LOGINRoman mengambil waktu berlutut di lantai, bermain dengan Dio sambil sesekali tersenyum pada Bu Ratna yang duduk kaku di sofa mengawasinya.
“Jadi, gimana sekolahnya hari ini? Lega karena udah sekolah lagi?” Roman bertanya pada Dio dalam bisikan. “Aku kepengin cepat-cepat masuk SD. Kalau udah besar bisa jagain Ibu,” sahut Dio dengan suara mencicit. “Keren! Tos dulu kalau gitu! Cepat besar. Ya,” sahut Roman, menepuk-nepuk pelan pundak Dio. Sheza duduk kaku sambil memegang kopinya. Sementara Roman berbincang santai dengan mertuanya. Ia luwes, penuh senyum ramah tamah. Dari luar, semua tampak biasa. Roman hanya seorang sahabat mendiang Prabu menjenguk keluarga yang ditinggalkan. Namun mata Roman beberapa kali melirik Sheza, membaca situasi. Setelah hampir satu jam, Roman pamit. “Za, kalau ada apa-apa, tinggal telepon. Aku deket, kok.” Roman tersenyum ketika Sheza mengangguk. Ia lalu berlutut sebentar memegang bahu Dio. “Besok Om Roman datang lagi bawain seri robot yang lain, ya.” Dio mengangguk kecil. Roman pergi, meninggalkan aroma kopi dan senyum hangat di rumah yang dingin itu. Sheza berpikir orang tuanya Prabu mungkin akan mengucapkan sesuatu. Entah itu kecurigaan soal Roman, ya setidaknya mereka pasti tidak suka janda anaknya didatangi pria lajang dan tampan seperti Roman. Atau ucapan terima kasih karena sudah menghibur cucunya? Atau komentar apa pun. Apa pun. Ternyata tidak. Sampai kemudian Bu Ratna membuka suara, nadanya pelan tapi menusuk. “Sheza, laki-laki itu baik ya? Yang tadi itu belum menikah, kan? Tadi dia cerita kalau praktiknya dekat sini. Dia punya klinik gigi sendiri. Sehari-hari praktik di rumah sakit swasta juga.” Raut Bu Ratna serius sekali. Sheza menoleh cepat. “Roman? Temannya Prabu?” “Iya. Dia keliatannya sayang sama Dio.” Bu Ratna menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Kalau ada laki-laki yang mau menikahi kamu…bukannya bagus?” Sheza terdiam. Tenggorokannya kering. Kenapa tiba-tiba jadi membahas pernikahan? Ayah Prabu menambahkan dengan datar, seperti membicarakan soal jemuran. “Kalau kamu punya suami lagi, masalah-masalah Prabu bisa diselesaikan lebih mudah. Bisa jadi rumah nggak disita karena hutang ada yang bantu. Dio aman. Hidup kamu juga ditanggung. Nggak repot sana-sini nyari kerjaan. Kamu, kan, sudah lama nggak kerja. Itu maksud pengacara kemarin, kan? Soal wali itu?” Bu Ratna menatap Sheza dengan sorot seakan memberi solusi emas. “Temannya Prabu itu masih lajang, kan? Siapa tahu dia mau sama kamu. Dia tadi keliatan perhatian. Meski lebih ganteng Prabu, tapi … kalau dia berniat baik dengan janda sahabatnya, apa salahnya? Ibu beberapa kali ketemu Roman, orangnya ceria.” Dan saat itu jantung Sheza seperti jatuh karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa semua orang di sekelilingnya melihat dunia secara sangat sederhana. Prabu mati. Sheza janda. Dio butuh ayah. Rumah disita. Solusinya? Nikah lagi. Bahkan kalau itu artinya menikah dengan laki-laki yang bukan Prabu. Bahkan kalau itu artinya melangkah ke hidup yang ia belum siap. Bahkan kalau itu artinya…tidur di sebelah seseorang yang tidak ia cintai. Sheza memegang dada, menahan gemetar. Muak memikirkan betapa mertuanya sampai hati mengucapkan hal seperti itu dalam dua minggu kepergian suaminya. Dan tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di balik pintu. Seseorang dengan sorot mata gelap, rahang mengeras, dan tangan mengepal. Satria. Ia sudah berada di mobilnya saat Roman lebih dulu menekan bel rumah itu. Ia datang sedikit lebih lambat. Dan kini … ia tidak suka dengan apa yang baru saja didengarnya dari dalam rumah. Suara orang tua Prabu dinilainya sangat keras saat bicara pada Sheza. Ayah dan Ibu almarhum Prabu masih duduk di sofa membicarakan hal-hal kecil seolah tidak ada beban dunia. Seolah Prabu masih akan pulang membawa sekotak pizza sore itu. Sheza berdiri di dapur, menggenggam gelas air yang tak ia minum. Tangannya masih gemetar setelah percakapan terakhir dengan mertuanya. Ia hendak menuju kamar ketika suara bel dan ketukan keras menggetarkan pintu bersamaan. BUK. BUK. BUK. Bukan suara pintu diketuk. Tapi pintu dipukul. Jelas menunjukkan ketidaksabaran, kekasaran. Curiga kalau kabar yang dibawa pun tidak baik. Sheza otomatis berhenti. Mertuanya saling menatap. Seakan sesuatu yang buruk sedang menanti mereka di balik pintu. Ayah Prabu bangkit pelan. “Siapa pula itu?” Sheza berjalan mendekat dengan napas tercekat. Suara ketukan itu kembali datang, lebih keras. BUK! BUK! BUK! Bu Ratna berdiri mencengkeram dadanya. Sedangkan Sheza mengintip dari lubang vitrase dan sedetik kemudian jantungnya langsung merosot. Dua pria berjaket hitam. Satu membawa clipboard tebal penuh berkas. Satunya lagi memegang ponsel, wajahnya cuek dan tak ramah. Tampilan mereka seperti debt collector. Sheza mundur selangkah dengan tangan mencengkeram kusen pintu. Ia menggigit bibirnya yang bergetar. “Buka pintu! Halo! Bu Sheza!” teriak salah seorang pria. Sheza berdiri dengan tubuh yang benar-benar gemetar. Mertuanya sudah ikut berdiri di sebelahnya sebelum ia membuka pintu. “Kenapa lama sekali? Pura-pura nggak dengar, ya?!” bentak pria yang memegang ponsel. Sheza mengerjap karena terkejut. Ia gelagapan dengan dahi yang sudah muncul titik keringat di dahinya. “I-iya. Saya Sheza,” sahutnya, nyaris berbisik. Dalam kegaduhan itu, tiba-tiba saja seseorang ikut masuk ke halaman. Langkah sepatunya berat mendekat dari sisi samping. “Ada urusan apa gedor-gedor rumah orang?” Suara itu terdengar dingin dan rendah. Suara yang terbiasa memberi perintah. Sheza menoleh dan merasa tubuhnya tiba-tiba melunak. Satria. Pria itu berdiri hanya beberapa langkah saja dari debt collector. Kemeja hitamnya tergulung sampai ke siku dengan jeans yang melekat sempurna di kakinya. Rahangnya keras dengan sorot mata menusuk. Membuat kedua debt collector mundur beberapa langkah dari Sheza sebelum Satria sempat berkata banyak. Salah satu debt collector itu melihat Satria dari ujung kepala sampai sepatu. “Bapak siapa?” Nada kasarnya mulai kehilangan keberanian. Satria tidak menjawab. Ia menarik napas pelan sebelum melangkah mendekat. “Saya yang tanya duluan,” katanya. “Ini rumah Bu Sheza Adriani Mahiswar, kan? Kami dari agensi….” “Saya nggak tanya asal kalian.” Nada bicara Satria turun setingkat tapi malah justru terdengar mengancam. “Saya tanya, apa urusan kalian gedor rumah orang lain dengan cara begitu?” Nada suaranya kembali meninggi. …Tanpa menunggu malam Darto mengemasi barang-barangnya. Kesabaran yang ia pupuk selama bekerja di sana seakan menguap hanya dalam beberapa menit.Melihat Pak Hendra berganti-ganti asisten rumah tangga adalah hal biasa untuknya. Ia sudah lama bekerja di sana dan malahan biasanya ia jarang sekali ikut turun tangan membersihkan rumah. Biasa selalu ada pegawai lain. Belakangan, ia mengerjakan semuanya karena Pak Hendra tak pernah cocok dengan orang-orang baru yang bekerja hanya dalam hitungan hari. Untuk itu ia tidak apa-apa.Namun berbeda dengan kali ini. Sejak pagi ia sudah dibentak-bentak terus. Diteriaki pemalas, bodoh dan menghina soal pekerjaannya. Bahkan ia dituduh melakukan kecerobohan yang bahkan tidak ia mengerti.Ia juga manusia yang bisa dilanda letih.Di depan pagar, Darto berhenti menatap rumah itu untuk beberapa detik.Ada banyak hal yang terasa berbeda beberapa bulan terakhir. Terutama saat anak dan cucu majikannya pindah ke luar negeri. Pria tua itu semakin mudah marah.S
Beberapa bulan terakhir, rumah kediaman keluarga Hendra Kusuma Wijaya mulai kehilangan keteraturan yang selama puluhan tahun selalu dijaga.Majalah dan koran bertumpuk di meja ruang tengah. Beberapa cangkir teh dibiarkan begitu saja di sudut-sudut ruangan. Ada pakaian yang seharusnya sudah dimasukkan ke dalam lemari atau ke keranjang cucian tetapi justru tergeletak di kursi.Mainan Raka juga semakin sering terlihat di mana-mana.Mobil-mobilan kecil di bawah meja. Balok kayu di dekat tangga. Sebuah boneka tergeletak di sofa ruang keluarga.Darto sang asisten rumah tangga pria sudah membersihkan rumah itu berkali-kali dalam sehari.Pagi setelah Hendra sarapan, ia membersihkan ruang tengah. Setelah makan siang, ia kembali merapikannya. Sore hari, ia menyapu dan mengepel lagi.Tetapi rumah itu selalu kembali berantakan.Pertama kali hal itu terjadi, Darto mengira Raka sudah kembali ke rumah atau Pak Hendra menerima tamu yang membawa anak. Nyatanya tidak. Mainan itu keluar begitu saja dari
Pak Salim masih terdiam setelah mengucapkan nama Calvin.Tatapannya tidak lagi benar-benar tertuju pada Satria. Ia seperti sedang mengulang percakapan mereka beberapa menit terakhir di dalam kepalanya.Bram menghilang.Calvin juga menghilang dengan cara yang tidak pernah benar-benar terjelaskan.Dan sebelum itu, Satria mengatakan bahwa mungkin selama ini Hendra melihat KSD Holding sebagai pesaing, sementara dirinya sendiri tidak pernah merasa sedang bersaing dengan siapa pun.Pak Salim mengusap dagunya. “Kalau dipikir-pikir …,” gumamnya.Satria menunggu.“Saya memang nggak pernah merasa Hendra bersaing dengan saya. Begitu pula sebaliknya.” “Karena Bapak menganggapnya keluarga?”“Iya.”Pak Salim tersenyum tipis. “Kami sudah kenal sejak kecil. Saya tahu bagaimana dia berpikir. Setidaknya, saya merasa tahu.”Ia berhenti sebentar. Lalu melanjutkan,“Tapi mungkin ada beberapa hal yang dulu saya anggap biasa.”Satria tidak menyela.“Pernah ada satu tender pengangkutan yang cukup besar. Wak
Satria tetap diam.Ia tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar permintaan maaf itu. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijawab dengan kata-kata, tetapi tidak dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.Pak Salim adalah salah satu orang yang paling banyak mengajarinya setelah kedua orang tuanya meninggal. Itu tidak bisa dipungkiri. Ia banyak belajar tentang bagaimana membaca sebuah perusahaan sebelum memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Tentang bagaimana memperlakukan orang yang bekerja bersamanya. Tentang bagaimana sebuah hubungan bisa menjadi bagian penting dari sebuah bisnis tanpa harus selalu dibicarakan sebagai angka.Banyak relasi yang sekarang dimiliki Satria juga berawal dari orang-orang yang dikenalkan Pak Salim kepadanya bertahun-tahun lalu.Ia tidak pernah melupakan itu.Satria mengangkat cangkir di hadapannya, lalu meneguk sedikit.“Dulu Bapak sering ngajak saya ikut ketemu orang penting.”Salim menatapnya. “Masih ingat?”“Ingat.”“Padahal waktu itu kamu lebih suka
Mobil Satria berhenti di depan rumah keluarga Kertasoedibyo menjelang siang.Seorang keamanan yang sudah mengenal mobilnya membuka pagar sebelum ia membuka kaca dan melambai seperti biasa.Ia memarkirkan mobil di depan teras. Lalu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah itu keluar menyambutnya."Pak Satria … mau ketemu Bapak, kan?” Wanita paruh baya itu sedikit membungkuk saat Satria tiba di teras.Satria tersenyum. “Iya, benar.” Sepertinya Pak Salim sudah mengetahui kehadirannya lebih dulu melalui CCTV."Bapak di ruang kerjanya. Bisa langsung ke sana. Atau mau saya antar?” Wajah wanita itu sumringah menatap Satria.Satria menelengkan kepalanya sejenak, lalu meneruskan, “Kali ini saya mau diantar.”Wanita itu terkekeh senang. “Baik, Pak. Mari saya antar.”Salim sedang duduk di ruang kerjanya dengan sebuah koran di tangan ketika pintu ruangannya terbuka dan Satria muncul. Lelaki tua itu mengangkat wajah. "Kamu datang,” ucap Pak Salim.Satria mengangguk. "Iya, Pak."Pak Sa
Sheza sudah berada di dapur keesokan harinya saat hari masih benar-benar gelap.Rumah masih sunyi. Anak-anak belum terdengar bangun dari kamar masing-masing.Dari jendela dapur, langit di luar masih berwarna kelabu kebiruan, sementara lampu-lampu di dalam rumah menjadi satu-satunya penerang.Dengan nightdress pendek bertali tipis, Sheza berdiri di depan kompor, mengaduk sup labu yang sedang dipanaskan perlahan. Aroma lembutnya memenuhi dapur.Semalam perutnya terasa kurang nyaman. Bukan sakit, hanya sedikit begah sehingga membuatnya sulit tidur setelah mereka bercinta. Setelah bangun menjelang subuh, ia merasa lebih baik dan tiba-tiba ingin makan sesuatu yang hangat.Ia baru saja mengecilkan api ketika dua lengan melingkar di perutnya dari belakang.Sheza sedikit terkejut. Ia menunduk memandang tangan tegap yang mengusap perutnya. “Pasti nyariin aku.”Satria menempelkan dagu di bahu istrinya. “Aku masih mau peluk kamu. Harusnya masih bisa sekali lagi sebelum anak-anak bangun.”Sheza t







