Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 6. Saat Semua Rapuh

Share

Bab 6. Saat Semua Rapuh

Penulis: juskelapa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 15:28:47

Roman mengambil waktu berlutut di lantai, bermain dengan Dio sambil sesekali tersenyum pada Bu Ratna yang duduk kaku di sofa mengawasinya.

“Jadi, gimana sekolahnya hari ini? Lega karena udah sekolah lagi?” Roman bertanya pada Dio dalam bisikan.

“Aku kepengin cepat-cepat masuk SD. Kalau udah besar bisa jagain Ibu,” sahut Dio dengan suara mencicit.

“Keren! Tos dulu kalau gitu! Cepat besar. Ya,” sahut Roman, menepuk-nepuk pelan pundak Dio.

Sheza duduk kaku sambil memegang kopinya. Sementara Roman berbincang santai dengan mertuanya. Ia luwes, penuh senyum ramah tamah. Dari luar, semua tampak biasa. Roman hanya seorang sahabat mendiang Prabu menjenguk keluarga yang ditinggalkan.

Namun mata Roman beberapa kali melirik Sheza, membaca situasi.

Setelah hampir satu jam, Roman pamit.

“Za, kalau ada apa-apa, tinggal telepon. Aku deket, kok.” Roman tersenyum ketika Sheza mengangguk. Ia lalu berlutut sebentar memegang bahu Dio. “Besok Om Roman datang lagi bawain seri robot yang lain, ya.”

Dio mengangguk kecil.

Roman pergi, meninggalkan aroma kopi dan senyum hangat di rumah yang dingin itu.

Sheza berpikir orang tuanya Prabu mungkin akan mengucapkan sesuatu. Entah itu kecurigaan soal Roman, ya setidaknya mereka pasti tidak suka janda anaknya didatangi pria lajang dan tampan seperti Roman. Atau ucapan terima kasih karena sudah menghibur cucunya? Atau komentar apa pun. Apa pun.

Ternyata tidak.

Sampai kemudian Bu Ratna membuka suara, nadanya pelan tapi menusuk.

“Sheza, laki-laki itu baik ya? Yang tadi itu belum menikah, kan? Tadi dia cerita kalau praktiknya dekat sini. Dia punya klinik gigi sendiri. Sehari-hari praktik di rumah sakit swasta juga.” Raut Bu Ratna serius sekali.

Sheza menoleh cepat. “Roman? Temannya Prabu?”

“Iya. Dia keliatannya sayang sama Dio.”

Bu Ratna menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Kalau ada laki-laki yang mau menikahi kamu…bukannya bagus?”

Sheza terdiam.

Tenggorokannya kering.

Kenapa tiba-tiba jadi membahas pernikahan?

Ayah Prabu menambahkan dengan datar, seperti membicarakan soal jemuran. “Kalau kamu punya suami lagi, masalah-masalah Prabu bisa diselesaikan lebih mudah. Bisa jadi rumah nggak disita karena hutang ada yang bantu. Dio aman. Hidup kamu juga ditanggung. Nggak repot sana-sini nyari kerjaan. Kamu, kan, sudah lama nggak kerja. Itu maksud pengacara kemarin, kan? Soal wali itu?”

Bu Ratna menatap Sheza dengan sorot seakan memberi solusi emas. “Temannya Prabu itu masih lajang, kan? Siapa tahu dia mau sama kamu. Dia tadi keliatan perhatian. Meski lebih ganteng Prabu, tapi … kalau dia berniat baik dengan janda sahabatnya, apa salahnya? Ibu beberapa kali ketemu Roman, orangnya ceria.”

Dan saat itu jantung Sheza seperti jatuh karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa semua orang di sekelilingnya melihat dunia secara sangat sederhana.

Prabu mati.

Sheza janda.

Dio butuh ayah.

Rumah disita.

Solusinya?

Nikah lagi.

Bahkan kalau itu artinya menikah dengan laki-laki yang bukan Prabu.

Bahkan kalau itu artinya melangkah ke hidup yang ia belum siap.

Bahkan kalau itu artinya…tidur di sebelah seseorang yang tidak ia cintai.

Sheza memegang dada, menahan gemetar. Muak memikirkan betapa mertuanya sampai hati mengucapkan hal seperti itu dalam dua minggu kepergian suaminya.

Dan tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di balik pintu. Seseorang dengan sorot mata gelap, rahang mengeras, dan tangan mengepal.

Satria. Ia sudah berada di mobilnya saat Roman lebih dulu menekan bel rumah itu. Ia datang sedikit lebih lambat. Dan kini … ia tidak suka dengan apa yang baru saja didengarnya dari dalam rumah. Suara orang tua Prabu dinilainya sangat keras saat bicara pada Sheza.

Ayah dan Ibu almarhum Prabu masih duduk di sofa membicarakan hal-hal kecil seolah tidak ada beban dunia. Seolah Prabu masih akan pulang membawa sekotak pizza sore itu. Sheza berdiri di dapur, menggenggam gelas air yang tak ia minum. Tangannya masih gemetar setelah percakapan terakhir dengan mertuanya.

Ia hendak menuju kamar ketika suara bel dan ketukan keras menggetarkan pintu bersamaan.

BUK. BUK. BUK.

Bukan suara pintu diketuk. Tapi pintu dipukul. Jelas menunjukkan ketidaksabaran, kekasaran. Curiga kalau kabar yang dibawa pun tidak baik.

Sheza otomatis berhenti. Mertuanya saling menatap. Seakan sesuatu yang buruk sedang menanti mereka di balik pintu.

Ayah Prabu bangkit pelan. “Siapa pula itu?”

Sheza berjalan mendekat dengan napas tercekat. Suara ketukan itu kembali datang, lebih keras.

BUK! BUK! BUK!

Bu Ratna berdiri mencengkeram dadanya. Sedangkan Sheza mengintip dari lubang vitrase dan sedetik kemudian jantungnya langsung merosot.

Dua pria berjaket hitam. Satu membawa clipboard tebal penuh berkas. Satunya lagi memegang ponsel, wajahnya cuek dan tak ramah. Tampilan mereka seperti debt collector.

Sheza mundur selangkah dengan tangan mencengkeram kusen pintu. Ia menggigit bibirnya yang bergetar.

“Buka pintu! Halo! Bu Sheza!” teriak salah seorang pria.

Sheza berdiri dengan tubuh yang benar-benar gemetar. Mertuanya sudah ikut berdiri di sebelahnya sebelum ia membuka pintu.

“Kenapa lama sekali? Pura-pura nggak dengar, ya?!” bentak pria yang memegang ponsel.

Sheza mengerjap karena terkejut. Ia gelagapan dengan dahi yang sudah muncul titik keringat di dahinya. “I-iya. Saya Sheza,” sahutnya, nyaris berbisik.

Dalam kegaduhan itu, tiba-tiba saja seseorang ikut masuk ke halaman. Langkah sepatunya berat mendekat dari sisi samping.

“Ada urusan apa gedor-gedor rumah orang?”

Suara itu terdengar dingin dan rendah. Suara yang terbiasa memberi perintah.

Sheza menoleh dan merasa tubuhnya tiba-tiba melunak. Satria.

Pria itu berdiri hanya beberapa langkah saja dari debt collector. Kemeja hitamnya tergulung sampai ke siku dengan jeans yang melekat sempurna di kakinya. Rahangnya keras dengan sorot mata menusuk. Membuat kedua debt collector mundur beberapa langkah dari Sheza sebelum Satria sempat berkata banyak.

Salah satu debt collector itu melihat Satria dari ujung kepala sampai sepatu. “Bapak siapa?” Nada kasarnya mulai kehilangan keberanian.

Satria tidak menjawab. Ia menarik napas pelan sebelum melangkah mendekat. “Saya yang tanya duluan,” katanya.

“Ini rumah Bu Sheza Adriani Mahiswar, kan? Kami dari agensi….”

“Saya nggak tanya asal kalian.” Nada bicara Satria turun setingkat tapi malah justru terdengar mengancam. “Saya tanya, apa urusan kalian gedor rumah orang lain dengan cara begitu?” Nada suaranya kembali meninggi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (18)
goodnovel comment avatar
nana
jgn mau zhe, nikah lg terus berusaha menyelesaikan masalah utang prabu. biarin aja rumah disita . kalo km nikah lg dan bertahan menyelamatkan harta prabu. nnti orang tua prabu pasti minta bagian.
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Tini Wartini
Satria...si ksatria penolong Sheza d saat kepepet saat ini..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Kesalahan Bab 27 dan Bab 28

    Selamat malam ....Mohon maaf sebelumnya ada kesalahan copy paste setengah halaman pada bab 27 dan bab 28 saat saya memecah bab. Segera saya perbaiki malam ini tapi baru bisa berubah hari Senin. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. 😘

  • KAMAR KEDUA   Bab 28. Boleh Menangis

    Detik itu, Sheza sadar tangannya dingin. Ia tidak tahu sejak kapan. “Bahwa almarhum Prabu Aditya Ramadhan terbukti memiliki kewajiban finansial kepada pihak kreditur.” Sheza menutup mata sesaat. “Namun,” lanjut hakim, “berdasarkan bukti yang ada, Saudari Sheza Adriani Mahiswar tidak terbukti terlibat langsung dalam pengambilan keputusan bisnis maupun penandatanganan perjanjian utama.” Napas Sheza tertahan. “Dengan demikian, tanggung jawab Saudari sebagai ahli waris bersifat terbatas.” Kata itu jatuh pelan, tapi berat. “Saudari Sheza Adriani Mahiswar tetap diwajibkan memenuhi sebagian kewajiban tersebut sepanjang nilai harta warisan yang diterima, dengan skema pembayaran bertahap sesuai ketentuan pengadilan.” Ruangan terasa berputar. Bukan bebas. Bukan juga hancur total. Sebuah keputusan yang … harus dijalani. Sheza membuka mata perlahan. Pandangannya kabur sejenak sebelum akhirnya menemukan satu titik yang tetap diam di tempatnya. Satria. Pria itu tidak bereaksi be

  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Satria memperhatikannya sejak awal. Cara Sheza berdiri lebih lama di depan wastafel. Cara ia menahan napas sebentar sebelum melangkah. “Kamu kenapa?” tanya Satria akhirnya, nadanya datar tapi tajam. Sheza menoleh sekilas. Ragu. Lalu menghela napas pendek. “Aku lagi dapet. Kram dikit.” Satria mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Saat Sheza lebih dulu masuk ke mobil dan duduk di sebelah pengemudi. Wajahnya terlihat lesu. “Hari ini kamu duduk di belakang aja,” pinta Satria. Sheza mengernyit. “Kenapa?” Satria belum menjawab tapi sudah turun dan kembali masuk ke rumah tanpa menjawab. Sheza kembali keluar dari kursi depan dan berpindah ke belakang tanpa banyak bertanya. Ia tak punya e

  • KAMAR KEDUA   Bab 26. Seiris Masa Lalu

    Usai pembicaraan di ruang makan, Satria terjaga lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengantuk meski tanpa kopi. Topik soal pekerjaan tadi memang masih menggantung di kepalanya. Bukan karena ia keberatan. Sheza atau wanita mana pun yang meminta pendapatnya, ia tak akan keberatan dengan ide bekerja. Ia hanya sedang memperhitungkan beberapa hal. Bukan soal angka atau besar-kecil yang akan dihasilkan Sheza. Yang dihitungnya tak lain soal waktu, ritme, dan seorang anak laki-laki yang sebentar lagi akan mengenal bangku sekolah dasar. Tadi Sheza memang tidak bicara panjang. Hanya mengatakan ingin bekerja. Tapi Satria tahu, di balik kalimat itu ada banyak hal yang sedang ia susun sendiri. Soal harga diri, kemandirian, dan ketakutan untuk terlalu bergantung. Satria menghela napas panjang di depan jendela kamar kedua sambil mengamati halaman belakang yang sunyi. Sel lembut di dalam kepalanya sedang mengumpulkan ingatan. “Pekerjaan …. Kamu mau bekerja,” gumam Satria seraya membayangkan

  • KAMAR KEDUA   Bab 25. Perdebatan Pertama

    Rasanya Sheza sekarang lebih hafal lorong pengadilan dibanding suasana hatinya sendiri. Ia tahu di mana lantai sedikit lebih licin, di mana bangku yang kakinya goyah, di mana suara pendingin ruangan terdengar paling keras. Bahkan langkah para panitera tak lagi asing di telinganya. Di rumah, Dio mulai sering bertanya setiap kali ia mengenakan pakaian rapi dan membawa map tipis. “Ke pengadilan lagi, Bun?” Kalau beruntung, Sheza bisa bertemu Dio sepulang dari pengadilan. Kadang ia hanya kebagian menepuk-nepuk paha atau membetulkan selimut Dio yang sudah terlelap di malam hari. Kini bahkan Satria sudah berhenti bertanya apakah ia capek atau tidak. Pria itu tidak lagi menawarkan kata-kata yang terasa terlalu besar untuk hari-hari yang berulang. Ia menggantinya dengan hal lain. Suatu sore, sepulang dari pengadilan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tak sadar Sheza sedikit menggigil. Satria yang berjalan di sampingnya berhenti sesaat, lalu menyampirkan jaket tipis miliknya ke bahu

  • KAMAR KEDUA   Bab 24. Menjadi Rutinitas

    Mau tak mau sidang ketiga harus dihadapi juga. Rasanya Sheza ingin kembali bergulung ke dalam selimut dan melupakan segala sesuatu soal pengadilan. Athar yang baru tiba dengan motornya sedang meletakkan helm di kemudi. Ia sudah memarkirkan sepeda motornya di garasi Satria. “Aku sebenarnya nggak apa-apa naik motor nganter Dio, Kak. Kan udah biasa. Kenapa sekarang harus pakai taksi? Dio juga suka naik motor.” Sheza meletakkan telunjuknya di bibir Athar. “Jangan kenceng banget suaranya. Mas Satria bilang jarak TK Dio lumayan jauh dari sini. Nggak aman naik motor. Kamu harusnya paham urusan begini.” Sheza mengerling pintu penghubung garasi dan ruang keluarga dengan gelisah. Cemas kalau tiba-tiba Satria muncul. Sejurus kemudian Satria benar-benar muncul dengan pakaian rapi. “Aku panggil taksinya sekarang, ya,” kata Satria. “Harusnya aku aja, Mas,” sahut Sheza, lagi-lagi dengan gesture serba salah. Tangan Satria sempat terangkat ke belakang punggung Sheza, namun kemudian tangan itu kem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status