepat, “…marg
“Kalau gitu … abis nifas kamu harus pakai pengaman. Bahaya itu, Za …. Bisa–bisa kamu langsung hamil lagi. Apalagi itu masa subur-suburnya.”Sheza tergelak karena perkataan itu. “Tapi aku percaya kalau Sheza bakal segera hamil lagi. Dengan penampilan begini … suaminya pasti sulit bertahan.” Dira menggaruk dagu.Jenar ikut mengangguk. “Sheza kayaknya juga nggak keberatan karena … liat deh auranya. Sheza emang lagi di fase cinta-cintanya sama Pak Elang.”“Aku memang nggak keberatan. Meski masa awal hamil kemarin emang berat banget maboknya, tapi aku nggak kapok.” Sheza nyengir.Posisi duduk mereka memang menghadap televisi dan membelakangi ruang tengah utama yang membatasi ruang makan dan ruang tamu.Posisi itu membuat Sheza lebih leluasa saat menyusui Saga. Apalagi tadi Satria mengatakan kalau Roman dan Vian akan datang juga sore itu.Baru saja memikirkan soal Satria, Jenar tiba-tiba menatapnya sambil tersenyum. “Jadi … Pak Elangnya mana? Sekarang aku makin penasaran. Apalagi Dira bila
Sheza langsung menoleh ke arah pintu. “Nah, kayaknya mereka udah dateng,” kata Sheza. Dengan tangan memegang hanger ia mendekati pintu. Ia menyambar ponsel dekat meja dan membaca pesan terbaru. Dari Dira :‘Za, aku dan Jenar udah nyampe ya.’Sheza lalu membuka pintu kamar dan melongok Mbak Tuti. “Disuruh masuk aja langsung ke ruang keluarga ya, Mbak. Minta buatin teh juga sama keluarin cake yang di kulkas. Sebentar lagi saya keluar. Makasih sebelumnya, Mbak Tuti.” Sheza mengulas senyum. “Baik, Bu,” kata Mbak Tuti. “Sepertinya Dede Saga-nya juga baru bangun, Bu,” tambahnya.“Sebentar lagi saya keluar,” kata Sheza.Setelah mengatakan itu, Mbak Tuti menjauhi kamar kedua.Satria baru selesai berpakaian dan rambutnya yang masih basah sudah tersisir rapi.“Wah, kalau keluar rambut kita sama-sama basah, bisa panjang nanti yang dibahas mereka,” ujar Sheza seraya terkekeh. Ia kembali ke ruang ganti dan mengenakan dress-nya. ““Sepertinya bakal rame ya sore ini. Roman dan Vian mau datang. Buk
Sheza memijatnya perlahan, lalu mengusap puncak kejantanannya pelan dan pelan-pelan memasukkannya ke mulutnya.“Hmm ….”Sheza terlalu lembut. Dan itu malah lebih berbahaya baginya.Kepala Satria sedikit mendongak ke belakang saat jemari Sheza bergerak naik turun. Ritme kepalanya pelan. Kadang berhenti sebentar untuk memberikan sesapan kuat di bagian pangkalnya. Satria semakin gelisah.Air shower terus jatuh membasahi bahu mereka.Sesekali Satria menunduk memandang istrinya dengan tatapan yang semakin gelap. Jemarinya menyusup ke rambut basah Sheza lalu menggenggamnya pelan.“Zee ….” Suaranya serak sekarang.Namun Sheza justru semakin menikmati bagaimana tubuh suaminya kehilangan ketenangan sedikit demi sedikit di tangannya.Bahkan tubuhnya sendiri ikut bereaksi. Napasnya semakin menghangat. Dan payudaranya terasa penuh lagi. ASI-nya kembali merembes turun di kulitnya.Tatapan Satria langsung jatuh ke sana. Ekspresinya berubah dalam seketika. Ada sesuatu di wajah pria itu yang hampir te
Satria kini berdiri dan mengulurkan tangannya membantu Sheza bangkit. Selama beberapa detik mereka saling memandang, tanpa kata. Tak lama kemudian, Sheza menyambut tangan itu. Genggaman Satria tidak kuat, tapi cukup untuk jadi penopang dan tidak menuntut apa pun. “Hari ini Mas Satria nggak ada ke
Dio keluar rumah hampir berlari. Langkah kecilnya berhenti mendadak di teras ketika matanya menangkap pot-pot yang tersusun rapi. “Ibun!” serunya. “Itu…itu bunga kita!” Sheza menoleh sambil tersenyum kecil. “Iya. Ibun bawa beberapa dari rumah kita.” Dio mendekat, berjongkok di depan pot mawar ya
Satria berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja yang sama, lengannya digulung. Di belakangnya meja kerja berantakan oleh berkas dan map cokelat yang belum ditutup. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada seperti seseorang yang sedang bersiap menerima amukannya. “Ada apa?” tanyanya. Sheza tidak
Sheza berdiri lebih tegak. Seperti baru saja mengingat sesuatu yang lama tersimpan. “Mas pernah bilang sesuatu ke aku,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Waktu itu Mas bilang … kalau suatu hari aku menemukan pria yang tulus dan kucintai, yang mau menerima aku dan Dio, aku boleh pergi.” Ia berhenti sejen







