Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 7. Sisa Hari yang Menghimpit

Share

Bab 7. Sisa Hari yang Menghimpit

Author: juskelapa
last update Huling Na-update: 2026-01-05 15:28:58

“Pak, jangan mempersulit kami. Kami mau menagih. Di sini ada surat sita juga. Kendaraan….”

Di dekat pintu, Sheza membekap mulutnya dengan tubuh gemetar. Bu Ratna ikut membelalak. “Astaga, kamu dikejar-kejar orang beginian? Sebenarnya apa yang Prabu dan kamu sembunyikan dari kami?”

Kalimat barusan terasa semakin menusuk di telinganya. Ia hanya memejam menahan ketakutan dan remuk. Juga … malu pada Satria.

Debt collector yang memegang clipboard mengulurkan berkas pada Satria. “Kalau Bapak keluarga, tolong jelaskan ke Ibu Sheza ini. Kami berhak menempelkan surat sita dan pemeriksaan aset.”

Satria menepis clipboard itu seakan mengembalikannya pada debt collector seraya menggeleng. Tatapannya naik perlahan dengan sorot mata dingin.

“Kalian tau nggak kalau saya udah nahan sabar dari tadi?” Suaranya rendah nyaris berbisik. Ia juga sebenarnya tak mau Sheza ataupun keluarganya ada yang melihatnya bertindak kasar pada orang asing persis di depan pintu rumah mereka.

Kedua debt collector itu menegang dan saling pandang.

“Siapa pun yang punya urusan hukum sama almarhum Bapak Prabu, urusannya lewat saya. Satria Elang Rylee. Kalian bisa datangi saya di Rylee Logistics dekat pelabuhan. Paham?”

“Tapi Bu Sheza ….”

“Saya bilang apa? Lewat saya!” tegas Satria dengan rahang mengeras.

Sheza hanya diam memandang dari dekat pintu. Satria berdiri tegak di depan pintu rumahnya seperti tembok yang menahan badai untuknya. Ia tidak berteriak, tidak kasar. Tapi aura dominannya mengalahkan dua pria yang datang.

“Sekarang kalian punya dua pilihan,” lanjut Satria. “Pergi sekarang atau saya laporkan karena masuk pekarangan orang tanpa izin?”

Debt collector bertukar pandang. Raut wajah mereka berubah hati-hati.

“Baik, Pak. Kami pergi sekarang. Besok kami kembali datang dengan bawa semua prosedur resmi.”

“Silakan.” Satria mengangguk kaku sekali. “Tapi tetap jumpa saya. Bukan Bu Sheza.”

Kedua debt collector pergi dalam diam dan tergesa. Begitu mereka menghilang di pagar, Satria menutup pintu pagar sedikit keras dan langsung berbalik.

Sheza spontan menyingkir dari pintu. Ia tidak ingin Satria melihatnya gemetar seperti itu. Ia tidak mau terlihat lemah. Tidak di depan mertuanya dan tidak di depan … pria itu.

Saat masuk, wajah Satria masih kaku. Menurut Sheza hal itu sudah biasa sebenarnya. Satria memang jarang beramah-tamah dengan orang.

“Nak Satria … yang tadi itu kira-kira apa, ya? Kenapa ada yang nyari Sheza begitu?” Bu Ratna mendahului Sheza membuka percakapan. Ia mengibaskan tangan menunjukkan kursi pada Satria. Dengan satu tangan di dada, ia duduk lebih dulu menghempaskan tubuh. Ia belum keluar dari keterkejutannya barusan.

“Karena Prabu ternyata menyimpan masalah yang dia nggak sempat kasih tau siapa pun. Dan … agak sulit kalau Sheza menghadapi ini sendirian. Sekali lagi, Sheza harus punya kuasa hukum.” Satria memandang kedua orang tua Prabu bergantian.

“Kemarin Mas Arga ada ke sini bareng pengacara kantor Mas Prabu. Katanya ….” Sheza mendadak diam. Tiba-tiba ia merasa malu karena terdengar seperti seorang pengadu yang lemah.

Satria memandang Sheza dengan satu alis terangkat. Ia menunggu wanita itu menyelesaikan ucapannya. Namun, Sheza malah mengatupkan mulut. Padahal tanpa dijelaskan pun ia sudah mengetahui dari Arga kalau rumah yang ditempati mereka sekarang sudah masuk dalam perkara. Ia yang meminta Arga datang untuk menemani Sheza bicara dengan pengacara kemarin.

“Kamu … sementara ini nggak perlu pikirkan apa pun. Aku dan teman-teman yang lain sedang berusaha nyari jalan keluar,” jelas Satria.

“Soal kapal Mas Satria yang dipinjam Mas Prabu….”

Satria menggeleng. “Nggak usah dipikirin. Setidaknya sementara ini. Tadi aku ke sini mau ngabarin kalau … kamu memang harus bersiap menghadiri sidang perdana kasus gagal bayar perusahaan Prabu.”

“Aku tetap harus datang?” Seberapa pun Sheza menyembunyikan ketakutannya, suaranya tetap bergetar saat bicara.

“Aku bakal berusaha tetap memantau kasus ini.” Satria mengamati wajah Sheza dengan teliti. Ia ingin mengatakan hal lain soal Prabu, tapi gesture Sheza yang menjentikkan kukunya sejak tadi memperlihatkan kalau wanita itu sedang sangat cemas. Untuk itulah ia tidak ingin bicara di telepon. Agar ia bisa melihat reaksi Sheza. Akhirnya … Satria menghela napas panjang. “Dio sebentar lagi masuk SD, kan? Kamu sudah cari-cari SD mana yang cocok buat Dio?”

Sheza menggeleng. “Nanti aku cari dekat sini.”

“Tapi rumah ini mungkin nggak bisa ditempati dalam dua minggu ke depan, kan?” Usai mengatakan itu Satria meneliti arti raut wajah Sheza.

Sheza tak tahu lagi harus menjawab apa. Pikiran di kepalanya terasa penuh berjejalan.

Setelah Satria pamit dan pintu menutup, Sheza berdiri kaku memegang kusen pintu dengan tangan yang masih gemetar. Kedua mertuanya memperhatikan hal itu namun tatapan mereka bukan tatapan belas kasihan. Tatapan mereka adalah tatapan dua orang tua yang sedang menilai ulang sesuatu.

Pak Rudi bersandar pada sofa lalu bicaranya dengan suara pelan, “Dia itu Satria yang sering bareng Prabu, kan? Dia masih duda?”

Sheza tersentak memandang ayah mertuanya. “Setau Sheza masih, Yah.” sahutnya.

Bu Ratna mengangguk lalu meneruskan, “Nadine itu … mantan istrinya, kan? Anaknya keluarga Kertasoedibyo itu? Sudah cerai berapa lama?”

“Iya. Mantan istrinya salah satu anggota keluarga Kertasoedibyo. Sudah cerai kira-kira ….” Sheza diam sebentar menghitung usia Dio yang akan dikaitkannya dengan lama masa sendiri Satria. “Lima tahun,” sahut Sheza singkat.

“Anaknya cuma satu?” tanya ayah mertua lagi.

“Iya, Nayla.”

“Yang suka dianterin Prabu kalau Satria lembur itu, kan?” Ayah Prabu mengerutkan kening, seperti mengingat sesuatu. “Dulu sering main ke sini waktu Dio masih bayi.”

“Iya, benar,” jawab Sheza lagi. Nada suaranya kering dan datar.

Bu Ratna tampak makin penasaran. “Anaknya tinggal sama mantan istrinya, ya?”

Sheza mengangguk. “Kadang tinggal di rumah Satria juga. Akhir pekan biasanya di rumahnya. Atau Satria jemput buat makan siang. Seingat Sheza begitu.”

Ayah Prabu pun menautkan jemari, matanya menatap pintu yang tadi digedor orang-orang kasar itu. “Nggak tau kenapa, tapi … melihat cara dia tadi menghadapi debt collector, Ayah rasa kalau Satria ada hati sama kamu, Za. Bagus sebenarnya.”

Sheza membeku.

“Tadi kamu lihat sendiri, kan?” Ayah mertua melanjutkan. “Dia berdiri di depan pintu kayak juru bicara kamu.”

Sheza memeluk dirinya sendiri. “Tapi aku bukan …. Aku bukan mau nikah lagi, Yah.”

Bu Ratna mendekat, suaranya lebih lembut tapi tajam seperti pisau di beludru. “Sheza, menikah itu nggak harus langsung menambah anak. Kamu dan dia sudah punya anak masing-masing.” Lalu ia mencondongkan tubuh, hampir berbisik. “Ambil manfaat yang lain saja. Nafkah. Stabilitas. Sedih boleh, tapi … tetap harus realistis.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (35)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
sheza g mencerminkan istri pebisnis. dia terbiasa menerima bersih saja segala sesuatunya. masalah sebesar itu dia cuma bisa berdiam g jelas. wanita bodoh
goodnovel comment avatar
Indarini Rini
gila emg orang tuanya prabu
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
zee apakah ada yg satria dan sheza alami di masa lalu?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 129. As Parents 

    Sheza terbangun lebih dulu pagi itu.Tubuhnya masih menyimpan sisa hangat malam sebelumnya. Di kulitnya, juga di dada. Ia berbaring beberapa detik, memandangi langit-langit kamar. Lalu ia menoleh pada Satria yang masih tertidur di sampingnya. Satu tangan berat pria itu masih di pinggangnya. Seakan percintaan semalam tak pernah benar-benar selesai.Sheza tersenyum kecil.Satria benar-benar tahu cara mencintainya, juga cara memenuhi pikirannya.Satria jarang berkata manis.Pria itu tidak pandai merangkai kalimat.Tapi Satria selalu menyempatkan diri mengantar, menjemput, mengusap punggungnya saat ia terlihat lelah, atau memijat bahunya saat ia kecewa, juga membelai perutnya tanpa diminta. Satria juga menyeka tubuhnya setelah bercinta, dan memastikan ia tak pernah merasa sendirian.Perlahan Sheza mengangkat tangan Satria dari pinggangnya dan duduk di tepi ranjang hanya mengenakan celana dalam. Rambutnya terurai, tubuhnya semakin berat oleh kehamilan yang usianya semakin bertambah. Payu

  • KAMAR KEDUA   Bab 128. Di Antara Napas yang Ditahan

    Satria menghembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan ketika Sheza mendekat lebih dalam. Ia tidak terburu-buru. Namun hal itu yang membuat segalanya terasa panjang.Sheza bergerak dengan kesabaran yang hampir bisa dibilang kejam. Lambat, memberi, lalu menahan. Mendekat, lalu mundur sedikit. Seolah ia sengaja membuat Satria menunggu setiap detik berikutnya.Tubuh Satria mengencang di bawahnya.Tangannya yang semula hanya tergeletak di sisi kini naik, menyusuri rambut Sheza perlahan lalu berdiam di kepala itu karena ikut merasakan gerakannya.Napasnya mulai berubah menjadi lebih berat dan dalam. “Zee ….” Suaranya serak, nyaris seperti peringatan yang formalitas saja.Sheza tidak menjawab.Wanita itu hanya menaikkan tatapannya sebentar. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang berkilat di sana, yang bukan sekadar gairah.Sheza tahu persis apa yang sedang dilakukannya. Dan Sheza melakukan itu untuknya.Sheza menggenggamnya, hangat, erat dan tetap lambat. Maju mundur dengan basah seperti omb

  • KAMAR KEDUA   Bab 127. Hangat yang Tidak Terucap

    Satria benar-benar tidak menyentuh kopinya seharian itu. Ia baru menyadarinya ketika tubuhnya mulai terasa berat dan kepalanya sedikit berdenyut.Saat Sheza selesai membereskan meja, Satria menyandarkan punggungnya ke kursi dan berkata pelan, “Zee, bikinin aku kopi sedikit. Hitam aja.”Sheza mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu itu bukan sekadar kopi. Itu jeda. Itu cara Satria menurunkan hari yang terlalu panjang.Aroma kopi menyebar pelan di dapur yang sudah hampir gelap. Sheza menuangkannya ke cangkir kecil favorit Satria. Tanpa gula, tanpa tambahan apa pun. Ia menyerahkannya, dan Satria menerimanya dengan tatapan yang sedikit lebih lama dari biasanya. “Terima kasih.”Sheza hanya tersenyum kecil, lalu duduk tak jauh dari Satria. Satu tangan pria itu berpindah ke pahanya, lalu mengusap bagian itu dan pindah ke lengannya. Satria terus membelainya sampai tangan mereka bertemu, lalu bertaut. Satria menggenggam tangannya lama dan hangat. Beberapa menit kemudian mereka masuk ke kamar. Lamp

  • KAMAR KEDUA   Bab 126. Bukan yang Mama Pikir

    Garpu itu berhenti.Nasi beruang yang tadi ditekan sampai rusak kini diam di ujung sendok. Nayla menatapnya beberapa detik, seperti sedang menenangkan sesuatu di dalam dadanya.Lalu ia menarik napas kecil.“Papa nggak akan pernah ninggalin aku,” katanya pelan.Nadine tersenyum tipis. “Mama juga nggak bilang Papa ninggalin.”“Tapi Mama ngomongnya bikin aku takut.” Kalimat itu keluar tanpa marah dari mulut Nayla.Nadine sedikit terdiam.Nayla menaruh sendoknya pelan. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi suaranya berusaha tenang. “Papa kalau peluk aku itu beda,” lanjutnya.“Beda bagaimana?” tanya Nadine.Nayla berpikir sebentar, mencari kata yang ia punya. “Kalau Papa peluk aku, Papa nggak liat jam,” kata Nayla pelan.“Papa nggak sambil pegang HP. Papa nggak sambil bilang, ‘Sebentar ya.’”Sunyi turun tipis. “Aku juga nggak pernah dengar Ibun minta apa-apa sama Papa,” tambah Nayla. “Ibun cuma bilang Papa juga harus istirahat, jangan kerja terus.”Nadine menyilangkan tangan di dada. “Kamu

  • KAMAR KEDUA   Bab 125. Bukan Bekal Biasa

    Pertanyaan Nadine itu keluar begitu ringan. Nayla masih berdiri di depan meja makan. Kantong pink itu sudah tergeletak di atas meja. Tangannya belum juga melepaskan pegangan tasnya. “Ibun … ya Ibun,” jawabnya pelan.Nadine mengangkat alis tipis. “Mama nggak pernah ngajarin kamu manggil orang sembarangan pakai sebutan begitu.”Nayla terdiam.Ia membuka resleting tas pink itu pelan, seolah mencari waktu. Kotak bekal itu ia keluarkan dengan hati-hati dan diletakkan di atas meja granit yang dingin.Nadine memperhatikan setiap gerakan itu. “Kamu makan di sana?” tanyanya.Nayla menggeleng. “Belum.”“Kenapa?”“Aku mau makan di rumah.” Jawaban itu sederhana. Tapi nadanya membuat Nadine menyipitkan mata.“Kenapa nggak makan di sana saja?” lanjut Nadine.Nayla membuka tutup kotak itu perlahan. Nasi berbentuk beruang kecil masih utuh, sedikit mengeras di sudutnya. Sosis bunga. Telur gulung yang mulai pucat. “Biar bisa makan pelan-pelan,” jawab Nayla.“Pelan-pelan?” Nadine tersenyum tipis. “Atau

  • KAMAR KEDUA   Bab 124. Cahaya di Balik Pintu

    Satria tidak langsung masuk seluruhnya. Ia membuka sepersekian, cukup untuk membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan gelap.Cahaya tipis memang berasal dari meja kerja Prabu. Lampu meja kecil menyala redup, terarah ke permukaan kayu yang penuh bayangan.Di sudut ruangan, dekat lemari arsip, seseorang sedang membungkuk. Jaket hitam. Gerakan cepat tapi hati-hati. Seperti orang yang sudah tahu apa yang ia cari atau justru sedang panik karena tidak menemukannya.Satria melangkah masuk.Selangkah. Dua langkah.Lantai berkarpet memantulkan bunyi halus di bawah sepatu kulitnya.Pria itu berhenti.Hanya sepersekian detik.Tidak menoleh.Lalu refleks.Tubuhnya berputar setengah, cukup bagi Satria menangkap siluet wajah yang tertutup bayangan. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berlari dan melompat keluar jendela yang memang sudah terbuka setengah.Angin malam masuk mendadak.Jendela itu mengarah ke balkon kecil. Tidak terlalu tinggi. Dua lantai saja. Cukup bagi orang yang nekat untuk turun ce

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status