LOGIN“Pak, jangan mempersulit kami. Kami mau menagih. Di sini ada surat sita juga. Kendaraan….”
Di dekat pintu, Sheza membekap mulutnya dengan tubuh gemetar. Bu Ratna ikut membelalak. “Astaga, kamu dikejar-kejar orang beginian? Sebenarnya apa yang Prabu dan kamu sembunyikan dari kami?” Kalimat barusan terasa semakin menusuk di telinganya. Ia hanya memejam menahan ketakutan dan remuk. Juga … malu pada Satria. Debt collector yang memegang clipboard mengulurkan berkas pada Satria. “Kalau Bapak keluarga, tolong jelaskan ke Ibu Sheza ini. Kami berhak menempelkan surat sita dan pemeriksaan aset.” Satria menepis clipboard itu seakan mengembalikannya pada debt collector seraya menggeleng. Tatapannya naik perlahan dengan sorot mata dingin. “Kalian tau nggak kalau saya udah nahan sabar dari tadi?” Suaranya rendah nyaris berbisik. Ia juga sebenarnya tak mau Sheza ataupun keluarganya ada yang melihatnya bertindak kasar pada orang asing persis di depan pintu rumah mereka. Kedua debt collector itu menegang dan saling pandang. “Siapa pun yang punya urusan hukum sama almarhum Bapak Prabu, urusannya lewat saya. Satria Elang Rylee. Kalian bisa datangi saya di Rylee Logistics dekat pelabuhan. Paham?” “Tapi Bu Sheza ….” “Saya bilang apa? Lewat saya!” tegas Satria dengan rahang mengeras. Sheza hanya diam memandang dari dekat pintu. Satria berdiri tegak di depan pintu rumahnya seperti tembok yang menahan badai untuknya. Ia tidak berteriak, tidak kasar. Tapi aura dominannya mengalahkan dua pria yang datang. “Sekarang kalian punya dua pilihan,” lanjut Satria. “Pergi sekarang atau saya laporkan karena masuk pekarangan orang tanpa izin?” Debt collector bertukar pandang. Raut wajah mereka berubah hati-hati. “Baik, Pak. Kami pergi sekarang. Besok kami kembali datang dengan bawa semua prosedur resmi.” “Silakan.” Satria mengangguk kaku sekali. “Tapi tetap jumpa saya. Bukan Bu Sheza.” Kedua debt collector pergi dalam diam dan tergesa. Begitu mereka menghilang di pagar, Satria menutup pintu pagar sedikit keras dan langsung berbalik. Sheza spontan menyingkir dari pintu. Ia tidak ingin Satria melihatnya gemetar seperti itu. Ia tidak mau terlihat lemah. Tidak di depan mertuanya dan tidak di depan … pria itu. Saat masuk, wajah Satria masih kaku. Menurut Sheza hal itu sudah biasa sebenarnya. Satria memang jarang beramah-tamah dengan orang. “Nak Satria … yang tadi itu kira-kira apa, ya? Kenapa ada yang nyari Sheza begitu?” Bu Ratna mendahului Sheza membuka percakapan. Ia mengibaskan tangan menunjukkan kursi pada Satria. Dengan satu tangan di dada, ia duduk lebih dulu menghempaskan tubuh. Ia belum keluar dari keterkejutannya barusan. “Karena Prabu ternyata menyimpan masalah yang dia nggak sempat kasih tau siapa pun. Dan … agak sulit kalau Sheza menghadapi ini sendirian. Sekali lagi, Sheza harus punya kuasa hukum.” Satria memandang kedua orang tua Prabu bergantian. “Kemarin Mas Arga ada ke sini bareng pengacara kantor Mas Prabu. Katanya ….” Sheza mendadak diam. Tiba-tiba ia merasa malu karena terdengar seperti seorang pengadu yang lemah. Satria memandang Sheza dengan satu alis terangkat. Ia menunggu wanita itu menyelesaikan ucapannya. Namun, Sheza malah mengatupkan mulut. Padahal tanpa dijelaskan pun ia sudah mengetahui dari Arga kalau rumah yang ditempati mereka sekarang sudah masuk dalam perkara. Ia yang meminta Arga datang untuk menemani Sheza bicara dengan pengacara kemarin. “Kamu … sementara ini nggak perlu pikirkan apa pun. Aku dan teman-teman yang lain sedang berusaha nyari jalan keluar,” jelas Satria. “Soal kapal Mas Satria yang dipinjam Mas Prabu….” Satria menggeleng. “Nggak usah dipikirin. Setidaknya sementara ini. Tadi aku ke sini mau ngabarin kalau … kamu memang harus bersiap menghadiri sidang perdana kasus gagal bayar perusahaan Prabu.” “Aku tetap harus datang?” Seberapa pun Sheza menyembunyikan ketakutannya, suaranya tetap bergetar saat bicara. “Aku bakal berusaha tetap memantau kasus ini.” Satria mengamati wajah Sheza dengan teliti. Ia ingin mengatakan hal lain soal Prabu, tapi gesture Sheza yang menjentikkan kukunya sejak tadi memperlihatkan kalau wanita itu sedang sangat cemas. Untuk itulah ia tidak ingin bicara di telepon. Agar ia bisa melihat reaksi Sheza. Akhirnya … Satria menghela napas panjang. “Dio sebentar lagi masuk SD, kan? Kamu sudah cari-cari SD mana yang cocok buat Dio?” Sheza menggeleng. “Nanti aku cari dekat sini.” “Tapi rumah ini mungkin nggak bisa ditempati dalam dua minggu ke depan, kan?” Usai mengatakan itu Satria meneliti arti raut wajah Sheza. Sheza tak tahu lagi harus menjawab apa. Pikiran di kepalanya terasa penuh berjejalan. Setelah Satria pamit dan pintu menutup, Sheza berdiri kaku memegang kusen pintu dengan tangan yang masih gemetar. Kedua mertuanya memperhatikan hal itu namun tatapan mereka bukan tatapan belas kasihan. Tatapan mereka adalah tatapan dua orang tua yang sedang menilai ulang sesuatu. Pak Rudi bersandar pada sofa lalu bicaranya dengan suara pelan, “Dia itu Satria yang sering bareng Prabu, kan? Dia masih duda?” Sheza tersentak memandang ayah mertuanya. “Setau Sheza masih, Yah.” sahutnya. Bu Ratna mengangguk lalu meneruskan, “Nadine itu … mantan istrinya, kan? Anaknya keluarga Kertasoedibyo itu? Sudah cerai berapa lama?” “Iya. Mantan istrinya salah satu anggota keluarga Kertasoedibyo. Sudah cerai kira-kira ….” Sheza diam sebentar menghitung usia Dio yang akan dikaitkannya dengan lama masa sendiri Satria. “Lima tahun,” sahut Sheza singkat. “Anaknya cuma satu?” tanya ayah mertua lagi. “Iya, Nayla.” “Yang suka dianterin Prabu kalau Satria lembur itu, kan?” Ayah Prabu mengerutkan kening, seperti mengingat sesuatu. “Dulu sering main ke sini waktu Dio masih bayi.” “Iya, benar,” jawab Sheza lagi. Nada suaranya kering dan datar. Bu Ratna tampak makin penasaran. “Anaknya tinggal sama mantan istrinya, ya?” Sheza mengangguk. “Kadang tinggal di rumah Satria juga. Akhir pekan biasanya di rumahnya. Atau Satria jemput buat makan siang. Seingat Sheza begitu.” Ayah Prabu pun menautkan jemari, matanya menatap pintu yang tadi digedor orang-orang kasar itu. “Nggak tau kenapa, tapi … melihat cara dia tadi menghadapi debt collector, Ayah rasa kalau Satria ada hati sama kamu, Za. Bagus sebenarnya.” Sheza membeku. “Tadi kamu lihat sendiri, kan?” Ayah mertua melanjutkan. “Dia berdiri di depan pintu kayak juru bicara kamu.” Sheza memeluk dirinya sendiri. “Tapi aku bukan …. Aku bukan mau nikah lagi, Yah.” Bu Ratna mendekat, suaranya lebih lembut tapi tajam seperti pisau di beludru. “Sheza, menikah itu nggak harus langsung menambah anak. Kamu dan dia sudah punya anak masing-masing.” Lalu ia mencondongkan tubuh, hampir berbisik. “Ambil manfaat yang lain saja. Nafkah. Stabilitas. Sedih boleh, tapi … tetap harus realistis.” …Tangisan Ratri tidak bisa berlangsung lama. Cepat atau lambat, Raka pasti akan bertanya.Dan kantor polisi bukanlah tempat yang tepat untuk menjelaskan kepada bocah delapan tahun itu bahwa ayah yang selama ini mereka kira hidup damai sambil melupakan mereka ternyata telah meninggal bertahun-tahun lalu.Dengan mata yang masih sembap, Ratri mengusap sisa air matanya.Seorang opsir polisi menghampirinya sambil membawa secarik kertas kecil."Kami menemukan lokasi pemakamannya," ucap opsir polisi itu dengan bahasa aslinya.Ratri menerima kertas itu dengan tangan yang masih gemetar.Di sana tertulis sebuah alamat.Cimetière de Saint-GeorgesChemin François-Dussaud 121205 GenevaDi bawahnya terdapat nomor petak dan nomor makam yang ditulis tangan.Ratri menatap kertas itu lama.Hari itu … Raka tidak jadi ke museum. Hanya sebuah pemakaman yang menunggunya.___________Mobil yang ditumpangi Ratri berhenti perlahan di depan sebuah kompleks pemakaman.Mesinnya masih menyala.Namun sang sopir ti
“May I have your name?” tanya petugas itu. “Ratriana,” sahutnya singkat."His name?" tanya petugas itu. Ratri menelan ludah. "Calvin Tjandra."Petugas kepolisian itu segera mengetikkan nama tersebut ke dalam sistem.Beberapa detik berlalu belum ada hasil. Dahinya berkerut tipis. Ia menggeleng. "Any other name?"Ratri terdiam. Polisi itu menanyakan apakah Calvin memiliki nama lain. Ingatannya melayang pada kartu nama yang didapatnya di ruang kerja Calvin dan masih tersimpan di dalam tasnya. Calvin Andersen.Jadi ... Calvin memang mengganti namanya?Perlahan ia kembali menatap petugas itu. "He may have changed his name ... Calvin Andersen."Jemari petugas itu kembali menari di atas papan ketik.Kali ini … ekspresinya berubah. Ia berhenti mengetik. Tatapannya terpaku pada layar komputer beberapa saat lebih lama.Raut wajahnya yang semula datar berubah serius. Perlahan ia mengangkat pandangan. "Please ... give me a moment."Petugas itu berdiri, meminta izin, lalu berjalan menuju ruang
Raka mengangguk patuh sambil memeluk buku gambarnya. Ratri menggandeng putranya memasuki kantor tersebut."Kamu duduk di sini dulu, ya," pintanya lembut seraya menuntun Raka ke sebuah sofa empuk di ruang tunggu.Raka mengangguk tanpa protes. Ia duduk rapi sambil memeluk buku gambarnya di pangkuan. Kedua kakinya yang belum menyentuh lantai terayun pelan, sementara matanya menjelajahi setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu khas anak-anak.Ruangan itu terang dan tenang. Beberapa pelanggan tampak sedang berbicara dengan petugas di balik meja layanan.Setelah menunggu beberapa menit, tibalah gilirannya."Good afternoon. May I help you?" sapa seorang perempuan berambut pirang dengan senyum profesional.Ratri mengangguk pelan. "Excuse me ... I'd like to ask something." Ia mengeluarkan struk yang sedari tadi disimpannya dengan hati-hati. "Is this receipt from your company?"Ia mengatupkan bibir. Menunggu kepastian apakah tanda terima rental mobil berasal dari perusahaan itu. Perempuan i
"Tanggal kita jadian?” Suara itu pecah bersama sebutir air mata yang jatuh ke punggung tangannya. "Kamu masih ingat ….”Cepat-cepat ia mengusap matanya. Tersadar kalau waktunya tak banyak di tempat itu. Ia tidak bisa larut dalam kenangan. Folder-folder di desktop segera dibukanya. Namun dahinya langsung berkerut."Dokumen lama?"Semua berkas berhenti sekitar tiga tahun lalu. Tak ada satu pun file yang lebih baru.“Aneh.”Dengan gerakan yang mulai terburu-buru, ia masuk ke akun driver-nya sendiri.Satu per satu folder di laptop Calvin disalin ke akun miliknya. Baru setelah proses penyalinan berjalan, ia membuka aplikasi email. Kotak masuknya tampak biasa.Tagihan kartu kredit.Laporan rekening.Buletin.Notifikasi langganan aplikasi.Tidak ada yang mencurigakan. "Hampir semuanya normal...." Ia hendak menutup aplikasi itu. Namun pandangannya berhenti pada satu folder.Draft.Ratri mengekliknya.Ada delapan email yang tak pernah dikirim.Email pertama membuat napasnya tertahan.Pengirim:
Suara yang baru didengar Ratri, membuat darah wanita itu seperti berhenti mengalir.Baru saja ia mendengar ada suara langkah kaki. Pelan dan samar berasal dari arah ruang televisi. Setidaknya begitulah yang didengarnya.Jantungnya berdegup semakin keras. "Mas ...?" panggilnya lirih.Tak ada jawaban."Mas Calvin?"Sunyi.Dengan napas yang mulai memburu, Ratri memberanikan diri melangkah keluar dari ruang kerja. Setiap langkah terasa begitu berat, sementara matanya menyapu setiap sudut apartemen kecil itu.Lalu … saat keberaniannya semakin menipis dan ia hendak berbalik meninggalkan apartemen itu, seekor kucing putih melompat turun dari atas sofa.Kucing itu mengeong pelan.Ratri refleks menepuk dadanya sendiri. "Astaga ...." Tanpa sadar ia bersandar ke dinding sejenak. Ia mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum kecil di tengah rasa lega yang perlahan datang."Jadi kamu yang bikin aku kaget,” kata Ratri.Kucing itu berjalan santai mendekatinya, sama sekali tak terlihat takut pada ora
Sebenarnya, jika hanya memikirkan dirinya sendiri, Ratri tak yakin sanggup menempuh perjalanan sejauh ini.Ia tak akan berdiri di depan sebuah unit apartemen di Swiss, menggenggam kartu akses dengan telapak tangan yang terus berkeringat, sementara masa depannya dipenuhi jawaban yang belum tentu sanggup ia terima.Namun, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri.Ada Raka yang berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya.Bip.Suara panel akses berbunyi pelan.Ratri mengembuskan napas panjang sebelum mendorong pintu apartemen itu.Apa pun yang menunggunya di dalam … ia sudah siap.Begitu melangkah masuk, hanya suara sepatunya sendiri yang terdengar memenuhi ruangan.Apartemen itu sederhana.Rapi.Nyaris terlalu rapi.Persis seperti selera Calvin yang tak pernah menyukai terlalu banyak barang. Sejak dulu pria itu gemar menyembunyikan apa pun di balik kompartemen-kompartemen tersembunyi. Bahkan rak sepatu di rumah mereka dulu dibuat rata dengan dinding agar ruangan te
Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare
Sheza semakin mendongak. Ia mengerang. Seluruh aliran darahnya seakan dipompa ke satu tempat. Kedua tangannya yang tadi menopang belakang tubuh, kini satunya terangkat untuk mengacak rambut Satria. Jemarinya menyusuri kepala pria itu. Menggaruk pelan.Satria masih menunduk di antara pahanya. Pria i
Satria Elang Rylee masuk ke ruang makan itu dengan langkah tenang. Tubuhnya tinggi, rapi dengan setelah jas casual yang dipadukan dengan jeans berwarna gelap. Gesturenya tenang dan percaya diri. Saat masuk ia langsung menyalami Pak Salim lebih dahulu.“Terima kasih sudah mengundang saya, Pak.”Pak
Sheza menoleh mengikuti arah jari Nayla.Kafe yang ditunjuk anak perempuan itu tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Dari tempat mereka berdiri bahkan terlihat beberapa meja di dalamnya.Sheza menghela napas kecil. “Nayla, lain kali jangan ke toilet sendirian, ya,” katanya lembut sambil me







